30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
41. SOSOK DI BALIK STATUS PENGAGUM RAHASIA 5



Karena rencananya bersama dengan Irene, Suci dan Nuri untuk menemukan sosok di balik status penggemar rahasia, Keila terpaksa menunda keinginannya untuk mengenalkan tiga rekan kerjanya itu kepada Andra. Keila tidak ingin Suci dan Nuri yang kurang bisa menjaga mulutnya itu mengatakan sesuatu tentang penggemar rahasianya di kantor kepada Andra ketika mereka bertemu. 



“Maafkan aku, tapi aku akan menunda pengenalan kekasihku kepada kalian hingga masalah penggemar rahasia itu selesai lebih dulu,” ucap Keila dengan memohon kepada Irene, Suci dan Nuri. 



“Kami mengerti, Kak. Benar bukan begitu?” tanya Irene yang melirik ke arah Suci dan Nuri secara bergantian. 



“Hanya menundanya satu bulan saja, bukan masalah bagiku,” jawab Suci setuju. 



“Aku juga,” tambah Nuri. 



“Yang terpenting adalah kita bisa menangkap basah pengagum rahasia itu ketika hari di mana bunga itu datang,” tambah Suci dengan suara menggebu-gebu. “Entah siapa pun itu baik Direktur Rafandra, Liam, Yuda atau Baron.” 



“Lalu apa yang akan kamu lakukan jika orang itu benar-benar Direktur Rafandra??” tanya Nuri kepada Suci. 



“Ehm, jika memang begitu aku akan sangat merasa senang sekali,” jawab Suci dengan wajah bahagianya. 



“Kenapa begitu?” tanya Irene. “Kenapa malah senang ketika idolamu menyukai Kak Keila?” 



“Justru karena Kak Keila yang disukainya, aku merasa senang. Tapi jika Direktur muda kita itu menyukai Yuna, maka aku akan berhenti menjadi penggemarnya. Aku benar-benar tidak suka dengan Yuna. Meski dia cantik, tapi kelakuannya benar-benar berbalik dengan kecantikan wajah yang dimilikinya.” 



Jawaban Suci itu sontak membuat Irene dan Nuri tertawa bersama-sama. “Aku juga setuju dengan hal itu, Suci,” jawab Nuri dan Irene bersama-sama. 



Di sisi lain, Keila yang melihat wajah ketiga rekan kerja sekaligus juniornya itu hanya bisa ikut tersenyum meski jauh di dalam hatinya, Keila berharap pengagum rahasianya bukanlah direktur muda yang dikenal menjadi idola banyak karyawati di perusahaannya. 



Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu terlewati. Satu minggu, dua minggu terlewati. Kini waktu untuk menangkap basah pengagum rahasia itu kurang dari sepuluh hari lagi. Keila yang awalnya menunggu dengan cemas sembari menikmati waktu manisnya bersama Andra kemudian mulai merasa angin yang berembus terasa sedikit kencang. Firasat buruknya kembali dirasakannya ketika waktu untuk menangkap basah pengagum rahasia itu semakin dekat. 



Dan seperti yang Keila duga, sesuatu yang buruk benar-benar terjadi. Sesuatu yang buruk itu benar-benar berhubungan dengan Direktur Muda yang jadi idola dari seluruh karyawati di perusahaan tempat Keila bekerja: Rafandra.



“Kak!!!” teriak Irene yang dengan sengaja menunggu Keila di depan gedung perusahaan. 



Teriakan Irene itu benar-benar membuat Keila terkejut karena selama ini, Irene dikenal sebagai satu rekannya yang tidak banyak bicara. “Kenapa kamu berteriak memanggilku pagi-pagi begini, Irene?” Keila menghampiri Irene dengan wajah terkejut. 



“Kakak tidak melihat ponsel milik Kakak??” 



Keila menggelengkan kepalanya. “Tidak. Ada apa memangnya?” Keila kemudian mengambil ponsel miliknya dari tas kerja miliknya. Begitu membuka ponselnya, Keila kemudian melihat banyak panggilan dan pesan masuk yang berasal dari Irene. Keila kemudian memandang Irene dengan tatapan heran. “Apa ada yang terjadi hingga kamu berteriak memanggilku di depan gedung perusahaan dan mengirim banyak pesan pagi-pagi begini?”



“I-itu. . . ada berita tentang Kakak di forum perusahaan.” 



“Berita apa??” tanya Keila yang masih belum menyadari situasi yang saat ini sedang dihadapinya. 



“Be-berita tentang kakak yang mengatakan kakak memiliki hubungan dengan Direktur Muda kita – Direktur Rafandra.” 



“Apa????” Keila benar-benar terkejut mendengar jawaban dari Irene. Keila akhirnya paham reaksi Irene yang berteriak memanggil namanya dan melakukan banyak hal yang tidak biasa dilakukannya. 



Keila kemudian segera membuka ponselnya dan membuka forum milik perusahaan. Benar saja, gosip tentang dirinya yang memiliki hubungan dengan direktur muda yang jadi idola seluruh karyawati perusahaan berada di urutan nomor 1 dan telah dibanyak hingga ribuan kali yang mungkin sama dengan jumlah karyawan di perusahaan Keila bekerja. 



\[Karyawati dengan inisial K dari departemen Editing yang belum lama ini membuat masalah di perusahaan diduga telah menjalin hubungan dengan Direktur Muda yang menjadi idola dari seluruh karyawati perusahaan.\]



“Sial!” Keila mengumpat kesal. “Apa-apaan ini? Kenapa bisa ada berita seperti ini? Gosip ini. . . meski menggunakan inisial, tapi jelas-jelas semua karyawan perusahaan ini akan tahu bahwa K dalam gosip ini adalah aku. Siapa yang berani membuat berita kebohongan seperti ini? “ 




“Kak Key!” teriak Nuri dan Suci yang berlari menghampiri Keila. 



Mata Keila dan Irene spontan membelalak sembari menoleh ke arah Nuri dan Suci sembari memberi isyarat yang sama. “Ssssttttttt.” 



“Ah, maaf,” ucap Nuri dan Suci bersamaan sembari menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. 



“Kakak sudah melihat forum perusahaan??” tambah Nuri dengan sedikit berbisik kepada Keila. 



Keila melirik tajam ke arah Nuri. “Itu sebabnya aku memberimu isyarat untuk mengecilkan suaramu. Aku sudah melihat berita itu.” Keila kemudian menarik ketiga rekan kerjanya itu masuk ke gedung perusahaan, namun kali ini Keila tidak menarik ketiga rekannya ke arah lift melainkan ke arah tangga darurat. “Kalian tidak keberatan jika lewat sini bukan?” 



Nuri, Suci dan Irene saling bertukar pandang satu sama lain sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya bersama-sama. 



“Bagus.” Keila tersenyum melihat anggukan kepala ketiga rekannya. “Kita bisa bicara sembari naik.” 



“Jadi. . . kenapa bisa ada berita seperti ini?” tanya Suci yang berjalan bersama dengan Nuri di belakang Keila dan Irene. Napas Suci sedang terengah-engah karena sudah lama dirinya tidak menggunakan tangga darurat. 



“Be-benar, kenapa tiba-tiba bisa ada berita seperti ini? Padahal sebentar lagi, waktu pengiriman bunga dari penggemar rahasia Kak Key. Jika begini terus, maka ada kemungkinan pengirim bunga itu akan berhenti mengirim bunga dan kita akan gagal menangkap basah orang itu karena mendengar gosip itu,” tambah Nuri yang juga dengan napas terengah-engah. 



Irene menghentikan langkah kakinya dan kemudian berbalik menatap Suci dan Nuri yang berjalan tepat di belakangnya. “Oh ayolah Suci, Nuri. Kenapa napas kalian sudah nyaris putus begitu padahal kita masih belum sampai di lantai dua??” 



“A-aku sudah lama tidak menggunakan tangga darurat ini,” jawab Suci masih dengan napasnya yang terengah-engah. 



“A-aku juga,” tambah Nuri. 



“Maaf harus memaksa kalian lewat tangga darurat,” ucap Keila dengan nada bersalah. “Dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan bisa naik lift ketika semua orang akan menatapku dengan tatapan tidak enak sama seperti yang rasakan ketika Noah membuat keributan di depan perusahaan beberapa bulan yang lalu.” 



Mendengar ucapan dari Keila, Nuri bersama dengan Suci segera mengatur napas mereka dan bernapas seolah berjalan menaiki tangga bukan masalah bagi mereka. 



“Kakak lihat! Kami berdua baik-baik saja,” ujar Suci dengan senyuman di wajahnya. 



“Ya, kami berdua baik-baik saja,” tambah Nuri juga dengan senyuman di wajahnya. 



“Bagus sekali senyuman palsu kalian itu,” komentar Irene. “Tapi menjawab pertanyaan Nuri tadi, jika karena gosip ini orang yang mengirim bunga itu akan berhenti maka kita sudah dapat memastikan jika orang itu adalah direktur muda kita yang tidak ingin gosip itu menyebar.”



“Lalu bagaimana jika pengirim bunga itu masih mengirim bunganya?” tanya Nuri penasaran. 



“Kita hanya perlu menangkap basah orang itu saja,” jawab Irene dengan wajah yakin yang kemudian melemparkan pandangannya ke arah Keila. “Bukan begitu, Kak Key?” 



Keila menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Irene. “Sepertinya begitu.” 



“Kalau begitu. . . kita tetap pada rencana semula?” tanya Suci memastikan. 



“Ya.” Keila dan Irene bersama-sama menjawab pertanyaan Suci. 



Sepakat, Keila bersama dengan Nuri, Suci dan Irene kemudian melanjutkan langkah kaki mereka menaiki satu demi satu anak tangga untuk tiba di lantai tiga di mana departemen editing berada. Irene bersama dengan Suci dan Nuri kemudian membicarakan hal lain sementara Keila hanya diam dan sesekali tersenyum ketika mendengar sesuatu yang lucu dari percakapan ketiga rekannya. Pikiran Keila benar-benar tidak karuan karena gosip yang berhubungan dengan dirinya dan direktur muda yang bahkan Keila tidak pernah dengan jelas melihat wajahnya. Satu pertanyaan berputar dalam benak Keila saat ini, kiranya siapa yang membuat berita bohong seperti itu dan menyebarnya di forum perusahaan? Dendam apa yang dimiliki oleh orang itu hingga membuat Keila menjadi korbannya?