30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
25. JADILAH KEKASIH YANG SESUNGGUHNYA 5



Keesokan harinya. Seperti ucapannya kemarin, Andra benar-benar mengantar Keila hingga ke perusahaan tempat Keila bekerja. Keila yang merasa tidak ingin siapapun melihatnya datang bersama seorang pria meminta Andra untuk turun beberapa blok dari gedung perusahaannya. 


“Turun di sini saja.” Keila meminta Andra untuk menepikan mobilnya. 


“Bukankah kamu bekerja di perusahaan penerbitan?” Andra mengarahkan kemudi mobilnya untuk menepi. “Kenapa turun di sini? Apa gedung perusahaanmu pindah ke gedung di sini?” 


Andra menepikan mobilnya dan menolehkan kepalanya melihat gedung di mana Keila meminta untuk turun. “Kalau aku tidak salah, ini adalah perusahaan minuman. Sejak kapan berubah menjadi gedung untuk perusahaan penerbitan?” 


“Aishhh. . . .” Keila kesal karena pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Andra yang biasanya lebih cerdas darinya. “Gedung perusahaanku tidak pindah. Dan gedung yang kamu lihat sekarang ini masih tetap gedung perusahaan minuman seperti yang kamu tahu.” 


“Lalu kenapa meminta menepikan mobilnya di sini?” Andra menolehkan kepalanya menatap Keila dengan wajah heran. “Kan masih tiga blok lagi dari gedung perusahaanmu?” 


Keila menggelengkan kepalanya kesal karena mendengar pertanyaan bodoh dari Andra sekali lagi. “Aku memintamu untuk menurunkanku di sini agar orang-orang di perusahaanku tidak melihat kedatanganku bersama dengan seseorang terlebih lagi seseorang itu adalah pria. Aku tidak ingin mendengar gosip baru muncul di hari pertamaku masuk setelah skorsingku selama sebulan ini.”


“Ah sayang sekali. . .” 


“Apanya yang sekali?” Keila menatap tajam ke arah Andra. 


“Sayang sekali, tadinya aku ingin berlagak seperti kekasihmu. Membukakan pintu mobil untukmu dan melambaikan tanganku ketika melihatmu masuk ke dalam gedung perusahaanmu.” Andra tersenyum menjelaskan bayangan yang ada di dalam benaknya saat ini. “Sayang sekali. . . itu hanya menjadi bayangan dalam benakku saja.” 


Keila mengembuskan napasnya kesal. “Bagus sekali jika itu hanya menjadi bayangan dalam benakmu saja. Aku bersyukur itu tidak terjadi. Jika tidak, mungkin aku sudah menjadi pusat perhatian lagi di hari pertamaku masuk kerja setelah skorsing.” 


Keila tadinya hendak membuka pintu mobil namun tindakannya terhenti. Keila kemudian menurunkan tubuhnya sedikit dan menyembunyikan wajahnya dengan tas miliknya. 


“Apa yang kau lakukan?” Andra bertanya heran. 


“Sssttt. . . tunggu sebentar. Apakah wanita yang mengenakan-“ Keila memutus ucapannya dan melirik sedikit dari balik tasnya ke arah wanita dengan pakaian biru yang baru saja melewati mobil Andra. 


“Wanita mana?” 


“Wanita yang mengenakan pakaian biru itu.” Keila menunjuk ke arah kaca depan mobil. Namun ketika Keila menatap ke arah Andra, pria itu justru menatap ke arahnya dan bukan ke arah wanita dengan pakaian biru yang baru saja melewati mobil Andra. “Kenapa kamu menatapku dan bukan menatap ke arah yang aku tunjuk?” 


Andra tersenyum kecil melihat kelakuan Keila. “Heh, apa kau tidak sadar?” 


“Sadar? Sadar apa?” tanya Keila heran. 


“Lihatlah pakaianmu sendiri.” 


Keila menuruti ucapan Andra dan melihat pakaiannya sendiri. Sial, pakaianku juga berwarna biru. Bagaimana bisa aku mengenakan pakaian dengan warna yang sama dengan warna pakaian Yuna? Sepertinya ini adalah tanda sesuatu yang buruk yang akan menimpaku hari ini.” 


“Aku menuruti perintahmu.” Andra melanjutkan ucapannya masih dengan senyuman di bibirnya. “Aku melihat ke arah wanita dengan pakaian biru.” 


Keila mengubah posisi duduknya setelah memastikan posisi Yuna yang sudah jauh dari mobil milik Andra. “Wanita dengan pakaian biru yang aku maksud adalah wanita yang baru saja melewati mobilmu dan bukan aku.” 


“Oh ho, di mataku kau jauh lebih cantik, lebih menarik daripada wanita dengan pakaian biru yang baru saja melewati mobilku. Karena itu, aku melihatmu bukan melihat wanita itu.” 


Keila membeku untuk kesekian kalinya mendengar ucapan Andra. Glek. Keila menelan ludahnya karena rasa paniknya yang tiba-tiba menyerangnya dan dengan cepat membalikkan badannya untuk membuka pintu mobil. Keila kemudian turun dari mobil Andra. “Terima kasih.” 


“Key. . .” 


Ucapan Andra itu menghentikan Keila yang hendak menutup pintu mobil dan berjalan pergi. “Apa?” 


“Ingat permintaanku kemarin. Aku minta jam makan siangmu. Kalau kau tidak memberikannya, aku akan datang ke kantormu dan membuat pengumuman jika aku adalah kekasihmu.”


Keila yang tidak ingin berdebat lebih panjang dengan Andra kemudian hanya bisa menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Aku mengerti. Kirim pesan padaku jika sudah waktunya makan siang dan tunggu aku di sini seperti saat ini.” 


Andra menjawab ucapan Keila dengan senyuman lebar di bibirnya. Sementara Keila yang tidak ingin berdebat dengan Andra hanya bisa menelan ludahnya sendiri sembari menutup pintu mobil milik Andra. Dengan melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada seorang pun yang dikenalinya, Keila akhirnya berjalan menuju ke gedung perusahaannya. 


Begitu tiba di gedung perusahaannya, Keila mendapat sambutan hangat dari rekan-rekan kerjanya terutama Nuri, Suci dan Irene. Keila juga bertemu kembali dengan Pak Agung yang kini telah membaik dan sudah masuk kerja seperti sebelumnya. 


“Selamat datang, Kak.” Tiga junior Keila memberikan salamnya kepada Keila dengan memberikan buket bunga kepada Keila. 


“Terima kasih. Aku kembali lagi.” Keila tersenyum menerima buket bunga sekaligus membalas sapaan tiga juniornya. 


Setelah tiga junior Keila, giliran Pak Agung yang memberikan salamnya kepada Keila. “Selamat datang, Key.” 


“Aku kembali, Pak Agung,” balas Keila dengan senyuman. 


“Aku benar-benar sedih selama sebulan ini, kamu sama sekali tidak datang menemuiku. Kukira kamu sudah bosan jadi anak buahku dan berniat untuk berhenti.” 


“Tidak, Pak.” Keila terkekeh. “Aku tidak melupakan Bapak, tapi selama sebulan ini aku sibuk dengan sesuatu. Jadi. . . aku tidak sempat untuk mengunjungi Bapak. Tapi istri Bapak dan aku saling mengirim pesan untuk mengabari keadaan Bapak. Sekali lagi, maafkan aku, Pak. Karena saya, Bapak harus menjadi korban.” 


Pak Agung menepuk bahu Keila. “Sudah lupakan masalah itu. Semua sudah berlalu dan Noah – pria yang tidak punya aturan itu sudah ditangkap dan dipenjara. Sekarang kamu bisa melanjutkan kehidupanmu dan pekerjaanmu dengan tenang, seperti semula lagi, Key.” 


“Iya, Pak. Sekali lagi maaf dan terima kasih.” 


Setelah saling menyapa dengan rekan-rekan kerjanya, Keila kemudian duduk di meja kerjanya di samping Irene. Keila kemudian menemukan buket bunga lain yang ada di mejanya: buket bunga mawar putih yang biasa diterima Keila pada tanggal 10 di setiap bulannya. 


“Kak.” Irene berbisik memanggil Keila. 


“Ya.” Keila duduk di kursinya meletakkan buket bunga yang diterimanya dari rekan-rekan kerjanya di samping buket bunga mawar putih. “Kenapa berbisik?” 


“Buket bunga itu datang lagi. Sepertinya orang itu tahu Kakak akan kembali hari ini.” 


Keila tersenyum membalas Irene. “Biarkan saja. Toh jika dia memang punya niat untuk mengenalku dia akan datang menemuiku. Tapi selama ini, dia sama sekali tidak punya niatan untuk menemuiku. Bukankah itu artinya dia hanya iseng mempermainkanku dengan mengirim buket bunga ini?” 


“Ah benar juga ucapan Kakak. Jika orang itu memang benar-benar menyukai Kakak, maka dia akan datang menemui Kakak.” Irene menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Keila. “Satu lagi, Kak.” 


“Apa??” Keila mengerutkan keningnya. “Apanya yang satu lagi, Irene?” 


“Hari ini Kakak diantar oleh seseorang. Aku tidak sengaja melihat Kakak turun dari mobil seseorang. Apa mungkin kesibukan yang Kakak maksud itu adalah Kakak memiliki kekasih baru hingga lupa menjenguk Pak Agung yang sudah keluar dari rumah sakit?” 


Uhukkk. . .


Keila tersedak dengan air liurnya sendiri karena terkejut mendengar pertanyaan dari mulut Irene yang menangkap basah dirinya yang keluar dari mobil Andra.


“Kamu pasti salah lihat, Irene.” Keila berusaha menghindar. 


“Tidak. Aku tidak salah lihat. Itu benar-benar Kakak. Baju biru ini, aku melihatnya dengan jelas.” Irene merasa yakin dengan penglihatannya. 


“Tapi. . .” Keila berusaha menemukan alasan lain dan kemudian teringat sesuatu. “Yuna juga mengenakan pakaian dengan warna biru yang sama denganku. Mungkinkah kamu salah mengenali Yuna dan mengira itu adalah aku?” 


“Ah benarkah??” Irene mulai merasa ragu dengan penglihatannya sendiri. 


“Ya. Kau pasti salah lihat, Irene.” Keila berusaha meyakinkan Irene. 


“Ah mungkin aku salah lihat, Kak. Tidak mungkin dalam waktu sebulan, Kakak sudah menemukan kekasih yang baru.” 


Keila terkekeh mendengar ucapan Irene tentang kekasihnya. Keila mengalihkan pandangannya ke arah pekerjaan yang sudah menantinya di meja kerjanya sembari menghela napas panjang. Sial. Di hari pertama, aku sudah nyaris tertangkap. Sepertinya aku harus meminta Andra untuk tidak mengantarku ke kantor. Kalau tidak, orang-orang akan memberiku cap buruk sebagai gadis buruk setelah kejadian yang menimpa Pak Agung dan tidak introspeksi diri setelah memiliki mantan berbahaya seperti Noah.