30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
46. PERMINTAAN 2



Nuri dan Suci memandang sengit ke arah Yuna yang datang ke ruangan mereka. 


“Berhenti memandang sengit padaku!” ujar Yuna ke arah Suci dan Nuri ketika menyadari tatapan Nuri dan Suci. “Jika ada yang ingin kalian katakan, katakan saja!” 



Suci dan Nuri yang tertangkap basah kemudian memalingkan wajah mereka ke arah lain dengan kesal sembari menggerutu kesal. 



“Sial. Tidak heran para pria di perusahaan ini berlomba-lomba untuk menjadi Yuna, dia punya body goals impian banyak wanita,” gerutu Nuri sembari melihat tubuhnya sendiri dan membandingkannya dengan tubuh Yuna. 



Setelah Nuri, giliran Suci yang bergumam kesal membandingkan dirinya sendiri dengan Yuna. “Sial. Bagaimana pun aku melihatnya, wajahnya memang benar-benar berkilau seperti tanpa noda sedikit pun. Tidak heran banyak pria di perusahaan ini yang akan melakukan apapun agar bisa menjadi kekasih Yuna.” 



“Ada apa kemari, Kak?” tanya Irene yang bangkit dari duduknya dan menyapa Yuna. 



Yuna menyodorkan map yang berisi berkas kepada Irene. “Ini. . aku lihat Pak Agung tidak ada di ruangannya, bisa tolong berikan ini kepada Pak Agung. Ini berkas penting dari Pak Bagus.” 



“Iya, Kak. Kebetulan Pak Agung baru saja keluar.” Irene menerima map yang disodorkan oleh Yuna. “Nanti akan aku sampaikan kepada Pak Agung.” 



“Oke. Trims kalau gitu.” 



Irene mengira Yuna akan beranjak pergi setelah memberikan apa yang seharusnya diberikan. Tapi nyatanya Yuna tetap berdiri di tempatnya dengan mata menyelidik seolah sedang mencari-cari sesuatu. Irene yang menyadari tatapan Yuna itu kemudian kembali menghampiri Yuna dan bertanya. “Apa masih ada lagi, Kak?” 



“Keila ke mana? Kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Yun masih dengan mata mencari. 



“Kenapa Kakak mencarinya?” tanya Irene. 



“A-aku hanya penasaran saja,” jawab Yuna yang kemudian menghentikan matanya untuk mencari sosok Keila. 



“Kebetulan Kak Kei-“ 



“Kak Key sedang menemui Direktur Rafandra! Kenapa memangnya?” sela Nuri dengan berteriak. 



Irene yang mendengar teriakan dari Nuri kemudian membalik tubuhnya dan melemparkan tatapan tajam ke arah Nuri. 



“. . .Apa Irene? Kenapa kau menatapku seperti itu?” 



“K-kau Nuri. . .” Irene belum menyelesaikan ucapannya ketika merasakan aura amarah dari Yuna yang tepat di belakangnya. 



“Sudah kukatakan bahwa Direktur Rafandra adalah orang yang kukejar, wanita itu benar-benar. . .”teriak Yuna kesal. 



Irene kemudian membalik tubuhnya dan melihat Yuna sudah berlari ke arah lift. Irene kemudian melihat ke arah Nuri sejenak dan mengumpat, “Sial, kau Nuri! Apa yang baru saja kau katakan??” Irene berlari menyusul Yuna dan berusaha untuk menghentikan Yuna menaiki lift. Namun Irene terlambat mengejar Yuna. 



Suci dan Nuri yang terkejut melihat Irene untuk pertama kalinya mengumpat kemudian menyusul Irene dengan wajah kebingungan. 



“Kenapa kau mengumpat padaku?” tanya Nuri bingung. “Apa yang salah dengan yang aku katakan?” 



Irene mengabaikan pertanyaan Nuri dan kemudian berlari ke arah tangga darurat untuk menyusul Yuna. Suci dan Nuri yang tidak mengerti kemudian mengikuti Irene begitu saja tanpa tahu maksud dari tujuan Irene mengejar Yuna. 



“Begitulah yang terjadi Kak Key. Sekali lagi mohon maafkan mulutku ini yang berbicara tanpa berpikir lebih dulu,” ucap Nuri dengan wajah bersalah. 



Keila kemudian memandang ke arah Nuri dengan tersenyum. Kedua tangan Keila kemudian terbuka lebar. “Kemari.” 



Ketiga rekan Keila yang menyadari kedua tangan Keila yang terbuka lebar untuk menerima pelukan, kemudian segera berlari mendekat ke arah Keila. Irene, Suci, Nuri dan Keila kemudian berpelukan bersama. 



“Aku tidak pernah menyalahkan kalian. Aku tidak marah pada kalian, justru aku berterima kasih kepada kalian. Kalian benar-benar temanku yang berharga,” ujar Keila. 



Suci, Nuri dan Irene yang mendengar ucapan Keila kemudian ikut tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Kami memang pendukung nomor satu dari Kakak. Jangan lupakan itu Kak Key.” 



“Terima kasih,” ujar Keila. 



Ting. . .




Keila bersama dengan Irene, Suci dan Nuri kemudian melepaskan pelukan mereka sembari memasang senyum di wajahnya. 



“Kami akan jelaskan ini, Pak,” ujar Keila dengan senyuman di wajahnya. 



\# \# \#



Berita tentang pertengkaran di bagian Direktur Rafandra kemudian menyebar dengan cepat bahkan di forum perusahaan. Berita dengan judul perebutan Direktur Rafandra yang tampan menjadi hot topik dan langsung dibaca nyaris seluruh karyawan hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Lalu berita kedua di bawah berita perebutan Direktur Rafandra adalah berita kekasih Direktur Rafandra yang merupakan satu dari beberapa karyawan yang terlibat dalam insiden Perebutan Direktur Rafandra dengan inisial K.



Tidak hanya itu berita sebelum ini mengenai karyawan K yang memiliki hubungan dengan Direktur kembali mencuat dan berada di posisi ketiga melengkapi berita yang berada di posisi kedua. 



“Kalian benar-benar luar biasa,” puji Pak Agung dengan wajah tidak percaya kearah Suci, Nuri dan Irene. “Aku mungkin tidak akan marah jika kalian menghentikan Yuna yang menyerang Keila. Tapi kenapa kalian juga menyerang Yuda dan Baron yang merupakan asisten Direktur??” 



Suci, Nuri dan Irene yang duduk di samping Keila hanya bisa menundukkan kepalanya ketiak mendengar omelan dari Pak Agung. 



“Bisakah Bapak membantu mereka agar mereka tidak mendapat hukuman yang berat dari perusahaan?” tanya Keila dengan nada memohon. “Mereka melakukan itu untuk menolongku, Pak.” Keila berusaha untuk membela tiga rekan kerja sekaligus tiga juniornya. 



Pak Agung melirik Keila dan menatap tajam ke arah Keila sebelum akhirnya melihat ke arah Suci, Nuri dan Irene secara bergantian. “Suci, Nuri, Irene, kalian keluar lebih dulu. Ada yang harus aku bicarakan dengan Keila.” 



Mendengar perintah dari Pak Agung, Suci bersama dengan Nuri dan Irene langsung melihat ke arah Keila dengan wajah khawatir dan cemas.



“Bapak tidak akan membuat Kak Keila diskorsing karena perbuatan kami bukan?” tanya Irene khawatir. 



“Tenang saja, aku tidak akan memberi hukuman kepada orang yang menjadi korban,” ujar Pak Agung. “Kalian bertiga keluar lebih dulu dan renungkan perbuatan kalian! Kuharap kalian tidak akan melakukan hal ini lagi di masa depan. Ingat itu!” 



“Kami mengerti, Pak.” Irene, Suci dan Nuri menjawab bersamaan sembari menundukkan kepalanya sebelum keluar dari ruang rapat di mana Pak Agung sedang menginterogasi. 



Kreeet. . . 



Setelah Irene, Suci dan Nuri keluar, Keila yang merasa khawatir dengan ketiga rekannya itu kemudian bertanya kepada Pak Agung. “Kumohon Pak, jangan beri hukuman yang terlalu berat untuk mereka. Irene, Suci dan Nuri melakukan itu untuk menolongku.” 



Pak Agung menghela napas panjang dan kemudian duduk di depan Keila. “Tenang saja, Key. Aku kenal mereka bertiga, meski Suci dan Nuri punya mulut yang sulit dikendalikan tapi mereka tidak akan menyerang orang lain jika orang lain tidak memulai lebih dulu. Sekarang masalahnya ada pada kamu, Key.” 



Mata Keila membulat ketika mendengar kalimat terakhir dari Pak Agung. Keila sadar apa yang sedang dimaksud oleh Pak Agung saat ini. 



“. . . Jelaskan padaku sekarang, kenapa kamu menemui Direktur Rafandra?” 



Keila kemudian menceritakan rencana selama beberapa waktu ini bersama dengan Irene, Suci dan Nuri. Keila juga menceritakan tentang percakapannya dengan Liam yang menjadi alasan dari niatnya untuk menemui Direktur Rafandra. 



“Jadi sudahkah kamu dapatkan jawabannya Keila?” tanya Pak Agung. 



Keila menganggukkan kepalanya. “Sudah, Pak. Pengirim buket bunga itu benar-benar Direktur Rafandra.” 



“Lalu. . .” tanya Pak Agung lagi. “Bagaimana kamu bisa berakhir menjalin hubungan dengan Direktur Rafandra dan tidak mengenalinya sebagai Direktur perusahaan ini?” 



“Bapak tahu bukan, kebiasaan burukku yang tidak peduli dengan orang yang tidak kukenal?” 



Pak Agung menganggukkan kepalanya. “Aku tahu.” 



“Aku benar-benar tidak tahu jika kekasih yang selama beberapa bulan ini bersamaku adalah Direktur Rafandra yang selalu dibicarakan oleh Irene, Suci dan Nuri. Terlebih lagi, penampilan direktur ketika berada di luar sungguh berbeda dengan penampilannya ketika berada di perusahaan. Kalau bukan karena sesuatu yang pernah tidak sengaja aku lakukan di masa lalu, mungkin aku juga tidak akan mengenali direktur saat tadi bertemu.” Keila berusaha memberi penjelasan kepada Pak Agung. 



“Lalu bagaimana kamu bisa bertemu dan mengenal Direktur Rafandra?” tanya Pak Agung. 



“Seperti ucapanku sebelumnya, dia adalah orang yang menolongku ketika diserang oleh Noah dan juga tetangga yang tinggal tepat di samping apartemenku.” 



Pak Agung tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Keila. Kebetulan hanya bisa dikatakan kebetulan jika hanya terjadi satu kali. Tapi jika kebetulan itu terjadi lebih dari satu kali maka itu tidak lagi disebut kebetulan. Kemungkinan itu bisa disebut dengan takdir atau kemungkinan lain adalah rencana seseorang.