30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
7. "KEKASIH" YANG TINGGAL DI SEBELAH 2



Dia menyelamatkan aku lagi. Tapi caranya menyelamatkanku membuatku mendapat masalah yang lain. Sekarang bagaimana aku menjelaskan kepada orang-orang jika orang ini bukanlah kekasihku? Kalimat itulah yang muncul di dalam benak Keila ketika melihat tangannya yang masih digenggam erat oleh Andra sejak keluar dari lift. Tapi tunggu, bukankah masalah ini datang karena dia yang memulainya? Sial. 


Begitu tiba di depan pintu apartemen Keila, Andra melepaskan genggaman tangannya di tangan Keila dan membuat Keila sadar jika sudah tiba di depan apartemennya. Cepat-cepat, Keila membuka ikatan jaket yang melingkar di pinggangnya dan mengembalikan jaket itu kepada pemiliknya. 


“Te-terima kasih untuk ini,” ucap Keila dengan sedikit enggan sembari memberikan jaket kepada Andra. 


“Lain kali jangan kenakan pakaian pendek lagi ketika keluar dari apartemen. Aku tidak suka jika orang-orang menatap tubuhmu dengan tatapan penuh nafsu.” 


Mendengar ucapan yang tidak biasa didengarnya, untuk sesaat Keila membeku dan tidak lama kemudian panik. “A-aku hanya mengenakan celana dengan panjang sedikit di atas lutut.” 


“Itu terlalu pendek. Orang-orang bisa melihat kakimu yang indah itu dan aku tidak suka hal itu.”


“Tapi kamu juga melihatnya sekarang, Andra!” ucap Keila panik mendengar ucapan Andra. “Apa bedanya kamu dengan orang-orang itu?” 


“Aku pengecualian, karena aku adalah kekasihmu.” 


Mendengar kata “kekasih” lagi, mata Keila membulat dan membesar. Keila melemparkan tatapan tajam ke arah Andra. “Sejak tadi kau bilang kekasih, sayang, bukankah sudah kukatakan jika aku ini bukan kekasihmu?” 


“Aku lapar!” Andra berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Keila. “Masakkan sarapan untukku sebagai bayaran untuk jaket ini.” 


Dia melakukannya lagi. Meminta balasan untuk sesuatu yang sudah dilakukannya untukku padahal aku tidak memintanya. Keila menyipitkan matanya ke arah Andra dengan tatapan penuh tanda tanya. “Sebenarnya apa maumu, Andra? Jaket ini. . . aku tidak memintanya untuk memakaikannya di tubuhku. Lalu kemarin, aku memang tidak melarangmu untuk menyebutku kekasihmu karena situasi yang kita berdua hadapi. Tapi sekarang situasi kita sudah berbeda. Tidak ada alasan bagiku untuk menjadi kekasihmu, Andra.” 


Andra mendekat ke arah Keila dengan tatapan mengintimidasi membalas tatapan Keila, “Katakan saja jika kamu tidak bisa memasak. Kenapa harus bicara panjang lebar jika sebenarnya kamu tidak bisa memasak??” 


Keila membulatkan matanya mendengar ucapan Andra yang seolah merendahkannya. “Kata siapa aku tidak bisa memasak??? Akan aku buktikan bahwa aku bisa memasak.” 


Keila kemudian berbalik dan memasukkan password pintu apartemennya. Setelah pintu terbuka, Keila menarik tangan Andra dan menarik Andra masuk ke dalam apartemennya. “Ayo masuk dan rasakan masakan yang akan aku masakkan untukmu.” 


Awalnya Keila mengajak masuk Andra ke apartemennya untuk membuktikan bahwa dirinya memang bisa memasak. Namun begitu keadaan apartemennya, Keila benar-benar menyesal telah berlagak di depan Andra. Sial. Aku lupa jika keadaan apartemenku seperti kapal pecah. Keila mengumpat di dalam hatinya sembari menepuk kepalanya sendiri melihat keadaan apartemennya. 


“I-ini. . .” Andra kesulitan untuk menggambarkan keadaan apartemen Keila yang sedang dilihatnya. “Apakah kau baru saja kerampokan?” 


Keila melirik Andra dan melihat senyuman kecil di bibirnya. Keila tahu bahwa kata rampok yang muncul dalam pertanyaan Andra adalah bentuk sindirannya kepada Keila.


 “Aku tidak kerampokan tapi memang seperti inilah keadaan apartemenku. Seperti kapal pecah.” Keila melirik lagi ke arah Andra dan melihat Andra tertawa kecil mendengar jawaban dari Keila. 


“Kau benar. Situasi ini memang benar jika menyebutnya dengan kapal pecah daripada kerampokan.” 


Keila melepaskan tangannya dari tangan Andra dan membereskan baju-baju dan buku-buku miliknya yang tergeletak di kursi sofa miliknya. “Duduklah di sini dan tunggu aku memasak sarapan.”


“Ya.” 


Keila berjalan ke dapurnya dan membuka kulkasnya sembari mencari bahan makanan untuk sarapannya dan juga sarapan untuk Andra. “Apa yang ingin kamu makan, Andra? Kau biasa sarapan dengan roti atau nasi?” 


“Nasi.” 


“Kalau begitu kita masak ini saja.” Keila kemudian mengambil beberapa sayuran, daging ayam, sosis dan telur dari dalam kulkasnya. Sebuah masakan sederhana tiba-tiba muncul di dalam benak Keila dan dengan cepat Keila langsung memulai kegiatan masaknya. Satu jam kemudian masakah Keila telah siap: capcay dengan potongan ayam, sosis goreng dan telur mata sapi. 


“Sudah matang, Andra.” Keila memanggil Andra dengan raut wajah bangga. 


Andra datang dan duduk di depan Keila dan langsung mencicipi masakan Keila terutama capcay buatan Keila. 


“Bagaimana?” tanya Keila dengan mata berbinar.


“Masih bisa dimakan.”


Sial. Keila mengumpat kesal sembari mengambil sendok miliknya untuk mencicipi capcay masakannya sendiri. Namun setelah mencicipi capcay buatannya, Keila sama sekali tidak merasakan rasa aneh dalam masakannya bahkan ini capcay masakannya kali ini benar-benar memiliki rasa yang sempurna. 


“Membuang-buang makanan adalah dosa besar, apakah kau tidak tahu?” Andra menjawab dengan nada santai sembari memakan makanannya dengan lahap. 


“Aku tahu itu.” Keila menjawab sembari memakan makanannya dan sesekali mencuri lihat ke arah Andra yang makan dengan tenang dan terlihat lahap. Mulutnya bilang rasa makanan ini buruk tapi dia makan dengan lahap. Dia benar-benar menyebalkan. 


Setelah sarapan bersama selesai, Keila kemudian dengan cepat mengusir Andra dari apartemennya. “Sudah selesai sarapan, sekarang kembalilah ke apartemenmu!” 


“Ya, aku akan kembali ke apartemenku. Tapi besok aku akan datang lagi.” 


“Kenapa?? Untuk apa??” Keila bertanya dengan nada berteriak karena terkejut dengan ucapan Andra. 


“Untuk meminta sarapan lagi. Aku akan sarapan setiap hari di sini.” 


“Tidak bisa. Aku sibuk.” Keila menjawab dengan berbohong. Keila hanya berharap untuk tidak bertemu lagi dengan tetangga barunya yang sangat menyebalkan itu. 


“Bukankah kamu tadi bilang jika kamu diskorsing dari tempat kerjamu selama sebulan ini?” 


“Bagaimana kamu tahu? Kamu mendengar ceritaku dengan Pak Jamal?” Keila terkejut Andra mengetahui fakta itu. 


Andra menganggukkan kepalanya. “Ya, aku mendengarnya. Jadi karena kau tidak punya pekerjaan selama sebulan ini, maka aku akan datang setiap hari untuk sarapan di sini.” 


“Tidak mau.” Keila bersikeras untuk menolak. 


“Lalu. . . bagaimana jika aku memberimu uang untuk berbelanja bahan makanan ketika aku makan di sini?” 


Keila menatap Andra dengan tatapan menyelidik. “Apa kau tidak punya pekerjaan?” 


“Aku bekerja dari rumah sebulan ini. Jadi aku punya banyak waktu luang. Bagaimana?” 


“Berapa yang kamu bayarkan untuk biaya makananmu selama seminggu?” Keila bertanya karena merasa tawaran itu tidaklah buruk. 


“Bagaimana jika satu juta per minggunya? Kau juga bisa mengajakku berbelanja jika kau keberatan untuk berbelanja seorang diri. Bagaimana?” 


Melihat jumlah uang yang cukup banyak bisa didapatkannya hanya dengan memasak, Keila membuang harga dirinya dan langsung menerima tawaran itu tanpa rasa ragu. “Aku setuju. Tapi kamu harus membantuku berbelanja karena berbelanja untuk makan dua orang adalah sesuatu yang berat?” 


“Tentu.” 


“Sudah, sekarang pulanglah! Aku masih harus membersihkan apartemenku yang terlihat seperti kapal pecah ini.” Keila mendorong Andra ke arah pintu apartemennya dan berusaha untuk membuat Andra keluar dari apartemen miliknya. 


“Apa lagi yang harus kamu bersihkan?”


“Apartemenku, bukankah kamu tadi setuju jika apartemenku sama dengan kapal pecah?” Keila menjawab dengan cepat. 


Kedua tangan Andra kemudian menyentuh kepala Keila dan membuat kepala Keila menoleh untuk melihat ke arah apartemennya. “Lihat sekarang! Apakah apartemenmu masih terlihat seperti kapal pecah?” 


Keila melongo melihat apartemennya yang sudah terlihat rapi dan bersih tanpa disadarinya. Keila benar-benar tidak percaya jika apartemennya yang tadi terlihat sangat berantakan, kini berubah dalam waktu singkat. “Sejak kapan kau-“ 


Suara pintu apartemen Keila terbuka dan ketika Keila menolehkan kepalanya lagi, Andra sudah lebih dulu berjalan keluar dari apartemen Keila sebelum Keila menyelesaikan ucapannya. 


“Aku akan meminta makan siang dan makan malam sebagai gantinya.” 


Sebelum pintu tertutup, Keila mendengar teriakan Andra yang meminta makan siang dan makan malam sebagai ganti dari membersihkan apartemen Keila. 


Tanpa di sadarinya, bibir Keila tersenyum meski hatinya sedang kesal. Dasar menyebalkan. Dia melakukan sesuatu tanpa kuminta dan meminta bayaran seenaknya sendiri. Dia benar-benar menyebalkan.