30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
27. JADILAH KEKASIHKU YANG SESUNGGUHNYA 7



“Ini.” Keila meletakkan bungkusan yang berisi es kopi di meja rapat tengah di mana biasanya berisi makanan dan minuman untuk dibagikan atau dimakan bersama. 


Keila tadinya tidak ingin membawa bungkusan es kopi yang dibelikan Andra untuknya. Namun tanpa sengaja Keila membawa bungkusan itu keluar dari mobil Andra dan Keila tidak ingin kembali ke dalam mobil Andra lagi. Dengan terpaksa, Keila akhirnya membawa bungkusan yang berisi es kopi dan membagikannya kepada rekan kerjanya. 


“Ah Kak Key, kau benar-benar perhatian,” ucap Nuri yang langsung mengambil es kopi dalam bungkusan yang dibawa oleh Keila. 



“Es kopi setelah makan siang membantu kita untuk menghindari kantuk,” tambah Suci yang juga segera mengambil es kopi untuk dirinya sendiri. 



“Kalian ini. . .” tegur Irene kepada Suci dan Nuri. Irene kemudian mengambil dua es kopi. “Seharusnya kalian berterima kasih kepada Kak Keila ketika mengambilnya.” 



“Terima kasih banyak, Kak Key,” ucap Nuri dan Suci bersama-sama sembari meminum es kopi milik mereka. 



“Ini milik Kakak.” Irene meletakkan gelas es kopi untuk Keila di meja. 



“Aku tidak minum,” jawab Keila yang kemudian mulai membuka laptop miliknya dan mulai bekerja membaca naskah yang masuk. 



“Loh, kakak tidak minum? Terus di gelas ini?” 



Mendengar ucapan Irene yang heran, Keila kemudian mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah Irene. “Kenapa nada bicaramu heran begitu?” 



“Lihat!” Irene menunjuk gelas kopi yang diberikannya untuk Keila. “Hanya gelas ini yang diberi nama. Bukankah itu artinya Kakak ingin meminumnya? Kenapa tiba-tiba tidak jadi untuk meminumnya?” 



Keila menatap gelas yang ditunjuk oleh Irene dan melihat namanya “Keila” tertulis di badan gelas. “Apakah hanya gelas ini yang ada namanya?” 



Irene menganggukkan kepalanya. “Ya. Lihatlah milikku, Kak! Tidak ada namanya, mungkin kopi yang diambil Suci dan Nuri juga sama.” 



Sial. Keila mengumpat kesal melihat namanya tertulis di badan gelas yang dibelikan Andra. Dia sengaja menuliskan namaku di sini. Kamu membuatku merasa bersalah atas ucapanku tadi, Andra. Kamu benar-benar menyebalkan, Andra. Karenamu, hari ini aku merasa seperti orang paling jahat di dunia ini karena ucapanku tadi. Karenamu, hari ini aku merasa seperti orang yang paling tidak tahu terima kasih setelah semua hal yang kamu lakukan untukku. 



Waktu berjalan dengan cepat. Kesibukan benar-benar membuat Keila lupa dengan kejadian di siang hari dan tanpa disadarinya langit telah berubah gelap. 



“Sampai besok.” Pak Agung yang lebih dulu pulang mengucapkan salamnya kepada Keila dan rekan-rekan kerja Keila. 



“Sampai besok, Pak. Hati-hati di jalan, Pak.” Keila bersama dengan rekan-rekan kerjanya membalas salam dari Pak Agung. 



Setelah Pak Agung keluar dari ruang departemen editor, giliran Suci, Nuri dan Irene yang berpamitan kepada Keila. 



“Kami pulang dulu, Kak Key,” ucap Suci dengan senyuman di bibirnya. 



“Ya, hati-hati di jalan,” balas Keila yang masih sibuk dengan laptopnya. 



“Apakah pekerjaan Kakak masih banyak?” tanya Irene khawatir. “Perlukah aku membantu, Kak?” 



Keila menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Irene. Sebentar lagi juga selesai. Kalian bisa pulang lebih dulu.” 



Setelah berpamitan, ketiga rekan Keila: Suci, Nuri dan Irene, kemudian pulang lebih dulu meninggalkan Keila seorang diri di departemen editor. 




Keila mencuci gelas itu dan mengisinya dengan air. Keila yang teringat dengan buket bunga yang diterimanya pagi tadi kemudian mengambil dua tangkai bunga dari buket bunga itu dan meletakkannya ke dalam gelas dengan namanya. 



Setelah selesai membereskan meja kerjanya, Keila kemudian menuju lift untuk pulang kerja. Masih dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya, Keila memasuki lift dan menekan tombol angka “satu” sebelum menekan tombol pintu tertutup. 



“Tunggu!” 



Sebuah tangan tiba-tiba muncul menghentikan pintu lift milik Keila yang tadinya hendak tertutup. Keila melirik ke arah pemilik tangan itu dan melihat sosok yang diketahui bernama Liam yang bekerja sebagai asisten direktur, muncul di hadapannya. Spontan, Keila menekan tombol untuk menahan pintu tertutup dan membiarkan Liam bersama dengan direktur atasannya masuk ke dalam lift yang sama dengan Keila. Menyadari sosok yang masuk ke dalam lift bersamanya, Keila spontan menundukkan kepalanya memberi hormat karena Liam dan Direktur atasannya memiliki jabatan yang lebih tinggi darinya. Liam dan direktur atasannya kemudian berjalan melewati Keila dan berdiri tepat di belakang Keila. 



“Terima kasih, Nona,” balas Liam kepada Keila. 



Keila yang memutar lagu dengan volume sedang kemudian mendengar ucapan terima kasih dari Liam dan membalasnya dengan menundukkan kepalanya kepada Liam. “Ini bukan masalah besar, Pak.” 



Keila menekan tombol untuk menutup pintu lift lagi namun sekali lagi sebuah tangan muncul dan menghentikan pintu lift yang nyaris tertutup. 



“Tunggu!!!” 



Suara nyaring itu kemudian tertangkap oleh pendengaran Keila dan membuat Keila yang menghela napas panjang begitu mengenali pemilik suara itu. Keila menekan tombol untuk menahan pintu lift sekali lagi dan sosok yang paling tidak ingin ditemui Keila hari ini, masuk ke dalam lift: Yuna.



“Terima kasih,” ucap Yuna dengan lirikan yang tidak enak ke arah Keila.



“Sama-sama.” Keila langsung menekan tombol untuk menutup pintu lift. 



“Selamat malam, Pak Liam dan Pak Rafandra,” sapa Yuna. 



Keila mendengar nada bicara Yuna yang berubah 180 derajat ketika melihat dua orang yang berdiri di belakang Keila. Rafandra? Mungkinkah nama itu adalah nama direktur muda yang diceritakan oleh Suci, Nuri dan Irene waktu itu? Keila merasa asing dengan nama Rafandra. Keila yang selama ini bersikap cuek dengan para atasan yang tidak berhubungan langsung dengannya merasa terkejut mendengar Yuna menyapa dengan menyebut nama Rafandra. Apakah Liam adalah asisten dari direktur muda yang selama ini menolak untuk muncul di depan banyak orang? Ah, bodohnya aku. Aku bahkan tidak sadar akan hal itu. Beberapa kali aku hanya pernah melihat Liam yang berkeliling ke berbagai departemen. Aku benar-benar tidak menyangka jika Liam adalah asisten pribadi dari direktur muda yang jarang muncul di hadapan karyawannya. Pertanyaan lain kemudian muncul di dalam benak Keila ketika mengingat fakta penting bahwa direktur muda yang bernama Rafandra itu adalah direktur muda yang jarang menampakkan batang hidungnya di hadapan karyawannya. Keila kemudian teringat dengan tiga rekan kerja sekaligus tiga juniornya yang sangat mengidolakan direktur muda yang jarang menampakkan batang hidungnya itu. Kenapa dari banyak orang harus aku yang bertemu mereka dan bukannya Suci, Nuri dan Irene? Mereka pasti akan sangat senang bertemu dengan direktur idola mereka. 



Keila tadinya ingin melirik ke belakang karena penasaran dengan cerita Suci, Nuri dan Irene, namun niatnya terhenti ketika menyadari Yuna ada di dekatnya dan berusaha untuk mencari perhatian Liam dan Rafandra. 



“Pak Liam dan Pak Rafandra akan pulang?” tanya Yuna dengan suara manjanya. 



“Ya, kami akan pulang,” jawab Liam dengan nada sopan. 



Menyadari keadaan yang sedang terjadi di sekitarnya, Keila yang merasa kesal kemudian mengambil ponsel di dalam tas miliknya dan menekan beberapa kali tombol volumenya hingga lagu yang berputar berada pada volume maksimal. 



Pintu lift terbuka. Keila menundukkan kepalanya memberikan hormat tanpa melihat ke arah Liam dan Direktur muda yang bernama Rafandra itu. Setelah melakukan hal itu, Keila langsung berjalan keluar dari lift dengan sedikit cepat. Keila terus berjalan tanpa ke depan tanpa menolehkan kepalanya di mana Yuna mungkin masih berusaha bersikap manis kepada direktur muda dan Liam. 



Keila terus berjalan ke depan hingga langkahnya terhenti di mana Andra tadi pagi menurunkannya ketika mengantarnya ke kantor. Dengan tiba-tiba, kaki Keila menghentikan langkahnya. Dia tidak datang menjemputku. Itu artinya, dia benar-benar berhenti untuk menempel dan mengganggu hidupku. 



Melihat kenyataan jika orang yang selama sebulan ini menempel padanya dan menyebabkannya terganggu, Keila harusnya merasa senang. Namun kali ini hati Keila tidak merasa senang sama sekali. Rasa sakit di dadanya tiba-tiba muncul bersamaan dengan menghilangnya Andra dari hidup Keila.