30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
14. BANTUAN UNTUK BERKENCAN 1



Setelah selama beberapa saat membeku, Keila kemudian mengalihkan pandangannya dari Andra karena rasa panik yang tiba-tiba menyerangnya. 


“Sudah aku mau masuk dulu.” 


Keila berbalik dan hendak berjalan masuk ke dalam apartemennya, namun Keila melihat jaket milik Andra yang berada di tubuhnya saat ini. Dengan cepat, Keila melepaskan jaket milik Andra dan hendak mengembalikannya kepada Andra. “Haruskah aku mencucinya lebih dulu sebelum aku mengembalikannya kepadamu?”


Andra mengambil jaket miliknya di tangan Keila. “Tidak perlu. Hanya kau gunakan dalam waktu singkat, tidak akan berubah kotor hanya karena terkena aroma tubuhmu.” 


Mendengar ucapan Andra, panik menyerang Keila untuk kedua kalinya. “Kau ini!! Bisakah berhenti berbicara seperti itu padaku?” 


“Kenapa? Kau tidak suka?” Andra bertanya dengan wajah datarnya. 


“Bukannya tidak suka, hanya saja-“ Keila menghentikan ucapannya yang belum selesai karena bingung bagaimana harus menjelaskannya kepada Andra. 


“Hanya saja apa?” 


“Sudahlah.” Keila mulai berbalik lagi, hendak masuk ke dalam apartemennya. “Lupakan saja. Aku tidak punya hak untuk menilai bagaimana caramu berbicara dan berkata-kata.” Sebaiknya aku berhati-hati mulai sekarang dengan caranya berbicara. Kalau tidak, mungkin secara tidak sadar aku perlahan akan jatuh hati kepadanya. Keila memperingati dirinya sendiri. 


“Key.” Andra memanggil Keila dan membuat Keila menghentikan langkahnya lagi yang ingin masuk ke dalam apartemennya. 


“Apa??” Keila berbalik lagi dan menatap tajam ke arah Andra. 


“Persiapkan pakaian yang akan kau bawa besok. Kita akan berangkat pagi-pagi besok. Kau tentu masih ingat dengan janjimu menemaniku pergi sebagai bayaranku karena mengantarmu bukan?” 


“Aku tidak pernah berjanji padamu, Andra. Kamu yang memaksaku untuk pergi bersamamu, apa kau tidak ingat?” Keila menatap tajam ke arah Andra dan melihat senyuman di bibir Andra lagi. Entah kenapa hari ini, Keila berulang kali menangkap senyuman Andra yang dengan jelas diperlihatkannya kepada Keila. Senyuman memesona itu membuat Keila salah tingkah dan membuat Keila tidak bisa membantah Andra. 


“Mungkinkah begitu?” 


Mendengar ucapan Andra baru saja, membuat Keila hendak melemparkan piring roti kukus miliknya ke arah Andra. “Kau ini terkadang benar-benar menyebalkan. Ah bukan terkadang tapi sangat menyebalkan. Kau yang memaksaku untuk ikut sebagai balasan karena aku menyembur wajahmu dengan air, apa kau sudah lupa??”


Andra tersenyum lagi melihat Keila yang merasa kesal padanya, “Benarkah begitu?”


“Sudahlah.” Keila menyerah dengan rasa kesalnya dan kemudian menghela napas panjang sebagai ganti dari rasa kesalnya. “Kita mau ke mana? Aku harus tahu kita akan ke mana untuk menentukan pakaian yang akan aku gunakan.” 


“Bukankah tadi aku bilang persiapkan pakaian yang akan kau bawa besok, apakah kau tidak mendengarnya?” Andra mengangkat jari telunjuknya dan kemudian memutarnya di samping telinganya untuk mengejek Keila. 


“Ah, benarkah? Aku tidak mendengarnya. Jadi kita mau ke mana hingga harus mem-“ Keila menghentikan kalimatnya yang belum selesai karena menangkap sesuatu yang tadi tidak sempat ditangkap dan dicerna oleh otaknya dengan baik. “Tunggu sebentar. Mungkinkah maksudmu dengan membawa pakaian, kita akan menginap?” 


Andra menganggukkan kepalanya dengan wajah datarnya. “Ya. Itu sebabnya aku bilang padamu untuk menyiapkan pakaian yang akan dibawa besok.” 


“Ki-kita mau ke mana??” Keila bertanya dengan menaikkan nada suaranya karena rasa terkejutnya. 


“Pantai.” 


Setelah menjawab pertanyaan Keila itu, Andra berjalan masuk ke dalam apartemennya dan meninggalkan Keila begitu saja yang masih memiliki banyak pertanyaan yang ingin diajukannya kepada Andra. 


Keesokan harinya. . .


Keila awalnya ingin bertanya pada Andra lebih jauh lagi tentang perjalanan yang membuatnya terpaksa ikut pada makan malam. Namun Andra mengirim pesan kepada Keila untuk meletakkan makan malamnya di depan pintu apartemennya karena harus mengerjakan sesuatu. 


Itu hanya alasan untuk menghindariku. Itulah yang Keila pikirkan ketika menerima pesan dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh kepada Andra. Pagi harinya, Keila harus bangun pagi-pagi sekali demi menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Andra serta membuatkan makanan kecil yang bisa menjadi pengganjal perut sepanjang perjalanan nanti. 


“Kenapa harus pantai?” Keila mengajukan pertanyaan yang dipendam sejak kemarin ketika sarapan bersama Andra sebelum keberangkatannya. 


“Karena aku ingin ke sana saja. Perlukah alasan lain untuk ke pantai?.” Andra menjawab dengan nada datarnya. 


Namun kali ini Andra tidak menjawab pertanyaan Keila dan justru menutup mulut Keila yang terus berusaha mendapatkan informasi dengan menyuapi potongan sosis besar ketika mulut Keila terbuka lebar. 


“Makanlah dengan tenang dan jika setelah kujejalkan potongan sosis besar ini kau masih tidak mau makan dengan tenang, maka-“ 


“Maka apa?” Keila menyela dengan cepat ucapan Andra dengan nada menantangnya. 


“Aku akan menutup mulutmu dengan mulutku, bagaimana? Apa kau mau mencobanya?" Andra berbicara dengan tenang dan nada datarnya. 


Gluk. Keila menelan sosis yang dijejalkan Andra ke dalam mulutnya tadi. Mendengar ucapan Andra yang terdengar seperti sebuah ancaman, Keila memilih untuk menyerah bertanya lebih jauh lagi dan memakan sarapannya dengan tenang seperti ucapan Andra. 


Satu setengah jam kemudian, Andra sudah menunggu Keila di depan pintu apartemennya. 


“Apa itu?” Mata Andra tertuju pada kotak makanan yang dibawa oleh Keila. 


“Makanan ringan untuk di jalan. Karena kau tidak bilang akan memakan waktu berapa lama, aku membawa ini untuk berjaga-jaga.” 


“Apa isinya?” 


“Buah–buahan dan roti.” 


Andra tersenyum dan kemudian mengangkat tangannya ke atas kepala Keila untuk membelai lembut kepala Keila. “Bagus sekali, kamu sudah berbakat menjadi istri yang baik.” 


Mendapat belaian di kepalanya, Keila perlahan menarik kepalanya menjauh dari tangan Andra. Namun dengan cepat Andra menahan kepala Keila yang hendak menjauh dengan tangannya yang lain dan membuat kepala Keila tidak bisa bergerak. Mau tidak mau, Keila harus menerima kenyataan bahwa kepalanya baru saja mendapat belaian lembut dari Andra. 


Sial, dia makin berani! Keila mengumpat kesal kepada Andra karena ulahnya itu. Keila tetap kesal dengan ulah Andra bahkan ketika Andra sudah berbaik hati membawakan koper milik Keila dari lantai tiga apartemennya hingga ke area parkir mobil.


Setelah meletakkan koper di dalam bagasi, Keila dan Andra kemudian masuk ke dalam mobil dan perjalanan keduanya menuju pantai pun dimulai. Sepanjang perjalanan untuk memecah rasa bosannya, Keila mendengarkan lagu yang sedang disukainya melalui earphone miliknya yang terhubung dengan ponselnya. Sesekali Keila memakan buah-buahan yang ada di dalam kotak makannya namun keheningan terjadi antara Keila dan Andra dan hal itu membuat Keila merasa canggung. 


“Bisakah aku bernyanyi?” tanya Keila memecah keheningan yang terjadi di antara dirinya dan Andra selama setengah jam perjalanan. 


“Lakukan saja. Kemarin kau bernyanyi dengan volume setinggi itu pun tanpa meminta ijin padaku, kenapa sekarang kau meminta ijin padaku?” 


Keila melepaskan earpohone miliknya yang terhubung dengan ponselnya dan membuat lagu yang berputar di dalam ponselnya dapat didengar oleh Andra yang sedang mengemudi. “I-itu karena suaraku yang fals dan mungkin bagi orang lain suaraku ini menyakiti telinga mereka. Karena itu aku meminta ijin padamu untuk bernyanyi. Aku takut suaraku yang fals ini akan menyakiti telingamu.” 


“Kamu perhatian sekali padaku. Aku senang mendengarnya.” 


Keila melirik tajam ke arah Andra. “Berhantilah mengatakan hal-hal seperti itu, Andra! Ini karena kita berada di dalam mobil yang sama, maka dari itu aku meminta ijin padamu.”


"Apakah orang-orang berkata seperti itu tentang suaramu?” Andra bertanya sembari memakan buah dalam kotak makanan. 


“Ya. Itu sering terjadi ketika aku sekolah dan kuliah. Sejak saat itu, aku menolak untuk mengeluarkan suaraku untuk bernyanyi di depan teman-temanku. Aku hanya bernyanyi ketika di rumah saja.” 


Andra tersenyum mendengar ucapan Keila. “Sepertinya mereka salah menilai suaramu, Key.” 


“Salah bagaimana? Memang pada kenyataannya aku buta nada dan suaraku memang fals.” Keila mulai menyanyikan lagu yang kemarin terus menerus dinyanyikannya ketika hujan turun. 


“Suaramu. . .” Andra tersenyum melirik ke arah Keila yang duduk di sampingnya. “Suaramu adalah suara terindah yang pernah aku temui. Hanya satu suara darimu, bisa memberikanku kebahagiaan. Kau mungkin tidak menyadarinya tapi bagiku, suaramu itu benar-benar membuat candu.” 


“Apa yang kau bilang baru saja, Andra? Aku tidak mendengarnya.” Keila yang tidak mendengar ucapan Andra tentang suaranya karena sibuk bernyanyi, bertanya kepada Andra. 


“Bukan apa-apa.” Andra tersenyum sekali lagi sembari menatap jalanan di depannya.