30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
45. PERMINTAAN 1



Untuk sejenak, Andra memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Keila. Untuk sejenak, Andra memilih untuk membalut luka di kening Keila yang bahkan telah meneteskan darah. Ya. . . hanya untuk sejenak saja. Begitu Andra selesai membalut luka di kening Keila, Andra duduk di depan Keila dan menatap Keila dengan tatapan penuh cinta seperti yang selama ini selalu dilakukannya. 


“Penggemar rahasiamu dan juga pengirim buket bunga itu memanglah aku,” jelas Andra sembari menatap Keila dengan tatapan penuh cinta. Andra merasa bersalah karena sejak awal dirinya tidak jujur pada Keila. Andra tahu keadaan ini cepat atau lambat akan datang padanya. “Maafkan aku karena merahasiakan hal ini dan tidak segera memberitahumu.” 



“Selama beberapa hari ini aku merasa heran karena Direktur yang selama ini selalu menghindari sorotan, tidak terusik dengan gosip yang sedang menggosipkan dirinya dengan seorang karyawan biasa. Siapa yang akan menyangka jika gosip yang beredar adalah sebuah fakta yang bahkan aku tidak tahu,” ujar Keila dengan kesal. “Akhirnya semuanya menjadi jelas. Alasan kenapa saat cuti, Liam yang membawakan surat keterangan sakitku. Alasan kenapa Direktur yang tidak pernah muncul di depan karyawannya muncul ketika aku sedang diskorsing. Semua itu karena kau sedang menyembunyikan identitasmu dariku. Aku seperti orang bodoh yang kebingungan dan takut selama ini, karena gosip itu, karena buket bunga itu akan menghancurkan hubunganku dengan kekasihku yang bernama Andra.” 



Mendengar ucapan Keila yang penuh amarah kepada dirinya, Andra hanya bisa menundukkan kepalanya sembari meminta maaf. “Maafkan aku, Keila. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan segalanya kepadamu.”



“Dan kapan waktu yang tepat itu, Direktur? Rasanya aku seperti lelucon yang kebingungan memikirkan penggemar rahasia yang mungkin membuat kekasihku marah dan ditambah lagi gosip yang muncul entah bagaimana,” ujar Keila yang kesal memikirkan hari-harinya ketika khawatir tentang hubungannya dengan Andra yang mungkin akan rusak karena penggemar rahasianya. 



“Maaf, Keila. Maafkan aku. Tadinya aku berniat untuk mengatakannya kepadamu hari ini ketika kamu datang kemari. Tapi siapa yang akan menyangka jika kamu akan terlibat pertengkaran dengan Yuna dan membuat rencanaku untuk jujur kepadamu menjadi berantakan.” 



Keila kemudian melihat Andra telah selesai membalut lukanya dan bertanya dengan nada dingin kepada Andra. “Sekarang aku bisa kembali pada rekan-rekanku kan, Direktur?” 



Andra menatap Keila yang berbicara dingin ke arahnya dan sama sekali tidak ingin menatapnya. Andra tahu saat ini Keila benar-benar marah padanya, Keila benar-benar merasa dipermainkan olehnya, tapi di saat yang sama Keila masih menjaga hubungannya dengan Andra sebagai atasan dan bawahan karena emosi sesaat yang tadi empat dilepas Andra ketika melihat Keila terluka tepat di depan matanya. “Ya, kau bisa kembali bersama dengan rekan-rekanmu yang saat ini menunggu bersama dengan Liam. Tapi aku akan tetap bertanya tentang apa yang terjadi tadi, kau bisa memahaminya kan, Keila?” ucap Andra menyetujui permintaan Keila. 



“Saya mengerti, Pak Direktur.” 



Keila berbalik dan hendak keluar dari ruangan Andra, namun Andra dengan cepat memanggil nama Keila dan menghentikan langkah Keila. 



“Key!” 



Keila berbalik dengan sikap sopan. “Ya, Pak Direktur.” 



“Kita harus bicara ketika pulang kerja nanti. Aku harus menjelaskan segalanya kepadamu.” 



Keila membalik tubuhnya dan tidak membalas ucapan Andra padanya. Keila memilih mengabaikan ucapan itu dan segera keluar dari ruangan Andra. 



Keila yang tiba di ruangan di mana Irene, Suci, Nuri dan Yuna menunggu, langsung mendapat sambutan hangat dari Irene, Suci dan Nuri. Hanya Yuna satu-satunya yang memberikan sambutan dengan tatapan sengit ke arah Keila 



Setelah selama kurang lebih lima belas menit menunggu, Andra bersama dengan Liam, Yuda dan Baron kemudian masuk ke dalam ruangan yang sama di mana Keila bersama dengan ketiga rekan sekaligus Yuna sedang menunggu. 



Liam kemudian memasang proyektor ke laptop miliknya dan membuat semua orang di ruangan itu menyaksikan apa yang terjadi antara Keila dan Yuna bersama dengan ketiga rekannya. 



“Berdasarkan pengakuan dari Baron dan Yuda, kejadian memalukan ini dimulai dari Nona Yuna.” Andra yang berbicara dengan tenang dan penuh wibawanya, melemparkan tatapan tajam ke arah Yuna hingga membuat semua orang yang melihat tatapan itu tahu betapa besar kemarahan Andra atau Direktur Rafandra saat ini. “Kenapa Nona Yuna melakukan hal itu?” 



Yuna menundukkan kepalanya karena malu dengan perbuatannya. Tangannya saat ini bergetar bersama dengan bibirnya karena merasakan intimidasi yang kuat dari Andra yang menatapnya dengan tatapan tajam. 



“. . . Kenapa Nona tidak menjawab? Bukankah Nona tadi sanggup membuang batasan Nona dan berani menarik rambut karyawan lain tanpa berpikir panjang dengan akibatnya?” Andra yang tidak mendapatkan jawaban kemudian mengulangi pertanyaannya lagi. 



Suasa tegang kemudian memenuhi seluruh ruangan di mana Keila saat ini berada. Atmosfer di seluruh ruangan kemudian berubah menjadi tekanan yang menyesakkan dan hal itu membuat Keila benar-benar terkejut. Selama ini Andra tidak pernah bersikap seperti ini ketika bersama dengannya. Inikah dirimu yang sebenarnya, Andra? Ah tidak, haruskah aku memanggilmu dengan Direktur Rafandra mulai sekarang? Keila memberanikan dirinya mencuri pandang ke arah Andra yang saat ini sedang menatap tajam ke arah Yuna. 



“S-saya memang bersalah, Pak,” jawab Yuna dengan suaranya yang bergetar. “Saya melakukan hal itu karena saya gelap mata. Saya mendengar gosip mengenai Bapak dan Keila beberapa hari ini. Dan ketika saya mendengar Keila berniat menemui Bapak, saya benar-benar marah dan tidak terima.” 



“Kenapa Nona merasa tidak terima?? Saya bahkan tidak punya hubungan apapun dengan Nona selain sebagai salah satu atasan Nona?” tanya Andra menginterogasi. 




Andra kemudian mengubah arah pandangannya, dari Yuna kemudian menatap Keila. “Nona Keila?” 



“Ya, Pak,” jawab Keila gugup karena terkejut. 



“Apa tujuan Nona datang menemuiku?” tanya Andra dengan wibawanya. 



“Saya datang untuk bertanya kepada Bapak mengenai buket bunga yang selalu datang dan berniat untuk meminta bantuan Bapak menghapus gosip miring itu,” jelas Keila. “Saya benar-benar tidak tahu jika Bapak adalah. . .” 



Andra kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Yuna dan bertanya kepada Yuna dan menyela ucapan Keila dengan cepat. “Apakah itu menjawab pemikiran Nona Yuna? Apakah Nona Yuna sekarang percaya jika Keila bahkan tidak mengenalku?”



“Ya, Pak,” jawab Yuna dengan perasaan bersalah dan wajah yang malu. 



“Aku harap kejadian memalukan ini tidak akan terjadi lagi di kemudian hari, terutama untukmu Nona Yuna. Ini bukan pertama kalinya, kau membuat keributan seperti ini. Sudah beberapa kali kau membuat keributan di luar perusahaan. Aku mengabaikannya karena terjadi di luar perusahaan, tapi kali ini. . . aku tidak bisa mengabaikannya karena hal ini terjadi di perusahaan yang aku pimpin sekaligus bagianku,” jelas Andra yang masih menatap tajam ke arah Yuna seolah memberi Yuna peringatan dengan sorot matanya. “Kalian tentu tidak akan keberatan jika aku memberikan sanksi untuk keributan tadi?” 



Keila bersama dengan Irene, Suci, Nuri dan Yuna kemudian menjawab pertanyaan Andra bersamaan. “Ya, Pak.” 



“Kalau begitu, kalian semua bisa kembali ke departemen kalian masing-masing dan besok, aku akan memberi pengumuman mengenai sanksi yang akan kalian terima.” 



Andra kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangannya dengan diikuti oleh Liam, Baron dan Yuda. Setelah melihat Andra dengan ketiga bawahannya keluar, Keila bersama dengan Irene, Suci dan Nuri kemudian keluar dan segera menuju ke lift. Sementara Yuna tidak lama kemudian keluar dari ruangan dan memilih untuk turun menggunakan tangga darurat. 



“Wahhhh. . . Direktur muda kita itu rupanya bisa menjadi orang yang sangat mengerikan seperti itu,” bisik Nuri ketika masuk ke dalam lift. “Lihat!! Bulu kudukku masih berdiri karena merasa takut dengan tatapan tajam Direktur tadi.” 



Irene yang terakhir masuk kemudian menekan tombol angka tiga di mana departemen mereka berada. 



“Hari ini aku benar-benar nyaris saja terkena serangan jantung,” ujar Suci sembari memegang dadanya. “Direktur kita, idola kita itu menunjukkan dua wajah sekaligus. Pria jantan yang melindungi kekasihnya ketika menggendong Kak Key dan wajah direktur yang penuh wibawa. Meski sempat takut tadi, tapi aku benar-benar kagum dengan Direktur Muda kita itu.”



Nuri kemudian memandang ke arah Keila yang diam dan tidak bicara ketika mendengar ucapannya dengan Suci. Nuri kemudian teringat sesuatu yang penting yang seharusnya ditanyakan lebih dulu kepada Keila. “Kak Key, bisakah aku bertanya?” 



“Ap-apa?” tanya Keila balik terkejut. 



“Bagaimana Kakak bisa tidak menyadari jika kekasih Kakak selama ini adalah Direktur muda yang selama ini menjadi idola kami? Terlebih lagi, Direktur adalah penggemar rahasia Kakak yang selama ini selalu mengirim buket bunga untuk Kakak.” 



Keila terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari Nuri itu. Sementara itu Irene yang menyadari situasi dan raut wajah Keila, kemudian menggantikan Keila menjawab pertanyaan Nuri. “Bisakah kalian tidak bertanya lebih dulu?” 



“Kenapa??” tanya Nuri tidak mengerti. 



“Harusnya kalian sadar, Kak Key lebih terkejut dari kita sekarang. Kak Key benar-benar tidak menduga jika pengagum rahasia yang selama ini dicarinya adalah kekasihnya sendiri.” 



Menyadari pertanyaannya ditanyakan di waktu yang tidak tepat, Nuri kemudian meminta maaf kepada Keila. “Maaf, Kak Key. Maafkan aku.” 



“Sebelum itu,” tanya Keila. “Bagaimana kalian bisa tahu jika Yuna datang menyusulku dan berniat untuk membuat keributan?”