30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
38. SOSOK DI BALIK STATUS PENGAGUM RAHASIA 2



Buket bunga mawar putih yang diterimanya membuat Keila tidak bisa fokus bekerja selama seharian. Banyak kesalahan yang dilakukan oleh Keila hingga membuat ketiga reka dekat Keila: Suci, Nuri dan Irene terkejut dengan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Keila. Di sisi lain Pak Agung yang melihat ketidakbiasaan pada Keila yang biasanya selalu bekerja dengan baik, merasa harus bertindak sebelum Keila membuat kesalahan yang fatal. 



“Keila.” Pak Agung mendatangi meja Keila dan memanggil nama Keila dengan sedikit berbisik kepada Keila. 



“Ya, Pak.” Keila menghentikan apa yang sedang dikerjakannya dan menatap ke arah Pak Agung. “Apa yang bisa saya bantu, Pak?” 



“Ikut aku ke ruang rapat di sana! Ada yang harus aku bicarakan denganmu empat mata saja!” Pak Agung menunjuk ke bilik ruang rapat yang berada di sudut ruang departemen editing. Pak Agung kemudian berjalan ke ruang tersebut dan Keila mengikuti Pak Agung tepat di belakangnya. Setelah melihat Keila masuk ke dalam ruangan bersama dengannya, Pak Agung kemudian menutup pintu ruang rapat dan memastikan tidak ada satupun bawahannya yang lain yang dapat mendengar percakapannya dengan Keila“Apa yang mengganggumu, Keila? Tidak biasanya kamu bekerja dengan banyak kesalahan, apa ada sesuatu yang terjadi? Mungkinkah kamu memiliki kekasih yang sama dengan Noah lagi?” 



Keila menundukkan kepalanya, menyadari kesalahan yang dibuatnya selama sehari ini. Keila sadar pertanyaan yang diajukan oleh Pak Agung saat ini adalah bentuk kekhawatiran dari Pak Agung sebagai atasan juga sebagai kenalan dekat. “Maafkan saya, Pak. Saya pasti telah membuat Bapak khawatir.” 



“Tentu saja, Key. Melihatmu bekerja dengan tidak tenang seperti itu membuatku merasa khawatir. Ini adalah pemandangan yang sama ketika kamu terganggu oleh keberadaan Noah seperti waktu itu.” Pak Agung berkata dengan nada dan raut wajah khawatir. 



“Kali ini, saya berjanji pada Bapak. Masalah yang mengganggu saya kali ini, bukanlah tentang kekasih saya,” tegas Keila. 



“Kalau begitu apa? Masalah apa yang mengganggumu hingga pekerjaanmu berantakan seharian ini?” tanya Pak Agung masih dengan rasa khawatir. Pak Agung merasa Keila hanya berusaha menutupi masalahnya karena tidak ingin membuat kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali. 



“Bunga itu, Pak.” Keila melihat ke arah buket bunga mawar putih di meja di tengah-tengah departemen editing. “Ketika melihat bunga itu, firasat buruk saya kemudian muncul dan mulai mengganggu saya.” 



“Bunga??” Pak Agung kemudian melihat ke arah yang sama yang sedang dilihat oleh Keila. Dalam waktu singkat, Pak Agung kemudian merasa heran dengan jawaban yang diberikan oleh Keila. “Kenapa tiba-tiba kamu terusik dengan bunga itu, Keila? Bukankah selama ini kamu selalu bersikap cuek bahkan ketika bunga itu terus datang kemari? Bahkan kamu sama sekali tidak berniat untuk mencari pengirim bunga itu setelah sekian lamanya, kenapa baru sekarang kamu merasa terusik dengan keberadaan bunga itu?” 



“Bapak tidak ingat, awal hubungan saya dengan Noah berakhir karena buket bunga itu?” jelas Keila berusaha mengingatkan. 



“Aku tahu itu. Tapi semua itu menjadi masalah, karena Yuna. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku bahwa jika Yuna tidak mengatakan kedatangan bunga itu kepada Noah, maka hubungan kalian tidak akan berakhir?” jelas Pak Agung dengan menarik napasnya panjang. “Lalu harusnya kamu berterima kasih kepada bunga itu dan bukannya takut dengan bunga itu? Karena berkat bunga itu, hubunganmu dengan Noah berakhir dan berkat itu pula kamu bisa melihat bagaimana watak asli dari Noah itu.” 



Keila terdiam memikirkan ucapan Pak Agung kepadanya. Keila tahu dengan baik bahwa berkat kedatangan bunga mawar putih itu, hubungannya dengan Noah bisa berakhir dan berkat bunga itu Keila dapat menemukan watak asli dari Noah. Tapi tetap saja, perasaan takut di dalam hatinya tidak mau hilang meski Keila tahu kebenarannya. Kali ini Keila merasa sedikit khawatir dengan Andra yang mungkin akan sama cemburunya dengan Noah ketika mendengar bunga itu. 



“Tunggu! Dari apa yang aku dengar, kamu takut keberadaan bunga itu akan merusak hubunganmu sama seperti sebelumnya. Mungkinkah saat ini kau sedang bersama dengan seseorang, Keila?” Pak Agung melanjutkan ucapannya.



Keila yang sejak tadi menundukkan kepalanya karena merasa bersalah kepada Pak Agung tentang pekerjaannya yang buruk seharian ini, kemudian langsung menatap wajah Pak Agung ketika mendengar pertanyaan Pak Agung. 



“. . .Ah benar rupanya,” jawab Pak Agung menyimpulkan. “Kau benar-benar punya kekasih lagi, Key.” 



Keila menganggukkan kepalanya. “Maaf, Pak. Itu memang benar.” 



“Dan kamu takut keberadaan bunga itu akan mengganggu hubunganmu lagi, benar bukan?” tanya ulang Pak Agung untuk memastikan dugaannya. 



Keila menganggukkan kepalanya lagi. “Ya, Pak.” 



“Tidak heran, Suci dan Nuri membuat keributan tadi. Jadi kamulah yang membuat dua wanita itu selalu ribut tentang sosok pria.” 



Keila menganggukkan kepalanya lagi untuk ketiga kalinya. “Saya tidak bermaksud begitu, Pak.” 



“Lalu berapa lama hubungan itu berlangsung, Key? Apakah pria itu tidak sama dengan Noah?” tanya Pak Agung dengan khawatir. 




“Baiklah jika kamu sudah merasa yakin,” kata Pak Agung merasa sedikit lega. “Jika begitu masalahnya akan lebih baik, kamu mencari pengirim bunga itu sekarang dan memintanya untuk menghentikan kiriman-kiriman bunga itu mulai sekarang. Kamu yang selama ini selalu memilih untuk mengabaikan kiriman-kiriman bunga itu mungkin dianggap sebagai tanda bahwa kamu tidak menolak dan tidak juga menerima sehingga pengirim bunga itu merasa bahwa dirinya masih memiliki harapan untuk bisa mengenalmu dan menjalin hubungan denganmu.” 



“Begitukah menurut Bapak?” tanya Keila dengan sedikit ragu. 



“Tidak selamanya mengabaikan akan dianggap sebagai sebuah penolakan, Key. Bagi beberapa orang, mengabaikan mungkin justru menjadi sesuatu yang menarik bagi mereka.” 



Keila menganggukkan kepalanya, memahami saran dari Pak Agung padanya. “Akan saya coba untuk menemukan pengirim bunga itu, Pak. Mungkin ini sudah saatnya bagi saya untuk menjelaskan hubungan saya dengan pengirim bunga itu.” 



Pak Agung kemudian menepuk pelan bahu Keila. “Baguslah kalau kamu sudah mengerti. Setelah ini tolong fokuslah pada pekerjaanmu dan berhenti membuatku melihat kesalahan konyol yang kamu buat, Key!” 



“Saya mengerti, Pak. Terima kasih banyak untuk sarannya, Pak. Bapak memang yang terbaik,” puji Keila sembari mengacungkan ibu jarinya kepada Pak Agung. 



Setelah mendengarkan saran dan berbincang dengan Pak Agung, Keila yang nyaris seharian membuat kesalahan-kesalahan layaknya anak magang kemudian kembali menjadi Keila-panutan bagi rekan-rekan departemen editing termasuk Suci, Nuri dan Irene. 



Suci, Nuri dan Irene yang penasaran dengan perubahan Keila yang cukup singkat kemudian mengajukan pertanyaan kepada Keila di jam pulang kerja-ketika keluar bersama dari gedung perusahaan. 



“Apa yang terjadi pada Kakak?” tanya Irene mengawali. “Tidak biasanya Kakak membuat kesalahan-kesalahan sepele seperti hari ini?” 



“Maafkan aku. . .” jawab Keila sembari berjalan menuju lift diikuti oleh Suci, Nuri dan Irene. “Aku benar-benar tidak bisa fokus bekerja karena bunga itu.” 



“Bunga?” tanya Nuri dengan cepat. “Maksud Kakak, bunga yang selalu datang dari penggemar rahasia Kakak itu?” 



“Benar.” 



“Kenapa tiba-tiba?” tanya Suci tidak mengerti. “Bukankah selama ini Kakak selalu mengabaikan bunga itu? Kenapa baru sekarang Kakak merasa terganggu dengan kedatangan bunga itu hingga membuat Kakak tidak bisa fokus bekerja?” Suci menanyakan pertanyaan yang sama dengan Pak Agung. 



“Mungkinkah?” sela Irene. “Mungkinkah ini ada hubungannya dengan hubungan Kakak dengan Kak Noah yang berakhir karena bunga itu?” 



“Apa maksudnya itu?” tanya Suci dan Nuri bersamaan sembari melihat ke arah Irene dengan mata penasaran. 



“Tidakkah kalian ingat, hubungan Kakak Key dengan Kakak Noah berakhir karena bunga itu?” tanya balik Irene berusaha untuk mengingatkan. 



“Aku ingat.” Sekali lagi, Nuri dan Suci menjawab bersama-sama. 



“Jika aku tidak salah menduga, Kak Key belum menceritakan bunga itu dan penggemar rahasianya kepada kekasih Kakak yang sekarang dan hal itu membuat Kak Key tidak tenang selama nyaris seharian ini. Kak Key takut kedatangan bunga itu akan membuat hubungannya berakhir sama seperti sebelumnya.” Setelah memberikan penjelasan kepada Suci dan Nuri, Irene kemudian menatap ke arah Keila. “Benar bukan, Kak?” 



Ting. 



Pintu lift yang baru saja terbuka, membuat Keila yang ingin menjawab pertanyaan Irene itu, terhenti.