
Setelah membantu Ibu Keila memetik buah-buahan di kebunnya, Keila dan Andra kemudian sarapan bersama sebelum akhirnya berpamitan kepada Ibu Keila. Sebelum pergi, Ibu Keila menarik tangan Andra dan berbisik kepadanya. Hal itu membuat Keila merasa penasaran karena ibunya berbisik sesuatu kepada Andra dan bukan kepada Keila – anaknya sendiri.
“Apa yang Ibuku bisikkan padamu?” tanya Keila penasaran ketika dalam perjalanan kembali.
“Kamu penasaran?” Andra berbalik mengajukan pertanyaan kepada Keila.
“Aku tidak akan bertanya jika aku tidak penasaran.” Keila menjawab dengan nada ketusnya. “Jadi. . . apa yang ibuku katakan padamu?”
Andra yang sedang mengemudikan mobil miliknya kemudian melirik sedikit ke arah Keila dan melihat pipi Keila yang mengembung layaknya ikan buntal. Merasa gemas, Andra kemudian mencubit pipi Keila dengan tangan kirinya.
“Apa yang kau lakukan?” Keila bertanya dengan kesal sembari tangan Andra yang masih terus mencubit pipinya.
“Kau tidak bisa melihatnya?” goda Andra. “Jelas-jelas aku sedang mencubit pipimu.”
“Cih. . . aku salah bertanya.” Keila semakin kesal. “Kuganti pertanyaanku, kenapa kau mencubit pipiku?”
“Pipimu seperti ikan buntal. Aku merasa itu menggemaskan.” Andra menjawab dengan senyuman di pipinya.
Keila mengembuskan napasnya menahan rasa kesalnya dan kemudian menggerakkan tangannya dan membalas Andra dengan berbalik mencubit pipi Andra. Namun balasan Keila jauh lebih menyakitkan karena Keila mencubit pipi Andra bukan dengan rasa gemas melainkan karena rasa kesalnya.
“Auwwwww. . .” Andra berteriak sedikit ketika pipinya menerima cubitan dari Keila. “Key, lepaskan! Ini menyakitkan.”
“Lepaskan dulu pipiku baru setelah itu aku akan menarik tanganku yang mencubit pipimu!” Keila tidak ingin kalah.
“Baiklah, baiklah.” Andra melepaskan cubitannya di pipi Keila.
Namun sayangnya, Keila masih mencubit pipi Andra dan justru menariknya semakin kencang.
“Key??? Kenapa kamu masih belum melepaskan cubitanmu di pipiku??” tanya Andra meringis kesakitan. “Kau tidak ingin membuatku tidak fokus menyetir dan menyebabkan kecelakaan pada kita berdua bukan?”
“Kamu mencubit pipiku lebih lama jadi aku juga melakukan hal yang sama padamu.” Keila menolak untuk melepaskan cubitannya di pipi Andra.
“Jadi kamu ingin kita kecelakaan bersama dan mati bersama?” goda Andra dengan senyuman di wajahnya. “Aku tidak menyangka jika segitunya kamu sayang padaku hingga kamu ingin kita mati bersama.”
Mendengar ucapan dari Andra, spontan Keila langsung melepaskan cubitan tangannya di pipi Andra. “Aku masih belum mau mati. Terlebih mati bersamamu.”
Andra mengelus pipinya yang sedikit memerah karena cubitan Keila. “Aku hanya bercanda, Keila. Aku juga masih belum mau mati. Aku masih ingin melakukan banyak hal bersama denganmu.”
Rasa panik dan membeku menyerang Keila lagi, ketika mendengar ucapan dari Andra. Untuk sejenak keheningan menjadi orang ketiga yang menemani perjalanan Keila dan Andra kembali ke apartemen mereka di kota hingga tiba-tiba sesuatu menarik perhatian Keila.
Kenapa Andra lewat jalan ini dan bukannya lewat jalan utama? Keila yang mengenali jalanan di hadapannya itu kemudian memutuskan untuk berkunjung ke suatu tempat. “Tolong berhenti di depan!”
Mendengar permintaan Keila, Andra langsung menginjak pedal rem pada mobilnya dan mulai menepikan mobil yang dikemudikannya.
Begitu mobil menepi, Keila langsung turun dari mobil tanpa sekalipun melihat ke arah Andra yang masih mematikan mesin mobil miliknya. Pemandangan jembatan dan sungai yang menjadi tempat favoritnya bersama dengan ayahnya, entah kenapa Keila ingin datang berkunjung. Jika biasanya Keila merasa enggan berkunjung dengan seseorang, entah kenapa kali ini Keila tidak merasa keberatan berkunjung ketika sedang bersama dengan Andra yang bisa dikatakan masih berstatus “orang yang baru dikenalnya”.
“Sepertinya kau suka dengan jembatan ini?” tanya Andra yang berdiri tidak jauh dari tempat Keila berdiri setelah mematikan mesin mobilnya.
“Ya. Ini tempat favoritku bersama dengan ayahku. Sebelum ayahku bangkrut, kami tinggal tidak jauh dari sini dan tempat ini adalah tempat rahasiaku dan ayah ketika kami berdua melarikan diri dari amukan Ibu.” Keila tersenyum mengingat beberapa kenangan antara dirinya dan ayahnya di jembatan itu.
“Malam itu?” Keila berbalik bertanya sembari mengingat kembali ingatannya tentang malam yang dimaksud oleh Andra. Keila kemudian mengingat malam yang dimaksud oleh Andra sebagai malam pertama pertemuan mereka di mana Andra menyelamatkan Keila dari Noah. “Ah benar, malam itu. Aku lupa jika di sini juga adalah tempat pertemuan pertama kita. Benar, alasanku di sini malam itu adalah aku sedang merindukan ayahku yang telah lama meninggal. Terkadang ketika hariku sedang buruk atau sesuatu tidak berjalan sesuai dengan kehendakku, aku akan datang ke tempat ini. Ketika berada di tempat ini, aku merasa ayahku masih ada di sisiku dan seolah memberiku nasihat untuk apa yang harus aku lakukan dalam situasi yang aku hadapi.”
Keila tersenyum kecil melihat sungai di bawahnya dan beberapa anak-anak yang bermain di tepi sungai. “Bagaimana denganmu? Apa yang membawamu datang kemari malam itu?”
“Hanya kebetulan lewat saja. Malam itu pikiranku sedang suntuk. Aku bimbang dalam membuat keputusan.”
“Keputusan? Keputusan apa?” Keila bertanya dengan penasaran sembari menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah Andra. Namun ketika Keila menolehkan kepalanya untuk menatap Andra, Keila dibuat terkejut karena melihat Andra yang sudah menatapnya entah sejak kapan. “A-apa m-mungkin sejak tadi kamu menatapku?”
“Ya.” Andra menjawab dengan senyuman di bibirnya.
“Sejak awal kamu berdiri di sini?” Keila bertanya lagi dan mulai merasakan rasa gugup dan panik yang menyerangnya di saat yang bersamaan.
“Ya.”
“Ke-kenapa? A-apa pemandangan di jembatan dan sungai ini tidak terlihat menarik di matamu?” Keila bertanya lagi dan kali ini rasa gugup dan paniknya sudah menyerang dirinya.
“Wajah dan ekspresimu jauh lebih menarik dibandingkan pemandangan jembatan dan sungai di sini.”
Sial. Dia membuatku gugup dan panik di saat yang bersamaan lagi. Keila mengumpat di dalam benaknya sembari mengembuskan napasnya berusaha untuk meredam rasa panik dan gugup yang menyerang dirinya. “Cih, lupakan itu! Kamu masih belum menjawab pertanyaanku. Keputusan apa yang membuatmu bimbang hingga berada di jembatan ini pada malam itu?”
“Keputusan untuk tetap bertahan atau melepaskan sesuatu yang penting bagiku.”
“Apa itu berhubungan dengan pekerjaan?” tanya Keila penasaran.
“Tidak.” Andra menjawab dengan nada datarnya.
“Lalu? Tentang apa?”
“Aku tidak bisa mengatakannya padamu sekarang.”
Keila menghela napas sembari mengalihkan kembali kepalanya ke arah sungai dan anak-anak yang bermain di tepi sungai. “Lalu apa hasil dari keputusan itu?”
“Awalnya aku memilih untuk menyerah tapi-“
Angin berembus kencang membuat Keila yang menatap ke arah sungai kemudian spontan menolehkan kepalanya ke arah Andra, untuk melindungi wajahnya dari terpaan angin. Dan sekali lagi, Keila menyadari bahwa Andra masih menatap dirinya dengan senyuman kecil di wajahnya.
Dag. . . dig. . . dug. Jantung Keila berdetak kencang membuat Keila spontan mengalihkan tatapannya dari tatapan mata Andra.
“Tapi apa?” tanya Keila berusaha untuk menyembunyikan detak jantungnya yang kencang.
“Tapi sesuatu terjadi dan membuatku memilih untuk tidak menyerah.”
Senyuman muncul di wajah Andra. Tatapan mata Andra yang menatap Keila saat ini entah bagaimana membuat Keila merasa nafasnya terhenti, merasa waktunya terhenti, merasa embusan angin yang tadinya bergerak juga berhenti dan bahkan suara kendaraan yang lewat pun tidak terdengar oleh pendengaran Keila. Dalam situasi membeku itu, Keila tanpa sadar membuat harapan dalam hatinya. Mungkinkah ini karena sinar matahari? Mungkinkah ini karena embusan angin? Atau mungkinkah ini karena pemandangan di jembatan ini? Entah kenapa senyuman dan tatapan itu terlihat begitu indah? Entah kenapa senyuman dan tatapan mata itu, aku merasa tidak ingin kehilangannya? Entah kenapa apa yang terjadi saat ini aku begitu ingin menyimpannya di dalam hati? Entah kenapa, aku tidak tahu. Tapi hatiku tiba-tiba membuat sebuah harapan, bisakah waktu yang terhenti ini menyimpan senyuman dan tatapan miliknya itu hanya untukku?