30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
6. "KEKASIH" YANG TINGGAL DI SEBELAH 1



Keila membuka matanya ketika merasakan sinar matahari pagi menembus tirai di kamar tidurnya. Keila melirik ke arah jam di samping meja tempat tidurnya dan melihat bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Keila segera bangkit dari tidurnya dan melompat berlari ke arah kamar mandi sembari mengumpat di dalam hatinya. Sial, aku terlambat lagi. 


Keila berlari ke kamar mandinya kemudian segera menggosok giginya dengan cepat namun tindakannya itu tiba-tiba terhenti ketika Keila mengingat satu kenyataan penting yang dilupakannya: skorsing. Keila lupa jika selama sebulan ke depan dirinya tidak perlu datang ke kantor karena ulah Noah. Keila lupa jika selama sebulan ke depan dirinya tidak perlu lagi berkutat dengan laptop dan dokumen-dokumen yang berisi novel-novel baru yang mungkin akan menarik perhatiannya. Keila lupa jika selama sebulan ke depan Keila tidak akan makan siang bersama dengan beberapa juniornya sembari menggunjingkan gosip-gosip terpanas di perusahaan tempatnya bekerja. 


Keila lupa bahwa skorsing telah dijatuhkan padanya dan merenggut banyak hal menyenangkan baginya. 


Dengan malas, Keila kemudian menyelesaikan sikat giginya dan dilanjutkan dengan mencuci mukanya. Begitu keluar dari kamar mandi, Keila menatap apartemennya yang seperti kapal pecah dan sama sekali tidak terurus. Sepertinya. . . aku harus membersihkan apartemenku lebih dulu. 


Pertama-tama, Keila mengumpulkan seluruh sampah yang harus dibuangnya karena hari ini adalah jadwal membuang sampah. Setelah membagi-bagi seluruh sampah yang ada di dalam apartemennya menjadi beberapa kantong plastik yang cukup besar, Keila kemudian meraih jaket miliknya dan mengenakannya. Dengan menggunakan sandal jepit dan rambut yang belum disisir dan terikat berantakan, Keila keluar dari apartemennya dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisi sampah-sampah di apartemennya.


“Selamat pagi, Non Keila.” 


Keila membalikkan badannya ketika mendengar sapaan yang sudah tidak asing lagi di telinganya. 


“Pagi, Pak.” Keila tersenyum membalas sapaan Pak Jamal-satpam yang bekerja di apartemen Keila. 


“Tidak biasanya, Nona Keila membuang sampah di hari-hari kerja seperti ini.” Pak Jamal tersenyum ke arah Keila. 


“I-itu karena selama sebulan ke depan saya tidak bekerja, Pak.” Keila yang tadinya ingin mengatakan tentang skorsingnya, akhirnya memilih untuk menceritakan skorsing kepada satpam apartemen yang akrab dengannya. 


“Jadi. . . Pak Noah melakukan hal itu, Nona?” Pak Jamal bertanya dengan raut wajah tidak percaya. 


Keila menganggukkan kepalanya. “Ya, Pak. Saya juga tidak menyangka Noah sanggup melakukan hal itu.” Keila ingin melanjutkan ceritanya tentang Noah ketiak teringat sesuatu yang penting semalam ingin ditanyakannya kepada satpam apartemen. “Pak Jamal, ada yang mau saya tanyakan?” 


“Ya, Non. Apa itu?” 


“Apartemen di sebelahku itu, apakah sudah ada penghuninya? Seingatku selama ini dua apartemen di sampingku itu kosong dan tidak pernah ada penghuninya.” 


“Ahh. . . saya lupa untuk memberitahukan hal itu kepada Nona.” Pak Jamal kemudian menundukkan kepalanya sedikit dan menurunkan nada bicaranya. “Ini rahasia yah, Non. . .” 


Keila menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan berbisik juga, “Ya, Pak.” 


“Sebenarnya satu dari dua apartemen di samping apartemen milik Non, itu sudah ada pemiliknya. Kalau saya tidak salah ingat, pembelinya membeli sekitar dua tahun yang lalu. Tapi selama ini hanya dibiarkan kosong begitu saja.” Pak Jamal bercerita dengan penuh semangat. “Lalu baru-baru ini-mungkin sekitar tiga minggu yang lalu, penghuni apartemen itu datang dan berniat untuk menempati apartemen itu. Saya tidak menyangka jika pemiliknya ternyata adalah seorang pemuda yang tampan dan masih muda.” 


Keila menganggukkan kepalanya mendengar cerita dari Pak Jamal mengenai tetangga baru di apartemennya itu. Jadi itu benar rupanya. Pria bernama Andra ini memang benar – benar tinggal di samping apartemenku. 


Keila mengingat bayangan yang muncul di dalam benaknya semalam mengenai penguntit yang mengikutinya dan berpikir bahwa Andra adalah penguntit yang ada di dalam novel-novel yang pernah dibacanya. Auw, Keila! Semalam itu benar-benar memalukan sekali. Bagaimana bisa pikiranmu seburuk itu terhadap orang yang sudah berani untuk menolongmu dari Noah?? 


“Jadi Andra benar-benar tinggal di sana yah, Pak?” Keila bertanya untuk memastikan lagi kebenarannya. 


“Ben-“ Pak Jamal menghentikan ucapannya dan langsung memasang raut wajah terkejut kepada Keila. “Bagaimana Non bisa tahu jika pemilik apartemen itu bernama Andra? Apa Non sudah bertemu dengan pemilik apartemen itu?” 


Mendengar pertanyaan dari Pak Jamal, Keila gelagapan karena ragu-ragu mengatakan bahwa orang yang menolongnya dari Noah adalah tetangga barunya. 


“Sudah.” 


Suara berat yang khas itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang Keila dan membuat Keila yang sedang berbicara dengan Pak Jamal terkejut di saat yang bersamaan. Untuk sejenak Keila membeku seolah sedang tertangkap basah melakukan kesalahan. 


“Selamat pagi, Den Andra.” Pak Jamal melemparkan senyuman ke arah Andra yang berdiri di belakang Keila.  


“Pagi, Pak.” Andra membalas sapaan Pak Jamal. 


Keila berbalik dan menatap ke arah Andra. “Kamu sudah bangun rupanya, An–Andra.” Keila mengucapkan nama Andra dengan sedikit gugup. 


Bukannya membalas sapaan Keila, Andra justru melepaskan jaket olahraganya dan memasangkannya di pinggang Keila. 


“Apa yang kau lakukan?” tanya Keila terkejut. Untuk kedua kalinya, Andra dengan berani menyentuh pinggangnya. Jika semalam Keila membiarkannya karena berada dalam kondisi dan situasi berbahaya. Namun kali ini keadaan dan situasinya berbeda. Keila memukul tangan Andra yang mengikat jaket miliknya di pinggang Keila. 


“Tentu saja aku akan memukul tanganmu. Tanganmu itu tiba-tiba mengikat jaketmu di pinggangku.” Keila berusaha melepaskan jaket milik Andra yang melingkar di pinggangnya. 


“Jangan dilepas!” Andra sedikit menaikkan nada bicaranya. 


“Kenapa?” 


“Baju dan celana tidurmu terlalu pendek. Orang-orang terutama para lelaki melihatnya dengan tatapan tidak enak dan itu membuatku risih.” 


Keila melongo mendengar jawaban dari mulut Andra. Ada apa dengannya? Kenapa bersikap begitu padaku?


“. . . Lain kali, kenakan pakaian yang lebih panjang ketika keluar dari apartemenmu.” Andra melanjutkan ucapannya kepada Keila. 


Keila yang masih tidak bisa terima dengan sikap Andra kemudian melemparkan tatapan tajam ke arah Andra dan melupakan jika di antara mereka berdua masih ada Pak Jamal yang sejak tadi menonton adegan antara dirinya dengan Andra.


“Ehem. . .” Pak Jamal berdehem dan membuat perhatian Keila dan Andra teralihkan kepada Pak Jamal secara bersama-sama. 


“Ya, Pak?” ucap Keila dan Andra bersamaan. 


Pak Jamal tersenyum melihat kecocokan yang terjalin antara Andra dan Keila. “Saya tidak menyangka jika Non Keila dan Den Andra sudah saling kenal.” 


“A-aku tidak sengaja bertemu dengan Andra tadi malam, Pak. Dia adalah orang yang menyelamatkanku dari Noah, Pak.” Keila memberikan penjelasan kepada Pak Jamal. 


“Benarkah itu, Den Andra?” Pak Jamal berbalik bertanya kepada Andra dengan senyuman di bibirnya. 


Keila yang menangkap senyuman itu merasa paham dengan maksud di balik senyuman di bibir Pak Jamal yang diarahkan kepada Andra. Sial. Kenapa aku merasa senyuman itu bermakna sesuatu yang buruk bagiku? 


Lengan Andra tiba-tiba merangkul bahu Keila yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. “Sejak semalam kami sudah jadi kekasih, Pak.” 


Mendengar kata “kekasih”, secara otomatis kepala Keila langsung menghadap ke arah Andra dan melemparkan tatapan tajam setajam laser. “Hahh??? Apa yang baru saja kamu katakan??” 


“Benarkah itu, Non Keila?” Pak Jamal bertanya kepada Keila. 


Keila menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk melepaskan rangkulan lengan Andra di bahunya. “I-itu tidak ben-“ 


Ucapan Keila terhenti ketika Andra lebih dulu memotong ucapan Keila. “Ayo, sayang. Aku sudah lapar. Kita pergi dulu, Pak.” 


Andra memaksa tubuh Keila yang berada dalam rangkulannya untuk bergerak pergi dan tempat pembuangan sampah. Andra terus mendorong Keila berjalan hingga akhirnya berhenti ketika berada di dalam lift. 


“Apa yang baru saja kamu katakan, Andra??” Keila berteriak dengan kesal ke arah Andra. 


“Bukankah itu benar?” Andra mendekatkan wajahnya ke wajah Keila dan membuat Keila membeku karena terkejut. “Bukankah semalam aku menyebutmu dengan sebutan kekasihku di depan pria bernama Noah itu?” 


Keila mengambil satu langkah mundur untuk menjauh dari wajah Andra yang terlalu dekat dengan wajahnya. “Tapi semalam, kamu mengatakan hal itu untuk menolongku.” 


“Ya. . . tapi kamu tidak menyanggah ucapanku itu, Keila. Itu artinya kau menerima sebutan bahwa kau adalah kekasihku, Keila.” 


Pintu lift terbuka, Keila yang hendak menjawab ucapan Andra kemudian menghentikan niatnya ketika melihat beberapa orang-orang yang berdiri di depan lift dan menatapnya dengan tatapan yang tidak enak. 


Merasakan tatapan tidak enak yang mengarah padanya, Keila sekejap membeku dan salah tingkah. Namun sekali lagi, Andra bertindak tidak sopan pada Keila dan tiba-tiba menarik tangan Keila, memaksa Keila keluar dari lift. 


“Kita harus keluar, sayang.” 


Keila yang ditarik keluar dari lift secara tiba-tiba dan terkejut mendengar ucapan Andra yang menyebutnya “sayang”, kemudian secara tidak sengaja melihat senyuman di bibir orang-orang yang tadi menatapnya dengan tatapan tidak enak.