
Lima hari berlalu. Lima hari itu pula merupakan lima hari yang berat bagi Keila. Seluruh karyawan di perusahaan akan memandang Keila dengan tatapan penasaran, ingin tahu dan tatapan mengejek ketika mereka melihat kehadiran Keila. Seluruh karyawan perusahaan akan berbisik di belakang Keila dan menilai Keila sebagai pasangan yang buruk bagi direktur muda karena Keila dipandang jauh dari kata sempurna di mata mereka.
Selama lima hari itu Keila berusaha untuk mengabaikan pandangan dan bisik-bisik tentang dirinya itu. Keila bahkan merahasiakan hal itu dari Andra karena tidak ingin Andra merasa khawatir padanya dan satu hal lagi yang lebih penting alasan kenapa Keila merahasiakan masalahnya dari Andra: Keila tidak ingin hubungannya dengan Andra berakhir seperti hubungannya dengan Noah.
“Kamu yakin baik-baik saja?” tanya Andra ketika mengantar Keila dan menghentikan mobilnya di tempat biasa Keila turun dari mobilnya.
“Aku baik-baik saja.” Keila berbohong dengan senyuman di wajahnya menatap Andra.
“Kamu yakin? Sudah berapa hari ini, kamu sering sekali melamun. Jika ada sesuatu atau mungkin ada masalah, kamu bisa mengatakannya kepadaku, Key,” ucap Andra sembari membelai lembut rambut Keila.
“A-aku ingin bertanya sesuatu padamu. Bisakah aku bertanya?” tanya Keila dengan nada sedikit ragu.
“Tanyakan saja.”
“Jika kamu punya penggemar rahasia dan penggemar rahasia itu membuatmu dalam masalah besar, apa yang akan kamu lakukan terhadap orang itu?”
Alis Andra naik satu mendengar pertanyaan dari Keila. “Apakah kamu punya penggemar rahasia, Tee Rak?”
“Aku akan hanya bertanya, aku tidak bilang jika aku punya penggemar rahasia.” Keila melepaskan tangan Andra di kepalanya yang sedari tadi membelai rambutnya.
“Al-“ Andra hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Keila, namun Keila membuka pintu mobil Andra dan kemudian turun. “Kamu tidak ingin mendengar jawabanku, Tee Rak?”
“Tidak. . . jawabanmu pasti adalah jawaban konyol,” jawab Keila dengan tersenyum. “Sudah, aku berangkat dulu, Tee Rak. Sampai ketemu nanti.”
Setelah menutup pintu mobil milik Andra, Keila kemudian berjalan pergi ke gedung perusahaannya begitu saja tanpa mendengar jawaban Andra untuk pertanyaannya. Di dalam hati Kiela saat ini, sebuah keputusan bulat sudah dibuat oleh Keila yakni membersihkan namanya dari gosip yang sudah menyebar.
Semenjak kejadian gosip itu, Keila meminta Andra untuk mengantarnya ke perusahaan lebih pagi dari biasanya dan Keila akan menghindari lift untuk menjadi pusat perhatian. Keila akan sengaja lewat tangga darurat karena tempat itu adalah satu-satunya tempat yang jarang dilewati oleh banyak karyawan perusahaan. Tapi pagi ini Keila bertemu dengan seseorang yang tidak terduga, yang juga menggunakan tangga darurat seperti dirinya.
“Li-Liam??” ucap Keila terkejut ketika membuka pintu tangga darurat dan menemukan Liam sedang berdiri di dekat tangga darurat sembari memainkan ponselnya. Ini adalah kedua kalinya Keila bertemu dengan Liam.
Pamor Liam yang dikenal dengan senyuman hangatnya dan sering kali menggantikan Direktur Rafandra, membuat Liam lebih dikenal oleh banyak orang termasuk Keila yang biasanya cuek dengan karyawan lain yang tidak berhubungan langsung dengannya. Karena Liam juga, Keila benar-benar tidak pernah tahu bagaimana rupa Direktur Rafandra yang bekerja di perusahaan yang sama karena Liam terlalu sering menggantikannya dalam pidato maupun inspeksi. Keila bahkan pernah mengira jika Liam memiliki kedudukan yang sama dengan direktur perusahaan tempatnya bekerja.
“Pagi, Nona Keila,” balas Liam dengan senyuman khasnya yang hangat.
“Kau tahu namaku?” tanya Keila yang terkejut mendengar namanya disebut oleh Liam.
Liam menganggukkan kepalanya. “Tentu saja, aku tahu. Nona beberapa kali menjadi pusat perhatian di perusahaan ini.”
Sial! Kenapa aku yang bertemu dengannya di sini? Haruskah aku mengatakan jika keberuntunganku ini benar-benar baik atau benar-benar buruk? Aku selalu bertemu dengan seseorang yang begitu ingin ditemui oleh banyak orang. Keila membalas senyuman Liam dengan senyuman di bibirnya. Tunggu dulu! Bukankah ini keberuntungan namanya bisa bertemu dengannya di sini? Aku bisa bertanya tentang direktur muda Rafandra padanya. Aku bisa bertanya kenapa direktur muda itu tidak bertindak apapun mengenai gosip yang beredar antara aku dan dirinya. Aku bisa bertanya kepadanya mengenai buket bunga itu apakah benar-benar berasal dari bagiannya atau tidak.
“Li-Liam??” Keila bertanya dengan nada suara ragu-ragu.
Liam yang sejak tadi memainkan ponselnya dan terlihat sedang sibuk membalas pesan kemudian mengabaikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jasnya ketika mendengar panggilan dari Keila. “Ya??”
“Aku tahu kita tidak kenal dengan baik, tapi bisakah aku bertanya padamu?” Keila bertanya dengan nada ragu-ragu.
Liam tersenyum kepada Keila dan kemudian menjawab, “Tentu saja. Apa yang ingin Nona Keila tanyakan padaku?”
“Soal gosip yang beredar mengenai aku dan Direktur Rafandra, apakah Direktur tidak marah dan keberatan?”
Napas Keila seolah berhenti di ujung tenggorokan ketika mendengar tawaran dari Liam. Tawaran itu terdengar menggiurkan, tapi di satu sisi terdengar sebagai tawaran yang berbahaya. Keila cukup berhati-hati mengingat statusnya saat ini yang hanya karyawan biasa di perusahaan ini. Jika orang sekelas direktur saja tidak terganggu, kenapa pula aku harus mengeluh?? Keila yang memikirkan hal itu kemudian menolak tawaran dari Liam. “Tidak perlu Liam, aku hanya ingin tahu bagaimana reaksi Direktur saja. Tidak lebih.”
“Apakah ada lagi yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Liam sembari melirik jam tangannya.
“Satu lagi.” Keila mengangkat jari telunjuknya memberi isyarat.
“Apa itu, Nona?”
“Soal buket bunga mawar putih yang ditujukan padaku, yang selalu datang ke departemenku di setiap tanggal sepuluh, apakah buket bunga itu berasal dari bagianmu? Dari direktur?” tanya Keila dengan nada sedikit ragu. “Aku berusaha mencari pengirim itu dan akhirnya menemukan kalau bunga itu dikirim dari bagian Direktur Rafandra.”
Liam tersenyum mendengar pertanyaan Keila dan kali ini senyuman Liam lebih lebar dari senyuman Liam sebelumnya. Ketika melihat senyuman itu, untuk sesaat Keila akhirnya paham kenapa Suci dan Irene juga begitu tergila-gila dengan Liam. Asisten direktur itu benar-benar punya senyuman yang menawan dengan kesan sebagai prince charming yang berbeda dengan direktur muda yang memiliki kesan misterius. Jika empat orang dari bagian direktur itu berkumpul dan berjalan bersama di lobi perusahaan, pasti semua mata karyawan akan tertuju kepada mereka seolah F4 sedang lewat.
“Kenapa Nona baru bertanya sekarang?” Liam berbalik bertanya kepada Keila. “Harusnya Nona bertanya sejak bunga itu datang pertama kali. Bukankah ini terlalu terlambat untuk bertanya?”
Keila gelagapan mendengar pertanyaan dari Liam. Keila benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan Liam itu dan hanya bisa berkata, “Maaf. Jadi bunga itu benar-benar berasal dari bagian Direktur Rafandra?”
“Itu benar,” Liam tersenyum mendengar jawaban dari Keila dan melihat reaksi dari Keila yang merasa bersalah karena telah mengabaikan pengirim buket bunga itu. “Jika Nona benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini, akan lebih baik jika Nona menemui pengirim bunga itu. Mungkin dengan begitu, Nona akan menemukan alasan pengirim buket bunga itu selalu mengirim bunga kepada Nona selama ini.”
Liam kembali melirik jam tangannya dan beberapa detik kemudian dering ponselnya berbunyi. Mengetahui bahwa panggilan itu sepertinya sesuatu yang mendesak, Liam kemudian berpamitan kepada Keila. “. . .Maaf saya harus pergi, karena Direktur memanggil saya. Sampai bertemu lagi, Nona dan saya harap pada pertemuan berikutnya, saya bertemu dengan Nona dengan status yang berbeda.”
Apa maksudnya dengan status yang berbeda? Pertanyaan itu muncul di dalam benak Keila ketika Keila melihat Liam yang bergegas menuruni tangga menuju ke area parkir bawah tanah. Keila terus memikirkan ucapan Liam itu hingga seseorang memanggil namanya.
“Kak Key. . .”
Keila yang baru menaiki sepuluh anak tangga kemudian menghentikan langkah kakinya dan berbalik melihat ke arah belakangnya. Keila tersenyum karena mengenali pemilik suara yang memanggil namanya baru saja. “Ah, pagi, Irene.”
Irene menyusul Keila dengan cepat. “Kenapa dengan raut wajah Kakak ini?”
Karena ucapan Liam yang membuatku penasaran, kira-kira raut wajah apa yang sekarang tergambar di wajahku? Keila bertanya-tanya tentang wajahnya yang saat ini dilihat oleh Irene sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Irene. “A-aku baru saja bertemu dengan Liam di sini dan aku mengajukan pertanyaan kepadanya mengenai gosip yang beredar mengenai aku dan direktur Rafandra.”
“Lalu apa jawaban Liam? Apakah Direktur marah dengan adanya gosip itu?” tanya Irene dengan tenang meski matanya memancarkan rasa ingin tahu yang sangat besar.
“Liam tersenyum dan mengatakan padaku bahwa direktur sama sekali tidak terusik dengan kabar itu.”
“Benarkah??” Irene tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Keila.
“Itu benar.” Keila menganggukkan kepalanya. “Liam sendiri yang mengatakannya kepadaku.”
“Kesan misterius itu benar-benar sesuai dengan auranya. Direktur Rafandra bahkan tidak terusik dengan gosip miring tentang dirinya bersama dengan salah satu karyawan yang mungkin tidak dikenalnya. Lalu. . .” Irene menghentikan ucapannya untuk sesaat karena mengingat sesuatu yang penting. “Apakah Kakak tidak bertanya pada Liam mengenai buket bunga yang selalu datang itu?”
“Tentu saja aku menanyakan hal itu.”
“Lalu apa jawabannya, Kak? Apa benar bunga itu benar-benar berasal dari bagian milik Direktur Rafandra??” tanya Irene yang kali ini tidak lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya di balik wajah tenangnya.
“Ya, bunga itu benar-benar dari bagian Direktur Rafandra,” jelas Keila sembari menghela napas panjangnya. “Hanya saja Liam tidak mengatakan siapa pengirimnya kepadaku.”
Irene menepuk tangannya dan membuat suara gema di area tangga darurat yang sepi. “Bukankah ini sudah jelas, Kak?? Liam tentu tahu siapa pengirim bunga itu. Menurutku pengirim bunga itu adalah Direktur Rafandra. Kakak harus bertanya langsung kepada Direktur Rafandra untuk menemukan jawabannya, Kak.”
Irene menjawab dengan penuh semangat dan Keila dapat dengan jelas melihat semangat Irene yang jarang diperlihatkannya itu. Sembari terus berjalan menaiki anak tangga, Keila membuat pertimbangan di dalam benaknya. Haruskah aku menemui Direktur Rafandra dan bertanya langsung padanya soal buket bunga itu? Haruskah aku melakukan itu?