30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
43. SOSOK DI BALIK STATUS PENGAGUM RAHASIA 7



Setelah menceritakan kejadian pagi hari ketika bertemu dengan Liam dan apa yang dikatakan Liam kepada tiga rekan kerjanya, Keila kini sudah membulatkan keputusannya. Setelah setengah hari bekerja sembari menimbang-nimbang tanpa henti, Keila benar-benar telah membulatkan keputusannya. 



“Kakak yakin?” tanya Irene dengan sedikit berbisik ketika makan bersama di kantin dengan Keila, Suci dan Nuri. 



Keila menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Aku yakin. Jika aku ingin masalah ini selesai, aku harus bertanya langsung kepada direktur. Jika aku ingin menjaga hubunganku dengan Tee Rak terus berjalan, aku harus menyelesaikan kesalahpahaman antara aku dan pengagum rahasiaku itu. Selain itu-“ 



“Tunggu, Kak!” Nuri menyela ucapan Keila dengan kening mengerut. 



“Kenapa Nuri??” tanya Keila sembari mengalihkan pandangannya ke arah Nuri. 



“Aku baru saja mendengar kata aneh?” Nuri mengerutkan keningnya lagi. “Tee Rak?? Apa itu nama kekasih Kakak?” 



“Ya, aku juga mendengarnya,” tambah Suci yang juga merasa heran dengan Nuri. “Apa mungkin itu nama kekasih Kakak?” 



“Apa aku menyebutnya begitu?” Keila berbalik bertanya karena dirinya juga sama terkejutnya. 



Nuri, Suci dan Irene menganggukkan kepalanya di waktu bersamaan. “Ya, Kakak menyebutnya begitu.” 



“Oops!” Keila menutup mulutnya. “Aku ke-le-pa-san.” 



Suci yang duduk tepat di samping Keila kemudian menarik tangan Keila yang menutupi mulutnya. “Apa maksudnya dengan kelepasan? Kak belum menjawab pertanyaanku dan Nuri, apa Tee Rak itu nama Kekasih Kakak??” 



Sial! Keila mengumpat di dalam benaknya. Keila kemudian menatap wajah tiga rekannya secara bergantian dan kemudian mendapati tiga pasang mata dari ketiga rekannya menatapnya dengan tajam dengan penuh rasa ingin tahu. “Baiklah. . . Baiklah. . . berhenti menatapku seperti itu!” 



Keila menarik napas panjang sembari sekali lagi menatap tiga pasang mata ketiga rekannya itu. Keila tadinya berharap bisa mengalihkan perbincangan ini ke arah yang lain, sayangnya Keila sadar bahwa mengalihkan perbincangan bukanlah solusi yang tepat. “. . . Tee Rak itu hanya panggilan yang aku buat untuk memanggilnya saja.” 



“Lalu apa arti kata Tee Rak?” tanya Nuri dengan wajah penasarannya. 



“I-itu. . .” 


Keila ragu-ragu untuk mengatakan arti kata Tee Rak itu kepada tiga rekannya. Namun Irene yang selalu tanggap dengan cepat membantu Keila dengan menyodorkan ponsel miliknya ke arah Nuri dan Suci. 


“Lihatlah ini!” ujar Irene. 



Nuri dan Suci yang sudah sangat penasaran kemudian melihat ke arah ponsel milik Irene yang disodorkan dan kemudian melihat arti kata Tee Rak yang muncul di layar ponsel milik Irene. 



“Uwaaahhhhhhh. . . .” teriak Nuri dan Suci bersama-sama hingga membuat semua mata yang ada di kantin tertuju kepada Nuri dan Suci bersamaan. 



“Hei!” teriak Keila yang menyadari tatapan yang tertuju pada Suci dan Nuri. “Apa yang kalian lakukan?? Jangan berteriak di kantin yang sedang ramai dan menarik perhatian!” 



Nuri dan Suci yang mendapat teguran dari Keila kemudian menyadari situasi mereka dan segera mengatakan maaf kepada seluruh karyawan yang berada di kantin. “Maafkan kami.” 



“Bisakah kalian berdua bersikap tidak berlebihan?” gumam Irene dengan sedikit menutup wajahnya karena malu duduk di samping Nuri. “Ini sungguh memalukan.”



“Maaf!! Maaf jika kami membuatmu malu, Irene,” ujar Nuri dengan nada ketusnya kepada Irene. Setelah membalas Irene, Nuri kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Keila dengan senyuman lebar di wajahnya. Nuri kemudian menggoda Keila. “Kakak sepertinya benar-benar jatuh hati dengan kekasih Kakak kali ini??” 



“Berhenti membahas itu!!” ujar Irene kepada Nuri. Irene kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Keila “Lalu kapan Kakak akan menemui Direktur Rafandra untuk mengonfirmasi segalanya?” 



“Setelah jam makan siang.” Keila menjawab singkat sembari memakan sendok terakhir makan siangnya. 



“Perlukah aku temani?” tanya Irene menawarkan diri. 



“Tidak!” sela Suci. “Biar aku saja yang menemani Kakak.” Suci menawarkan dirinya juga dengan maksud yang lain. 


 Nuri yang tidak ingin kalah dan menyadari niat terselubung dari Suci, juga menawarkan dirinya. “Aku saja, Kak.” 


Keila memandang tajam ke arah ketiga rekannya dan kemudian menjawab dengan tegas. “Tidak satupun dari kalian yang bisa ikut. Aku masih paham Irene yang mungkin khawatir denganku, tapi kalian berdua. . .” Keila menunjuk ke arah Suci dan Nuri menyadari niat terselubung dari Suci dan Nuri, “aku tahu kalian berdua ingin ikut karena ingin bertemu dengan Liam dan Direktur pujaan kalian itu.” 


Suci dan Nuri segera menghela napas panjang dan menekuk wajahnya karena gagal untuk bertemu dengan dua idola mereka. 



“Sayang sekali,” ujar Suci. 



“Ya benar sayang sekali, kami tidak bisa menikmati satu dari beberapa keajaiban Tuhan di dunia yang sangat dekat denganku, “ tambah Nuri. 


Sementara itu, Irene yang masih khawatir dengan Keila hanya bisa memasang wajah khawatir kepada Keila. “Aku benar-benar khawatir dengan Kakak.” 


“Tenang saja Irene,” Keila menyadari wajah khawatir Irene yang ditujukan kepada dirinya. “Aku akan baik-baik saja.” 



Setelah jam makan siang berakhir, Keila yang telah memantapkan niatnya kemudian meminta ijin kepada Pak Agung. Setelah mendengar alasan Keila, Pak Agung dengan mudahnya memberikan ijin kepada Keila. 




“Terima kasih Pak.” 



Keila kemudian berjalan menuju ke lift dan mulai menekan lantai di mana bagian Direktur Rafandra berada: lantai delapan. Dua menit kemudian pintu lift terbuka dan Keila berjalan menuju ke ruang bagian milik Direktur Rafandra. 



Begitu tiba di depan ruang milik bagian Direktur Rafandra, Keila langsung disambut oleh Liam yang sedang berjalan menuju ke luar ruangan. 



“Siang, Nona Keila,” sapa Liam dengan raut wajahnya yang terkejut melihat kehadiran Keila. “Apa yang membawa Nona datang kemari?” 



Tangan Keila sedikit bergetar karena perasaan gugupnya. “I-itu. . . aku ingin bertemu dengan Direktur. Apakah Direktur ada?” 



Bibir Liam tersenyum mendengar jawaban dari Keila. “Akhirnya Nona Keila membuat keputusan yang benar. Sayangnya Direktur sedang tidak ada di sini saat ini, tapi. . .” 



Keputusan yang benar? Keila yang mendengar ucapan Liam semakin yakin bahwa pengirim bunga itu adalah Direktur Rafandra. Untuk memastikannya aku harus bertanya langsung kepada Direktur. 



“Ta-tapi apa, Liam?” tanya Keila dengan terbata-bata karena rasa gugupnya. 



“Jika Nona bersedia menunggu sekitar sepuluh menit lagi, Nona bisa bertemu dengan direktur. Apa Nona bersedia untuk menunggu?” Liam berbalik bertanya kepada Keila lengkap dengan senyuman di bibirnya. 



“Ba-baiklah aku akan menunggu,” jawab Keila pasrah. Keila yang sudah membulatkan tekad dan niatnya, hanya ingin masalah ini segera berakhir dan tidak lagi mengganggunya lagi di masa depan. “Aku akan menunggu di sini.” 



Liam kemudian membawa Keila di mana Keila dapat duduk menunggu kedatangan direktur. “Silakan duduk di sini, Nona Keila. Saya harus pergi menjemput direktur yang akan tiba sebentar lagi, apa Nona tidak keberatan jika saya meninggalkan Nona di sini?” 



Keila menganggukkan kepalanya. “Tentu saja.”



Sebelum pergi menjemput direktur, Liam kemudian memanggil Yuda dan Baron untuk menitipkan Keila dan memberikan Keila minuman sembari menunggu kedatangan direktur mereka. 



“Aku titip Nona Keila,” ujar Liam kepada Yuda dan Baron. “dan jangan lupa untuk memberinya minuman.” 



“Kami mengerti, Pak Liam,” ujar Baron dan Yuda bersamaan. 



Setelah mengatakan itu, Liam kemudian segera bergegas pergi dan meninggalkan Keila seorang diri bersama dengan Yuda dan Baron. 



“Ini untuk Nona,” ujar Yuda sembari memberikan secangkir kopi kepada Keila seperti perintah Liam. 



“Terima kasih banyak,” balas Keila. 



Selama lima menit menunggu, hanya ada ketenangan yang menemani Keila bersama dengan Baron dan Yuda yang sibuk dengan pekerjaannya. Ketenangan itu nyaris saja membunuh Keila karena membuatnya merasa bosan, hingga seseorang yang tidak diharapkan datang dan merusak ketenangan itu. 



“Sudah kuduga!!” 



Teriakan itu membuat Keila bersama dengan Baron dan Yuda, tersentak dan terkejut di saat yang bersamaan. Keila bersama dengan Baron dan Yuda kemudian bangkit dari duduknya bersama-sama untuk melihat asal dari teriakan itu. 



“Kali ini aku benar-benar menangkap basah kau, Keila!!” 



Teriakan itu terdengar lagi dan kali ini terdengar lebih kencang bersama dengan nada amarah dan tidak terima. Keila yang kali ini bisa dengan jelas melihat pemilik suara teriakan itu, kemudian mengganti raut wajahnya dari terkejut menjadi heran. 



“Yuna?? Kenapa kau berteriak seperti itu di sini?”



Yuna berjalan mendekat ke arah Keila dan tidak lama kemudian menarik rambut Keila. “Kau benar-benar menyebalkan Keila!!” 



“Ahhhhhh!!!” Keila berteriak kesakitan karena rambutnya yang panjang ditarik paksa oleh Yuna “Apa yang kau lakukan??? Apa kau sudah gila, Yuna??” 



“Aku gila??” Yuna yang kesal dengan pertanyaan Keila kemudian menarik rambut Keila lebih keras lagi. 



“Aahhhhhhhh!!!” Keila hanya bisa berteriak menahan rasa sakitnya dan berusaha melepaskan rambutnya yang ditarik oleh Yuna tanpa membalas Yuna. 



“Aku gila karena kau, Keila!! Sebelum ini Noah dan sekarang setelah membuang Noah, sekarang kau berusaha merebut Direktur Rafandra yang berusaha kukejar!” teriak Yuna semakin membabi buta. 



“A-apa maksudmu??” tanya Keila merasa heran. Keila yang merasa kesakitan kemudian berteriak lagi. “Ahhhhhh!!”