30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
20. BANTUAN UNTUK BERKENCAN 7



Tanpa Keila dan Andra sadari begitu kembali dari berkeliling lingkungan tempat tinggal Keila, Ibu Keila sudah menunggu kedatangannya untuk makan siang bersama. Keila dan Andra kemudian makan siang bersama dengan Ibu Keila dan seperti ucapan Keila sebelumnya, Keila membiarkan Andra mendapatkan perlakuan istimewa dari ibunya. Keila membagi kasih sayang ibunya kepada Andra yang telah kehilangan ibunya untuk waktu yang lama. 


Setelah makan siang berakhir, Andra bahkan sengaja ikut bersama dengan Ibu Keila ke kebun buah-buahan dan sayur-sayuran miliknya untuk memetik beberapa buah untuk dimakan bersama dengan Keila yang memilih untuk tinggal di rumah. 


“Aku tidak menyangka jika keluarga Keila memiliki kebun sendiri,” ucap Andra sembari memetik beberapa jeruk. 


“Ini usaha keluarga setelah usaha milik suami Ibu mengalami kebangkrutan. Dengan sisa uang yang ada, suami Ibu memilih untuk tinggal di pinggiran kota, berkebun dan hidup dalam ketenangan.” Ibu Keila berbicara dengan senyuman di wajahnya. 


“Bisakah aku bertanya, Bu?” 


Ibu Keila menganggukkan kepalanya. “Tentu saja. Apa yang ingin kamu tanyakan, Nak Andra?” 


“Ke mana ayah Keila? Kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya?” Andra bertanya dengan sedikit ragu. “Jika aku tidak salah, Keila sangat mengagumi ayahnya. Jadi sudah pasti dia kemari karena ini bertemu dengan ayahnya.” 


“Apa Keila belum cerita padamu, Andra?” Ibu Keila terkejut mendengar pertanyaan Andra. 


“Apa yang harus saya dengar dari Keila, Bu?” Andra berbalik mengajukan pertanyaan kepada Ibu Keila dengan raut wajah heran. 


“Ayah Keila telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Jika Ibu tidak salah ingat saat ini Keila berusia 27 tahun, maka Ayah Keila sudah meninggal tujuh tahun lamanya.” 


Andra menundukkan kepalanya. Andra akhirnya paham maksud dari ucapan Keila sebelumnya yang memahami perasaannya yang kehilangan anggota keluarganya. Inilah maksudnya. Inilah alasannya Keila bersedia membagi kasih sayang ibunya kepadaku. Aku tidak menyangka jika dia juga kehilangan sosok yang berharga di dalam keluarganya sama seperti diriku.


“Maafkan aku, Bu. Aku tidak tahu jika Ayah Keila telah tiada. Aku tidak bermaksud untuk membuat Ibu sedih.” Andra merasa bersalah karena bertanya kepada Ibu Keila dan bukannya kepada Keila langsung. 


“Jangan merasa tidak enak, Nak Andra. Kejadian itu sudah berlangsung lama, kami sekeluarga sudah merelakan kepergian Ayah Keila, tapi mungkin tidak bagi Keila.” Ibu Keila tersenyum lembut, berusaha untuk membuat Andra tidak merasa bersalah. 


Andra memandang Ibu Keila dengan tatapan heran. “Kenapa begitu, Bu?” 


“Bisa dikatakan Keila mungkin anak kesayangan ayanya. Keila sering sekali menghabiskan waktunya bersama dengan ayahnya sejak kecil bahkan beberapa hobi mereka pun sama dari mencintai buku, musik dan hujan. Setiap kali hujan turun, Keila dan ayahnya akan duduk di samping jendela sembari mendengarkan lagu. Itu adalah kebiasaan keila yang hingga saat ini mungkin masih tetap tidak berubah.” 


Ah itu sebabnya ketika hujan turun Keila duduk di berandanya sembari menatap hujan yang turun. Itu adalah kebiasaan yang dilakukannya bersama dengan ayahnya. Aku benar-benar tidak menyangka. Andra tersenyum mendengar cerita masa kecil Keila dari Ibunya. “Jika Ibu tidak keberatan, bagaimana Ayah Keila akhirnya meninggal dunia?” 


“Kecelakaan tragis merenggut nyawa ayah Keila. Demi melindungi anak kecil yang sedang mengambil bola di tengah jalan, Ayah Keila kehilangan nyawanya dalam usahanya itu. Sejak saat itu, Keila terpukul dengan kepergian ayahnya. Keila benar-benar tidak menduga jika Ayahnya akan pergi bahkan sebelum dirinya menikah.” 


Andra menundukkan kepalanya merasakan penderitaan yang pernah dirasakan oleh Keila yang tidak jauh dengan apa yang pernah dirasakannya saat kehilangan Ibunya. 


“Selama setahun Keila benar-benar terpuruk dengan kepergian ayahnya yang mendadak hingga membuat Bonita dan Hardan harus bergantian menjaga Keila. Ibu yang saat itu masih harus mengurus dua adik Keila dan pekerjaan yang ditinggalkan oleh Ayah Keila, tidak punya banyak waktu dan banyak tenaga untuk mengurus Keila. Karena itu, Ibu sangat berterima kasih kepada Bonita dan Hardan. Setahun kemudian entah angin apa dan entah angin dari mana, Keila tiba-tiba bangkit dari rasa kehilangannya. Keila yang selama ini mengidolakan ayahnya dan tidak mau berpacaran, kemudian mulai mencari kekasih yang bisa membuatnya melihat sosok ayahnya.” Ibu Keila melanjutkan ceritanya kepada Andra. 


Kisah Keila dan ayahnya, berhasil menarik perhatian Andra. Mendengarkan cerita dari Ibu Keila, Andra hanya bisa diam bahkan bernapas pun dilakukan Andra dengan hati-hati. Andra merasa saat ini, waktu ini adalah kesempatan yang belum tentu bisa didapatkannya lagi. Karena itu, Andra berusaha mendengarkan kisah Keila dan ayahnya serta luka Keila yang mungkin tidak akan diketahui oleh banyak orang. 


Andra menganggukkan kepalanya sembari membalas kerlingan mata Ibu Andra. “Aku mengerti, Bu. Saya akan menutup mulut masalah ini dengan rapat-rapat. Tapi kenapa Ibu ingin merahasiakan hal ini dari Keila?” 


“Itu karena dari semua pria yang punya hubungan dengan Keila, tak satupun dari mereka yang dibawa pulang oleh Keila selain Nak Andra.” Ibu Keila tersenyum melihat ke arah Andra. 


Andra bersorak di dalam hatinya. Itu sebabnya dia ribut sekali ketika aku meminta untuk ikut pulang bersamanya dan menemui ibunya. Inilah alasan sesungguhnya dari sikap Keila yang aneh itu. Siapa yang akan menyangka Keila yang pernah punya banyak kekasih tidak pernah membawa satu pun kekasihnya ke rumah dan menemui ibunya? 


“Jika tidak pernah ada pria yang datang ke rumah ini, lalu bagaimana Ibu bisa tahu bahwa Keila pernah punya banyak kekasih?” Andra bertanya dengan mata menyipit dan wajah penasaran. 


Ibu Keila tersenyum lagi dan kali ini ada sedikit tawa kecil yang keluar bersamaan dengan senyumannya. “Ibu punya banyak mata-mata untuk memantau Keila.” 


Andra terkekeh mendengar jawaban Ibu Keila. Di saat yang sama, Andra paham maksud dari “mata-mata” yang dimaksud oleh Ibu Keila. Jika dugaanku benar, maka mata-mata itu adalah Bonita dan Handra. Tidak heran jika dua orang itu adalah mata-mata Ibu Keila. Mengingat reaksi Ibu Keila tadi yang sama sekali tidak terkejut ketika bertemu denganku dan dalam waktu singkat langsung menaruh hati padaku. Entah sejak kapan, kurasa Ibu Keila mungkin sudah tahu bahwa aku sedang dalam proses mengejar hati Keila.


“Bisakah Ibu meminta tolong padamu, Nak Andra?” 


Suara Ibu Keila yang tadinya terdengar ada sedikit candaan kini berubah menjadi serius. Andra mengubah ekspresinya ketika menyadari apa yang akan terucap setelah ini dari mulut Ibu Keila merupakan sesuatu yang serius. 


“Apa itu, Bu?” 


“Jika kamu memang benar-benar serius dengan putriku Keila, Ibu harap kamu tidak akan mengecewakan Keila seperti kekasih-kekasih Keila yang lainnya. Mendengar sesuatu yang terjadi dengan Keila beberapa waktu ini, Ibu merasa sedih. Keila hanya ingin menemukan sosok yang bisa membuatnya merasa seperti bersama dengan ayahnya. Namun usahanya itu justru membawa Keila bertemu dengan banyak pria yang mungkin berbahaya bagi Keila. Ibu berterima kasih karena Nak Andra telah menyelamatkan Keila. Jadi. . . jika Nak Andra benar-benar menyukai Keila, bisakah Nak Andra selalu menjaga Keila dan melindunginya?” 


Mata Andra sedikit membulat ketika mendengar permintaan yang keluar dari mulut Ibu Keila. “Ibu bahkan tahu sesuatu yang menimpa Keila sebelum ini?”


Ibu Keila menganggukkan kepalanya. “Ya, Ibu tahu. Ibu juga tahu kamulah orang yang menyelamatkan Keila. Jadi maukah kamu menerima permintaan Ibu untuk menjaga Keila?” 


“Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, bisakah aku bertanya lebih dulu pada Ibu?” Andra berbalik mengajukan pertanyaan kepada Ibu Keila dengan nada serius. 


“Apa yang ingin kamu tanyakan pada Ibu, Andra?” 


“Apakah Ibu benar-benar tidak keberatan jika aku memiliki hubungan yang serius dengan Keila? Ibu bahkan tidak tahu latar belakang keluargaku, jadi kenapa ibu bisa yakin jika aku berbeda dari kekasih-kekasih Keila yang lainnya??” 


“Karena hanya kamu yang berani datang kemari,” Ibu keila tersenyum menjawab pertanyaan Andra. “Bagi Ibu, kamu yang sudah berani datang kemari dan memperkenalkan dirimu kepada Ibu sudah memberikan kepercayaan kepada Ibu. Di tambah lagi wajahmu yang tampan di balik kacamatamu ini juga menjadi nilai plus.” 


Andra tersipu malu mendengar jawaban dari Ibu Keila yang masih bisa sedikit bercanda ketika perbincangan menjadi serius. 


“Bagaimana? Apa kamu sanggup menjaga Keila?” Ibu Keila mengulangi pertanyaannya lagi. 


“Ya, Bu. Saya akan berusaha untuk menjaga Keila.”