
Andra kemudian menggerakkan kepala Keila untuk melihat sesuatu yang saat ini sedang muncul di langit di hadapan mereka. “Lihat! Bukankah itu pelangi yang kau sukai??”
“Benar, itu memang pelangi yang aku sukai. Harusnya ketika hujan tadi, aku pulang ke rumah dan duduk di beranda apartemenku seperti yang biasa aku lakukan. Tapi karenamu, aku justru datang kemari di cuaca buruk tadi hanya karena merindukanmu. Karenamu juga aku banyak melakukan sesuatu di luar kebiasaanku.”
“Apa kamu menyesal mengenalku?” tanya Andra penasaran.
Keila menggelengkan kepalanya. “Tidak. Berkatmu, aku bisa melihat pelangi dalam rentang waktu yang pendek. Tidakkah kau ingat ini adalah kali ketiganya pelangi muncul ketika kita bersama??”
Andra menganggukkan kepalanya sembari tersenyum menatap pelangi di hadapannya. “Tentu saja aku ingat itu. Ini memang kali ketiganya pelangi muncul di depan kita berdua. Tapi. . .” Andra menghentikan ucapannya sejenak.
“Tapi apa?” tanya Keila penasaran.
“Ini adalah ratusan kalinya pelangi khusus milikku muncul di hadapanku.”
Buk. Untuk keempat kalinya tangan Keila melayang di punggung Andra dan memukulnya. Kali ini pukulan Keila tidak sekeras tiga pukulan lainnya. “Kau ini. . . kenapa kau selalu pintar sekali membuat kalimat yang membuatku tersipu malu??”
Andra tersenyum melihat wajah Keila yang sedang tersipu malu. “Karena aku benar-benar suka melihat wajahmu yang tersipu malu karena diriku.”
“Berhenti membahas itu!” tegas Keila masih dengan tersipu malu. “Apa keinginanmu yang ketujuh? Kenapa kau hanya menyebutkan enam dari tujuh keinginan itu, Andra?”
“Karena keinginanku yang ketujuh belum bis aku wujudkan, Keila. Seperti yang aku katakan sebelumnya, tadinya aku hanya ingin dekat denganmu. Aku hanya ingin mengenalmu. Aku benar-benar tidak mengharapkan bahwa kau memiliki perasaan untukku, aku juga tidak mengharapkan keinginan yang pernah aku buat itu akan benar-benar terwujud. Tapi. . . ketika satu persatu keinginan itu terwujud, aku benar-benar merasa bahagia. Menggandeng tanganmu ketika berjalan bersama, makan masakan yang kamu buat, menghabiskan waktu luang bersama, berkencan bersama, melihat matahari terbit dan terbenam bersama, dan bahkan bertemu dengan ibumu. Aku merasa benar-benar bahagia merasakannya. Aku kira enam dari tujuh keinginan itu sudah cukup bagiku.”
“Kau membuatku bingung, Andra. Kenapa bicaramu berputar-putar? Kenapa tidak langsung mengatakan apa keinginan yang ketujuh yang belum terwujud itu?” tanya Keila sembari menyipitkan kedua matanya menatap Andra. “Mungkinkah kamu menginginkan sesuatu yang berhubungan dengan kontak fisik??”
“Apa yang sedang kau pikirkan, Keila?” Andra berbalik bertanya kepada Keila karena merasa apa yang sedang dipikirkan oleh Keila saat ini bukan sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Andra.
“I-itu aku, kamu, lalu berdua, di dalam kamar dan kemudian begini dan begini. . .” Keila memberikan isyarat dengan kedua tangannya untuk menggambarkan sesuatu yang sedang ada di dalam pikirannya saat ini.
“Hahahahah. . .” Tawa pecah keluar dari dalam mulut Andra melihat isyarat yang dibuat oleh Keila dengan kedua tangannya. “Dari mana kamu belajar membuat gambaran aneh seperti itu, Key?”
“Dari mana saja,” balas Keila. “Jadi kau benar-benar memikirkan hal itu, Andra?” Keila mengambil tiga langkah menjauh dari Andra.
Melihat Keila menjaga jarak darinya, Andra tersenyum karena merasa gemas dengan pikiran Keila saat ini. “Apapun yang kamu pikirkan saat ini, bukan sesuatu yang aku inginkan dalam tujuh keinginanku. Aku bukan tipe pria yang akan tidur dengan wanita sebelum menikah, Keila. Meski aku sangat menyukaimu, meski aku menyukaimu dalam waktu lama, sebisa mungkin aku tidak ingin sentuhanku padamu membuatmu takut padaku dan membuatmu tidak nyaman denganku. Aku memang menyukaimu, tapi aku juga menghormatimu sebagai wanita.”
Huft. Keila mengembuskan napasnya karena merasa lega ketika mendengar ucapan Andra tentang pikirannya saat ini. Syukurlah keinginan itu bukan sesuatu yang saat ini sedang aku pikirkan. Keila kemudian mengambil dua langkah dan mendekat kembali kepada Andra. “Lalu apa keinginan ketujuh itu?”
“Sebelum aku memberitahumu apa keinginan ketujuh milikku yang belum tercapai, maukah kamu bertanya kenapa keinginan itu hanya ada tujuh?”
Keila menyipitkan matanya menatap Andra. “Haruskah aku bertanya tentang itu juga?”
Apa dia sedang mengerjaiku? Kenapa sejak tadi bicaranya berputar-putar? Ini bukan Andra yang aku kenal selama ini? Apa sulitnya langsung mengatakan keinginan ketujuh itu? Kenapa aku harus bertanya lebih dulu tentang alasan kenapa hanya ada tujuh keinginan? Keila menatap Andra untuk sejenak. Merasa sangat penasaran dengan keinginan ketujuh itu, Keila akhirnya menyetujui permintaan Andra untuk bertanya lebih dulu tentang alasan keinginan itu yang hanya berjumlah tujuh. “Baiklah, kenapa hanya ada tujuh keinginan? Kenapa harus tujuh dan bukan jumlah yang lain? Jika di film ada sepuluh alasan untuk membencimu, maka orang-orang biasanya akan membuat keinginan berdasarkan film itu. Kenapa kamu hanya membuat tujuh keinginan, Andra?”
“Kau tahu pelangi yang begitu kau sukai itu terdiri dari tujuh warna?”
Keila menganggukkan kepalanya. “Aku tahu.”
“Lalu dalam seminggu ada tujuh hari, di dunia ini ada tujuh samudra, dalam musik ada tujuh skala musik, dan terakhir ada tujuh tingkatan di langit. Bagi kebanyakan orang yang tahu akan hal ini, tujuh dianggap sebagai angka keberuntungan dan begitu juga kamu, Keila. Bagiku, kau adalah keberuntungan yang aku dapatkan sekali semur hidupku. Pertemuan pertama kita di sana. . .” Andra menunjuk ke pinggiran sungai di mana dirinya pernah ditolong oleh Keila. “bagiku itu adalah kebetulan. Tapi bisa bersama denganmu, di masa lalu itu kuanggap sebagai sebuah keberuntungan besar bagiku. Kau tidak tahu betapa berulang kali aku merasa bahwa bisa mengenalmu dan menjadi kekasihmu adalah sesuatu yang mustahil bisa kulakukan.”
Ingatan Keila ketika bertemu dengan Andra di jembatan ini, saat Noah berusaha menyerang dan berniat membunuhnya, kemudian muncul dalam waktu sekejap. Ingatan itu memutar usaha Andra untuk menyelamatkan dirinya dengan menyebut dirinya sebagai kekasih Keila. Jika saat itu Andra tidak menyebut dirinya dengan label kekasih, apa yang akan terjadi pada kami berdua? Jika saat itu Noah tidak menyerangku langsung, apa yang akan terjadi pada kami berdua sekarang?
Ingatan Keila kemudian membawa Keila pada saat Andra memberikan pekerjaan untuknya sebagai ganti skorsing selama tiga puluh hari. Jika saat itu Andra tidak membuatku bekerja sebagai juru masaknya, apa yang akan terjadi pada kami berdua sekarang?
Keila menyadari ada banyak waktu dan alasan kenapa dirinya akhirnya jatuh hati kepada Andra dan benar-benar menjadi kekasih Andra seperti ucapan Andra selama ini. Jika semua hal itu tidak terjadi, apa mungkin aku tidak akan jatuh hati padanya?
Keila tidak bisa menemukan jawaban yang tepat tapi Keila yakin bahwa jika kejadian yang terjadi berbeda, selama Keila mengenal Andra, Keila akan tetap jatuh hati pada Andra.
Keila menatap Andra dan menyadari Andra sedang menatap dirinya. “Lalu apa keinginan ketujuh itu, Andra?”
“Saat aku mengatakan bahwa kau adalah pelangi aku bisa aku lihat setiap hari, aku berharap dalam hati agar aku bisa melihatmu setiap harinya selama sisa hidupku.”
Mulut Keila menganga karena merasa memahami maksud dari ucapan Andra itu. Karena banyak sekali membaca novel dengan berbagai alur, kali ini Keila merasa familiar dengan maksud dari ucapan Andra yang baru saja didengarnya. “Mungkinkah keinginan ketujuh itu. . .?”
Andra menganggukkan kepalanya seolah mengerti dengan ucapan Keila yang hanya setengah itu. “Itu benar. Keinginan ketujuh yang belum tercapai itu adalah menjadi keluargamu. Yang artinya aku ingin bisa menjadi suamimu, menjadi teman hidup selama sisa hidupmu, Keila. Mungkin kita mengenal hanya dalam waktu singkat, tapi satu hal yang aku pelajari dalam waktu singkat itu: aku tidak bisa kehilanganmu. Karena itu sekarang dengan semua keseriusan yang aku miliki, dengan pelangi yang muncul sebagai saksi serta di tempat ini yang menjadi tempat di mana aku dan kau bertemu, aku ingin bertanya padamu, Keila. Maukah kau menikah denganku dan jadi istriku?”
Keila membeku mendengar pertanyaan yang baru didengar dari mulut Andra. Mulut Keila terasa kaku untuk menjawab pertanyaan itu. Kepala Keila masih tidak bisa memproses dengan baik ucapan yang keluar dari mulut Andra. Keila yang masih tidak mengerti dengan situasinya saat ini hanya bisa bertanya di dalam benaknya sembari memandang Andra dengan tatapan terkejut dan tidak percaya. Apa Andra baru saja melamarku? Seseorang tolong katakan padaku bahwa ini bukan mimpi?
[CATATAN PENULIS:
Salam kenal readers,
Perkenalkan nama saya Mahesvara. Sebelumnya terima kasih banyak karena telah meluangkan waktunya untuk datang berkunjung dan membaca karya saya yang berjudul 30 Days With U. Cerita antara Keila dan Andra berakhir pada chapter 61 di mana Keila membeku dan belum bisa menjawab lamaran yang diajukan Andra untuknya.
Cerita Keila dan Andra akan berlanjut ke season 2. Saya sebagai penulis, berharap readers bersabar untuk menunggu lanjutan kisah ini.
Terima kasih banyak dan salam hangat untuk kalian.]