
Keila tiba-tiba merasakan sensasi hangat di tangannya. Pikirannya yang sibuk sendiri membuat banyak pertanyaan sejak tadi kemudian mulai kembali ke kenyataan yang saat ini harus Keila lewati lebih dulu.
“Kak, apa kau bak-baik saja?”
Keila mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali menatap Irene yang menatapnya dengan wajah cemas. Keila kemudian buru-buru membuat simpul senyuman kecil di wajahnya dan menjawab, “Aku baik-baik saja, Irene. Ayo kita masuk!” Keila kemudian menarik lengan Irene dan memaksa Irene yang masih memasang wajah cemas untuk berjalan bersamanya.
Kerumunan terlihat di depan papan pengumuman di lobi ketika Keila bersama dengan Irene memasuki gedung perusahaan tempat mereka bekerja.
“Apa itu?” tanya Keila heran.
“Se-sepertinya ada pengumuman yang baru terpasang di sana, Kak. Mungkinkah itu-“
Irene belum sempat menyelesaikan jawabannya untuk pertanyaan Keila ketika melihat Suci dan Nuri yang keluar dari kerumunan karyawan sembari melambaikan tangan mereka ke arah Keila dan Irene.
“. . . Mereka itu benar-benar. . .” Irene dengan cepat memasang cemberut di wajahnya sembari sedikit memalingkan wajahnya karena malu dengan lambaian tangan lebay dari Suci dan Nuri yang mengarah padanya dan Keila.
“Aku tahu Suci dan Nuri memang terkadang berlebihan dan terkadang bertindak sedikit memalukan. Tapi. . . mereka adalah kawan yang cukup setia, Irene,” ujar Keila dengan berbisik pada Iren.
“Aku tahu itu, Kak. Tapi tetap saja, namanya memalukan tetap saja memalukan,” balas Irene.
Keila kemudian menarik lengan Irene untuk berjalan mendekat ke arah Nuri dan Suci sembari berbisik pada Irene. “Tidak akan memalukan jika kamu tidak memedulikan pandangan orang lain.”
Setelah berjalan sekitar 20 langkah, Keila dan Irene kemudian berdiri di depan Suci dan Nuri. Keila memandang kerumunan dengan wajah heran dan bertanya kepada Suci dan Nuri, “Apa yang membuat para karyawan berkumpul di sini pagi-pagi sekali?”
“Pengumuman baru di pasang,” ujar Suci dengan semangat.
“Ya pengumuman yang cukup memuaskan,” tambah Nuri juga dengan wajah semangatnya.
“Tidak bisakah kalian langsung mengatakan apa isi pengumuman itu?” balas Irene dengan nada dinginnya sembari melirik ke arah karyawan yang berkerumun.
“Apa yang tertulis di pengumuman itu?” tanya Keila yang juga merasa penasaran.
“Hukuman untuk perbuatan kita kemarin,” ujar Suci dengan nada entengnya.
“Benarkah??” ujar Keila dan Irene bersamaan. “Lalu hukuman apa yang kita terima? Apakah kita menerima hukuman yang berat??” tambah Keila yang mengkhawatirkan nasib ketiga rekan kerjanya.
Nuri menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kurasa tidak berat. Untuk aku, Suci dan Irene hanya mendapatkan hukuman pemotongan gaji di bulan ini sebanyak 15 persen. Lalu untuk Kak Key, tidak ada hukuman. Karena bagaimana pun Kak Key adalah korban dalam kasus ini.”
“Lalu. . . bagaimana dengan Kak Yuna?” tanya Irene dengan cepat. “Hukuman apa yang diterimanya?”
“Pemotongan gaji sebanyak 15 persen selama tiga bulan dan pemindahan ke kantor cabang lain,” ujar Suci dengan semangat yang tergambar jelas di wajahnya.
“Pindah ke cabang??” tanya Keila terkeju. “Apakah hukuman itu tidak terlalu berat??”
Nuri menggelengkan kepalanya. “Kurasa tidak, Kak. Ingat! Kak Yuna itu sudah banyak membuat masalah di perusahaan ini. Selama ini ketua timnya selalu membelanya tapi kali ini, masalah ini suah terlalu berat. Ketua timnya tidak lagi bisa membelanya lagi.”
“Kau benar-benar. . .” Irene mengacungkan ibu jarinya kepada Nuri dengan maksud memuji. “Kau benar-benar hebat jika berurusan dengan pergosipan.”
“Untuk itulah aku ada di sini bersama dengan kalian,” balas Nuri membanggakan dirinya. “Aku ada untuk membantu kalian, kaum introvert.” Nuri melihat ke arah Irene dan Keila secara bergantian.
\# \# \#
“Ayo kita kembali, Kak!” ajak Irene ketika selesai makan di kantin perusahaan.
“Baiklah kalau begitu. Kami duluan, Kak,” ujar Irene yang kemudian menyusul Nuri dan Suci yang berjalan lebih dulu untuk kembali ke kantor mereka di lantai tiga.
Keila yang sejak tadi terus memperhatikan ponselnya dan berharap menerima pesan dari Andra lebih dulu, akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada Andra. Namun setelah cukup lama menunggu bahkan ketika jam istirahat hampir berakhir, Keila masih belum menerima pesan balasan dari Andra.
“Kau benar-benar membuatku kesal, Andra!!” gumam Keila sembari melotot ke ponselnya yang menampilkan pesan yang dikirimnya kepada Andra.
“Siapa yang membuatmu kesal, Key??”
Menyadari seseorang mendengar gumaman kesalnya, Keila langsung memasang senyuman kecilnya dan melihat ke arah pemilik suara itu. “P-Pak Agung. . .” Keila terkejut melihat Pak Agung yang sudah berdiri di samping meja makan di mana dirinya duduk.
“. . .Kau tidak menjawab pertanyaanku, Key?? Siapa yang membuatmu kesal??”
Keila menatap Pak Agung yang sedang menatapnya dengan tatapan mata menyelidik. Keila yang menyadari dirinya tidak akan bisa berbohong kepada Pak Agung, akhirnya memutuskan untuk menjawab pertanyaan Pak Agung dengan kejujuran. “I-itu seseorang yang harusnya memberikanku penjelasan.”
Mendengar jawaban dari Keila, untuk sejenak kening Pak Agung mengerut. Namun setelah sepuluh detik lewat, kerutan itu menghilang dan tatapan Pak Agung kemudian berubah. Senyuman kecil muncul di sudut bibir Pak Agung. “Jika aku tidak salah menebak, orang yang membuatmu kesal adalah orang itu bukan??”
Kali ini giliran Keila yang mengerutkan keningnya mendengar ucapan Pak Agung. “Siapa yang sedang Bapak pikirkan??”
Senyuman kecil Pak Agung kemudian berubah menjadi senyuman licik. “Haruskah aku menyebut namanya, Key??”
Keila yang menyadari Pak Agung menebak dengan benar seseorang yang mengganggu pikirannya kemudian dengan cepat membalas pertanyaan Pak Agung. “Lebih baik tidak menyebut namanya, Pak. Aku masih jadi orang yang cukup terkenal di perusahaan ini karena terlalu sering terlibat masalah, Pak. Aku tidak ingin orang-orang menggunjingkanku lagi ketika Bapak menyebut nama orang itu di sini.” Keila melirik ke arah kantin yang masih terdapat beberapa karyawan.
Pak Agung melirik jam tangannya dan melihat dirinya masih memiliki waktu sekitar 15 menit sebelum jam istirahat berakhir. “Kita masih punya 15 menit. Jika kau tidak keberatan, mau ikut denganku, Key??”
Pak Agung kemudian membawa Keila ke tempat yang jarang didatangi oleh para karyawan perusahaan. Ruang santai yang berada di lantai sembilan sekaligus atap perusahaan. Keila benar-benar takjub melihat tempat santai yang berada di atap gedung perusahaan itu memberikan keindahan pemandangan sebagai viewnya.
“Kau belum pernah kemari bukan?” tanya Pak Agung ketika menangkap ekspresi Keila yang takjub.
“Benar, Pak. Aku belum pernah kemari.”
“Tentu saja. . . biasanya yang datang kemari hanya ketua tim dari tiap departemen atau eksekutif di perusahaan ini termasuk Direktur Rafandra-kekasihmu itu meski itu tidak sering.” Pak Agung kemudian duduk di salah satu kursi dan Keila mengikuti dengan duduk di samping Pak Agung.
“Lalu kenapa Bapak mengajak saya kemari? Apa yang Bapak ingin bicarakan dengan saya di tempat yang karang dikunjungi karyawan biasa seperti saya ini?” tanya Keila sembari merasakan embusan angin kecil yang menerpa wajahnya.
“Setelah mendengar penjelasanmu kemarin soal pertemuanmu dengan Direktur Rafandra, setelah rapat kemarin untuk menentukan hukuman untuk kalian, aku dengan sengaja meminta waktu untuk berbicara dengan Direktur Rafandra.”
Kening Keila mengerut. Sesuatu yang dipahami Keila muncul di dalam benaknya saat ini ketika mendengar ucapan Pak Agung sekaligus alasan Pak Agung memintanya untuk berbicara di tempat yang jarang dikunjungi oleh para karyawan. “Apa yang Bapak ingin katakan? Saya tidak mengerti.”
“Kamu ingat skorsing yang dijatuhkan kepadamu karena ulah Noah??” Alih-alih menjawab pertanyaan keila, Pak Agung berbalik mengajukan pertanyaan kepada Keila.
“Tentu saja saya masih ingat, Pak.”
“Tiga minggu setelah kamu di skorsing, aku akhirnya kembali masuk untuk bekerja dan begitu mengetahui kamu di skorsing selama sebulan, tentu saya sebagai atasanmu tidak terima dengan hukuman itu. Hukumanmu itu terlalu berat sementara kamu sendiri juga merupakan seorang korban. Itulah keyakinanku dan berdasarkan keyakinanku itu, aku berusaha untuk menemui para direktur. Namun. . . usahaku sia-sia karena keputusan terakhir berada di tangan Direktur Rafandra.”
Kening Keila kembali mengerut dan kerutan yang terjadi semakin besar dibandingkan sebelumnya. “Jadi skorsing itu diberikan oleh Direktur Rafandra sendiri??”
“Itu benar, Keila. Orang yang membuatmu diskorsing adalah kekasihmu sendiri – Direktur Rafandra. . .”