30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
18. BANTUAN UNTUK BERKENCAN 5



Sejak hari di mana “deklarasi” tentang ingin menjadi kekasih itu terjadi, Andra benar-benar melakukan pendekatan secara terang-terangan kepada Keila: Andra tidak lagi menatap wajah Keila dengan cara mencuri-curi pandang, Andra tidak lagi sungkan menggenggam tangan Keila ketika berbelanja bersama, bahkan Andra dengan mudahnya mengenalkan dirinya sebagai kekasih Keila ketika ditanya oleh ibu-ibu penjual di pasar. 


Sesekali Andra mungkin akan sibuk dengan pekerjaannya dan hanya akan melihat Keila pada jam sarapan dan makan malam. Namun keesokan harinya, Andra akan menghabiskan banyak waktunya mengganggu Keila di apartemennya untuk mengganti waktunya yang hilang untuk membuat Keila jatuh hati padanya. 


Satu hari berlalu. 


Tiga hari berlalu. 


Enam hari berlalu. 


Andra benar-benar berniat untuk terus menempel kepada Keila dan membuat Keila bertanya-tanya di dalam benaknya. Kenapa dari banyak gadis yang terpesona dengan pesonanya, Andra memilihku? Apa yang Andra lihat dariku? Pertemuanku dengannya jelas hanyalah sebuah kebetulan belaka. Sebutan kekasih saat itu hanyalah usahanya untuk menolongku. Dalam waktu yang singkat itu, bagian mana dariku yang membuatnya menyukaiku? Pertanyaan itu terus muncul berulang kali di dalam benak Keila, namun Keila hanya bisa memendamnya karena merasa dirinya tidak punya hak untuk bertanya kepada Andra mengingat dirinya bukan kekasih Andra dan masih dalam proses “pengejaran” oleh Andra. 


“Kau mau ke mana?’ tanya Andra yang menangkap basah Keila yang berjalan dengan mengendap-endap melewati pintu apartemennya dengan membawa tas besar di tangannya. 


“I-itu,” jawab Keila dengan gugup. “Bukankah minggu lalu aku sudah mengatakannya padamu jika aku ingin mengunjungi Ibuku?” 


“Ah benar, aku lupa soal itu. Tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaianku dan mengantarmu. Aku juga akan mengambil beberapa pakaianku untuk menginap di sana.” Andra langsung mengambil tas yang berada di tangan Keila dan membawanya masuk ke dalam apartemen miliknya sebagai “sandera”. Dengan cepat, Andra langsung menutup pintu apartemennya dan membuat Keila mengamuk di depan pintunya. 


“Andra!!!! Apa yang kau lakukan?” Keila menggedor pintu apartemen Andra sambil berteriak kesal. “Kembalikan tasku! Aku harus pergi untuk menemui ibuku.” 


Keila terus berteriak hingga suaranya serak dan tenaganya nyaris habis selama lima belas menit lamanya. Kesal karena tidak mendapat tanggapan, Keila akhirnya memilih untuk duduk di depan pintu apartemen Andra dengan pasrah. 


Sepuluh menit kemudian, Andra membuka pintu apartemennya dengan membawa air mineral dingin di tangannya dan memberikannya kepada Keila. “Siapa suruh kamu berteriak-teriak selama itu? Lihat sekarang, suaramu habis dan tenagamu terbuang percuma.” 


Keila bangkit dari duduknya dan menerima air mineral dingin itu sembari melemparkan tatapan tajam ke arah Andra. “Salah siapa ini? Kau dengan seenaknya mengambil tasku dan menunda kepergianku menemui ibuku.” 


Andra membiarkan Keila meminum air dingin itu untuk menyegarkan tenggorokannya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Keila. “Bukankah aku sudah bilang padamu bahwa aku akan mengantarmu ke sana?” 


Keila menghela napas panjang menahan rasa kesalnya mendengar jawaban Andra, “Aku akan kerepotan jika ibuku melihatmu, Andra.” 


“Kenapa?” 


“Selama ini, aku tidak pernah membawaku kekasihku pulang ke rumah. Apa jadinya jika ibuku melihatmu? Ibuku pasti berpikir aneh-aneh nantinya.” 


Andra tersenyum mendengar alasan Keila yang berusaha untuk pergi ke rumah ibunya seorang diri meski Andra sudah menawarkan tumpangan “gratis” untuk Keila. “Ah begitu rupanya. Ini alasanmu berusaha pergi dengan mengendap-endap ketika lewat apartemenku. Kalau kamu bingung harus mengatakan apa, biar aku yang jelaskan hal ini nanti kepada ibumu.” 


Satu setengah jam kemudian, di rumah Ibu Keila. 


Berkat Andra, Keila dapat menghemat waktu perjalanannya ke rumahnya dari dua jam menjadi satu setengah jam. Tadinya Keila mengira Ibunya akan marah ketika tahu Keila datang bersama dengan teman pria yang bahkan belum dikenalnya hingga sebulan. Keila mengira ibunya akan bersikap keras padanya karena belum pernah mengajak “teman” prianya ke rumah selain Handra-suami dari Bonita sekaligus sahabat Keila. Namun dugaan Keila itu salah.


“Siapa pria yang mengantarmu ini, Keila?” Ibu Keila bertanya dengan menyipitkan matanya ke arah Andra yang berjalan di samping Keila ketika Keila tiba di rumah ibunya. 


Seperti ucapannya sebelumnya, Andra maju ke depan Keila dan memberikan penjelasan kepada Ibu Keila tentang hubungannya dengan Keila. 


“Saya Andra, Tante. Saya tetangga yang tinggal di samping apartemen Keila dan saat ini saya dalam proses mengejar Keila dan berusaha untuk membuat Keila untuk menjadi kekasih saya. Karena alasan itu, saya ikut kemari untuk mengenalkan diri saya kepada Tante sebagai orang tua Keila.” 


Mendengar penjelasan Andra, Ibu Keila dalam sekejap langsung mengubah tatapannya dari menyelidik berubah menjadi tatapan penuh haru dan bahagia menatap ke arah Andra. Sementara Keila yang sudah menduga hal ini akan terjadi justru menatap tajam ke arah Andra karena rasa kesalnya. 


“Aduh Keila,” Ibu Keila menatap Keila dengan tatapan penuh rasa bangga. “Kamu benar-benar pintar memilih kekasih. Andra ini benar-benar tampan dan juga pengertian. Dia bahkan meluangkan waktunya yang berharga untuk mengantarkanmu kemari. Dia juga terang-terangan pada Ibu jika dia menyukaimu. Dia pria yang sangat jarang di zaman seperti ini.” 


“Ibu!” Keila menaikkan nada bicaranya sedikit berusaha untuk membuat ibunya sadar dari pesona Andra. “Andra masih tetanggaku dan bukan kekasihku. Berhentilah memujinya terus menerus.” 


“Ya, mungkin sekarang kamu masih dalam tahap pengejaran oleh Andra, tapi Ibu harap kamu tidak melewatkan berlian yang kamu temukan, Keila.” 


Keila mengernyitkan alisnya. “Berlian? Siapa yang Ibu maksud?” 


Ibu Keila kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Andra dan tersenyum. Ibu Keila memilih untuk mengabaikan anaknya sendiri dan melihat ke arah Andra. “Nak Andra, sepertinya putri Ibu ini masih malu dengan hubungan kalian. Ibu mohon Nak Andra memiliki kesabaran yang cukup tinggi mengingat sifat Keila yang sedikit keras kepala. Lalu jangan panggil Tante, panggil saja Ibu seperti yang Keila lakukan. Itu terdengar lebih akrab, Nak Andra.” 


Andra menganggukkan kepalanya dengan senyuman di bibirnya karena merasa senang. “Saya mengerti, Bu.” 


“Ah. . .” Ibu Keila histeris sembari menepuk-nepuk bahu Andra dengan senang. “Benar begitu, panggil aku Ibu sama seperti yang Keila lakukan. Ngomong-ngomong apa kau ingin menginap di sini, Nak Andra? Sayang sekali sudah jauh-jauh kemari jika tidak menginap di sini.”


“Apanya yang jauh, Bu? Biasanya juga aku pulang pergi dalam waktu sehari, Ibu tidak pernah keberatan. Kenapa sekarang justru meminta Andra untuk menginap?” tanya Keila kesal. “Andra tidak akan merasa lelah bahkan jika sekarang langsung kembali ke kota. Ibu terlalu berlebihan.”


Jika Keila merasa kesal karena ibunya begitu menyukai Andra dan mengabaikan keberadaannya, maka sebaliknya Andra justru merasa senang dan menerima tawaran dari Ibu Keila tanpa berpikir dua kali. “Dengan senang hati, Bu.” 


“Ah kalau begitu, masakan apa yang ingin kamu makan, Nak Andra?” Ibu Keila bertanya lagi kepada Andra dan melupakan Keila yang memandangnya dengan wajah cemberut dan kesal. 


“Ibu!” Keila menaikkan nadanya lagi karena kesal. 


“Ibu dengar, Keila. Kau ini benar-benar tidak sopan. Kita punya tamu jadi kita harusnya menyambut tamu dengan baik.” 


Andra mengerlingkan satu matanya ke arah Keila karena berhasil mendapatkan hati Ibu Keila dan membuatnya berada di pihaknya. 


“Kau ini. . .” Keila mengangkat tangannya dan hendak melayangkan pukulan ke bahu Andra. 


Namun Andra dengan cepat menangkap tangan Keila dan menarik Keila untuk mengikutinya sembari berpamitan kepada Ibu Keila. “Bu, bisakah saya berkeliling dan melihat-lihat sekitar sini?” 


“Tentu saja, Nak Andra. Mintalah Keila untuk menemanimu, Ibu akan memasakkan masakan yang enak untukmu dan Keila.” 


“Terima kasih banyak, Bu.” 


Andra yang masih menggenggam lengan Keila kemudian memaksa Keila untuk mengikutinya berjalan ke luar rumah Keila. 


“Kita mau ke mana?” tanya Keila yang terpaksa mengikuti Andra. 


“Seperti yang aku bilang tadi, aku ingin berkeliling melihat-lihat di sekitar sini.” 


“Kenapa? Tidak ada yang menarik dengan desa kecil di pinggiran kota seperti ini.” Keila menjawab dengan nada kesal. Keila masih merasa kesal karena Andra sekali lagi membuatnya merasa canggung karena dengan mudahnya mengaku sebagai kekasih Keila tanpa seijin Keila. 


“Aku ingin melihat tempat di mana kamu tumbuh dan berkembang hingga jadi seperti saat ini. Tempat ini pasti banyak menyimpan kenangan bagimu, Keila dan aku ingin tahu semua hal itu. Karena semua hal tentangmu adalah sesuatu yang istimewa bagiku.”