
Sebelum kembali ke apartemennya, Andra memberikan ponselnya kepada Keila dan membuat Keila menatap heran ke arah Andra.
“Apa? Kenapa kau memberikan ponselmu padaku?”
“Berikan nomormu.”
Keila menatap heran lagi ke arah Andra. “Untuk apa?”
“Karena lima hari ke depan mungkin akan sibuk, jika sewaktu-waktu aku ingin makan siang dengan masakanmu, aku akan mengirim pesan padamu.”
“Oh.” Keila mengambil ponsel milik Andra dan memasukkan nomor ponsel miliknya. Setelah memasukkan nomor ponsel miliknya, Keila kemudian mengembalikan ponsel Andra kepada pemiliknya. “Ini.”
Andra melihat nomor ponsel Keila dan sekali lagi, Keila menangkap senyuman kecil di sudut bibir Andra. Andra mengetikkan sesuatu yang mungkin menjadi nama dari nomor ponsel milik Keila dan setelah itu mencoba menghubungi ponsel Keila dengan nomor yang baru saja disimpannya.
Ponsel Keila bergetar dan Andra langsung mematikan panggilannya. “Simpan nomorku. Aku akan menghubungimu jika ada sesuatu yang aku inginkan.”
“Ya.”
Setelah itu Andra kembali ke apartemennya dan malam berlalu begitu saja.
# # #
Seperti ucapannya sebelumnya, Andra benar-benar sibuk selama beberapa hari.
Empat hari berlalu begitu saja tanpa kehadiran Andra di hadapan Keila. Empat hari pula, Keila hanya membuatkan sarapan dan makan malam yang dikemas di dalam kotak makanan lalu meletakkannya di depan pintu apartemen milik Andra. Selama empat hari pula, Keila memiliki banyak waktu luang di siang hari karena tidak harus memasak makan siang untuk Andra. Hari pertama Keila pergi berbelanja pakaian di supermarket. Keila menghabiskan waktu empat jam lamanya di supermarket dengan berkeliling seorang diri. Karena pekerjaan yang seringkali sibuk dan menyita waktunya, Keila sudah terbiasa berbelanja seorang diri. Alasan lain Keila senang berbelanja seorang diri adalah terkadang Keila ingin punya waktu sendiri di mana dirinya berada di antara ribuan manusia tanpa ada seorang pun yang mengenalnya. Merasakan hal itu membuat Keila bisa melupakan kepenatan akibat pekerjaannya dan hubungan sosial yang terkadang terasa mencekik Keila. Lalu alasan lain Keila lebih suka berbelanja seorang diri adalah Keila tidak ingin diributkan dengan pendapat orang lain tentang pakaian yang akan dibelinya.
“Baju ini aku yang akan menggunakannya. Cocok atau tidak, itu tergantung denganku karena mau bagaimana pun aku yang akan memakainya. Lagi pula, aku membeli pakaian ini dengan uang milikku dan bukan uangmu.”
Keila pernah berdebat dengan tean kuliahnya ketika pergi berbelanja bersama, hanya karena semua baju pilihan Keila selalu mendapat tanggapan negatif dari teman kuliahnya. Karena hal itu, Keila lebih suka berbelanja seorang diri dan jika memang ingin pergi bersama, Keila biasa mengajak Bonita–sahabatnya.
Di hari kedua, Keila menghabiskan waktunya di toko buku. Keila melihat-lihat beberapa buku yang mencantumkan namanya sebagai editor. Keila juga memeriksa peminat beberapa buku yang mencantumkan namanya sebagai editor. Setelah puas melihat-lihat, Keila kemudian memilih beberapa buku yang dirasanya menarik untuk menemaninya di waktu-waktu luang yang masih tersisa cukup banyak.
Di hari ketiga, Keila menghabiskan waktunya untuk makan siang bersama dengan Bonita dan melanjutkan percakapan mereka yang sempat tertunda karena kedatangan Andra secara tiba-tiba. Bonita yang telah menjadi istri dari Handra dan bekerja sebagai desainer pakaian pengantin, selalu punya waktu jika Keila meminta untuk ditemani. Bonita bahkan sengaja mengosongkan jadwalnya hingga sore hari hanya untuk pergi bersama dengan Keila: dari makan siang bersama hingga menonton film terbaru di bioskop bersama. Keila menikmati waktu-waktunya bersama dengan Bonita dan bersyukur memiliki sahabat seperti Bonita yang selalu punya waktu untuknya. Hanya saja. . . beberapa kali Keila merasa bersalah kepada Bonita karena pekerjaannya, Keila tidak punya banyak waktu untuk Bonita ketika Bonita membutuhkannya.
Di hari keempat, Keila menerima panggilan dari Irene, Suci dan Nuri yang memintanya untuk makan bersama. Keila bersama dengan juniornya menghabiskan jam istirahat juniornya dengan saling berebut untuk menceritakan apa yang terjadi di perusahaan kepada Keila.
“Harusnya Kakak di kantor,” ucap Nuri.
“Ada apa memangnya?” Keila bertanya setelah menelan makanannya.
“Apa selama ini Kakak pernah melihat wajah direktur muda perusahaan kita?” tanya Nuri dengan penuh semangat.
“Benar, Kak. Apa Kakak pernah melihatnya?” tambah Suci yang menggebu-gebu.
Keila menggelengkan kepalanya. “Tidak pernah. Kau tahu sendiri, pekerjaan kita benar-benar padat. Jadi aku tidak punya waktu untuk memperhatikan atasan yang bahkan tidak pernah berhubungan pekerjaan dengan kita. Terlebih lagi direktur muda kita itu bukannya orang yang sangat menjaga privasi? Dari yang aku dengar, dia bahkan menolak interview beberapa majalah dan bahkan memarahi GM karena nyaris saja membuat potret dirinya menjadi iklan di perusahaan.”
“Itu benar. Aku masih mengingat kejadian satu tahun yang lalu.” Irene yang sejak tadi diam tiba-tiba ikut berbicara ketika Keila membuka mulutnya.
“Tapi kenapa tiba-tiba kalian membahas tentang direktur muda kita itu?” Keila bertanya karena merasa heran.
“Kemarin. . .” Suci dan Nuri berbicara bersamaan dengan wajah menggebu-gebu. Sementara Keila dan Irene yang berwajah biasa terkejut melihat dua orang rekan kerja mereka begitu bersemangat mengenai direktur muda yang selama ini jarang muncul di hadapan publik bahkan di depan karyawannya.
“Bisakah satu saja yang bercerita?” ucap Keila setelah menghabiskan makanannya.
“Aku saja.” Suci menawarkan diri. “Kemarin direktur muda yang bahkan tidak pernah menampakkan batang hidungnya di hadapan kita, tiba-tiba saja berkeliling ke seluruh departemen. Mungkin karena akan ada audit pada hari berikutnya. Tapi karena hal itu, semua wanita di setiap departemen heboh karena menyadari bahwa direktur muda yang selama ini tidak pernah kita lihat itu ternyata masih muda dan berwajah sangat tampan.”
“Benar.” Nuri ikut menambahkan. “Wajahnya yang tegas dan dingin itu berhasil menghipnotis hampir seluruh karyawan wanita di perusahaan kecuali kakak yang sedang tidak ada di perusahaan.”
“Bagaimana menurutmu, Irene?” Keila bertanya dengan wajah penasaran. “Apa kau tidak terhipnotis juga seperti yang terjadi pada Nuri dan Suci?”
Irene tersenyum kecil. “Kuakui direktur muda kita memang benar-benar tampan. Wajahnya benar-benar sempurna layaknya gambaran sempurna yang selalu kita baca di dalam novel: tubuh tinggi dengan balutan setelan jas, kulit putih dengan urat-urat nadi yang terlihat jelas di tangannya, gambaran wajah yang sempurna dari bentuk mata yang bulat, hidung mancung dan bentuk bibirnya yang sensual. Tapi wajahnya dan tatapan matanya benar-benar dingin membuatku merasa sedikit takut dengannya.”
“Kenapa??” tanya Suci dan Nuri bersama-sama yang mendengar penjelasan Irene. “Kesan pria dingin seperti direktur muda kita itu benar-benar gambaran sempurna. Itu adalah gambaran pria ideal yang menarik hati.”
“Hahahaha.” Keila tertawa kecil mendengar keributan dari juniornya tentang direktur muda yang belum pernah dilihatnya itu. Entah kenapa gambaran direktur muda itu mengingatkanku dengan seseorang yang sangat menyebalkan. Keila menggelengkan kepalanya merasa apa yang dipikirkannya saat ini adalah pikiran asal saja. “Aku benar-benar penasaran dengan wajah direktur muda kita itu hingga kalian terhipnotis dan saling berdebat seperti ini.”
“Maka dari itu, aku harap sebulan ini cepat berlalu. Ketika Kakak kembali, Kakak bisa melihat wajah direktur muda itu dan melihat bahwa apa yang kita ucapkan itu memang benar adanya.” Nuri berbicara tanpa kehilangan semangatnya.
“Ya, Kak. Kami benar-benar merindukanmu, Kak.” Suci menambahkan. “Tapi. . . aku benar-benar kesal.”
“Kenapa?” Keila bertanya dengan wajah penasaran.
“Karena Kakak tidak ada, Kak Yuna dari departemen desain semakin menjadi-jadi saja. Bahkan dia dengan mudahnya membuat deklarasi ingin membuat direktur muda kita itu jatuh cinta padanya,” jelas Suci.
“Ya, benar. Aku juga mendengar hal itu. Dia benar-benar wanita ular yang tidak ada puasnya dengan satu laki-laki.” Nuri menambahkan.
“Kalian berdua tenang saja.” Irene tiba-tiba memotong ketegangan di antara Suci dan Nuri.
“Kenapa begitu?” tanya Suci dan Nuri bersama-sama bahkan dengan nada suara yang sedikit meninggi membuat Keila nyaris saja terkejut dan nyaris menjatuhkan gelas minumannya.
“Melihat wajah direktur muda kita dan sikapnya selama ini, aku yakin direktur muda kita tidak akan jatuh dalam perangkap wanita ular seperti Kak Yuna.”
“Ah kau benar, Irene.” Suci menyetujui ucapan Irene.
“Jika Irene mengatakan hal itu, maka direktur muda kita itu tidak akan jatuh hati pada Kak Yuna. Bukankah selama ini penilaian Irene tidak pernah salah?” ucap Nuri sembari menghela napas lega.
Keila tersenyum melihat kedekatan ketiga junior yang dua tahun ini berada di bawah ajarannya. “Kalau begitu, harusnya kalian tidak perlu takut untuk menjadi pengagum direktur muda itu karena Yuna tidak akan bisa merebut idola baru kalian.”
“Ya, Kak.” Suci dan Nuri menjawab bersama-sama dengan wajah senangnya.
Setelah percakapan panjang tentang direktur muda yang belum dilihat oleh Keila itu, Nuri, Suci dan Irene harus kembali ke perusahaan karena jam istirahat mereka yang hampir berakhir. Sebelum kembali ke perusahaan, Irene dengan sengaja menarik Keila menjauh dari Suci dan Nuri dan berbicara empat mata dengan Keila.
“Kak Key.”
“Ya, kenapa kamu menarikku kemari? Ada apa, Irene?” Keila terkejut melihat Irene bersusah payah untuk membawa Keila menjauh dari Suci dan Nuri.
“Soal pengagum rahasia Kakak selama ini, mungkinkah orang itu adalah direktur muda yang selama ini tidak pernah menampakkan wajahnya di depan kita?”
Keila tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Irene. “Bagaimana aku tahu itu, Irene? Direktur di perusahaan kita bukan hanya direktur muda itu saja, di bawahnya masih ada beberapa direktur lagi jika aku tidak salah mengingat struktur kepemimpinan di perusahaan kita. Direktur muda di perusahaan kita ada beberapa dan bukan satu orang saja, Irene. Itu pun jika aku tidak salah ingat.”
“Ah benar juga kata Kakak. Kita tidak akan tahu sebelum kita menangkap basah pengirim bunga itu dan penyebab kesialan pada Kakak itu.”
Keila menaikkan satu alisnya ke atas mendengar ucapan Irene padanya. “Dulu. . . aku mungkin menganggap pengagum rahasia itu adalah sumber kesialanku. Tapi setelah aku pikir-pikir, berkat dirinya aku bisa tahu bagaimana wajah Noah yang sesungguhnya. Berkat dia, aku bisa lepas dari Noah.”
“Irene! Ayo. . . kita hampir terlambat.” Suci berteriak memanggil Irene yang menjauh untuk berbicara dengan Keila.
“Sudah pergi sana. Suci dan Nuri bisa terlambat kembali ke kantor karena percakapan kita.”
“Satu lagi, Kak.” Irene berbisik kepada Keila.
“Apa lagi?”
“Bunga itu berhenti datang bulan ini, Kak.”