
Perdebatan antara Keila dengan tiga rekan sekaligus juniornya itu kemudian tertunda hingga jam makan siang. Satu menit sebelum jam istirahat dimulai ketiga rekan Keila bahkan sudah berdiri di sekitar meja kerja Keila dan bersiap untuk membawa Keila makan bersama dan menginterogasi Keila mengenai hubungannya dengan Liam. Begitu jam istirahat dimulai, Suci dan Nuri bersama-sama menarik lengan Keila dan memaksanya untuk makan siang bersama di kantin. Keila yang sudah tidak bergerak dan melarikan diri, hanya bisa pasrah menerima situasinya. Untungnya aku tadi mengatakan pada Andra bahwa aku tidak bisa makan siang bersamanya. Kalau tadi aku membuat janji dengan Andra, mungkin aku sudah membuatnya kecewa karena ulah ketiga rekanku ini.
Setelah memesan makan siang yang sama untuk empat orang, Nuri bersama dengan Suci dan Irene kemudian mulai menginterogasi Keila sembari memakan makan siangnya.
“Jadi sekarang jelaskan pada kami bertiga, Kak Keila!” Nuri yang baru menelan satu suapan besar makanannya dan menelannya kemudian langsung meminta Keila untuk memberikan penjelasan yang jelas. “Tolong jelaskan pada kami kenapa Liam-asisten direktur muda idola kita itu bisa membawakan surat ijin milik Kakak!”
Keila yang tadinya melihat menu makan siang di kantin adalah makanan kesukaannya-rendang kemudian kehilangan selera makannya ketika mendengar ucapan Nuri. Keila melemparkan pandangannya ke arah Suci dan Irene yang duduk di sisi lain Nuri dan Keila mendapatkan tatapan mata yang sama dari Suci dan Irene: tajam, penasaran dan menyelidik.
“I-itu sebenarnya, aku tidak punya hubungan dengan Liam-asisten direktur muda idola kalian. Tapi mungkin seseorang yang aku kenal punya hubungan dengan Liam,” jelas Keila dengan nada tidak yakin.
“Siapa itu, Kak? Siapa orang yang mungkin punya hubungan dengan Liam?” tanya Suci dengan cepat dan tidak sabar.
“A-aku tidak bisa mengatakannya kepada kalian sebelum aku bertanya dengan jelas kepada orang itu. Kemarin secara kebetulan dia merawatku dan ketika aku ingin menghubungi kalian, dia mengatakan padaku bahwa dia mengirim temannya untuk mengantarkan surat ijinku ke kantor.” Keila menjelaskan lagi.
“Dia merawat Kakak?” tanya Nuri terkejut.
“Ya.” Keila menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Nuri.
“Pria atau wanita?” Kali ini giliran Irene yang bertanya kepada Keila dan pertanyaan itu berhasil membuat Keila gugup ketika mendengarnya. “Sudah kuduga, orang yang merawat Kakak kemarin adalah seorang pria. Apakah pria itu adalah kekasih baru Kakak?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut Irene itu berhasil membuat Suci dan Nuri yang duduk di sisi yang sama dengan Irene, terkejut di waktu yang sama.
“Kakak punya kekasih baru??”
Keila memandang tiga rekan kerjanya itu dengan tatapan salah tingkah. Keila tadinya tidak ingin memberitahukan hubungan barunya yang baru berusia satu hari tapi karena situasi yang mendesak, Keila mungkin harus memberitahukan hubungan barunya itu kepada ketiga rekannya itu.
“Kak?” tanya Nuri lagi. “Katakan, apakah Kakak punya kekasih baru?”
“Ya, Kak. Tolong beritahu kami,” tambah Suci.
“I-itu-“
“Jangan-jangan masalah waktu itu adalah karena pria itu, Kak? Kakak yang datang dalam keadaan pucat ke kantor waktu itu, dikarenakan masalah Kakak dengan pria itu, benar bukan?” Irene memotong ucapan Keila dengan cepat ketika mengingat sesuatu di dalam benaknya.
Tertangkap basah oleh Irene, Keila terpaksa menganggukkan kepalanya menjawab dugaan Irene. “Ya, aku punya kekasih belum lama ini.”
“Apa???” Suci dan Nuri mengatakan hal yang sama dan memberikan reaksi yang sama: terkejut dan tidak percaya, ketika mendengar jawaban yang keluar dari mulut Keila. “Sejak kapan Kakak memiliki kekasih?”
“Baru kemarin.” Keila menjawab dengan terkekeh karena salah tingkah.
Nuri dan Suci kemudian saling melemparkan pandangan satu sama lain karena tidak percaya hubungan Keila masih berumur satu hari. Di sisi lain Irene yang memiliki kemampuan otak yang lebih cerdas, tetap bersikap tenang meski sama terkejutnya mendengar pengakuan dari Keila. Tapi perasaan yang saat ini dirasakan Irene bukan hanya terkejut melainkan khawatir kepada Keila.
“Kakak mengenal pria itu berapa lama?” tanya Irene dengan nada seriusnya.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu, Irene?” Keila berbalik bertanya kepada Irene.
“Aku hanya khawatir dengan hubungan Kakak. Bukan maksudku mengatakan sesuatu yang buruk tentang Kakak, tapi belum lama ini Kakak memiliki hubungan dengan pria yang tidak baik: Noah. Kesalahan yang dibuat Noah memang bukan sepenuhnya kesalahan Kakak tapi pada akhirnya Kakak yang disalahkan dan mendapat skorsing dari perusahaan. Aku hanya khawatir kepada Kakak, jadi aku menanyakan hal itu kepada Kakak,” jelas Irene.
Suci dan Nuri yang tadinya terkejut bukan kepalang mendengar pengakuan Keila kemudian langsung menganggukkan kepalanya bersamaan ketika mendengar penjelasan Irene.
“Mendengar ucapan Irene, aku juga ikut merasa khawatir, Kak,” tambah Suci.
“Aku juga, Kak. Jika sesuatu yang buruk menimpa Kakak lagi, aku juga pasti merasa khawatir,” tambah Nuri.
Keila yang tadinya merasakan tatapan tajam menyelidik dari ketiga rekan kerja sekaligus juniornya itu kemudian melihat tatapan tiga rekannya itu berubah menjadi tatapan khawatir. Keila tersenyum bahagia melihat ketiga junior yang dibesarkannya itu begitu menyayanginya hingga khawatir seperti yang dilihatnya saat ini. “Terima kasih karena telah khawatir padaku. Tapi kurasa kali ini pilihanku tidak akan salah.”
Keila kemudian memberikan isyarat kepada tiga rekannya itu untuk mendekatkan wajah mereka kepada Keila.
“Apa yang ingin Kakak katakan?” tanya Irene setelah mendekatkan wajahnya kepada Keila bersama dengan Nuri dan Suci.
“Mau dengar ceritaku bagaimana aku bisa bertemu dengan kekasihku itu?”
Suci, Nuri dan Irene spontan menganggukkan kepalanya mendengar tawaran dari mulut Keila.
“Ini cerita yang harus Kakak ceritakan pada kami,” ucap Nuri semangat.
“Aku sangat penasaran,” tambah Suci.
Keila kemudian menghela napas panjang sebelum akhirnya bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Andra-kekasihnya saat ini. Sambil memakan makan siangnya, Keila terus bercerita kepada tiga rekannya itu. Namun karena jam istirahat yang singkat, beberapa hal tidak Keila ceritakan kepada tiga rekannya. Akan tetapi meski cerita yang keluar dari mulut Keila adalah cerita yang cukup singkat dan beberapa hal ada yang tidak sempat Keila ceritakan, ketiga juniornya itu mendengarkan cerita Keila dengan wajah merona dan beberapa kali memberikan komentarnya untuk cerita Keila.
“Aku suka sekali alasan yang dibuat kekasih Kakak untuk menggenggam tangan Kakak ketika di pasar,” komentar Suci.
“Ahhh, romantis sekali kekasih Kakak. Bagaimana bisa menyebut Kakak sebagai pelangi yang dapat dilihat setiap hari? Jika aku yang mendengarnya, aku pasti langsung jatuh hati ketika mendengarnya,” komentar Nuri.
“Aahhh, ini sama seperti kisah tokoh utama wanita dan tokoh utama pria dalam novel-novel yang kita baca,” komentar Suci.
Jika Suci dan Nuri yang mendengarkan cerita Keila memberikan komentar ini dan itu selama Keila bercerita, lain halnya dengan Irene yang mendengarkan cerita Keila dengan saksama. Baru ketika Keila selesai bercerita, Irene baru memberikan komentarnya untuk kisah Keila.
“Kakak ingat kejadian yang berhubungan dengan Kak Noah dan membuat Kakak diskorsing?” tanya Irene kepada Keila di akhirnya ceritanya.
“Ya, aku ingat. Kenapa kamu bertanya begitu, Irene?”
“Hari itu ketika aku melihat wajah Kakak ketika menerima keputusan diskorsing dan membereskan meja kerja Kakak, aku melihat penyesalan dalam tergambar jelas di wajah Kakak. Tapi mendengar cerita Kakak baru saja, aku merasa lega. Hari itu ketika Kakak diskorsing mungkin adalah hari paling sial dalam hidup Kakak tapi di hari itu juga Kakak bertemu dengan kekasih Kakak dan memulai kisah yang baru dengannya.”
“Kau benar, Irene,” ucap Keila setuju. “Hari itu, aku menganggap hari itu sebagai hari tersial dalam hidupku setelah hari kematian ayahku. Tapi mendengar penjelasanmu itu, kurasa aku tidak bisa lagi menyebut hari itu sebagai hari yang sial.”
“Itu benar, Kak,” ucap Suci setuju.
“Benar, Kak. Kesialan yang menimpa Kakak berubah menjadi keberuntungan karena membuat Kakak bertemu dengan kekasih Kakak,” tambah Nuri.
“Tapi. . . aku benar-benar iri dengan Kakak. Kekasih Kakak menyebut Kakak sebagai kekasihnya di hari pertama kalian bertemu. Itu benar-benar romantis sekali,” ucap Suci. “Aku ingin bertemu dengan pria seperti itu juga.”
Cerita Keila berakhir di saat jam istirahat pun berakhir. Ketiga rekan kerja Keila kembali ke ruangannya dengan senyuman di wajah mereka karena baru saja mendengar kisah Keila yang hampir sama dengan novel-novel yang mereka baca sebelumnya. Sedangkan Keila tersenyum karena mengingat ucapan Irene padanya mengenai hari kesialan yang berubah menjadi hari keberuntungan bagi Keila. Itu benar. Ucapan Irene benar. Kesialan yang menimpaku, membuatku bertemu dengan Andra. Jika sebelumnya aku selalu merasa kesal dengan pertemuan kami, tapi hari ini aku benar-benar bersyukur karena bertemu dengannya hari itu.
“Kak?” panggil Nuri ketika hendak duduk di depan meja kerjanya.
“Ada apa?” tanya Keila dengan senyuman di bibirnya.
“Kakak memang bercerita panjang lebar tentang kekasih Kakak, tapi cerita Kakak tidak menjawab siapa orang yang memiliki hubungan dengan Liam-asisten direktur muda kita itu.”
Pertanyaan yang keluar dari mulut Nuri itu kemudian membuat Suci dan Irene yang melupakan tujuan utamanya “menangkap” Keila untuk makan bersama, kembali mengingatnya.
Keila kembali menerima tatapan menyelidik dari Suci, Nuri dan Irene. “Ah, aku mengerti. Nanti biar aku tanya pada kekasihku, kiranya siapa yang mengenal Liam-asisten direktur muda kita itu. Tapi kenapa kalian bertiga penasaran dengan hal itu?”
Suci mendekat ke arah Keila dan kemudian berbisik. “Jika kami tidak bisa mendapatkan perhatian dari direktur muda kita itu, maka mungkin salah satu dari kita bisa menarik perhatian Liam-asistennya. Bukankah Liam juga memiliki wajah yang tampan?”
Keila membelalakkan matanya mendengar penjelasan Suci karena tidak percaya dengan apa yang dipikirkan oleh ketiga rekan sekaligus juniornya. “Dasar kalian ini. . . bagaimana bisa kalian berpikir seperti itu??”