
Pertemuan Keila dan dua sahabatnya: Bonita dan Hardan berakhir menjadi malapetaka ketika Andra muncul tanpa diundang dan mengaku sebagai kekasih Keila-untuk kesekian kalinya. Bonita dengan jelas memberikan dukungannya kepada Andra untuk menjadi kekasih Keila sementara Handra sebagai Keila dan juga suami Bonita, memberikan pilihan kepada Keila meski jauh di dalam hatinya setuju dengan pendapat Bonita: Keila dan Andra memang pasangan serasi.
“Bukannya kamu bilang hanya akan mengantarku?” tanya Keila dengan kesal ketika tiba di depan pintu apartemennya. Rasa kesal Keila tumpah begitu saja setelah selama perjalanan pulang duduk di mobil yang sama dengan Andra, Keila berusaha untuk menahan rasa kesalnya. “Kenapa kau tiba – tiba datang dan mengaku sebagai kekasihku?”
Sekali lagi, Keila menangkap senyuman di sudut bibir Andra ketika dirinya sedang mengomel kesal pada Andra. “Kamu tidak menjawab pertanyaanku, Andra?”
“Karena ini.” Andra kemudian menyerahkan kotak makan yang tadinya berisi sandwich kepada Keila.
“Ini?” Keila yang menerima kotak makan itu kemudian membuka dan melihat bahwa sandwich di dalamnya telah lenyap. “Bukannya ini artinya kamu sudah memakannya? Apa hubungannya ini dengan kedatanganmu tiba-tiba dalam acaraku tadi?”
“Aku tidak kenyang dengan makan sandwich ini saja. Aku datang ke sana untuk mendapatkan makanan lebih banyak.”
“. . .” Keila menatap Andra dengan tatapan tidak percaya dan mulut menganga karena tidak percaya alasan di balik kedatangan Andra di hadapan dua sahabatnya adalah karena sandwich buatannya tidak mengenyangkan perut Andra.
Sial. Keila mengumpat di dalam hatinya karena tidak bisa berkata-kata. Keila membuka pintu apartemennya dan hendak masuk ke dalam ketika ingatannya memutar sesuatu yang penting. “Tunggu sebentar. . .”
“Apa?”
“Mulai sekarang kau harus memanggilku dengan panggilan kakak. Usiaku tiga tahun lebih tua darimu, jadi sudah sewajarnya kamu memanggilku dengan kakak,” jelas Keila.
“Tidak mau.” Andra menjawab tanpa berpikir dua kali.
“Kenapa tidak mau???” Keila membulatkan matanya tidak percaya melihat Andra yang menolak dengan cepat.
“Tidak ada kekasih yang memanggil pasangannya dengan panggilan kakak.”
“. . .” Keila tidak bisa berkata-kata lagi ketika mendengar kata kekasih keluar dari mulut Andra untuk kesekian kalinya. Sial. Aku benar-benar kesal dengan status kekasih yang bahkan tidak pernah aku setujui ini. Keila yang kesal kemudian melangkahkan kakinya ke dalam apartemennya. “Aku lelah. Lakukan saja apa yang kamu mau.”
“Tunggu sebentar!”
“Apa lagi?” Keila melihat tajam ke arah Andra.
“Untuk bayaran karena telah mengantarmu pergi menemui dua sahabatmu, kuharap kau bisa menemaniku pergi ke suatu tempat akhir pekan ini.” Andra berkata dengan nada datarnya. “Dan kau tidak punya hak untuk menolak. Kau harus pergi denganku.”
Setelah mengatakan itu, Andra membuka pintu apartemennya dan masuk begitu saja. Sementara itu Keila sekali lagi hanya bisa diam membeku tanpa bisa memberikan perlawanan yang jelas kepada ucapan Andra yang terdengar lebih mirip dengan perintah mutlak.
“Sial! Dia selalu saja memutuskan sesuatu seenaknya sendiri.” Keila bergumam kesal menatap pintu apartemen Andra sembari menendangkan kakinya ke arah pintu apartemennya sendiri sebelum akhirnya masuk ke dalam apartemen miliknya.
Begitu masuk ke dalam apartemen, Keila yang benar-benar merasa kelelahan langsung melepaskan sepatunya secara sembarangan dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahnya. Keila kemudian membersihkan make up yang menempel di wajahnya sebelum akhirnya berbaring di sofa besar miliknya. Keila mengambil earphone miliknya dan memasangkannya ke ke dua telinganya dan satu bagian lainnya ke ponselnya. Keila kemudian memutar lagu kesukaannya Wish dan Dance with me dari Blackbeans.
Lagu mulai berputar dan Keila yang berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya kemudian mulai memejamkan kedua matanya. Kelelahan benar-benar membuat Keila jatuh terlelap dalam waktu singkat bersamaan dengan musik favoritnya yang berputar di kedua telinganya.
# # #
Entah berapa lama Keila tertidur, Keila tidak bisa mengingatnya. Yang Keila tahu, Keila terbangun dari tidurnya karena bau harum yang tercium dari indra penciumannya. Masih dengan tubuh yang kelelahan, Keila yang baru saja membuka kedua matanya kemudian menemukan tubuhnya sudah tertutup oleh selimut hangat. Merasa ada sesuatu yang janggal, Keila melepaskan earphone yang masih terpasang di kedua telinganya dan langsung bangkit dari sofa tempatnya tertidur.
“Kau sudah bangun?”
Keila mengerjap-ngerjapkan matanya ketika menatap pemilik suara yang sedang sibuk memainkan peralatan dapur miliknya tanpa seijin darinya.
Pemilik suara itu kemudian menghentikan kegiatannya ketika melihat Keila yang memandangnya dengan tatapan datar dan tidak menjawab pertanyaan darinya. Pemilik suara itu kemudian segera bergerak ke arah Keila dan menyentuh kening Keila.
“Apa kau merasa tidak enak badan?”
Jarak yang dekat membuat Keila dapat dengan jelas melihat pemilik suara yang tadi bertanya kepadanya dan sibuk memainkan peralatan dapur miliknya. “Aku baik-baik saja, Andra.”
Andra menurunkan tangannya di kening Keila. “Aku khawatir. Kau benar-benar. . . bagaimana bisa kamu tertidur dalam keadaan tanpa selimut dengan jendela apartemen yang terbuka? Kalau bukan karena aku yang datang mengecek, kamu mungkin sudah menggigil kedinginan dan mungkin besok kau sudah jatuh sakit.”
“Aku sudah terbiasa tidur dengan jendela terbuka. Jadi kau tidak perlu khawatir dengan kondisi tubuhku.” Keila menarik tubuhnya dan menjaga jarak tubuhnya yang terlalu dekat dengan Andra. “Apa yang kau lakukan di sini, Andra?”
“Aku lapar. Jadi aku datang mencarimu dan berniat menagih hotpot yang kamu bilang ingin buat. Tapi melihatmu masih tertidur, aku tidak tega. Jadi sebagai gantinya, aku memasak sesuatu yang lain.” Andra kemudian kembali ke dapur dan menyelesaikan masakannya yang sempat ditinggalkannya.
“Karena aku tidak bisa memasak hotpot, jadi untuk makan malam kubuatkan steak. Apa kau keberatan?”
Keila menggelengkan kepalanya. “Tidak. Itu juga bukan pilihan buruk untuk makan malam. Kau cocok dengan celemek itu. Kelak ketika menjadi suami kau harus membantu istrimu di dapur.”
“Ya.” Andra menganggukkan kepalanya. “Aku akan melakukannya jika istriku adalah kamu.” Andra kemudian meletakkan dua piring yang berisi daging steak di meja makan.
“Berhenti bermain-main denganku!” Keila yang menerima makan malam pertama buatan Andra, langsung mengiris dagingnya dan merasakan steak buatan Andra.
“Enak kan?” tanya Andra dengan wajah bangganya.
Keila yang tadinya ingin menjawab dengan kata enak, mengurungkan niatnya ketika melihat tatapan yang diarahkan padanya oleh Andra. “Bukankah seharusnya kau bertanya bagaimana rasanya?”
“Aku tidak akan bertanya seperti itu karena aku tahu steak buatanku pasti enak.”
Keila menelan lagi irisan dagingnya dengan wajah kesal karena sadar apa yang dikatakan oleh Andra memang benar adanya. Sial, dia benar. Steak ini benar-benar enak. Lain kali aku harus membuatnya memasakkan steak ini untukku.
Selama beberapa saat ketenangan menjadi teman yang menemani makan malam Keila bersama dengan Andra hingga tiba-tiba Andra membuka mulutnya dan berkata. “Lima hari ke depan, kau tidak perlu menyiapkan makan siang untukku. Cukup siapkan sarapan dan makan malam untukku dan letakkan di dalam kotak makan di depan pintu apartemenku.”
“Tiba-tiba sekali?” tanya Keila yang terkejut sekaligus merasa senang di dalam hatinya. “Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Ya. Aku punya pekerjaan penting yang harus aku lakukan. Apa kau keberatan melakukan apa yang aku minta?”
Keila menggelengkan kepalanya merasa senang karena pekerjaannya berkurang satu. “Tidak, aku tidak keberatan.”
Keadaan menjadi sunyi lagi dan hanya terdengar bunyi garpu dan pisau yang menyentuh sisi piring ketika memotong daging. Selama suasana tenang itu, Keila sesekali mencuri tatapan ke arah Andra karena ingin bertanya sesuatu kepada Andra.
“Apa ada yang ingin kamu tanyakan?” Andra tiba-tiba berkata dan nyaris saja membuat Keila menelan dagingnya bulat-bulat sebelum mengunyahnya.
“Uhuk.” Keila langsung mengambil air minumnya dan menatap Andra. “Bagaimana kau tahu jika aku mau bertanya sesuatu?”
“Caramu melihatku. Jadi apa yang ingin kamu tanyakan padaku?” tanya Andra sebelum melahap potongan terakhir dari daging steak miliknya.
“I-itu permintaanmu di akhir pekan, apakah akan tetap dilaksanakan?”
“Kenapa?” Andra menatap Keila dengan menaruh kedua tangannya di atas meja untuk menahan dagunya. “Apa kau punya rencana sendiri?”
“Aku memang punya rencana. Hanya saja rencanaku bisa kutunda hingga akhir pekan berikutnya jika harus menemanimu pergi.” Keila juga telah menyelesaikan makan malamnya. Potongan daging terakhir baru saja masuk ke dalam mulutnya.
“Kau punya rencana apa?”
Keila lebih dulu menelan potongan terakhir dagingnya sebelum menjawab pertanyaan Andra. “Aku ingin pulang ke rumah dan menemui ibuku. Jarang-jarang aku punya waktu untuk menghabiskan beberapa hari di rumah ibuku.”
“Kamu tetap akan pergi denganku akhir pekan ini. Jadi tunda dulu kepulanganmu hingga akhir pekan berikutnya.”
“Aku mengerti.” Keila meraih gelas dan meminum air di dalamnya.
“Aku akan menemanimu pulang menemui ibumu.”
Air yang baru setengah masuk ke dalam kerongkongan Keila, langsung menyembur keluar dan mendarat di wajah Andra karena Keila terkejut dengan ucapan Andra padanya. “Maafkan aku.” Keila langsung meraih tisu di dekatnya dan memberikannya kepada Andra untuk membersihkan wajahnya yang terkena semburan air di dalam mulut Keila.
Andra yang menerima tisu pemberian Keila kemudian membersihkan wajahnya yang basah oleh air dari mulut Keila tanpa berkomentar apapun kepada Keila.
“Kamu tidak marah?” tanya Keila yang merasa tidak enak.
“Tidak.” Andra selesai membersihkan wajahnya yang basah. “Aku tidak marah. Tapi sebagai gantinya, kamu harus mengajakku ke rumahmu sebagai gantinya.”
“. . .” Sekali lagi Keila hanya bisa diam membeku mendengar ucapan dari mulut Andra yang terdengar lebih mirip sebuah perintah mutlak yang tidak akan bisa dilawan.
Sial. Keila mengumpat di dalam hatinya menyadari kesalahan yang baru saja dibuatnya. Dia menemukan alasan untuk membuatku terpaksa membawanya ikut pulang ke rumahku. Sial!!!! Apa yang sebenarnya ada di dalam benak pria ini hingga terus menempel padaku?? Jika dia benar-benar ikut denganku pulang dan bertemu dengan ibu, alasan apa yang harus aku buat di depan ibu nanti?