
“Tujuh tahun yang lalu, apa yang Andra lakukan di tempat ini??” Keila kemudian meralat pertanyaan yang ingin ditanyakannya kepada Liam.
Liam kemudian menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekat ke arah Keila. Liam berdiri sejajar dengan Keila sembari menatap ke arah foto yang saat ini sedang dilihat oleh Keila. “Kurasa ini alasan kenapa Direktur tidak pernah membiarkan Nona Keila masuk kemari.”
“Apa maksudnya dengan itu, Liam?” Keila menatap Liam dengan tatapan bingung. “Kenapa aku tidak boleh melihat foto ini?”
“Foto ini adalah bukti pertemuan pertama Direktur dengan cinta pertamanya. Itulah yang Direktur katakan padaku di saat saya bertanya beberapa tahun yang lalu.” Setelah mengatakan hal itu, Liam kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dan membuka galeri foto yang tersimpan di dalam ponselnya. Liam kemudian menunjukkan sebuah foto kepada Keila dan berkata,, “Ini adalah foto milik Direktur ketika saya bertemu pertama kali dengannya ketika kuliah.”
Keila menatap layar ponsel milik Liam dengan tatapan bingung. Keila merasa bingung kenapa Liam menunjukkan foto lama Andra kepada dirinya. Namun samar-samar sebuah ingatan kecil Keila yang tertumpuk di dalam otak Keila muncul di dalam benaknya bersamaan dengan ucapan Andra ketika bersama dengannya di jembatan itu.
“Keputusan untuk tetap bertahan atau melepaskan sesuatu yang penting bagiku.”
“Awalnya aku memilih untuk menyerah tapi-“
“Tapi sesuatu terjadi dan membuatku memilih untuk tidak menyerah.”
Setelah menatap layar ponsel milik Liam dan mengingat sesuatu. Keila kemudian menatap kembali foto di depannya yang tergantung di apartemen Andra. Kenapa aku bisa melupakannya? Aku benar-benar bodoh. Sekarang semuanya masuk akal. Alasan Andra melakukan semua hal untukku, alasan Andra selalu menyebut dirinya sebagai kekasihku bahkan ketika aku bersikeras menolaknya, lalu alasan dari buket bunga yang selalu datang padaku: itu semua karena Andra adalah anak berkacamata tebal yang aku tolong tujuh tahun yang lalu. Setelah menemukan fakta penting itu, ingatan Keila kemudian memutar percakapannya dengan Andra ketika bersama di jembatan itu, yang menceritakan pertemuan Keila dengan anak laki-laki berkacamata tebal.
“Kami berdua berbincang sejenak. Aku bertanya padanya alasan teman-temannya membullynya. Aku juga bertanya padanya kenapa dia tidak melawan mereka dan membiarkan dirinya menjadi korban bully.” Keila menjawab sembari mengingat-ingat kenangan lamanya itu.
“Lalu, apa yang dikatakan anak itu? Apa alasan anak itu menjadi korban bully?” Andra bertanya dengan wajah penasaran.
“Alasan anak itu menjadi korban bully sama dengan alasan kebanyakan anak yang menjadi korban bully di berbagai tempat: karena penampilan yang sedikit culun, karena mengenakan kacamata yang tebal dan terakhir, karena tidak ingin melawan.” Keila masih mengingat-ingat percakapannya dengan anak korban bully itu.
“Lalu apa kamu diam saja melihat alasan pembullyan itu?”
Keila menggelengkan kepalanya. “Tidak. Jika aku tidak salah ingat, aku sempat bicara kepada anak itu waktu itu. Tapi sepertinya, aku lupa apa yang aku katakan pada anak itu waktu.”
Keila menganggukkan kepalanya dengan ragu sembari berusaha mengingat kenangan lamanya waktu itu. “Ya, aku tidak bisa mengingat dengan jelas percakapanku dengan anak itu. Bahkan wajah dan rupanya, aku tidak bisa mengingatnya meski saat ini aku sedang membicarakannya. Hanya satu hal dari rupanya yang aku ingat: kacamata tebalnya.”
“Ah setelah berbicara panjang lebar, kau melupakan hal yang penting dan membuatku penasaran, Keila.” Andra berkata dengan nada kesalnya karena begitu penasaran dengan cerita itu.
“Aku memang melupakan percakapanku dengan anak itu, tapi aku mengingat sesuatu yang penting. Berkat anak itu, aku yang sempat tidak bisa menerima kematian ayahku akhirnya bisa menerima kematian ayahku dengan hati yang lapang. Entah apa yang aku katakan pada anak itu dan entah apa yang dikatakan anak itu padaku, tapi yang jelas hari itu kami berdua yang sedang memiliki hari yang buruk, mendapatkan semangat hidup kami kembali.” Keila mengembuskan napas panjang merasa lega. “Aku penasaran bagaimana kabar anak itu sekarang? Tapi. . mungkin bahkan jika kami bertemu lagi, aku tidak akan mengenalinya. Bahkan saat ini pun, aku tidak mengingat wajahnya dalam ingatanku.”
Setelah ingatannya selesai memutar kembali ingatannya, Keila kemudian menatap Liam dan berkata dengan suara lemahnya. “Aku benar-benar bodoh, Liam. Hari itu, aku datang ke jembatan itu bersama dengan Andra dan menceritakan pertemuanku dengan anak laki-laki berkacamata tebal. Aku mengatakan pada Andra ingin bertemu lagi dengan anak itu dan melihat kehidupannya yang sekarang, tapi ketika anak itu berdiri di hadapanku dengan penampilan yang sama, aku sama sekali tidak mengenalinya. Aku benar-benar bodoh.”
“Jangan merasa bersalah, Nona Keila. Pertemuan itu sudah sangat lama sekali, jadi tidak mengherankan jika Nona Keila melupakan kejadian kccil itu.” Liam berkata sembari memberikan senyuman hangatnya kepada Keila untuk menghibur Keila. “Ketika aku pertama kali bertemu dengan Direktur, aku hanyalah anak tidak mampu yang kebetulan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Karena kenyataan bahwa aku adalah anak kurang mampu, beberapa anak kemudian membuatku menjadi sasaran bully mereka. Direktur kemudian membantuku dan membelaku dari anak-anak itu. Hari itu, aku bertanya pada Direktur alasan dia yang merupakan anak dari keluarga kaya raya mau menolongku. Lalu Direktur memberikanku jawaban, bahwa di masa lalu ada seorang gadis yang membantunya. Berkat pertolongan yang diberikan gadis itu, Direktur kemudian membantuku sebagai balasan untuk perbuatan gadis itu.”
Mendengar cerita Liam, Keila kemudian samar-samar mengingat ucapannya kepada anak berkacamata tebal yang ditemuinya tujuh tahun yang lalu.
“Bagaimana aku harus membalas perbuatan baik, Kakak?”
Keila tersenyum menatap anak laki-laki berkacamata tebal di hadapannya. “Cukup kau hidup dengan baik dan kelak jika kau melihat seseorang yang bernasib sama denganmu, alangkah baiknya jika kamu melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan padamu. Kurasa itu balasan yang cukup.”
“Andra bahkan masih mengingat ucapanku itu. Aku benar-benar tidak menyangka.” Air mata Keila menetes tanpa disadarinya ketika mengingat kembali ingatan lamanya bersama dengan anak laki-laki berkacamata tebal yang ditemuinya tujuh tahun yang lalu. “Lalu apa yang terjadi setelah itu, Liam?”
“Hubungan kami menjadi dekat. Sejak saat itu, saya mengikuti Direktur dan bekerja padanya. Setelah kembali ke negara ini, beberapa kali Direktur akan meluangkan waktunya dan berkunjung ke jembatan itu dengan harapan bisa bertemu kembali dengan penyelamatnya. Melihat tindakan Direktur yang tidak biasa, saya kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Direktur tentang alasannya selalu mengunjungi jembatan itu. Direktur kemudian menunjukkan foto ini pada saya dan menceritakan pertemuannya dengan Nona.” Liam kemudian menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya yang cukup panjang kepada Keila. “Setelah beberapa kali mengunjungi jembatan dan tidak menemukan sosok yang dicarinya, Direktur sempat merasa putus asa. Lalu di saat Direktur hampir menyerah, Direktur yang awalnya bekerja di kantor pusat kemudian dipindahkan ke cabang kota ini dan bertemu dengan sosok yang selama ini selalu dicarinya. Hal itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu.”