
Empat hari berlalu dan Keila sama sekali tidak menerima pesan dari Andra yang mengatakan ingin makan siang dengan masakan buatannya. Berkat itu, selama empat hari Keila bisa merasakan yang namanya jalan-jalan.
Setelah empat hari memilih untuk menghabiskan waktunya di luar, kini pada hari kelima Keila menghabiskan waktu di apartemennya. Hujan turun dengan lebat sejak pagi dan membuat Keila terpaksa menghabiskan waktunya di apartemen miliknya. Setelah mengukus roti dengan mentega, gula dan coklat, Keila kemudian duduk di beranda apartemennya dengan mendengarkan lagu yang diputar dari ponselnya. Dengan kedua telinga yang tersumbat oleh earphone miliknya, Keila memandang air hujan yang turun dengan bernyanyi kencang. Ketika bosan melihat hujan turun, Keila akan membaca buku-buku yang baru dibelinya meski masih dengan terus bernyanyi dengan nada falsnya. Keila terus bernyanyi dengan kencang seolah tidak akan ada orang yang mendengarnya.
Ada begitu banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu.
Aku menuliskannya satu per satu dan itu menjadi sebait lirik lagu.
Dengan kerinduan yang lebih menyakitkan daripada perpisahan.
Sebuah lagu kutulis dengan mudah sambil memikirkanmu.(1)
(1)Lirik lagu merupakan terjemahan dari lirik lagu A Song Written Easily yang dinyanyikan oleh ONEUS
Keila yang biasanya mendengarkan lagu-lagu milik blackbeans kemudian mengganti lagu di dalam playlistnya karena lirik lagu itu terasa cocok dengan hujan yang turun saat ini dan juga buku yang dibacanya saat ini.
Buk.
Sesuatu jatuh tepat di atas wajah Keila dan membuat pandangan Keila untuk sesaat menjadi gelap gulita. Keila meraih sesuatu yang jatuh tepat di atas wajahnya itu dan merasakan aroma harum yang khas dari benda itu. Keila menatap benda itu dengan saksama. Ini jaket?
“Suaramu benar-benar. . .”
Keila menatap ke arah samping kirinya dan mendapati Andra tengah berdiri di beranda apartemennya dengan senyuman kecil di wajahnya yang mengarah kepada Keila. Dengan cepat Keila melepaskan satu earphone miliknya di telinga kirinya agar bisa mendengar ucapan Andra.
Senyuman itu kali ini aku tidak salah melihatnya. Andra dengan jelas tersenyum melihatku. Tapi, kenapa? Kenapa dia tersenyum melihatku? Apa di matanya, aku adalah lelucon yang paling menarik? Keila memandang tajam ke arah Andra dan hendak melemparkan jaket milik Andra yang tadi mendarat di wajahnya. “Kenapa melemparkan jaketmu di wajahku? Aku bukan mesin cuci yang menerima pakaian kotor.”
“Gunakan itu untuk menutupi tubuhmu!” Andra lebih dulu berbicara dan menghentikan niat Keila untuk melemparkan jaket milik Andra. “Kau duduk di beranda dengan pakaian tipis seperti itu, kau tidak khawatir dengan tubuhmu? Bagaimana jika nanti kau jatuh sakit?”
Keila mengenakan jaket milik Andra untuk menutupi tubuhnya. “Berhentilah mengkhawatirkanku berlebihan begitu. Sudah kukatakan tubuhku ini lebih kuat dari kebanyakan wanita lainnya. Dan lagi aku duduk di sini sedang menikmati pemandangan hujan yang turun. Hujan yang turun adalah berkah, jadi apa yang aku lakukan sekarang ini anggap saja sedang mensyukuri berkah yang diberikan Tuhan.”
“Mensyukuri berkah??” Andra melirik tajam ke arah Keila dan kemudian bersandar di pembatas dinding antara berandanya dengan beranda apartemen Keila. “Dengan suaramu yang seperti itu?”
“Kau mendengarnya??” tanya Keila panik.
Andra menganggukkan kepalanya. “Bagaimana aku tidak mendengar jika kamu bernyanyi dengan volume yang setara volume speaker di tempat karaoke?”
“Ah, maaf. Maafkan aku, telingamu pasti sakit mendengarnya.” Keila menundukkan kepalanya malu, memandang ke arah hujan yang turun. “Kukira kau masih sibuk dengan pekerjaanmu dan tidak sedang berada di apartemenmu. Karena itu, aku bernyanyi dengan cukup kencang.”
“Tidak,” jawab Andra. “Suaramu tidak menyakiti telingaku, hanya saja kau bernyanyi terlalu kencang saja.”
Keila memandang ke arah Andra dengan mata menyipit. Bukankah itu artinya sama saja? Sama artinya jika suaraku ini tidak enak didengar. Kenapa tidak jujur saja? Lagipula aku tidak akan marah, karena kenyataannya suaraku ini memang fals sejak lahir. Keila berbicara di dalam benaknya sendiri.
“I-itu apa?”
Keila melihat mata Andra yang menatap ke arah piring miliknya yang berada di sisi kiri Keila, yang berisi roti kukus yang tadi dibuatnya.
“Ini?” Keila menunjuk ke arah piring yang berisi roti kukus buatannya.
“Ya, itu.”
“Roti kukus dengan isian mentega, gula dan coklat.” Keila menatap ke arah Andra dan mendapati sorot mata Andra yang tidak bisa lepas dari roti kukus itu. Senyuman kecil muncul di bibir Keila ketika tahu maksud dari sorotan mata Andra. “Kau mau?”
“Ya.” Andra menjawab dengan cepat.
“Belum.” Andra menjawab sembari menerima piring milik Keila dan mulai melahap satu pasang roti kukus.
“Kamu bisa menghabiskannya jika suka.” Keila tersenyum melihat Andra melahap satu pasang roti kukus hanya dalam dua gigitan saja. “Kenapa kamu sudah pulang? Ini masih siang hari dan lagi turun hujan dengan deras. Kenapa tidak menunggu di tempatmu bekerja saja, bukannya kamu bilang sibuk hingga hari ini?”
Andra melahap roti kukus keduanya sembari menatap Keila dengan tatapan heran. Setelah menelan roti kukus di dalam mulutnya, Andra kemudian membalas pertanyaan Keila dengan pertanyaan lain. “Kenapa banyak sekali pertanyaan yang kamu ajukan?”
“Aku hanya merasa heran saja melihatmu di sini setelah empat setengah hari tidak melihatmu,"
Roti kukus kedua Keila, telah selesai dilahap oleh Andra. “Aku merindukanmu. Jadi aku menyelesaikan semua pekerjaanku dengan cepat dan karena aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku menerobos hujan ini untuk segera bertemu denganmu.”
“. . .” Keila membeku mendengar ucapan Andra untuk pertanyaannya. Untuk sesaat, Keila hanya bisa diam sembari mengalihkan pandangannya dari Andra yang mulai melahap roti kukus ketiga.
“Kamu tidak merindukanku?” Andra bertanya kepada Keila yang diam membeku dan tidak merespon ucapannya.
Keila menghirup napas kuat-kuat sebelum menghembuskannya dengan kencang. Setelah melakukan itu, Keila yang tadinya mengalihkan pandangannya dari Andra kembali melihat ke arah Andra. “Kamu mempermainkanku lagi, Andra. Aku tidak merindukanmu. Justru aku merasa senang punya banyak waktu luang selama beberapa hari ini.”
Keila mengira ucapannya itu akan membuat Andra menatapnya dengan tatapan kesal atau tatapan tidak terima. Tapi dugaan Keila itu salah. Andra tetap bersikap tenang seperti biasanya seolah ucapan Keila itu tidak berarti baginya.
“Jika kau masih belum merindukanku, maka usahaku untuk membuat kekasihku merindukanku sepertinya masih kurang.”
Mata Keila kembali membulat ketika mendengar kata “kekasih” keluar dari mulut Andra dengan wajah tenangnya itu.
“Kau ini!! Sudah kukatakan berhenti menganggapku sebagai keka-“
Andra tiba-tiba menyodorkan piring kosong ke arah Keila dan membuat Keila menghentikan ucapan kesalnya kepada Andra. “Ini. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama. Bagaimana rasanya?” Rasa penasaran Keila membuatnya lupa jika sesaat tadi Keila sempat merasa kesal kepada Andra.
Andra berhasil mengalihkan perhatian Keila yang tadinya kesal karena ucapannya. “Enak. Aku tidak menyangka memakan roti kukus di bawah hujan rasanya benar-benar enak. Lain kali kau harus membuatkannya lagi untukku, terutama ketika hujan turun.”
Keila kembali melemparkan tatapan tajam ke arah Andra. “Maumu.”
Keila membuat pipinya sedikit menggembung karena rasa kesalnya kepada Andra yang tidak bisa dilampiaskannya kepada Andra.
Hujan yang tadinya turun dengan deras perlahan mulai berhenti. Langit yang tadinya berwarna gelap perlahan berganti warna dengan putih. Sinar matahari yang tadinya tertahan oleh gelapnya langit mendung kini perlahan bergerak dan mulai menyinari bumi lagi. Tidak lama kemudian kombinasi tujuh warna terbentuk di langit dan membuat Keila dan Andra yang melihatnya tersenyum bersama-sama.
“Jarang sekali aku bisa melihat pelangi,” ucap Keila memandang pelangi. “Hujan kali ini benar-benar berkah.”
“Benarkah begitu?” Andra membalas ucapan Keila.
Keila menatap Andra dengan senyuman di bibirnya. “Ya. Kita beruntung bisa melihat pelangi setelah hujan turun. Karena pelangi tidak selalu ada ketika hujan berakhir.”
Andra menggelengkan kepalanya menatap Keila. “Tidak bagiku.”
“Oh bagimu, pelangi adalah sesuatu yang biasa dan tidak menarik, begitu?"
“Bukan begitu maksudku." Andra menajwab dengan senyuman di bibirnya menatap ke arah Keila. "Karena setiap hari aku sudah melihat pelangi, jadi pelangi yang muncul kali ini tidak terlihat menarik di mataku.”
“Apa maksudmu?” Keila merasa bingung dengan jawaban Andra. "Apa ada pelangi yang muncul setiap hari? Apa kau tidak salah lihat?"
"Ada, kamu.” Andra tersenyum menatap Keila yang sedang menatap dirinya dengan tatapan bingung. “Bagiku, kau adalah pelangi yang memberi warna dalam hidupku. Kamu adalah pelangi yang bisa kulihat setiap hari dan kuharap bisa terus kulihat selama sisa hidupku ini."
“. . .”
Sekali lagi, Keila membeku dan tidak bisa berkata apapun membalas ucapan Andra. Keila mungkin tidak menyadarinya tapi sesuatu di dalam hatinya kini mulai bergerak.
Bergerak karena Andra.