
Seperti ucapan Andra, malam harinya Keila dan Andra makan malam bersama di tepi pantai layaknya sepasang kekasih. Makan malam dengan semua jenis makanan seafood disajikan, namun Keila sama sekali tidak menikmati makan malam mewahnya itu.
Kalian tahu kenapa?
Jawabannya mudah karena pikiran Keila saat ini sedang tidak bisa fokus menikmati makanannya dan justru memikirkan dirinya sendiri yang tidak menghilang rasa gugup sekaligus jantungnya yang terus berdetak kencang ketika bersama dengan Andra.
Sial. Makanan mewah ini mubadir karena pikiranku membuatku memikirkan hal lain sehingga tidak bisa menikmati makan malam mewah ini. Keila mengumpat di dalam hatinya berulang kali sembari berusaha menjejalkan makan malam mewah itu ke dalam mulutnya dan sesekali mencuri pandang ke arah Andra yang makan dengan tenang seolah tidak terjadi apapun.
Kenapa dia tetap tenang sedangkan aku gugup tidak karuan? Kenapa dia bisa menikmati makanannya sementara aku di sini tidak nafsu untuk makan karena jantungku yang terus berdetak kencang karena ulahnya? Ini benar-benar tidak adil. Keila ingin sekali mengucapkan apa yang ada di dalam benaknya saat ini kepada Andra, namun jika Keila melakukan hal itu maka yang Keila takutkan adalah Andra akan tertawa mendengarnya dan merasa berhasil mempermainkan dirinya.
Setelah makan malam berakhir, Andra membawa Keila kembali ke vila dan membiarkan Keila berada di kamarnya tanpa bertanya apapun. Keila merasa Andra sepertinya menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan oleh Keila sejak makan malamnya dan membiarkan Keila menghabiskan malamnya di vila saja.
Dari pukul sembilan malam hingga tengah malam, Keila bisa memejamkan matanya meski tidur dalam keadaan tidak nyenyak. Akan tetapi dari tengah malam hingga pukul empat pagi, Keila benar-benar tidak bisa tertidur. Memejamkan matanya rasanya tidak berguna. Selama empat jam Keila berguling-guling di tempat tidurnya dan beberapa kali mengubah posisi tidurnya, namun pada akhirnya Keila tetap tidak bisa tertidur.
Kesal karena tidak bisa tertidur, Keila kemudian mengambil selimutnya dan berpindah ke ruang duduk Vila yang menghadap ke arah timur sembari menunggu matahari terbit. Tadinya Keila mengira, Keila tidak akan bisa tertidur setelah empat jam lamanya berusaha memejamkan matanya untuk jatuh tertidur. Sayangnya angin malam yang berembus dari laut berhasil membuat Keila merasa nyaman dan tidak lama kemudian membuat Keila memejamkan matanya dan jatuh tertidur. Keila tidak lagi memikirkan keinginannya untuk melihat matahari terbit karena tubuhnya yang masih lelah dan membutuhkan tidur. Embusan angin malam dari laut berhasil membuat Keila jatuh tertidur.
# # #
Keila merasakan sesuatu membelai lembut kepalanya. Tadinya Keila tidak ingin membuka matanya karena merasa nyaman dengan belaian itu, akan tetapi rasa penasaran Keila yang lebih besar dari rasa nyamannya membuat Keila akhirnya memilih untuk membuka matanya dan memastikan sesuatu yang dengan lembut membelai kepalanya.
“Sudah bangun?”
Begitu membuka matanya, Keila mendapati jarak wajahnya dengan jarak wajah Andra terlalu dekat. Spontan, jantung Keila berdetak lebih kencang dan rasa panik menyerang Keila lagi. Keila mengangkat kepalanya karena ingin menghindari jarak tatapan yang terlalu dekat dan hal itu justru membuat kepala Keila dan kepala Andra bertabrakan.
“Auwwwwwww!” Keila berteriak sembari memegang kepalanya yang sakit.
“Kenapa kamu mengangkat kepalamu tiba-tiba?” tanya Andra yang berusaha menahan sakit di kepalanya dengan memegang bagian kepalanya yang bertabrakan dengan kepala Keila.
“Wa-wajahmu terlalu dekat. Jadi, tanpa sadar aku bergerak untuk menghindarinya.” Keila memijat bagian kepalanya yang sakit dan matanya menangkap bahwa cahaya matahari kini sudah menerangi permukaan bumi. “Ah, aku gagal melihat matahari terbit. Aku tertidur selagi menunggu matahari terbit.”
“Kenapa kau tidur di sini dan bukannya di kamarmu?”
“Aku tidak bisa tidur. Jadi aku pindah kemari dengan niat melihat matahari terbit. Tapi aku tertidur karena angin laut yang sejuk.” Keila masih memijat bagian kepalanya yang sakit.
“Kenapa kau tidak bisa tidur? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”
Ini salahmu. Karena ulahmu. Karena ucapanmu semalam. Kenapa kau tidak sadar-sadar? Keila melirik ke arah Andra dan menyadari jika Andra saat ini sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang selama ini dilihat Keila pada orang-orang yang sedang jatuh cinta. Menyadari arti tatapan Andra padanya, dalam waktu singkat rasa gugup yang baru saja hilang karena benturan kembali lagi.
“Kenapa diam?” Andra bertanya lagi kepada Keila. “Mungkinkah kamu tidak bisa tidur karena ucapanku semalam?”
“Karena kau tidak mau menjawab pertanyaanku, maka kali ini aku yang akan berbicara padamu.” Andra menarik wajah Keila yang tadinya berusaha untuk menghindarinya dan membuat Keila menatap ke arahnya. “Aku tidak tahu kenapa, tapi aku selalu merasa bahwa kamu menganggapku sedang mempermainkanmu. Sekarang aku ingin menjelaskan hal ini padamu, aku tidak pernah punya satu niat pun untuk mempermainkanmu, Keila. Aku mengatakan pada teman-temanmu bahwa aku adalah kekasihmu karena aku benar-benar ingin jadi kekasihmu.”
“Kau tidak sedang mempermainkanku bukan?” Keila bertanya dengan gugup. Saat ini Keila benar-benar tidak menyangka jika tetangganya yang selama ini dianggapnya sebagai pengganggu benar-benar menyimpan perasaan untuknya. “Kau serius dengan ucapanmu? Kamu bukan lagi mencoba kalimat untuk mengajak wanita lain berkencan bukan?”
“Kenapa kau berpikir aku tidak pernah serius dengan ucapanku padamu?” Andra berbalik bertanya.
“Karena aku tidak pernah percaya pada cinta pandangan pertama. Aku tidak pernah percaya pada seseorang yang akan jatuh cinta hanya dalam hitungan tiga detik atau pada sekali pandangan. Kau dan aku bertemu belum lama ini bahkan kita mengenal belum sebulan lamanya. Bukankah jelas alasanku menganggap ucapanmu padaku tidak serius?”
Andra menganggukkan kepalanya paham. “Ah itu sebabnya kau tidak pernah percaya dan menganggap semua ucapanku sebagai usaha untuk mempermainkanmu?”
“Ya.” Keila menjawab dengan singkat.
“Maafkan aku kalau begitu. Selama ini aku tidak pernah punya kekasih, jadi aku tidak pernah berpikir jika ucapanku selama ini kepadamu ternyata justru membuatmu merasa bahwa aku sedang mempermainkanmu.”
Keila diam membeku berusaha mencerna dan terkejut ketika menyadari sesuatu. “HAH?? Apa yang baru saja kamu katakan? Kamu tidak pernah punya kekasih? Kamu sungguh- sungguh dengan ucapanmu? Kamu tidak berbohong padaku bukan?” Keila terkejut mendengar ucapan Andra.
Andra menganggukkan kepalanya. “Ya, aku tidak pernah punya kekasih.”
“Dengan wajah seperti itu, pesona seperti itu dan sikapmu yang seperti, kau benar-benar belum pernah berpacaran dan memiliki kekasih?” Keila menaikkan nada suaranya karena terkejut melihat kenyataan bahwa pria tampan di hadapannya saat ini belum pernah memiliki kekasih seumur hidupnya. Keila pernah bertanya hal itu kepada Andra namun Keila mengira jawaban Andra yang mengatakan dirinya belum pernah memiliki kekasih, dianggap Keila sebagai kebohongan belaka. Keila benar-benar tidak menyangka jika Andra yang punya wajah tampan dibalik kacamatanya itu belum pernah punya kekasih sekalipun.
“Ya,” Andra menganggukkan kepalanya. “Aku tidak pernah punya kekasih sebelum ini. Kau orang pertama yang aku sebut dengan sebutan kekasih.”
“Kenapa???” Keila membelalakkan matanya mendengar jawaban Andra. Keila benar-benar tidak percaya dengan kenyataan bahwa pria setampan dan mempesona seperti Andra tidak pernah punya kekasih sebelum-sebelum ini. “Apa semua gadis yang kamu temui dalam keadaan buta hingga tidak menyadari pesonamu dan wajah tampanmu ini? Bahkan kacamata yang terpasang dan menutupi matamu ini tidak akan bisa menutupi wajah dan pesonamu?”
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Keila, spontan Andra tertawa kecil di hadapan Keila.
“Kenapa kamu tertawa??” Keila menatap tajam ke arah Andra karena merasa heran. “Apa yang lucu dari ucapanku?”
Andra berusaha menahan tawa kecilnya sejenak dan kemudian memandang Keila dengan tatapannya yang penuh cinta.
“Kenapa sekarang menatapku seperti itu?” Keila bertanya lagi karena merasakan tatapan Andra yang selalu membuatnya merasa panik dan tiba-tiba merasa ingin melarikan diri. Keila tahu dengan baik tatapan yang diterimanya saat ini adalah tatapan penuh cinta yang mampu membuat jantungnya berdetak dengan kencang, rasa panik yang menyerang ke seluruh tubuhnya dan panas yang tiba-tiba menjalar hingga rasanya Keila ingin menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
“Aku tertawa karena merasa senang. Dari ucapanmu tadi, akhirnya aku tahu bahwa selama ini di matamu itu aku adalah pria yang tampan bahkan dengan kacamata yang terpasang di wajahku ini. Aku merasa senang mendengarnya, Keila,” jelas Andra. “Aku merasa senang sekali karena aku punya kesempatan untuk mendekatimu dan menjadi kekasihmu.”
“. . .” Ucapan Andra berhasil membuat Keila membeku sekali lagi. Jantung Keila benar- benar berdetak dengan kencang dan rasanya Keila tidak sanggup menahan denyut jantungnya yang semakin kencang ini.
Secara tiba-tiba, Andra menggenggam kedua tangan Keila dan mencium punggung tangan Keila. “Mulai hari ini, aku ingin kau tahu. Aku benar-benar akan mengejarmu dan berusaha untuk membuatmu menjadi kekasihku. Aku akan membuatmu menerima sebutan dan status kekasih yang selalu aku ucapkan selama ini kepadamu. Ingatlah itu, Keila! Ini adalah deklarasi dariku.”