
“Pekerjaan apa yang sedang kau kerjakan hingga pulang terlambat sekali?” tanya Andra ketika menjemput Keila. “Apa atasanmu memberimu banyak pekerjaan dan memaksamu lembur tanpa dibayar?”
“Maaf, ada sesuatu yang harus aku kerjakan bersama dengan Suci, Nuri dan Irene,” jawab Keila yang baru duduk di dalam mobil milik Andra dan memasang seatbeltnya.
“Hanya itu??” tanya Andra memastikan.
Keila menganggukkan kepalanya. “Ya, hanya itu.” Keila ke arah Andra yang sedang menatapnya dengan dalam. “Kamu tidak berniat untuk membawaku pulang dan hanya menatapku saja?” Keila berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Keila tahu, untuk saat ini dirinya tidak akan bisa mengatakan apa yang sedang dilakukannya bersama dengan ketiga rekan kerjanya itu. Maafkan aku, Andra. Sebenarnya, aku tidak berniat untuk membohongimu. Aku hanya menundanya saja. Untuk saat ini, aku harus menyelesaikan masalah penggemar rahasia itu lebih dulu sebelum aku mengatakannya kepadamu. Jika semua ini telah berakhir, aku akan mengatakan semuanya kepadamu. Aku janji.
Sementara Keila berbicara di dalam benaknya sendiri, Andra kemudian memegang setir mobil dan mulai menginjak pedal gas mobilnya-membawa dirinya bersama dengan Keila untuk kembali ke apartemen.
“Andra. . .” panggil Keila dengan tiba-tiba.
“Ya, ada apa?” tanya Andra sembari melirik ke arah Keila yang duduk di sampingnya sebelum kembali fokus melihat ke arah jalanan di depannya.
“Bisakah kita makan di luar sekarang? Aku sedang malas memasak.”
Semenjak menjalin hubungan, ini pertama kalinya Keila meminta sesuatu kepada Andra dan hal itu membuat Andra benar-benar merasa senang ketika mendengarnya. “Tentu saja. Mau makan apa?”
“Terserah. Tidak ada makanan yang sedang aku inginkan,” balas Keila. “Bagaimana denganmu??” Keila menolehkan kepalanya, menatap Andra yang sedang mengemudikan mobil.
“Baiklah kalau begitu. Ada sesuatu yang ingin aku makan bersamamu.” Andra kemudian mengambil lajur kanan, sebelum akhirnya memutar mobil yang dikemudikan dan berpindah lajur. Setelah berada di lajur yang berbeda, Andra kemudian menginjak pedal gas mobil miliknya dan berusaha untuk membawa Keila menuju ke tempat di mana dirinya ingin makan malam bersama dengan Keila.
Sepuluh menit kemudian, Keila dan Andra sudah tiba di tempat di mana yang Andra inginkan. Sembari meletakkan tangannya di pinggang Keila, Andra menuntun Keilan berjalan layaknya kekasih. Andra membukakan pintu mobil untuk Keila, Andra juga membukakan pintu resto untuk Keila dan terakhir, Andra menarik kursi untuk Keila duduk.
“Keberatan jika aku yang memesan makanan untukmu?” tanya Andra.
“Tidak.” Keila menggelengkan kepalanya. “Kamu pesan saja dan aku pasti memakannya. Sebelum itu, bisakah aku ke toilet sebentar?”
“Sendiri?” tanya Andra dengan tersenyum.
Keila menatap Andra dan hendak menjawab. Namun sebelum menjawab pertanyaan Andra, Keila tanpa sengaja menatap senyuman di bibir pelayan resto yang sedang mencatat pesanan Andra. Keila merasakan tatapan dan senyuman di bibir pelayan itu. “Aku bisa sendiri. Kamu tidak perlu menemaniku. Tunggu di sini saja.”
“Baiklah, kalau begitu jangan lama-lama.” Andra memberikan lirikan kepada Keila.
Keila yang hendak bangkit dari duduknya, kemudian mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Andra. “Kenapa?”
“Aku tidak suka kau jauh-jauh dari jarak pandanganku dan juga. . .”
“Dan juga apa??” sela Keila dengan cepat.
“Apa kamu mau kekasihmu yang tampan ini menjadi pusat perhatian gadis-gadis lain ketika kamu sedang tidak ada??” Andra kemudian melirik ke arah pengunjung-pengunjung lain yang sedang melirik ke arahnya. “Kamu tahu bukan, aku tidak suka menjadi pusat perhatian??”
Keila melirik ke arah pengunjung wanita dan gadis lain yang sedang mencuri pandang ke arah Andra dan memahami maksud dari ucapan Andra. “Baiklah, aku mengerti. Tunggu aku di sini, aku tidak akan lama.”
Lima menit kemudian Keila yang baru kembali dari toilet, kemudian melihat pengunjung gadis dan wanita lainnya sedang mencuri pandang ke arah Andra yang sibuk menunduk memainkan ponsel miliknya. Sial, kali ini aku benar-benar sial. Keila mengumpat kesal di dalam benaknya sendiri melihat pemandangan yang saat ini sedang dilihatnya. Aku benar-benar sial, karena kali ini aku memiliki kekasih yang terlalu tampan. Noah yang kemarin kuanggap sudah cukup tampan, tidak terlalu menarik perhatian hingga seperti ini. Penampilan Andra saat ini bahkan tidak lebih baik jika dibandingkan dengan Noah yang selalu mengenakan setelan jas dan menata rambutnya, tapi Andra yang mengenakan kacamata dengan rambut berantakan serta pakaian kasual seperti ini saja sudah terlalu menarik perhatian. Bagaimana jadinya jika mereka melihat Andra mengenakan setelan jas, menata rambutnya dan melepas kacamatanya?
Setelah selesai mengumpat dan melihat makanan mulai diantar ke meja di mana Andra sedang menunggu, Keila kemudian berjalan menuju ke arah Andra. “Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama, Tee Rak(1)?”
“Tee Rak?” Andra mengerutkan alisnya mendengar panggilan dari Keila untuknya yang baru pertama kali didengarnya. “Apa yang baru saja kamu bicarakan, Key?”
Keila kemudian duduk di kursi di depan Andra sembari mengulurkan tangannya meminta sesuatu dari Andra. “Berikan ponselmu padaku dan kamu akan tahu.”
Andra menuruti permintaan Keila dan memberikan ponsel miliknya kepada Keila. Andra benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sedang dilakukan oleh Keila saat ini. “Apa yang sedang kamu lakukan, Key?”
Keila yang menerima ponsel Andra kemudian membuka mesin pencari dan menuliskan kata Tee Rak dalam mesin pencari dalam ponsel milik Andra. Keila kemudian melirik ke arah makanan yang sedang diantar oleh pelayan dan melihat pasta bersama dengan acar timun yang sedang disajikan oleh pelayan wanita ke mejanya. Keila kemudian memberikan isyarat kepada pelayan wanita itu untuk mendekat ke arahnya. “Bisakah mbak mendekat?”
Pelayan wanita itu mendekat dan menuruti permintaan Keila. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Mbak tahu ini namanya apa?” Keila bertanya sembari menunjuk ke arah acar timun di mejanya.
“Timun, mbak.”
“Ini namanya timun, kalau yang ini. . .” Keila kemudian mengubah arah yang ditunjuknya dari timun ke arah Andra. “Kalau yang ini namanya Tee Rak.”
“Tee Rak?” tanya pelayan wanita itu dengan tatapan heran ke arah Keila.
Keila tersenyum melihat reaksi pelayan wanita itu yang sama dengan reaksi Andra, Keila kemudian menunjukkan ponsel milik Andra yang berisi arti kata Tee Rak kepada pelayan wanita itu. Benar saja, pelayan wanita itu langsung tersenyum lebar dan tersipu malu ketika melihat arti kata Tee Rak yang tertera di layar ponsel milik Andra.
“. . . Mbak ini bisa saja,” puji pelayan wanita kepada Keila. “Jika masih ada lagi yang mbak dan mas butuhkan, silakan panggil saya.”
Pelayan wanita yang tela menyajikan makanan untuk Keila dan Andra, kemudian berjalan pergi masih dengan senyuman di wajahnya. Dan hal itu membuat Andra semakin merasa penasaran dengan arti kata Tee Rak yang disebutkan oleh Keila.
“Apa sebenarnya arti kata Tee Rak itu, Key?” tanya Andra penasaran sembari meminta ponselnya kembali.
“Mulai hari ini, aku akan memanggilmu dengan panggilan Tee Rak dan hanya aku yang boleh memanggilmu dengan panggilan itu. Apa kamu setuju?” tanya Keila yang mengabaikan pertanyaan dari rasa penasaran Andra.
“Aku harus tahu dulu arti kata itu sebelum menyetujuinya, Key,” balas Andra. “Berikan ponselku, Key!”
“Percaya padaku, panggilan itu bukanlah panggilan yang buruk.” Keila masih menolak mengembalikan ponsel milik Andra. “Jika setuju, aku akan mengembalikan ponsel milikmu. Bagaimana?”
“Baiklah, aku setuju.” Andra yang sudah terlanjur penasaran kemudian menyetujui permintaan Keila begitu saja tanpa tahu makna dari kata Tee Rak yang disebutkan Keila sebagai panggilannya untuk Andra.
“Bagus sekali, Tee Rak.” Keila yang merasa senang melihat Andra setuju padanya, kemudian mengembalikan ponsel milik Andra. “Ini ponsel milikmu.” Keila kemudian memakan pasta yang telah dipesankan oleh Andra untuknya.
Sementara Keila memakan pasta miliknya, Andra yang sudah sangat penasaran kemudian membuka ponsel miliknya dan melihat kata Tee Rak yang muncul begitu membuka layar ponselnya. Andra tersenyum lebar ketika melihat arti kata Tee Rak yang muncul di layar ponselnya. Andra kemudian menatap Keila yang sedang sibuk memakan pasta miliknya dan teringat dengan ucapan Keila kepada pelayan wanita tadi ketika menyebutnya dengan sebutan Tee Rak yang membuat pelayan wanita itu tersipu malu.
“Pantas saja, pelayan wanita itu tadi tersipu malu ketika mengetahui arti kata Tee Rak itu,” ucap Andra memandang Keila dan kemudian mencubit pipi Keila yang sedang mengunyah pasta di dalam mulutnya. “Dari mana kamu belajar menggoda seperti itu, Key? Ah tidak. . . haruskah aku memanggilmu dengan panggilan yang sama-Tee Rak?”
“Lepaskan cubitanmu dulu, aku sedang mengunyah makanan!”
Andra kemudian melepaskan cubitannya di pipi Keila dan membiarkan Keila menelan lebih dulu makanan yang dikunyahnya sebelum menjawab pertanyaan Andra. “. . .Tentu saja dari kamu, Tee Rak. Kamu orang yang menyebutku sebagai pelangi yang bisa kamu lihat setiap hari, kamu juga orang yang seenaknya melabeli dirimu sendiri sebagai kekasihku bahkan sebelum aku memberi label itu padamu, kamu juga orang yang dengan bangga mengenalkan dirimu sebagai kekasihku di depan orang-orang dekatku tanpa ijin dariku, dan kamu jugalah orang yang mengatakan bahwa menggenggam tanganku adalah sesuatu yang menyenangkan. Rugi sekali jika aku tidak belajar hal itu darimu, Tee Rak.”
Mendengar jawaban dari Keila, Andra merasa semakin gemas terhadap Keila. Andra kemudian mengangkat tangannya dan memberikan kecupan kecil di ibu jari miliknya. Setelah melakukan hal itu, Andra kemudian menempelkan ibu jari yang membawa kecupan miliknya ke kening Keila. “Aku kekasihmu dan akan selalu begitu. Jadi kau sudah puas??” Andra menyadari niat dari perlakuan Keila baru saja itu. Aku tidak menyangka caranya mengusir tatapan nakal dari gadis dan wanita lain, sungguh menggemaskan.
Keila menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. “Sudah puas, Tee Rak. Puas sekali. Sekarang makan makananmu dan berhenti gemas denganku!”