
“Kak, apa kau sudah dengar?”
Keila yang baru saja tiba di kantornya dengan napas tersengal karena nyaris saja datang terlambat, langsung ditarik mendekat oleh Suci yang sedang duduk bersama dengan Nuri dan Irine.
“A-apa yang harus aku dengar?” tanya Keila dengan napasnya yang masih tersengal. “Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Sssstt. . .” Nuri memberikan isyarat kepada Keila untuk menurunkan volume suaranya. “Dengarkan, Kak. Kemarin direktur muda yang tampan itu rupanya masuk datang ke kantor dan pulang di saat hampir semua karyawan telah pulang.”
“Dan sialnya, Yuna yang membuat deklarasi untuk membuat direktur muda itu jatuh hati justru mendapatkan keberuntungan yang besar dari Tuhan dan bertemu dengan direktur muda itu.” Suci menambahkan dengan raut wajahnya yang kesal.
Wahhh, aku benar-benar tidak menyangka jika berita itu cepat sekali menyebar. Padahal hari masih pagi dan kejadian itu baru terjadi kemarin malam, tapi orang-orang sudah mendengar kejadian kemarin dan menggosipkannya. Aku penasaran setampan apa direktur muda itu hingga beritanya dengan cepat menyebar. Keila yang mendengarkan ucapan Suci dan Nuri hanya bisa berbicara di dalam benaknya sendiri karena terlalu terkejut melihat cepatnya berita itu menyebar.
“Ya, aku benar-benar kesal. Bagaimana wanita ular itu selalu saja mendapatkan keberuntungan dari Tuhan? Rasanya seolah apa yang diinginkannya akan selalu didapatkannya dengan mudah,” ucap Nuri yang juga merasa kesal seperti Suci.
“Kalian ini,” sela Keila. “Apanya yang mendapatkan keinginan dengan mudah? Kalian salah menilainya, Suci, Nuri.”
“Kenapa tidak? Bukankah itu memang benar?” tanya Suci tidak terima. “Lihat saja, Yuna itu. Banyak pria yang sudah mengejarnya, tapi dia tidak pernah puas. Dan kali ini ketika ada pria tampan yang memiliki jabatan yang lebih tinggi, Yuna juga mengincarnya dan tidak lama lagi, direktur muda itu mungkin akan jatuh ke dalam pelukan wanita ular itu.”
“Aku bersyukur tidak bekerja satu departemen dengan wanita ular itu,” tambah Nuri.
“Kalian salah menilai. Jika Yuna dengan mudahnya mendapatkan apa yang diinginkannya, maka dia tidak perlu mengejar Direktur Rafandra itu. Lihat saja usahanya yang bermuka manis dengan suara manja itu demi mendapatkan perhatian Direktur Rafandra dan asistennya Liam! Jika kalian melihatnya sendiri, kalian pasti tidak akan mengatakan bahwa Yuna mendapatkan keinginannya dengan mudah.”
Sama dengan Nuri dan Suci, Keila juga merasa kesal dengan Yuna. Tapi Keila tidak suka ketika orang-orang memberikan penilaian yang salah kepada orang lain terlebih ketika orang itu adalah temannya sendiri.
“Tunggu!” sela Irene.
“Apa?” Keila, Nuri dan Suci bertanya di saat bersamaan.
Irene kemudian menatap ke arah Keila dengan tatapan mata menyipit dan menyelidik. “Bagaimana Kak Key bisa tahu jika direktur mudah itu bernama Rafandra? Seingatku, kami tidak pernah menceritakan nama direktur muda itu kepada Kakak? Kakak yang selama ini cuek tidak mungkin tahu nama direktur muda itu.”
Sial, aku keceplosan. Keila mengumpat di dalam benaknya sembari berusaha menemukan alasan yang tepat untuk kesalahan yang baru saja dibuatnya. “Bu-bukankah namanya ada dalam daftar nama direktur kita?”
“Tapi bukankah selama ini Kakak adalah orang yang cuek dengan para direktur kita. Bahkan kami di sini semua tahu, jika kakak bahkan tidak pernah ingat wajah semua direktur kita termasuk direktur muda kita yang jarang menampakkan wajahnya. Jadi bagaimana Kakak bisa tahu jika Rafandra adalah nama dari direktur muda kita itu dan Liam adalah nama dari asisten direktur muda kita?”
Keila melihat tatapan Irene, Suci dan Nuri yang menyelidik ke arahnya. Sial. Aku benar-benar sial sekali. Jika Suci dan Nuri saja, alasanku itu mungkin sudah diterima dengan baik. Tapi kali ini, Irene yang menangkap kesalahanku. Otaknya adalah otak yang paling pintar di antara kita berempat.
Keila menghela napas panjangnya dan memilih untuk menyerah karena tatapan tiga rekan kerjanya yang mengarah kepadanya seolah ingin menembakkan laser pembunuh ke arahnya. “Ya. Aku juga bertemu dengan direktur muda itu kemarin saat pulang terlambat.”
“Benarkah??” tanya Suci dan Nuri bersama-sama karena merasa senang.
“Bagaimana pendapat Kakak tentang direktur muda kita itu?” tambah Suci yang menatap Keila dengan mata berbinar.
“Ya, Kak. Dia tampan bukan?” tambah Nuri.
Keila menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu.”
“Ya, kenapa kakak bisa tidak tahu?” tambah Nuri.
Keila mengembuskan napasnya ingin menjawab pertanyaan Nuri dan Suci, namun niatnya itu kemudian terhenti ketika Irene lebih dulu menjawab pertanyaan Suci dan Nuri, mewakilinya.
“Jangan bilang, Kakak pulang dengan memasang earphone di telinga Kakak dan menundukkan kepala Kakak seperti kebiasaan Kakak selama ini?”
Keila menganggukkan kepalanya. “Ya, memang itulah yang terjadi. Aku memang melihat Liam-asisten direktur muda kita. Tapi wajah direktur muda kita, aku tidak melihatnya karena tertutup oleh Liam. Aku tahu jika direktur muda itu bernama Rafandra juga karena Yuna yang memanggil namanya untuk menyapanya.”
Percakapan itu kemudian terhenti ketika Pak Agung datang dan membuyarkan kelompok kecil Keila dan tiga rekannya. Percakapan itu terhenti dan kemudian dilanjutkan kembali ketika jam makan siang tiba.
Seminggu berlalu dengan cepat karena kesibukan Keila dengan pekerjaannya. Aktivitas Keila yang mengharuskan Keila berangkat pagi dengan menaiki bis, lalu pulang kerja lebih malam dari rekan-rekan kerjanya, memang bisa membuat Keila melupakan kebiasaan barunya ketika bersama dengan Andra.
Tapi semakin lama waktu berlalu, bayangan Andra tiba-tiba muncul entah dari mana di pandangan Keila. Bayangan Andra akan muncul menggenggam tangan Keila ketika Keila berjalan di keramaian. Bayangan Andra akan duduk di samping Keila dan tersenyum ketika Keila duduk di bis sembari mendengarkan lagu. Bayangan Andra akan muncul ketika Keila makan baik itu makan pagi, makan malam dan makan siang ketika bersama dengan ketiga rekan-rekannya. Satu hal yang sama yang terjadi ketika bayangan Andra muncul di pandangan Keila: Andra akan memandang Keila dengan senyuman di bibirnya dan tatapan penuh cinta di matanya dan ketika itu terjadi jantung Keila berdetak lebih kencang, di saat yang sama rasa sakit di dada Keila terasa.
Bayangan-bayangan Andra yang muncul membuat Keila semakin menenggelamkan dirinya dalam kesibukan pekerjaannya. Namun semakin Keila tenggelam dalam pekerjaannya, Keila justru semakin jelas melihat bayangan Andra, bahkan seolah Andra benar-benar berada di sisi Keila – sama seperti sebulan yang lalu.
Bayangan Andra yang tadinya hanya menatap Keila dengan tatapan penuh cinta dan senyuman di bibirnya perlahan-lahan mulai berbicara kepada Keila – seperti ketika Andra berbicara dengan Keila selama sebulan kemarin.
Ketika Keila mengenakan pakaian pendek untuk membuang sampahnya di hari liburnya, bayangan Andra berbicara pada Keila.
“Itu terlalu pendek. Orang-orang bisa melihat kakimu yang indah itu.”
Keila yang telah selesai membuang sampahnya kini kembali ke apartemennya dan melihat kondisi apartemennya yang berantakan karena kesibukannya selama seminggu ini, sekali lagi bayangan Andra berbicara pada Keila.
“Lihatlah apartemenmu in! Benar-benar seperti kapal pecah.”
Ketika Keila membersihkan apartemennya sembari bernyanyi dengan kencang, sekali lagi bayangan Andra berbicara kepada Keila.
“Suaramu adalah suara terindah yang pernah aku temui. Hanya satu suara darimu, bisa memberikanku kebahagiaan. Kau mungkin tidak menyadarinya tapi bagiku, suaramu itu benar-benar membuatku candu.”
Keila yang sudah selesai membersihkan apartemennya kemudian menyiapkan sarapan paginya. Namun karena terlalu lelah, Keila merasa kenyang dan tidak enak makan.
“Membuang-buang makanan itu adalah dosa, apa kau tidak tahu?”
Setelah seharian membersihkan apartemennya, Keila menatap ke arah jendela dan melihat hujan mulai turun. Seperti kebiasaannya, Keila akan duduk di beranda apartemennya dengan mendengarkan lagu sembari menatap hujan. Karena hari ini Keila merasa tidak enak untuk makan, hari ini Keila sengaja tidak membuat roti kukus.
Sekali lagi, bayangan Andra muncul di samping Keila dan duduk bersama dengan Keila. Bayangan Andra tersenyum dan menatap Keila dengan tatapan penuh cintanya kepada Keila. Bayangan Andra itu terus berada di samping Keila bahkan ketika hujan berhenti.
Entah sebuah keberuntungan atau tidak, Keila tidak tahu. Tapi. . . pelangi yang sulit dilihat itu muncul lagi di depan Keila dan di depan bayangan Andra yang duduk di samping Keila. Untuk kesekian kalinya, bayangan Andra itu berkata pada Keila mengulang ucapan lama Andra yang pernah diucapkannya kepada Keila.
“Bagiku, kau adalah pelangi dalam hidupku yang memberi warna dalam hidupku. Ingatlah itu, Keila.”
Setelah mendengar ucapan dari bayangan Andra itu, air mata Keila terjatuh dan untuk pertama kalinya Keila menangis karena Andra. Keila menangkap air matanya terjatuh dengan telapak tangannya dan bertanya di dalam benaknya. Apa arti dari air mata ini? Apa aku benar-benar kehilangan Andra? Apa ini artinya aku benar-benar jatuh cinta kepadanya?