30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
56. TUJUH KEINGINAN 1



Hari itu. . . sejak bertemu dengan Kakak itu, hidupku yang hampa mulai mendapatkan kembali semangatnya. Sama seperti hariku yang selalu dipenuhi dengan hujan, untuk pertama kalinya aku menemukan pelangi dalam hidupku: pelangi hidup yang hanya ada untukku seorang. 


Semenjak pertemuan itu, aku membuat janji pada diriku sendiri: aku akan mengubah diriku dan bertahan dalam kehidupan yang berat ini. Aku akan berubah dan menunjukkan padanya bahwa apa yang telah diperbuatnya padaku, bukanlah tindakan sia-sia.



“Apa yang ingin Tuan Rafandra?” Liam menatap bingung ke arahku. 



“Bukankah sudah kularang kau untuk memanggilku dengan tambahan kata Tuan??” balasku sembari menatap kesal balik. Ini sudah peringatan yang entah berapa kali jumlahnya hingga aku melupakan jumlah tepatnya. Aku benar-benar benci ketika Liam memanggilku dengan sebutan Tuan. 



“Ah, maaf. Sekali lagi maaf. Aku akan berusaha untuk memanggil langsung dengan nama Rafandra.” 



Aku tersenyum dan berkata, “Bagus.” 



“Lalu kenapa kita kemari? Ke salon yang mahal ini?” Liam mengulangi pertanyaannya yang belum aku sempat jawab. 



“Aku pernah berjanji pada seseorang untuk bertahan dengan caraku sendiri. Karena itu, aku datang kemari. Untuk mengubah penampilanku dan membuat orang lain enggan membuatku menjadi bahan olok-olok mereka.” 



Liam menganggukkan kepalanya paham. “Orang itu pasti adalah orang yang menjadi alasan kenapa kau menolongku?” 



Aku mengangguk. “Ya, orang itu.” Aku kemudian melambaikan tanganku kepada salah satu pegawai di salon itu. 



“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Pegawai laki-laki muda datang menghampiriku dan berkata dengan sopan. 



“Aku ingin mengubah penampilanku.” 



“Penampilan yang bagaimana yang Tuan inginkan?” Pegawai itu bertanya padaku. 



Selama beberapa detik aku memikirkan karakter yang aku inginkan dan yang akan membantuku untuk menjadi seseorang yang kuat. “Penampilan dingin, yang bisa membuat orang-orang sungkan denganku. Apakah bisa membuat yang seperti itu?” 



Pegawai itu tersenyum memandangku sembari memperhatikan bagian dari wajahku. “Aku bisa melakukannya, tapi ada syaratnya.” 



“Apa itu?” tanyaku penasaran. 



Pegawai itu melepas kacamata yang aku gunakan dan berkata padaku dengan senyuman di wajahnya, “Tuan harus membuang ini.” 



Tidak lama kemudian aku duduk di kursi salon dan mulai merombak penampilanku terutama di bagian wajahku. Pertama-tama, pegawai salon itu memotong rambutku yang berantakan dan berukuran sedikit panjang. Setelah mengubah mode rambutku, pegawai salon kemudian memberikan perawatan pada wajahku. Kegiatan itu berlangsung hingga kira-kira empat jam lamanya. Liam yang biasanya sabar menunggu bahkan beberapa kali tidak sengaja tertidur di kursi. 



“Liam!” Aku memanggil Liam dan berusaha membangunkan Liam yang tertidur di kursi ketika menungguku. 



“Ya, Tuan??” jawab Liam dengan mata yang masih setengah tertutup. 




Liam yang mendengar nada suaraku yang sedikit berteriak kemudian membuka matanya sepenuhnya dan menatapku. “Maaf. Aku tidak senga-“ Liam menghentikan ucapannya dan melongo melihat ke arahku. 



Aku tahu arti tatapan Liam itu. Tatapan itu sama persis dengan tatapan pegawai salon yang tadi mengubah penampilanku. “Bagaimana menurutmu, Liam? Apakah ini cocok denganku?” 



Liam menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaanku. “I-ini benar-benar luar biasa. Rasanya seperti orang asing berdiri di hadapanku. Penampilanmu benar-benar berubah dan mungkin orang-orang tidak akan mengenalimu lagi ketika bertemu denganmu.” 



“Baguslah kalau begitu.” Aku kemudian mengalihkan pandanganku dan menatap pegawai salon yang berhasil mengubah penampilanku dalam waktu empat jam. “Apakah kau bisa mengubah penampilan temanku juga?” 



Pegawai salon itu kemudian menatap Liam dengan saksama dan bertanya padaku. “Penampilan seperti apa yang Tuan inginkan?” 



Aku kemudian menatap Liam yang terlihat seperti anak kutu buku yang penampilannya tidak jauh denganku. Untuk sejenak, aku berusaha menemukan apa kelebihan Liam jika ingin mengubah penampilannya. Lalu. . . aku teringat dengan beberapa gadis-gadis yang diam-diam menyukai Liam. “Buat dia terlihat memesona. Aku dengar beberapa gadis mengatakan bahwa temanku ini punya senyuman yang hangat. Bagaimana menurutmu?” 



Pegawai salon itu kemudian menganggukkan kepalanya. “Aku setuju, Tuan. Jika dibanding dengan Tuan, teman Tuan ini memang punya senyum dan wajah yang hangat.” 



“Baiklah kalau begitu tolong bantuannya.” 



Pegawai salon itu kemudian menarik Liam untuk duduk di kursi di mana penampilanku diubah tadi. Liam yang merasa tidak ingin mengubah penampilannya kemudian mengomel padaku untuk pertama kalinya. 



“Tuan! Kenapa aku juga ikut duduk di sini? Aku baik-baik saja dengan penampilanku ini.” 



Aku tersenyum membalas Liam. “Bukankah kau bilang ingin mengikutiku sebagai balasanmu, maka diam saja dan duduk manis di sana, Liam!” 



Sekitar lima tahun kemudian. . .



“Direktur yakin ingin berhenti sekarang?” 



Liam bertanya padaku ketika mendengar ucapanku untuk berhenti datang berkunjung ke jembatan yang selalu aku datangi. “Ya, aku akan berhenti. Ini sudah terlalu lama. Rasanya mustahil untuk menemukan kakak itu lagi. Ketika aku mengingat masa lalu, rasanya aku benar-benar bodoh karena saat itu aku lupa bertanya namanya. Jika saja aku tahu namanya, mungkin aku tidak akan kesulitan seperti ini untuk menemukannya.” 



“Mungkinkah orang itu bekerja di luar kota?” Liam bertanya padaku. 



“Mungkin saja.” Aku menjawab dengan nada lemah. “Sepertinya itu yang terjadi. Meski aku beberapa kali berkunjung ke kota ini dan datang ke jembatan ini, tak sekalipun aku bertemu dengannya. Sekarang. . . aku justru dipindahkan untuk bekerja di kota ini, rasanya benar-benar menyebalkan.” 



Menatap pemandangan dari jembatan, mataku tertuju ke pinggiran sungai di mana aku pernah duduk di sana bersama dengan kakak penyelamatku. Sudah lima tahun berlalu sejak kejadian itu dan selama lima tahun itu, aku selalu gagal menemukan sosoknya. Dan kali ini. . . aku merasa aku ingin menyerah menunggu seseorang yang bahkan mungkin mustahil untuk aku temukan. Hari itu. . . aku berniat untuk mengakhir pencarianku untuk menemukan penyelamatku dan menunjukkan padanya bahwa aku telah berubah seperti pesannya padaku. 



“Tidak ada salahnya mengubah penampilanmu itu, adik berkacamata tebal. Kau bisa mengubah model rambutmu dan melepas kacamata tebal itu. Mungkin dengan melakukan itu, teman-teman yang membully tidak akan lagi menemukan alasan untuk mengerjaimu seperti yang mereka lakukan tadi. Tidak selamanya orang seperti aku ada di dekatmu dan menolongmu. Jika kau bisa menolong dirimu sendiri, maka cobalah itu.” 



Aku tersenyum mengingat ucapan kakak itu. Harusnya kau di sini, Kak. Harusnya kau di sini dan melihat penampilanku sekarang. Seperti ucapanmu, aku yang sekarang bisa melindungi diriku sendiri dan tidak satupun orang berani untuk mengerjaiku. Harusnya kau di sini dan melihat bahwa ucapanmu benar-benar menyelamatkanku. Aku harap setidaknya. . .aku bisa sekali bertemu denganmu lagi meski rasanya itu terdengar mustahil.