30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
44. SOSOK DI BALIK STATUS PENGAGUM RAHASIA 8



Baron dan Yuda yang melihat situasi buruk yang menimpa Keila bergerak maju dan berusaha untuk memisahkan Keila dan Yuna. Namun Yuna sama sekali tidak berniat untuk melepaskan genggaman tangannya di rambut Keila dan justru menarik rambut Keila lebih kencang lagi. 


“Apa yang kau lakukan pada Kak Key????” 



Teriakan itu sejenak membuat Keila, Yuna, Baron dan Yuda terdiam selama beberapa detik karena terkejut. Keila yang mengenali tiga wajah yang dikenalnya kemudian memandang bingung ke arah tiga wajah itu. 



“Irene, Suci, Nuri, apa yang kalian lakukan di sini??” teriak Keila berusaha menahan rasa sakit di kepalanya. 



“Kami datang menolongmu, Kak Key!!!” teriak Nuri dengan penuh amarah. Nuri kemudian berlari ke arah Keila dan Yuna diikuti oleh Suci dan Irene.



Nuri kemudian membalas perbuatan Yuna dengan menarik rambut Yuna. Sementara Irene dan Suci yang juga ingin membalas kemudian dihentikan lebih dulu oleh Baron dan Yuda. Tidak terima dengan perbuatan Baron dan Yuda, Suci dan Irene kemudian membalas dengan menarik rambut Baron dan Yuda. 



“Harusnya kau melerai mereka dan bukannya kami!!” teriak Suci kesal. 



“Ya, kalian bukannya melindungi Kak Key justru menghentikan kami yang berniat membantu Kak Key!” tambah Irene. 



Sementara itu di sisi lain, Keila terus berteriak kesakitan karena rambutnya yang terus ditarik oleh Yuna. 



“Ahhhhhhhh!!! Lepaskan tanganmu, Yuna!!” teriak Keila membalas. 



“Ya, lepaskan Kak Key!” tambah Nuri dengan menarik lebih keras rambut Yuna. 



“Kenapa kau ikut campur hah???” tanya Yuna yang kemudian tangannya yang lain membalas Nuri dengan menarik rambut Nuri. “Ini urusanku dengan Keila. Anak kecil jangan ikut campur!” 



“Wanita ular!! Kau beraninya!!!!” teriak Nuri semakin kesal. Nuri menarik rambut Yuna lebih kencang lagi. 



“Jangan menyentuh juniorku!!!” teriak Keila ketika melihat Yuna melakukan hal yang sama kepada Nuri. Keila kemudian mengabaikan kepalanya yang sakit dan berusaha untuk melepaskan tangan Yuna dari rambut Nuri. “Lepaskan tanganmu dari rambut Nuri, Yuna!!” 



Keributan dan teriakan dari lima orang wanita itu kemudian memancing perhatian dari departemen lain. Pergulatan hebat itu kemudian menjadi tontonan selama beberapa detik hingga seseorang muncul dan berteriak dengan kencang. 



“A-apa-apaan ini???” 



Keila bersama dengan Nuri, Suci, Irene, Yuna, Baron dan Yuda kemudian menatap ke arah sumber suara itu dengan tatapan terkejut. Irene dan Suci yang menarik rambut Yuda dan Baron kemudian melepaskan tangan mereka. Hal yang sama kemudian terjadi kepada Nuri dan Yuna, tangan Nuri kemudian melepaskan dirinya dari rambut Yuna dan Yuna pun melakukan hal yang sama pada rambut Nuri dan Keila. 



“Direktur Ra-Rafandra. . .” ucap Nuri dan Suci bersamaan. 



Tatapan mata penuh amarah di mata Suci, Irene, Nuri dan Yuna kemudian berubah menjadi tatapan malu sekaligus tatapan terpesona dengan sosok yang saat ini berdiri di hadapan mereka tepatnya di depan Liam. Sementara itu Baron dan Yuda yang mengenali sosok itu segera menundukkan kepala mereka karena malu dengan apa yang baru saja terjadi kepada dirinya. 


Sebaliknya Keila yang melihat sosok sebenarnya dari Direktur Rafandra yang miserius selama ini, kemudian membeku hingga terjatuh ke lantai. Meski berpenampilan berbeda: tanpa kacamata, rambut berantakan yang ditata rapi hingga memperlihatkan keningnya yang bersih serta setelan jas yang rapi, tidak membuat Keila tidak mengingat bagaimana rupa kekasihnya sendiri. Keila mungkin tidak akan mengenali sosok di hadapannya saat ini jika bukan karena kejadian di vila pantai di mana Keila menyibak rambut kekasihnya saat itu. 


“K-kau. . .” ujar Keila terbata-bata dengan wajah terkejut dan tidak percaya. “Ba-bagaimana bisa kau. . .” 



“Direktur ini. . .” Yuda berusaha memberikan penjelasan. 




Liam yang merasakan nada dingin di suara Direkturnya, langsung menundukkan kepalanya dan menjawab, “Ya, Direktur.” 



“Empat karyawati ini kecuali Nona yang terduduk di sana, tidak boleh meninggalkan ruangan ini sampai aku mendapat penjelasan tentang kejadian ini. Beri tahu departemen mereka jika mereka mencari karyawan mereka bahwa aku menahan karyawannya di sini karena sesuatu.” 



“Saya mengerti.” Liam kemudian maju ke arah Suci, Nuri, Irene dan Yuna untuk membawa mereka ke ruangan yang berbeda. “Mohon ikut dengan saya sesuai dengan perintah Direktur.” 



Yuna yang tidak terima karena merasa Keila mendapat perlakuan khusus dari direktur kemudian menolak untuk ikut dengan Liam dan membalas ucapan direktur. “Kenapa Keila tidak ikut dengan kami, Direktur?? Kenapa hanya Keila yang mendapatkan perlakuan khusus dari Direktur? Apa mungkin gosip yang beredar bahwa Keila adalah kekasih direktur, itu adalah kenyataan?” 



Keila yang mendengar pertanyaan Yuna kemudian menatap Yuna dengan tajam untuk sejenak dan kemudian mengalihkan pandangan tajamnya ke arah sosok Direktur Rafandra. Tatapan Keila tajam dan penuh kemarahan sembari menggelengkan kepalanya memberi isyarat kepada sosok Direktur di hadapannya saat ini. 



“Berita itu benar. Aku tidak menyangkalnya selama beberapa hari ini karena berita itu memang kenyataan yang sebenarnya terjadi.” Direktur menjawab pertanyaan Yuna dengan memandang Keila. Tidak lama kemudian Direktur Rafandra berjalan mendekat ke arah Keila Yang terduduk di lantai. 



“Kau mau apa?” ujar Keila dengan bersikap seolah tidak mengenal Andra-kekasihnya sendiri yang berstatus Direktur dan dikenal dengan nama Rafandra. 


  Andra tersenyum melihat tindakan yang diambil oleh Keila dan kemudian menggendong tubuh Keila yang terduduk lemas di lantai. “Aku dan Keila memang menjalin hubungan, tapi kutegaskan sesuatu yang penting di sini-Keila sama sekali tidak tahu bahwa aku adalah Direktur di perusahaan ini.” 


Keila melemparkan tatapan tajam ketika tubuhnya berada dalam pelukan Andra dan diangkatnya dengan mudah. “Turunkan aku!” Keila berbisik di telinga Andra. 



Andra mengabaikan permintaan Keila dan masih menatap tajam ke arah Yuna. “Apa itu sudah menjawab pertanyaanmu, Nona Yuna?” 



Yuna yang tidak menduga jawaban dari Direktur Rafandra dan melihat langsung perlakuan Direktur Rafandra kepada Keila, hanya bisa menunduk malu karena pertanyaan dan juga perbuatan yang baru saja dilakukannya. Yuna yang selalu ingin mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan menganggap Keila sebagai saingannya, kini merasa benar-benar kalah oleh Keila. Yang lebih menyakitkan lagi bagi Yuna adalah kenyataan yang harus diterima oleh Yuna-kenyataan bahwa orang yang diincarnya beberapa waktu ini, telah menjadi kekasih dari orang yang paling dibencinya bahkan sebelum Yuna sempat mengejar Direktur Rafandra dengan benar. 



Di sisi lain, Irene bersama dengan Nuri dan Suci yang berpenampilan berantakan hanya bisa tersenyum dan tersipu malu melihat tindakan direktur idola mereka yang benar-benar terlihat sebagai pria jantan yang melindungi kekasihnya sendiri. 



“Direktur benar-benar boyfriendable,” bisik Suci pada Nuri masih dengan senyumannya. “Direktur bahkan sengaja menggendong Kak Key untuk menunjukkan hubungannya dengan Kak Key di depan Kak Yuna. Bukankah ini benar-benar adegan romantis seperti dalam novel dan film?”



Nuri menganggukkan kepalanya. “Ya, Kak Keila benar-benar beruntung menjadi kekasihnya. Tapi. . .siapa yang akan menyangka Kak Keila yang tidak pernah bertemu dengan Direktur rupanya adalah kekasih direktur? Bahkan mereka sudah punya panggilan khusus satu sama lain. Aku benar-benar iri dengan Kak Key.” 



“Aku juga,” tambah Suci yang masih tersenyum. 



“Segera ikut dengan Liam, nona-nona, jika kalian tidak ingin menjadi tontonan karyawan dari departemen lain. Setelah mengobati Keila yang terluka, aku akan menemui kalian dan meminta penjelasan tentang apa yang terjadi hari ini,” ujar Andra dengan suara dingin dan wibawanya sebagai direktur. 



“Baik,” ujar Irene, Suci dan Nuri bersama-sama yang tersenyum sembari menundukkan kepalanya menunjukkan rasa hormatnya kepada Direktur idola sekaligus atasan mereka. Sementara itu, Yuna tidak menjawab karena saat ini perasaannya benar-benar kesal karena merasa dirinya kalah lagi dari Keila. 



Setelah mengatakan hal itu, Andra yang masih menggendong Keila kemudian membawa Keila ke ruangannya untuk mengobati luka Keila. Andra menurunkan Keila tepat di salah satu sofa di ruangannya dan mengambil kotak P3K yang tersimpan di ruangannya. 



“Aku baik-baik saja! Biarkan aku pergi bersama dengan rekan-rekanku!” tegas Keila dengan melotot ke arah Andra. 



“Apa kau tidak sadar?” Andra mengambil kapas yang telah dibasahi oleh alkohol dan menempelkannya ke kening Keila. 



“Apa yang harus aku sadari?” tanya Keila dengan ketus. “Kebohonganmu ini? Atau mungkin kebohonganmu yang lain: seperti kau adalah pengagum rahasia yang selalu mengirim buket bunga itu padaku?”