
“Benarkah di sini tempatnya?” tanya Andra ketika sudah tiba di resto di mana Keila berjanji bertemu dengan Bonita-sahabatnya.
“Benar.” Keila melepaskan seatbeltnya dan kemudian membuka pintu mobil Andra. Sebelum turun Keila tidak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya. “Terima kasih, Andra. Kamu bisa pulang. Nanti aku akan pulang naik bis.”
Keila kemudian turun dari mobil Andra dan berjalan masuk ke resto di mana Bonita sudah duduk menunggunya.
“Key, di sini!”
Suara teriakan khas Bonita dengan nada melengkingnya terdengar di telinga Keila, membuat Keila yang baru saja masuk ke dalam resto segera menemukan Bonita tanpa membutuhkan waktu yang lama.
Keila menolehkan kepalanya melihat ke arah Bonita dan mempercepat langkahnya menuju ke tempat di mana Bonita duduk. “Apa kau sudah menunggu lama, Boni?”
Bonita menganggukkan kepalanya. “Tidak, mungkin sekitar lima menit yang lalu. Aku sudah memesankan spageti kesukaanmu, apa kau keberatan makan siang dengan itu?”
Keila mengambil kursi di depan Bonita sembari menganggukkan kepalanya setuju dengan pilihan Bonita. “Itu pilihan yang bagus. Aku sudah lama tidak memakan itu.” Keila duduk dan menyadari jika kursi di samping Bonita masih dalam keadaan rapi. “Hardan tidak datang?”
“Itu dia.”
Bonita tiba-tiba melambaikan tangannya, membuat Keila menolehkan kepalanya ke arah belakangnya.
“Ah, benar. Itu Har-“ Keila menghentikan ucapannya dengan tiba-tiba ketika melihat sosok yang berjalan tepat di belakang Hardan. Andra? Kenapa dia datang kemari? Bukannya dia hanya mengantarkanku kemari? Keila dengan cepat menolehkan kepalanya lagi ke arah Bonita dan menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya.
“Ada apa denganmu, Key?” Bonita bertanya karena terkejut dengan ekspresi Keila.
“Tidak apa-apa.”
Kedatangan Hardan berhasil membuat perhatian Bonita teralihkan dan melupakan rasa penasarannya kepada Keila.
“Maaf aku terlambat, Key.” Hardan menyapa Keila setelah setahun lebih tidak bertemu dengan Keila.
“Ya, lama tidak bertemu, Hardan.” Keila mengangkat kepalanya dengan ragu ke arah Hardan dan melihat sosok Andra yang berdiri dan hendak mengambil kursi di sampingnya.
“Maaf, siapa ya?” tanya Bonita ketika melihat kedatangan Andra.
Sementara itu, Hardan yang sadar dengan tatapan Andra yang selalu melihat ke arah Keila justru bertanya ke arah Keila. “Apakah dia kenalanmu, Key?”
“Ya, dia tem-“ Tadinya Keila ingin mengucapkan kata “teman” kepada dua sahabatnya: Bonita dan Hardan, tentang hubungannya dengan Andra. Namun Andra lebih dulu memotong ucapan Keila dan mengatakan sesuatu yang ditakutkan oleh Keila.
“Aku kekasih Keila.”
Keila menutup wajahnya dengan kedua tangannya ketika mendengar jawaban yang keluar dari mulut Andra. Sial. Mulutnya benar-benar tidak ada filternya. Dia mengucapkan kata kekasih seenak jidatnya tanpa melihat situasi dan kondisiku lebih dulu.
Sementara itu Hardan dan Bonita yang terkejut di saat bersamaan, langsung mengajukan pertanyaan yang sama kepada Keila. “Kekasih?? Apa maksudnya ini, Key? Kenapa kamu tidak cerita?”
Keila melirik tajam ke arah Andra yang dengan santainya mengambil kursi di samping Keila dan duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apapun. Kau benar-benar menyebalkan, Andra.
“Key??” Bonita berteriak memanggil Keila.
Keila menatap ke arah Bonita yang baru saja memanggil namanya. “Apa??”
“Jelaskan sekarang juga!” Bonita kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Andra dan menatap Andra dengan senyuman di bibirnya. “Siapa pria tampan yang mau jadi kekasihmu ini, Key?”
“Benarkah?” ucap Bonita yang masih menatap ke arah Andra. “Siapa namamu?” Kali ini, Bonita bertanya kepada Andra.
“Andra.”
“Usia?” Bonita bertanya tanpa mengedipkan matanya dari Andra seolah tersihir oleh pesonanya sama seperti yang pernah dialami oleh Keila.
“24 tahun.”
Keila yang tadinya malas untuk melihat ke arah Andra, langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar jawaban Andra soal usianya. “24 tahun???”
“Rupanya kali ini Keila mendapatkan kekasih yang usianya tiga tahun lebih muda,” puji Bonita dengan senyuman di bibirnya melirik ke arah Keila.
“Kamu tiga tahun lebih muda dariku dan kamu memanggilku langsung dengan namaku? Saat di kantor polisi harusnya kamu tahu bahwa usiaku sama dengan Noah, jadi kenapa kamu tidak memanggilku kakak dan langsung memanggilku dengan namaku?” Keila bertanya kepada Andra dan mengabaikan Bonita dan Handra.
“Aku memang tahu. Tapi aku tidak mau memanggilmu kakak. Kita adalah sepasang kekasih jadi kenapa aku harus memanggilmu dengan panggilan kakak?”
“. . .” Keila kehabisan kata-katanya ketika mendengar kata “kekasih” keluar dari mulut Andra lagi.
“Kalian serasi sekali.” Bonita memberikan pujiannya ketika melihat adu debat manis antara Keila dan Andra.
“Terima kasih,” Andra memberikan tanggapannya untuk pujian Bonita dan membuat Bonita semakin tidak bisa melepaskan tatapannya dari Andra.
“Kamu beruntung sekali, Key.”
Keila menarik napasnya dan berusaha menahan perasaan kesal di dalam hatinya. Tidak lama kemudian, Keila bangkit dari duduknya dan menarik tangan Bonita. “Handra, aku pinjam Bonita sebentar dan aku titip Andra di sini.”
“Kita mau ke mana, Key?” tanya Bonita yang masih tidak bisa melepaskan tatapannya dari wajah Andra.
“Ikut saja!” Keila terus menarik Bonita berjalan menjauh dari meja di mana Andra dan Handra berada. Ketika sudah merasa jauh dari meja di mana Andra dan Handra berada, Keila kemudian memaksa Bonita untuk duduk di meja yang paling dekat dengannya. “Kita duduk di sini dan bicara.”
“Apa yang ingin kamu bicarakan, Key?”
Keila kemudian menjelaskan semua yang terjadi antara dirinya dengan Andra: pertemuan mereka, kebetulan yang terjadi antara dirinya dan Andra, pekerjaan kecil yang diberikan Andra kepadanya dan situasi yang tidak mengenakkan yang terjadi berulang kali ketika Andra mengaku sebagai kekasih Keila.
Seusai mendengar penjelasan panjang dari Keila, Bonita justru lebih mendukung Andra dan bukannya memberi dukungan kepada Keila.
“Bukankah kamu beruntung bisa bertemu dengannya, Key? Lihatlah dirinya!” Bonita memaksa Keila untuk melihat ke arah Andra yang sedang berbincang dengan Handra. “Apa yang kurang darinya? Wajah Andra sangat tampan. Lihat rambut hitamnya, bibirnya dan hidungnya, melihatnya dari sini seolah aku melihat tokoh utama manga keluar dari manga. . .”
Karena Bonita yang memegang kepalanya dan memaksanya untuk melihat Andra, mau tidak mau Keila harus melihat Andra. Karena ucapan Bonita juga, mau tidak mau Keila harus memperhatikan setiap detail dari wajah Andra. Jujur saja, apa yang dikatakan Bonita adalah tanggapan pertama yang pernah keluar dari pikiran Keila ketika pertama kali bertemu dengan Andra. Keila memang pernah tersihir oleh pesona Andra.
“. . . Andra adalah orang yang menyelamatkanmu dari Noah jika harus membandingkannya dengan Noah, Andra mungkin seratus kali lebih baik dari Noah. Orang dengan tipe seperti Andra kurasa bukan orang-orang yang akan dengan mudahnya datang dan pergi dari kehidupan seseorang seperti Noah dan mantan kekasihmu yang lain, Key.”
Ucapan Bonita memang benar. “Tapi kau lihat sendiri bukan? Dia sudah dengan mudahnya mengaku sebagai kekasih bahkan ketika aku tidak setuju dengannya. Bukankah itu keterlaluan namanya?”
Bonita menganggukkan kepalanya. “I-itu mungkin benar. Tapi jika jadi dirimu, aku mungkin akan memilih untuk mencoba mengenal Andra lebih dalam. Mungkin dengan begitu, kamu bisa menemukan alasan kenapa tanpa seijinmu Andra mengaku sebagai kekasihmu.”
Lagi-lagi ucapan Bonita ada benarnya. Masih dengan memandang ke arah Andra dan merasakan pesona yang keluar dari Andra merasuki tubuh dan pikirannya, Keila yang dipaksa untuk memperhatikan Andra hanya bisa pasrah dan menikmatinya. Sebuah pertanyaan muncul di dalam benak Keila ketika mengingat ucapan Bonita padanya. Kira-kira apa alasannya bersikeras mengaku sebagai kekasihku bahkan setelah Noah tidak ada? Apakah ada alasan tertentu kenapa Andra terus mengaku sebagai kekasihku bahkan ketika aku menolaknya?
Pikiran Keila bekerja lebih dari seharusnya lagi dan berpikir sesuatu yang tidak seharusnya dipikirkan oleh Keila karena kebiasaannya menebak alur dalam novel yang dibacanya sebagai editor. Atau mungkin jangan-jangan dia hanya ingin mempermainkanku saja? Dia pasti sedang mempermainkanku. Aku yakin itu karena tidak ada alasan yang bisa menjelaskan kenapa pria sepertinya mau jadi kekasihku.