30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
8. "KEKASIH" YANG TINGGAL DI SEBELAH 3



Tiga hari sudah Keila melakukan kegiatannya untuk memasak makanan untuk Andra. Terkadang Andra akan datang ke apartemennya untuk sekedar makan atau jika Andra sedang sibuk, Keila akan mengantarkan makanan ke apartemen Keila. Tiga hari berlalu dan isi kulkas Keila yang seharusnya cukup untuk jatah seminggu habis dalam waktu tiga hari.  


Setelah berganti pakaian dengan celana panjang lengkap dengan jaket, Keila kemudian keluar dari apartemennya dan langsung membunyikan bel apartemen milik Andra. 


Ting. . . tong. . .


Keila membunyikan bel pertama dan langsung mendapat respon dari Andra. Pintu langsung terbuka dan Andra langsung keluar dari apartemennya. 


“Kenapa kemari? Ini bukan jam mengantar makanan.” 


“Aku tahu.” Keila menatap bingung ke arah Andra yang langsung keluar dari apartemennya seolah tidak ingin Keila melihat ke dalam apartemen milik Andra. “Aku kemari untuk menagih janjimu yang akan menemaniku untuk berbelanja. Bukankah kemarin malam aku sudah bilang padamu jika stok bahan makananku telah habis, apa kamu lupa?” 


“Ah benar, aku lupa.” Andra menjawab dengan nada datar. “Tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaianku.” 


“Apa aku tidak boleh menunggu di dalam?”


“Tidak.” Andra menjawab dengan cepat. 


“Kenapa??” Keila bertanya karena merasa penasaran. 


“Apartemenku masih berantakan karena aku baru pindah dan lalu pekerjaanku menumpuk, aku tidak ingin orang melihatnya.”


“Ah, itu sebabnya kamu tidak pernah mengijinkanku masuk ke dalam apartemenmu.” Keila menganggukkan kepalanya memahami. Padahal ketika tiba di apartemenku, dia membersihkan apartemenku dengan cepat bahkan aku tidak menyadarinya. Jadi kenapa dia membiarkan apartemennya sendiri dalam keadaan berantakan? Keila yang tidak ingin ambil pusing kemudian menyetujui permintaan Andra. “Baiklah, aku akan menunggu di sini. Jadi cepat ganti pakaianmu.” 


Andra hendak berbalik dan masuk kembali ke apartemennya, namun Andra tiba-tiba mengurungkan niatnya dan memandang Keila dari atas kepala hingga ke ujung kaki. 


“Apa yang kau lihat?” Keila melemparkan tatapan tajam karena merasa risih dengan tatapan Andra. 


“Aku hanya ingin memastikan.” 


“Memastikan apa?”


“Memastikan jika pakaianmu tidak pendek seperti sebelumnya.” 


Spontan, Keila langsung melayangkan tangannya dan memukul punggung Andra. “Kau ini!! Kenapa kau lebih cerewet dari ibuku?? Ibuku bahkan tidak berkomentar ketika aku mengenakan pakaian pendek. Sudah sana cepat ganti pakaianmu!” 


Andra berbalik dan langsung masuk ke dalam apartemennya. Tidak lama kemudian, Andra keluar dengan mengenakan jaketnya. 


“Ke mana kita akan berbelanja?” tanya Andra yang berjalan di samping Keila menuju ke lift. 


“Pasar dan supermarket.” 


Pintu lift terbuka, Keila dan Andra langsung masuk ke dalamnya. Andra kemudian memencet tombol lantai menuju lantai dasar. 


“Berikan nomor rekeningmu,” ucap Andra sembari mengeluarkan ponsel miliknya. “Aku akan mengirim uang yang aku janjikan padamu.”


Keila dengan cepat mengambil ponselnya dan menunjukkan nomor rekening miliknya kepada Andra. Ketika pintu lift terbuka, uang yang sudah dijanjikan oleh Andra masuk ke dalam rekening Keila sesuai dengan jumlah yang dijanjikan. Keila tersenyum menerima uang itu dan memuji Andra di dalam hatinya. Dia benar-benar murah hati soal uang. 


“Kenapa kamu mau membayar sebanyak ini hanya untuk makan masakanku?” tanya Keila penasaran. 


“Menurutku ini tidak banyak. Aku tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan makanan. Apalagi kamu bisa memasak banyak jenis makanan bahkan ketika aku meminta menu khusus. Jadi menurutku uang yang aku berikan sepadan dengan apa yang aku dapat.” 


Kira-kira apa pekerjaannya hingga mampu menghabiskan satu juta per minggunya hanya untuk makan? Rasa penasaran itu membuat Keila yang baru saja keluar dari gedung apartemen terus berjalan hingga tidak menyadari jika Andra telah menghentikan langkahnya tepat di depan gedung apartemen. 


“Mau ke mana?” 


Pertanyaan Andra itu membuyarkan rasa penasaran di dalam benak Keila sekaligus menghentikan langkah kaki Keila yang hendak berjalan menuju ke arah luar area apartemen. Keila berbalik dan menjawab pertanyaan Andra. “Memangnya kita mau ke mana lagi kalau bukan ke pasar dan supermarket untuk belanja, huh??”  


“Naik apa?” 


Mendengar ucapan dari Keila, Andra kemudian berjalan mendekat ke arah Keila dan menarik tangan Keila. “Ikut aku!” 


Andra menarik tangan Keila dan memaksa Keila untuk mengikutinya hingga ke area parkir apartemen. Andra terus menarik tangan Keila hingga berhenti di depan sebuah mobil hitam merk Pajero. Andra melepaskan genggaman tangannya di tangan Keila dan kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobilnya. 


Dia bahkan punya mobil. Sebenarnya siapa dia? Apa pekerjaannya? Keila berbicara di dalam benaknya sendiri melihat mobil milik Andra. 


Setelah kunci mobil terbuka, Andra membukakan pintu di samping kursi pengemudi untuk Keila. “Masuklah.” 


Tiba-tiba mendapat perlakuan baik dari Andra, untuk sejenak Keila merasa heran dan tidak segera masuk ke dalam mobil seperti perintah Andra. 


“Kenapa tidak masuk?” tanya Andra bingung. “Haruskah aku menggendongmu masuk ke dalam mobil? Atau kau ingin masuk sendiri ke dalam mobil?”


Mendengar ucapan Andra, Keila langsung sadar dari rasa herannya. Dengan berjalan cepat segera masuk ke dalam mobil milik Andra sembari mengomel kepada Andra. “Aku bisa masuk sendiri. Kenapa kau selalu saja mengatakan sesuatu seperti itu yang membuatku gugup dan panik?” 


“Mana dari ucapanku yang membuatmu panik dan gugup?” Andra membalas ucapan Keila sembari menutup pintu mobil untuk Keila dan tidak memberikan Keila kesempatan untuk membalasnya. 


Sekilas, Keila melihat senyuman kecil di sudut bibir Andra yang terlihat seolah dirinya berhasil mengerjai Keila dengan ucapan dan kata-kata yang keluar dari dalam mulutnya. Dia tersenyum?? Dia tersenyum setelah mengerjaiku??? Dia benar-benar menyebalkan. 


“Masukkan alamatnya ke dalam GPS.” Andra memberikan perintah lagi kepada Keila ketika sudah duduk di dalam mobil sembari menyalakan mesin mobilnya. 


Keila memasukkan alamat pasar dan supermarket yang biasa dikunjunginya untuk berbelanja dan mobil pun berjalan membawa Keila pergi bersama Andra. 


Perjalanan ke pasar tradisional membutuhkan waktu sekitar lima belas menit dari area apartemen di mana Keila tinggal. Begitu tiba, keramaian pasar langsung terlihat dengan jelas di mata Keila dan Andra. Keila kemudian menatap ke arah Andra dan bertanya, “Kau pernah ke pasar sebelumnya?” 


“Tidak.” 


“Kalau begitu jangan jauh-jauh dariku. Aku akan kesulitan jika kehilanganmu di tengah keramaian seperti ini.” Sekali lagi, Keila menangkap basah senyuman kecil yang ada di sudut bibir Andra dan senyuman itu membuat Keila panik dan gugup untuk sesaat. Kali ini apa alasan di balik senyuman kecil itu? “Kenapa kau tersenyum?” 


“Tidak. Aku tidak tersenyum.” Andra menjawab pertanyaan Keila dengan memalingkan wajahnya. Andra kemudian mendekat ke arah Keila dan tangannya bergerak menggenggam tangan Keila. 


Keila menatap tangannya yang digenggam oleh tangan Andra dengan tatapan heran, “Kenapa kamu menggenggam tanganku??” 


“Bukankah kau bilang jangan jauh-jauh darimu?” Andra mengangkat tangan Keila yang digenggamnya. “Ini caraku supaya tidak jauh darimu.” 


“Ah, benar juga.” Keila menganggukkan kepalanya ketika menyadari jika apa yang dilakukan Andra adalah menuruti ucapannya sendiri. Keila kemudian membalas genggaman Andra dan mulai melangkahkan kakinya memasuki keramaian pasar. “Ayo kita pergi berburu!” 


Keila menarik tangan Andra yang menggenggam tangannya dan mulai berjalan masuk ke dalam keramaian di pasar tradisional. Keila mengajak Andra untuk memilih beberapa ikan segar, lalu berkeliling mencari daging sapi dan daging ayam. Setelah mendapatkan beberapa jenis ikan dan daging, Keila kemudian mengajak Andra untuk memilih beberapa sayuran segar sebagai pelengkap dalam masakannya. 


Keila benar-benar terkejut ketika Andra yang mengikutinya berbelanja ternyata begitu penurut dan pengertian. Tanpa harus diminta, Andra akan melepaskan genggaman tangannya di tangan Keila ketika Keila harus membayar belanjaannya. Andra akan menggenggam tangan Keila lagi ketika harus berjalan di tengah keramaian pasar. Selain itu tanpa harus diminta, Andra akan mengambil barang belanjaan yang berat dan membawanya dengan tangannya yang lain. Melihat tindakan Andra, bibir Keila kembali tersenyum tanpa disadarinya dan entah kenapa Keila merasa tidak risih dengan tangan Andra yang menggenggam tangannya selama berbelanja. 


“Bagaimana menurutmu?” Keila bertanya ketika selesai berbelanja dan mampir untuk sarapan di salah satu warung di pasar. 


“Menyenangkan.” Andra menjawab setelah menelan makanannya. 


“Benar bukan? Berbelanja di pasar memang menyenangkan.” Keila tersenyum sembari mengambil satu suapan besar nasi pecel yang dipesannya. “Kita bisa menemukan banyak orang di sini dan banyak makanan khas yang jarang ditemui di supermarket. Terlebih lagi harga di pasar lebih murah jika dibandingkan dengan supermarket.”


“Ya, itu memang benar. Tapi bukan itu yang aku maksud dengan menyenangkan.” 


“Kalau bukan itu lalu apa?” Keila bertanya dengan mulut yang penuh dengan makanan. 


“Berjalan bersamamu dengan menggenggam tanganmu, itu yang aku sebut menyenangkan.”


Sekali lagi, Keila dibuat membeku karena terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Andra. Beruntung saja, Keila yang terkejut tidak menyemburkan makanan yang ada di mulutnya ke arah Andra. Setelah mengunyah dan menelan makanannya, Keila kemudian membalas ucapan Andra padanya. 


“Berhenti menggodaku, Andra!” 


Andra tidak menjawab apapun dan hanya menjejalkan makanan di depannya ke dalam mulutnya. Sekilas, Keila melirik ke arah Andra dan untuk kesekian kalinya menangkap senyuman kecil di sudut bibir Andra. Dia mempermainkanku lagi. Kenapa dia senang sekali mempermainkanku?