30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
26. JADILAH KEKASIHKU YANG SESUNGGUHNYA 6



“Mau ke mana, Kak?” teriak Suci dan Nuri yang melihat Keila berjalan pergi keluar dari gedung perusahaan di jam makan siang.



“Ada yang harus aku urus, jadi aku tidak bisa ikut makan bersama dengan kalian,” jawab Keila sembari melirik pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Sial, Andra sudah menghubungiku. Itu artinya dia sudah menungguku.



“Siapa yang menghubungimu, Kak Key?” tanya Nuri yang penasaran dengan ponsel Keila yang bergetar. 



“Maafkan aku. Tapi ini sesuatu yang mendesak, aku harus pergi.” Keila memeriksa ponselnya dan melihat pesan masuk dan panggilan masuk dari Andra. “Besok, aku pasti makan siang dengan kalian.” 



Keila kemudian berbalik dan segera berjalan cepat menuju ke tempat di mana Andra saat ini sedang menunggunya. Di lokasi yang sama dengan lokasi di mana dirinya turun dari mobil Andra, Keila melihat Pajero hitam milik Andra yang sedang menepi. Setelah menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dan memastikan tidak ada rekan kerjanya yang melihat, Keila kemudian membuka pintu mobil Andra dan masuk ke dalamnya. 



“Kenapa celinguk ke sana kemari?” Andra bertanya begitu melihat Keila masuk ke dalam mobilnya. 



“Sudah jangan banyak tanya. Cepat injak pedal gas mobil ini dan cepat pergi ke tempat kamu ingin makan!” ujar Keila sembari memasang seatbeltnya. 



Tanpa banyak bertanya, Andra kemudian menginjak pedal gas mobilnya dan mulai mengemudikan mobilnya membawa Keila ke tempat makanan yang ingin didatanginya bersama dengan Keila. Setelah lima menit berkendara, Keila dan Andra kemudian tiba di sebuah rumah makan kecil di pinggiran gang.



“Kamu tidak keberatan makan di tempat ini?” tanya Andra sebelum mematikan mesin mobilnya. 



“Kenapa tidak?” Keila berbalik bertanya sembari melihat rumah makan kecil di pinggiran gang. “Kalau makanannya enak, tempat apapun aku tidak akan masalah.” 



“Baguslah kalau begitu.” Andra mematikan mesin mobilnya dan kemudian turun dari mobilnya diikuti Keila. 



Seperti biasanya, Andra akan menggenggam tangan Keila dan menuntunnya berjalan. Tanpa bertanya, tanpa memberi aba-aba, Andra akan menggenggam tangan seolah itu adalah sesuatu yang alami, seolah itu adalah sesuatu yang harus dilakukannya. Awalnya Keila berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Andra, tapi seiring berjalannya waktu Keila sudah lelah berdebat dengan Andra dan akhirnya membiarkan hal itu menjadi kebiasaan. 



Rumah makan yang dipilih oleh Andra adalah rumah makan lama dengan bau khas masakan rumahan. 



“Selamat datang.” 



Seorang ibu yang usianya mungkin sebaya dengan Ibu Keila muncul dan menyapa Keila dan Andra. 



“Bibi, aku datang,” balas Andra dengan senyuman di bibirnya. 



“Lama tidak berjumpa Nak Andra. Sudah sebulan ini, kau tidak datang kemari untuk makan di sini.” 



Ibu yang dipanggil Bibi oleh Andra itu kemudian menepuk bahu Andra layaknya keponakannya sendiri. 



“Ya, Bibi. Sebulan ini, aku ada urusan penting yang tidak bisa aku tunda. Jadi aku tidak bisa datang berkunjung dan makan di sini, Bibi.” 



Sebulan? Kebetulan sekali dengan sebulan di mana Andra selalu menghabiskan waktunya untuk makan denganku. Kesibukan apa yang dimaksud Andra yang dilakukan selama sebulan ini? Keila berbicara di dalam benaknya sendiri melihat Andra dan Bibi itu saling menyapa. 



“Ini siapa, Nak Andra?” Bibi melirik ke arah Keila yang tangannya digenggam oleh Andra. 



Sial. Jangan katakan dia akan menyebutku sebagai ke-



“Kekasihku. Namanya Keila. Aku sengaja mengajaknya kemari untuk mengenalkannya kepada Bibi.” Andra menjawab pertanyaan Bibi dengan senyuman di wajahnya seolah tidak bersalah mengenalkan Keila sebagai “kekasihnya” tanpa persetujuan Andra. 



Sudah kuduga, mulutnya itu benar-benar menyebalkan. Selalu seenaknya sendiri memberiku status “Kekasih” tanpa persetujuan dariku. Keila yang kesal hanya bisa melampiaskan rasa kesalnya di dalam hatinya sendiri dengan senyuman di bibirnya. Namun kali ini, Keila tidak ingin membiarkan hal ini berlanjut. Keila merasa harus mengklarifikasi bahwa dirinya bukan kekasih dari Andra. 



“Aduh, Nak Andra. Kekasihmu cantik sekali.” Bibi memuji kecantikan Keila. 



Melihat peluang, Keila kemudian membuka mulutnya untuk mengklarifikasi bahwa dirinya bukanlah kekasih Andra. “Ah, Bibi. Saya ini hanya teman Andra dan bukan ke-“ 



“Benar bukan, Bibi? Keila memang cantik, itu sebabnya aku memilihnya untuk jadi kekasihku.” 



Andra memotong ucapan Keila dengan cepat bersamaan dengan melepaskan genggaman di tangan Keila dan berpindah tempat ke sisi Bibi untuk memuji kecantikan Keila. 



Sial. Keila mengumpat di dalam benaknya. 



“Sudah. . . sudah,” ujar Bibi dengan senyuman di bibirnya sembari memukul bahu Andra. “Jangan biarkan kekasihmu ini menunggu lebih lama untuk makan.” 




“Sesuatu yang tidak begitu berat. Apakah ada menu selain nasi? Setelah ini, aku harus membaca banyak novel baru yang masuk dalam antrean.” 



Andra menganggukkan kepalanya paham dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Bibi. “Aku pesan menu biasanya saja, Bi. Dan untuk kekasihku yang cantik ini, Bibi bisa buatkan mie pedas andalan Bibi. Kekasihku ini sangat suka makanan pedas.” 



“Baiklah kalau begitu. Kalian duduk dan Bibi akan membuatkannya secepat kilat.” 



Andra kemudian mengajak Keila untuk duduk di kursi biasanya duduk – di pinggir jendela yang menghadap ke jalanan. 



“Aku terkejut kamu tahu tempat pinggiran seperti ini,” komentar Keila melihat ke arah luar jendela di mana orang-orang sedang berjalan kaki melewati rumah makan. 



“Ini adalah rumah makan langgananku sejak sekolah. Aku sekolah di dekat sini. Pemilik rumah makan ini yang aku panggil dengan panggilan Bibi, adalah kenalan Ibuku. Jadi Bibi sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri.” 



Keila menganggukkan kepalanya mengerti. “Ah, itu sebabnya kamu dekat dengan Bibi? Rupanya kalian sudah saling kenal dalam waktu yang lama.” 



“Ya. Dulu aku sering makan di sini setelah pulang sekolah. Lalu karena harus kuliah di luar negeri, aku sempat tidak mengunjungi rumah makan ini beberapa tahun dan setelah kembali, aku rajin mengunjungi rumah makan.” 



“Kau kuliah di luar negeri?” Keila terkejut mendengar cerita kehidupan Andra. 



“Ya.” 



“Wah tak kusangka, kau hebat juga,” puji Keila. “Lalu kenapa tidak bekerja di sana dan justru kembali ke sini?” 



“Ehm, ada sesuatu yang harus aku lakukan di sini. Karena itulah aku kembali kemari dan memilih untuk bekerja di sini.” 



Keila hendak bertanya lebih jauh lagi, namun niatnya itu terhenti ketika makanan yang dipesan oleh Andra datang. Karena jam istirahat yang terbatas, mau tidak mau Keila harus menunda niatnya itu dan memilih untuk segera menyantap makan siangnya itu. Selama makan, keheningan kembali di antara Keila dan Andra. Hanya ada suara peralatan masak milik Bibi dan suara orang-orang yang berbincang ketika melewati rumah makan sederhana milik Bibi. 



Lima belas menit kemudian, Keila dan Andra menyelesaikan makannya dan kemudian segera berpamitan kepada Bibi. 



“Lain kali datang lagi.” Bibi menggenggam tangan Keila dengan senyuman di bibirnya. Bibi kemudian memberikan isyarat kepada Keila untuk mendekatkan telinganya. Bibi kemudian berbisik kepada Keila. “Aku sangat senang Andra mendapatkan kekasih yang cantik seperti Keila. Ini adalah pertama kalinya Andra membawa seorang gadis kemari. Andra pasti sangat menyukaimu, Keila.” 



Mendengar ucapan Bibi, Keila langsung melirik ke arah Andra dan menangkap senyuman di bibir Andra. Keila menyadari sesuatu berubah dalam senyuman Andra. Sejak kapan? Sejak kapan senyumannya berubah menjadi seperti ini? Wajahnya tidak lagi dingin seperti saat pertama kali bertemu. Senyuman dingin yang selalu diperlihatkannya kini berubah menjadi senyuman hangat. Sejak kapan Andra berubah? 



Keila tersenyum ke arah Bibi dan membalas bisikan Bibi. “Apakah itu yang Bibi lihat?” 



“Ya, itu yang Bibi lihat dari mata dan wajah Andra saat ini.”



Setelah berpamitan dengan Bibi, Andra kemudian mengantarkan Keila kembali ke gedung perusahaannya. Di tengah jalan, Andra sengaja mampir untuk membeli beberapa gelas es kopi. Keila mengira es kopi yang dibeli Andra itu adalah untuk Andra dan rekan kerja Andra. Tapi dugaan Keila itu salah. 



“Ini.”



Andra dengan tiba-tiba menyodorkan bungkusan yang berisi beberapa gelas es kopi kepada Keila yang hendak turun dari mobil Andra. 



“Untukku?” Keila tidak menyangka bahwa Andra sengaja mampir membeli es kopi itu untuknya. 



“Ya, untuk siapa lagi. Satu untukmu dan sisanya bisa kamu berikan kepada rekan-rekan kerjamu.” Andra menjawab dengan senyuman di bibirnya. 



Keila menerima pemberian Andra itu dan kemudian mengubah raut wajahnya menjadi serius. “Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu. Tadinya aku ingin mengatakan ini ketika kamu menjemputku pulang, tapi sepertinya aku tidak menunda hal ini lagi. Aku harus mengatakannya sekarang juga.” 



“Apa itu?” Andra bertanya masih dengan senyuman di wajahnya. 



Melihat senyuman di wajah Andra yang terlihat bahagia, untuk sejenak Keila merasa tidak tega. Tapi apa yang saat ini hendak dikatakan oleh Keila adalah sesuatu yang penting, yang harus dilakukannya sekarang juga sebelum terlambat. 



“Kupikir aku bisa terus menerima kebaikanmu ini: mengantar dan menjemputku, makan bersama dan menghabiskan waktu bersama. Tapi aku rasa, aku tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut lebih lama lagi, Andra. Kamu terus melewati batas, terus mengenalkanku pada orang-orangmu sebagai kekasihmu tanpa seijinku. Apa kau sama sekali tidak memikirkan posisiku?” Keila yang telah menahan rasa kesalnya selama sebulan ini, akhirnya menumpahkan semua perasaan kesalnya kepada Andra. “Hari ini, rekan kerjaku melihatku turun dari mobilmu. Setelah insiden itu, aku masih merasa tidak ingin memiliki hubungan. Aku takut hubungan yang aku miliki pada akhirnya akan berakhir dan membahayakan orang dekatku lagi. Aku juga tidak ingin menjadi bahan gunjingan orang-orang lagi. Jadi. . . aku mohon padamu, Andra. Mulai hari berhentilah bersikap baik padaku. Mulai hari ini berhentilah mengejarku. Berhentilah untuk memberiku status sebagai ‘kekasihmu’ tanpa seijinku.” 



Andra terdiam mendengar curahan hati Keila yang ditahannya selama sebulan ini. Sementara Keila yang melihat reaksi Andra yang hanya diam saja, kemudian memilih untuk pergi dan meninggalkan Andra begitu saja. Keila turun dari mobil Andra sembari membawa bungkusan yang es kopi yang sengaja dibelikan oleh Andra untuknya.