30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
53. RAHASIA KEKASIH 5



Keila yang baru pulang dari tempat kerjanya, menghela napas ketika melemparkan tubuhnya di sofa miliknya. Bayangan Andra yang sedang duduk di kursi meja makan miliknya sembari menyantap masakan yang dibuat oleh Keila, membuat Keila merasakan perasaan rindu di dalam hatinya. Keila menatap bayangan Andra itu dan mendapati senyuman kecil Andra terbentuk di sudut bibirnya. 



“Bagaimana masakanku? Enak?” tanya Keila yang menatap Andra dengan penuh harap. 



“Tidak buruk. Masih layak untuk dimakan.” Andra menjawab dengan berusaha menyembunyikan senyuman kecil di sudut bibirnya. 



“Kau!! Kenapa kau selalu mengatakan masakanku tidak buruk dan bukannya enak??” tanya Keila kesal mendengar jawaban dari Andra yang memakan masakan buatannya dengan lahap. 



Andra menelan lebih dulu makanannya sebelum menjawab pertanyaan Keila. “Aku akan mengatakan masakan ini enak, ketika waktunya tiba nanti.” 



“Waktunya tiba??” Keila menatap Andra dengan tatapan heran. “Apa maksudnya dengan itu?” 



“Ketika kau jadi kekasihku, setiap hari aku akan memuji masakan yang kau buat. Bagaimana??” 



Bayangan Andra dan dirinya yang duduk di meja makan kemudian menghilang, membuat Keila kembali lagi pada realitanya di mana saat ini dirinya hanya seorang diri tanpa sosok Andra di sampingnya. Kenapa. . . dulu aku tidak menyadari senyuman kecil yang terbentuk di sudut bibirnya itu? 



Hari berikutnya. 



Sepulang bekerja, Keila yang kehabisan beberapa kebutuhan pentingnya terpaksa pergi ke supermarket untuk berbelanja. Harusnya. . . kegiatan berbelanja ini dilakukan Keila bersama dengan Andra. Namun setelah mengenal Andra, ini adalah pertama kalinya bagi Keila untuk pergi berbelanja tanpa Andra di sisinya. Dengan kereta troli di depannya, Keila kemudian memilih beberapa barang yang diperlukannya untuk kebutuhannya selama sebulan. Dan lagi-lagi bayangan Andra yang pergi berbelanja bersama dengan dirinya di masa lalu muncul di depan Keila. 



“Ah, jadi kamu menggunakan merek itu ketika sedang datang bulan??” tanya Andra sembari menganggukkan kepalanya. 



Keila memandang Andra dengan tatapan heran. “Kenapa kau menganggukkan kepalamu, Andra?” 



“Aku sedang berusaha untuk mengingat semu merek dari kebutuhan sehari-hari yang kamu gunakan. Dari pasta gigi, sikat gigi, sabun mandi, sampo, sabun cuci baju, sabun cuci piring dan bahkan merek pembalut yang kamu gunakan ketika nanti datang bulan.” 



Keila bergidik ngeri mendengar ucapan dari Andra. “Berhenti melakukan itu! Tubuhku bergidik mendengar ucapanmu itu.” 



“Kenapa?? Bukankah ini yang harusnya dilakukan oleh laki-laki ketika pergi berbelanja bersama dengan pasangannya??” 



“Tidak!” tegas Keila. “Kebanyakan pria tidak melakukan apa yang baru saja kamu katakan.” 



“Ah benarkah??” Andra mengerutkan satu alisnya. “Itu artinya pria seperti itu bukanlah pasangan yang baik.” 



Mendengar jawaban dari Andra, giliran Keila yang mengerutkan keningnya. “Apa maksudnya dengan itu?” 



“Sebagai pasangan yang baik, sudah seharusnya pria memahami wanitanya. Kau tahu wanita itu punya banyak kebutuhan dan banyak kondisi yang menyulitkan dalam hidupnya?” 



Keila menganggukkan kepalanya. “Aku tahu. Lalu??” 



“Sebagai pasangan, kelak akan ada waktu di mana pria harus pergi berbelanja sendiri kebutuhan untuk dirinya, istrinya dan anaknya. Jika hal itu terjadi, maka aku tidak akan lagi kelabakan dan bingung apa yang harus aku beli untuk kebutuhanmu.” Setelah menjawab pertanyaan dari Keila, Andra kemudian meletakkan tangannya di atas kepala Keila dan membelai lembut rambut Keila yang tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek. Tangan Andra berhenti di atas kepala Keila dan Andra mendekatkan bibirnya di telinga Keila sebelum berbisik. “Bukankah aku adalah pasangan ideal bagi kebanyakan wanita??” 



Keila melepaskan kepalanya dari tangan Andra dan bergerak menjauh dari Andra. “Sial, kau Andra!! Kau memamerkan dirimu sendiri, huh??” 




Melihat bayangan dirinya bersama dengan Andra di masa lalu, bibir Keila tanpa sadar membuat senyuman. Keila ingat saat itu dirinya benar-benar tidak bisa membalas ucapan Andra karena rasa malunya mendengar ucapan Andra yang sedang memberikan “jaminan” kepada dirinya. Namun ketika ingatan itu muncul dan membentuk bayangan di depan Keila, dengan tersenyum Keila memberikan jawaban yang harusnya diberikan Keila saat itu. “Ucapanmu benar, Andra. Kau memang pasangan yang paling baik yang pernah aku temui. Kau memang idaman banyak wanita termasuk aku.” 



Hari berikutnya. 



Sial! Keila mengumpat menatap langit ketika hujan turun dengan sangat deras. Kenapa hujan ini turun di saat aku turun dari bis dan bukannya ketika aku sampai di gedung apartemenku? Keila yang tidak membawa payung di dalam tasnya kemudian memilih untuk menggunakan tas miliknya sebagai pelindung kepalanya, ketika hendak berlari menerobos derasnya hujan yang turun. 



Begitu tiba di apartemen miliknya, Keila dalam keadaan basah kuyup karena nekat berlari menerobos derasnya hujan yang turun. Setelah mengganti pakaiannya yang basah dan menghangatkan dirinya, Keila kemudian duduk di balkon apartemennya seperti kebiasaannya. Lengkap dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya sembari memutar lagu dalam daftar playlist di ponselnya, Keila menatap hujan turun yang membentuk tirai-tirai indah.



Buk. 



Bayangan lain muncul di depan Keila karena lagu yang berputar di telinga Keila saat ini. 



Keila menatap sengit Andra yang melemparkan jaket miliknya ke arahnya. “Sudah kubilang aku bukan mesin cuci yang menerima pakaian kotormu! Berhentilah melemparkan jaketmu padaku, Andra!” Keila kemudian melemparkan kembali jaket yang mendarat di atas kepalanya kembali kepada pemiliknya. 



Setelah menerima jaket yang dilemparkan oleh Keila, Andra kemudian menghilang dari balkon apartemennya. Keila mengira ketenangan akan datang setelah melihat Andra menghilang dari hadapannya. Namun kenyataan berkata lain: Andra justru masuk ke apartemen Keila. 



Mendengar suara pintu apartemennya terbuka, spontan Keila menolehkan kepalanya ke belakang dan melongo melihat apa yang ada di tangan Andra saat ini. “Kenapa kau membawa selimut tebal kemari? Jika ingin tidur, jangan tidur di sini! Tidurlah di apartemenmu sendiri!” 



Sembari berjalan menghampiri Keila yang duduk di balkon apartemennya, Andra membalas ucapan Keila. “Siapa yang bilang aku ingin tidur?? Selimut ini, aku bawa untukmu.” Setelah mengatakan itu, Andra yang berdiri di samping Keila kemudian membungkukkan tubuhnya dan memasang selimut di tubuh Keila.



Berkat Andra, Keila saat ini terlihat seperti gumpalan es krim yang besar karena selimut yang dipasang oleh Andra di sekujur tubuhnya. 



“. . . Dengan begini, kau tidak akan masuk angin, Key,” ujar Andra sembari menghela napas lega. 



“Aku tidak merasa dingin, Andra!” tegas Keila sembari berusaha melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya. 



Andra yang menyadari tindakan Keila, dengan cepat kemudian berusaha untuk menghentikan tindakan Keila dengan memeluk tubuh Keila yang terbalut oleh selimut tebal dan berkata dengan nada memohon. “Jangan dilepas, Key!” 



“Karena selimut ini aku tidak bisa merasakan hawa dingin yang dibawa oleh hujan, Andra! Biarkan aku melepas selimut ini!” 



“Aku tidak mau melihatmu sakit lagi, Keila. Melihatmu sakit, rasanya benar-benar menyakitkan bagiku, Keila.” 



Mendengar ucapan Andra, Keila menghentikan gerakannya. “Lepaskan pelukanmu dan aku tidak akan melepas selimut ini. Posisi ini benar-benar membuatku risih, bagaimana jika ada tetangga yang melihat kita??” 



Andra kemudian melepaskan pelukannya dan duduk di samping Keila. Sementara itu Keila yang telah berjanji kepada Andra, kemudian membuka setengah dari selimut tebal yang membalut tubuhnya. 



“Kenapa kau membukanya?” tanya Andra terkejut melihat tindakan Keila. “Kau bisa sakit karena hawa dingin ini.”



Keila tersenyum kecil mendengar pertanyaan Andra sembari memasangkan separuh selimut di tubuhnya ke tubuh Andra dan membuat Andra juga merasakan rasa hangat yang sama dengan dirinya. “Kita gunakan ini bersama dan jangan protes lagi. Kau benar-benar mengganggu kegiatanku menikmati hujan.” 



Bayangan itu kemudian sirna begitu saja bersamaan dengan hujan yang telah berhenti jatuh dari langit. Angin dingin berembus kencang membuat Keila sedikit merasakan hawa dingin menusuk ke tubuhnya. Dengan malas, Keila bangkit dari duduknya dan meraih selimut tebal miliknya yang berada di atas tempat tidurnya sembari bergumam, “Aku tidak akan sakit, Andra. Aku tidak akan sakit sembari menunggumu pulang.”