30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
47. PERMINTAAN 3



“Baiklah,” ujar Pak Agung setelah penjelasan dari Keila mengenai pertemuannya dengan Direktur Rafandra. “Aku mengerti. Aku akan berusaha untuk membela kalian berempat. Harusnya dari video rekaman CCTV, terlihat jelas bahwa kamu tidak melawan sementara Irene, Nuri dan Suci hanya berusaha untuk membelamu saja.”



“Terima kasih banyak, Pak.” Keila menarik napas panjang merasa lega mendengar ucapan Pak Agung. 



Setelah itu Keila bersama dengan Pak Agung keluar dari ruang rapat dan kembali ke meja kerja masing-masing. Tepat pada pukul tiga sore, Pak Agung keluar dari ruang departemen editing untuk memenuhi panggilan terkait insiden yang menimpa keempat anak buahnya di departemen Direktur Rafandra. Bersamaan dengan itu sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Keila. 



\[Tee Rak(nama Andra di dalam ponsel milik Keila): Maafkan aku, sepertinya kamu harus pulang sendiri hari ini. Aku harus menghadiri rapat darurat. Apakah kamu tidak keberatan?\]



Keila membuka pesan itu dengan malas dan enggan karena perasaan amarahnya yang masih belum reda. Tapi Keila tahu dengan baik jika dirinya tidak membalas pesan itu saat ini juga, sesuatu yang buruk mungkin akan dilakukan oleh Andra dan membuat posisinya semakin serba salah. 



\[Keila: Aku mengerti. Aku bisa pulang bersama dengan teman-temanku.\]



Keila meletakkan ponselnya ke meja kerjanya dan kembali mengerjakan tugasnya lagi. Namun semenit kemudian ponsel Keila bergetar lagi menandakan pesan masuk. Keila melirik pesan itu dan melihat Tee Rak muncul di layar ponselnya. Keila dengan enggan membuka ponselnya lagi. 



\[Tee Rak: Bisakah kita bicara setelah aku pulang nanti? Aku berhutang penjelasan padamu, Key.\]



Dan kali ini, Keila hanya membuka pesan itu dan tidak membacanya. Persetan dengan penjelasan itu. Kenapa kau membohongiku terlalu lama? Jika hal ini tidak terjadi, apakah kau akan terus menyembunyikan identitasmu itu dariku? Ada banyak waktu bagimu untuk mengatakan siapa sebenarnya dirimu padaku, tapi kenapa kau tetap diam dan membuatku terlihat seperti lelucon? Keila mengumpat di dalam benaknya sembari melemparkan ponselnya ke meja kerjanya. 



Buk. Suara keras pantulan ponsel Keila dengan meja kerjanya bahkan terdengar hingga ke tempat Nuri, Irene dan Suci. 



“Apa yang terjadi, Kak Key?” tanya Nuri penasaran. 



“Suara apa itu?” tanya Suci sembari sedikit bangkit dari duduknya dan berusaha melihat ke arah meja kerja Keila. 



“Apa Kakak baik-baik saja?” tanya Irene yang bahkan sengaja memutar kursinya ke arah Keila karena khawatir. 



“Maaf. Aku hanya sedang kesal saja,” balas Keila dengan melihat kesal ke arah ponsel miliknya. “Kalian. . . sepulang kerja ada rencana apa??” 



Pertanyaan Keila yang tiba-tiba itu kemudian membuat Irene, Suci dan Nuri terkejut di saat bersamaan. 



“Tiba-tiba sekali??” ujar Nuri dan Suci bersamaan. 



“Ehm, tiba-tiba aku tidak ingin langsung pulang ke rumah,” ujar Keila dengan wajah kesalnya. 



“Maafkan aku, Kak. Aku ada rencana dengan adikku,” ujar Nuri dengan wajah menyesal. 



“Aku juga,” tambah Suci juga dengan wajah menyesal. “Aku harus menghadiri kencan buta yang disiapkan oleh Ibuku.” 



Keila kemudian melihat ke arah Irene dan bertanya, “Bagaimana denganmu, Irene?” Keila menaruh harapan pada Irene, satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya. Tapi sayangnya Keila menangkap raut wajah Irene yang sama dengan wajah Suci dan Nuri. 



“Maafkan aku, Kak. Kebetulan aku juga sudah janji dengan Ibuku untuk menemaninya berbelanja.” 



“Baiklah, aku mengerti,” ujar Keila sembari menghela napas panjang karena harapannya yang pupus. Tadinya Keila berniat untuk keluar seorang diri untuk mengusir rasa suntuknya, namun ponsel Keila kembali bergetar. Dengan enggan Keila meraih ponsel yang tadi sempat dilemparnya dan melihat nomor asing muncul di layar ponselnya. Merasa penasaran, Keila kemudian membuka pesan yang dikirim oleh nomor asing itu. 



\[Nona Keila. Ini saya Liam. Karena Direktur merasa khawatir dengan Nona, maka pulang kerja nanti saya yang akan mengantar Nona pulang.\]



Begitu selesai membaca pesan itu, spontan mulut Keila mengumpat kesal dan membuat ketiga rekan Keila terkejut mendengarnya. “Sial! Kau benar-benar, Andra!!!!”



“Ada apa, Kak?” tanya Irene khawatir. Sementara Suci dan Nuri justru tertarik dengan nama Andra yang asing di telinga mereka. “Siapa Andra??”



“Andra itu adalah nama Direktur Rafandra yang dikenalkannya kepadaku,” ujar Keila masih dengan kesal. 



“Jadi. . . itu sebabnya Kakak tidak mengenali Direktur??” tanya Suci. “Karena Direktur mengenalkan dirinya sebagai Andra dan bukan Rafandra ketika bertemu dengan Kakak?” 



Keila menganggukkan kepalanya. “Itu benar. Terlebih lagi penampilannya ketika di luar dan di perusahaan ini benar-benar berbeda.” 



“Apa yang berbeda, Kak?” tanya Nuri penasaran. 



“Andra yang aku kenal mengenakan kacamata dengan rambut yang sedikit berantakan. Lalu selalu mengenakan pakaian kasual. Penampilannya benar-benar berbeda dengan Direktur Rafandra yang berdiri di depanku tadi.”



“Kenapa Direktur melakukan itu?” Suci yang juga merasa penasaran kemudian bertanya lagi. 



“Stop!” sela Irene berusaha menghentikan percakapan Nuri dan Suci mengenai Direktur Rafandra dan kebohongan yang dibuatnya kepada Keila. Irene kemudian melihat ke arah Keila. “Lalu kenapa Kakak tadi marah? Apa Direktur berbuat sesuatu yang membuat Kakak marah?” 



“Ah, aku nyaris melupakannya. Lihat ini!” ujar Keila dengan sedikit berteriak sembari menunjukkan layar ponselnya yang berisi pesan dari Liam kepada ketiga rekannya. 




“Uwaaahhhhh. . .” teriak Suci terkejut. 



Sementara itu Nuri yang terkejut tidak bisa berkata apapun dan hanya memandang Keila dengan mata membulat. Irene yang melihat ekspresi luar biasa dari Suci dan Nuri, akhirnya mengambil pilihan yang sama dengan Nuri dan Suci: menghampiri tangan Keila. 



Irene kemudian membuat ekspresi yang sama dengan Nuri: tidak bisa berkata apapun karena rasa terkejutnya dengan mata yang bulat memandang Keila. 



“Apa-apain ini, Kak??” ujar Suci tidak percaya. “Setelah menjadi kekasih Direktur sekarang Kakak akan diantar pulang oleh Liam?? Wahhhhh. . . ini benar-benar seperti keberuntungan beruntun. Apa Kakak pernah menyelamatkan dunia di kehidupanmu yang sebelumnya??” 



Nuri yang telah mengatur rasa terkejutnya kemudian segera mengambil ponsel miliknya dan kemudian mencatat nomor ponsel milik Liam yang muncul di layar ponsel Keila. “Yoshhh. . . aku dapat nomor ponsel Liam. Dengan begini aku bisa PDKT dengannya. Kak, apakah permintaan Kakak masih berlaku?” 



Keila mengerutkan keningnya. “Permintaan apa??” 



“Bukankah Kakak memintaku untuk menemani Kakak??” ujar Nuri dengan mata liciknya. “Aku akan ikut dengan Kakak asal Liam juga ikut.” 



“Aku juga,” tambah Suci. “Aku juga ingin ikut.” 



“Teman macam apa kalian ini?” ujar Irene setelah mengatur rasa terkejutnya sendiri. “Tadi kalian mengatakan bahwa kalian semua sibuk dan tidak punya waktu untuk Kak Key, kenapa sekarang kalian berubah hanya karena tahu Liam akan mengantar Kak Key pulang??” 



“Siapa yang tidak ingin bertemu dengan Liam?” ujar Nuri. 



“Aku,” jawab Irene dengan cepat. 



Nuri melirik tajam ke arah Irene diikuti dengan Suci. “Kamu tahu sendirikan aku penggemar Liam selain penggemar Direktur muda kita. Tapi karena Direktur muda kita sudah punya Kak Key, maka harapanku satu-satunya adalah mendapatkan hati Liam.” 



“Itu benar,” tambah Suci.



Perdebatan panjang kemudian terjadi antara Irene Suci dan Nuri yang sebenarnya ketiganya adalah penggemar Liam. Hanya saja Irene tidak seperti Suci dan Nuri yang dengan mudahnya mengatakan bahwa dirinya adalah penggemar seseorang. Sementara itu Keila yang melihat perdebatan kecil itu, hanya bisa tersenyum kecil sembari berbicara di dalam hatinya. Mereka benar-benar. . . aku bersyukur punya rekan kerja seperti mereka. 



\# \# \#



Seperti pesan yang dikirimkan kepada Keila, Liam benar-benar menunggu di lobi perusahaan ketika jam pulang tiba. 



“Apa kamu sudah menungguku terlalu lama, Liam?” tanya Keila dengan sedikit gugup. 



Kegugupan Keila bukan berasal dari dirinya karena ini bukan pertama kalinya Keila berbicara dengan Liam. Kegugupan Keila berasal dari tiga rekan kerjanya yang ikut bersamanya turun dari lantai tiga bersama dan memandang Liam dengan tatapan seolah mereka melihat makanan mewah dan ingin menikmatinya seorang diri. 



“Belum lama, Nona Keila.” Liam tersenyum membalas Keila. Liam kemudian memberikan lirikan ke arah tiga wanita yang berdiri di samping kanan dan kiri Keila. “Mereka. . .” 



“Ah mereka,” Keila melihat ke arah kanan dan kirinya dengan terkekeh. “Mereka adalah rekan kerjaku sekaligus juniorku. Mereka ingin berkenalan denganmu, apakah kau keberatan, Liam?” 



Liam tersenyum lagi dan senyumannya berhasil membuat Suci, Nuri dan Irene meleleh. 



“Tentu saja tidak. Perkenalkan nama saya Liam, kepala asisten atau lebih tepatnya kepala sekretaris dari Direktur Rafandra.” Liam kemudian mengulurkan tangannya untuk berkenalan. 



Suci dan Nuri kemudian berebut untuk menjabat tangan Liam dan membuat Keila menutup wajahnya dengan tangannya karena malu dengan perbuatan Nuri dan Suci. 



“Aku Nuri.” 



“Aku Suci.” 



Setelah Liam menjabat tangan Nuri dan Suci bergantian, Liam kemudian mengulurkan tangannya ke arah Irene dan bertanya. “Lalu yang terakhir??” 



Irene kemudian menjabat tangan Liam dengan sedikit ragu-ragu karena merasa sedikit malu. “I-Irene.” 



Setelah menjabat tangan Irene, Suci dan Nuri, Liam kemudian tersenyum lagi dan berkata, “Salam kenal, Irene, Suci dan Nuri. Semoga kita bisa menjadi rekan yang baik.” 



Mendengar itu Suci dan Nuri tersenyum dengan lebarnya seolah mereka benar-benar tidak sanggup menahan senyuman hangat dari Liam yang merupakan ciri khasnya. Pesona Liam benar-benar berhasil membuat Suci, Nuri dan Irene kemudian pulang dengan senyuman bahagia di bibir mereka. 



Aku rasa Suci dan Nuri mungkin tidak akan mencuci tangan mereka seperti penggemar yang berjabat tangan dengan idola mereka. Aku penasaran dengan Irene. Keila membatin membayangkan ketiga rekannya ketika melihat ketiga rekannya berjalan pulang meninggalkan dirinya bersama dengan Liam. 



“Mari kita pulang, Nona Keila!” ajak Liam menunjuk ke arah tangga darurat.