
“Keila! Key! Keila!”
Panggilan dengan sedikit kencang itu membuat Keila sadar dari lamunannya dan tersentak karena terkejut. “Ah, apa??”
“Harusnya aku yang bertanya? Kenapa kamu tiba-tiba terdiam?” Andra bertanya dengan nada khawatir.
Keila mengalihkan pandangannya lagi ke arah anak-anak yang bermain di pinggiran sungai. Sesuatu kemudian terlintas dalam benak Keila: sebuah ingatan lama yang selama ini dilupakan oleh Keila. “Kau lihat anak-anak yang bermain di pinggiran sungai di sana?”
“Ya, aku melihatnya. Kenapa tiba-tiba membahas anak-anak di sana?” Andra bertanya dengan heran.
“Sesuatu dalam benakku tiba-tiba terlintas. Anak-anak itu membuatku mengingat sesuatu yang pernah terjadi di waktu lampau.” Keila berbohong dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya dengan Andra karena tidak ingin Andra terus bertanya tentang sikap membekunya tadi. Keila hanya tidak ingin Andra terus bertanya dan membuatnya keceplosan bicara tentang pikirannya tadi yang berhubungan dengan Andra.
“Apa yang tiba-tiba terlintas?”
“Beberapa tahun yang lalu, setahun setelah kematian ayahku, aku bertemu dengan seorang anak laki-laki di sini, lebih tepatnya di pinggiran sungai di mana anak-anak itu sedang bermain sekarang.” Keila memulai cerita lama yang sempat dilupakannya selama beberapa tahun ini.
“Apa ada yang istimewa dengan pertemuanmu dengan anak laki-laki itu?” Andra bertanya dengan nada datarnya sembari menatap ke arah anak-anak yang sedang bermain di pinggiran sungai.
“Hari itu. . . aku datang kemari setelah setahun lamanya tidak bisa menerima kematian ayahku. Karena terlalu merindukan ayahku, tadinya aku kemari untuk mengingat semua kenangan bersama ayahku hingga sebuah pemandangan tertangkap oleh mataku dan membuatku lupa akan keinginanku datang kemari.” Keila berbicara sembari mengingat kenangan lamanya.
“Apa yang terjadi?”
“Anak laki-laki dengan penampilan culun dan kacamata tebal menjadi korban bully oleh beberapa temanya dan mereka berniat untuk membuat anak itu masuk ke dalam sungai. Melihat hal itu, aku bergegas berlari ke pinggiran sungai dan berusaha untuk menghentikan aksi itu. Dengan napas nyaris terputus karena berusaha berlari sekuat tenaga, aku mengambil banyak batu di pinggiran sungai dan mengancam kumpulan anak-anak yang sedang membully satu anak laki-laki dengan kacamata tebal itu.” Keila tersenyum mengingat aksi gilanya di saat itu ketika sedang mengancam anak-anak dengan batu yang besar yang diambilnya dari pinggiran sungai.
“Kau mengancam sekumpulan anak-anak dengan batu?” Andra bertanya dengan raut wajah tidak percaya. “Aku tidak yakin jika tindakan itu akan berhasil?”
Keila tersenyum dengan wajah bangganya dan menoleh ke arah Andra. “Nyatanya itu berhasil. Aku berhasil mengancam sekumpulan anak-anak itu dengan melemparkan batu-batu itu.”
“Heh. . .” Andra masih tidak percaya. “Itu berhasil? Kurasa kamu hanya beruntung saja saat itu, Keila.”
“Kurasa.” Keila tersenyum sembari mengalihkan pandangannya kembali ke anak-anak yang sedang bermain di pinggiran sungai. “Entah itu beruntung atau tidak, tapi yang jelas aku berhasil menyelamatkan anak dengan kacamata tebal itu.”
“Lalu apa yang terjadi setelah itu?”
“Kami berdua berbincang sejenak. Aku bertanya padanya alasan teman-temannya membullynya. Aku juga bertanya padanya kenapa dia tidak melawan mereka dan membiarkan dirinya menjadi korban bully.” Keila menjawab sembari mengingat-ingat kenangan lamanya itu.
“Alasan anak itu menjadi korban bully sama dengan alasan kebanyakan anak yang menjadi korban bully di berbagai tempat: karena penampilan yang sedikit culun, karena mengenakan kacamata yang tebal dan terakhir, karena tidak ingin melawan.” Keila masih mengingat-ingat percakapannya dengan anak korban bully itu.
“Lalu apa kamu diam saja melihat alasan pembullyan itu?”
Keila menggelengkan kepalanya. “Tidak. Jika aku tidak salah ingat, aku sempat bicara kepada anak itu waktu itu. Tapi sepertinya, aku lupa apa yang aku katakan pada anak itu waktu.”
“Kau melupakannya??”
Keila menganggukkan kepalanya dengan ragu sembari berusaha mengingat kenangan lamanya waktu itu. “Ya, aku tidak bisa mengingat dengan jelas percakapanku dengan anak itu. Bahkan wajah dan rupanya, aku tidak bisa mengingatnya meski saat ini aku sedang membicarakannya. Hanya satu hal dari rupanya yang aku ingat: kacamata tebalnya.”
“Ah setelah berbicara panjang lebar, kau melupakan hal yang penting dan membuatku penasaran, Keila.” Andra berkata dengan nada kesalnya karena begitu penasaran dengan cerita itu.
“Aku memang melupakan percakapanku dengan anak itu, tapi aku mengingat sesuatu yang penting. Berkat anak itu, aku yang sempat tidak bisa menerima kematian ayahku akhirnya bisa menerima kematian ayahku dengan hati yang lapang. Entah apa yang aku katakan pada anak itu dan entah apa yang dikatakan anak itu padaku, tapi yang jelas hari itu kami berdua yang sedang memiliki hari yang buruk, mendapatkan semangat hidup kami kembali.” Keila mengembuskan napas panjang merasa lega. “Aku penasaran bagaimana kabar anak itu sekarang? Tapi. . mungkin bahkan jika kami bertemu lagi, aku tidak akan mengenalinya. Bahkan saat ini pun, aku tidak mengingat wajahnya dalam ingatanku.”
“Jika kejadian itu terjadi cukup lama, maka tidak heran jika kamu tidak mengingatnya, Keila. Di matamu, di ingatanmu, anak laki-laki itu hanyalah satu dari ratusan orang yang lewat dalam hidupmu.”
Mendengar ucapan Andra, Keila spontan menolehkan kepalanya dan menatap Andra. “Ya. Itu benar. Anak laki-laki hari itu mungkin hanya satu dari ratusan orang yang lewat dalam hidupku. Aku mungkin melupakannya, tapi aku ingat dengan jelas bahwa pertemuanku dengannya menjadi alasanku untuk bertahan atas kematian ayahku. Jika bisa, aku ingin melihat anak itu lagi.”
“Kenapa kau ingin melihat anak itu lagi bahkan ketika kamu tidak bisa mengingat wajah dan rupanya dengan jelas? Bukankah itu harapan yang konyol, Keila?” Andra bertanya dengan penasaran.
“Aku ingin melihat kehidupan anak itu sekarang. Jika aku tidak salah ingat, anak itu berjanji padaku untuk menjadi anak yang tangguh di masa depan. Tapi sayangnya, aku tidak mengingat bagaimana rupa anak itu. Bahkan jika kami berpapasan di jalanan, aku mungkin tidak akan mengenalinya. Aku memang bodoh ya?” Keila tersenyum kecil memandang Andra.
“Harapan yang aneh. Tapi ada apa dengan senyumanmu itu? Sejak tadi kamu tersenyum memandangku. Apa ada sesuatu yang aneh dengan wajahku?” Andra merasa heran dengan senyuman Keila.
“Rasanya seperti kebetulan saja, aku di sini bersama dengan pria yang mengenakan kacamata dan berbicara kenangan lamaku yang berhubungan dengan anak laki-laki yang mengenakan kacamata tebal. Jika ada Bonita dan Hardan yang mendengar cerita itu, mereka pasti mengira anak laki-laki dalam ceritaku itu adalah kamu.” Keila tertawa kecil membayangkan ucapannya sendiri.
“Bonita dan Hardan tidak tahu cerita itu?”
“Ya, mereka berdua tidak tahu.” Keila menganggukkan kepalanya. “Jika aku tidak salah ingat, aku tidak pernah menceritakan cerita itu pada mereka. Sepertinya sesuatu terjadi pada hari itu hingga akhirnya aku tidak menceritakan cerita itu pada Hardan dan Bonita, sahabatku. Kamulah orang pertama yang tahu cerita itu.”
Mendengar jawaban dari Keila, senyuman Andra kembali lagi dan membuat jantung Keila berdetak kencang kembali. Dag. . . dig. . . dug. . . Untuk kesekian kalinya, Keila membeku menerima senyuman itu. Dalam benaknya, Keila berbicara sesuatu yang Keila tidak ingin Andra mendengarnya. Hari ini adalah hari ke-18 di mana aku mengenal Andra. Dalam delapan belas hari ini, banyak hal terjadi antara aku dan dirinya: pertemuan pertama kami di jembatan ini, dia yang tinggal tepat di samping apartemenku dan waktu-waktu yang aku habiskan bersama dengannya. Jika hari pertemuan pertama kami, aku menganggapnya sebagai hari penuh kesialan dalam hidupku. Maka hari ini ketika aku mengingat kembali hari itu, aku justru menganggap hari itu sebagai hari keberuntunganku. Dia mungkin selalu menempel padaku, dia mungkin selalu berkata bahwa dia adalah kekasihku tapi entah kenapa aku sama sekali tidak pernah menghindarinya, tidak pernah menjauh darinya. Mungkinkah aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya seperti harapannya?