
Setelah dua jam perjalanan yang penuh dengan pemandangan indah sepanjang perjalanannya, Keila dan Andra akhirnya tiba di pantai tujuan mereka. Wajah Keila benar-benar bahagia ketika melihat pemandangan yang diperlihatkan pantai pada dirinya ketika tiba.
“Kau suka?” tanya Andra yang mengeluarkan koper di bagasi mobil miliknya.
“Ehm, aku suka. Suka sekali,” jawab Keila dengan senyuman lebar di bibirnya. “Harusnya kau bilang jika kita akan pergi kemari. Pantai ini terkenal dengan pemandangan sunrise dan sunsetnya yang indah.”
“Kau tidak tahu istilah surprise?”
“Tentu saja aku tahu itu. Tapi kita hanya tetangga, tidak perlu ada istilah surprise yang biasanya terjadi pada sepasang kekasih.” Keila menjawab dengan mata yang tidak bisa lepas dari pemandangan pantai yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Siapa bilang kita hanya tetangga?” Andra berjalan mendekat ke arah Keila dengan dua koper di kedua tangannya.
“Aku.” Keila menjawab dengan enteng.
“Tapi. . . aku tidak bilang jika kita hanya tetangga. Aku adalah kekasihmu, Key.”
Mendengar ucapan Andra, Keila yang tadinya melihat bahagia ke arah pantai kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Andra dan mengubah tatapannya menjadi sorot mata tajam. “Lihat! Kau merusak suasana lagi dengan ucapanmu itu, Andra. Kenapa kau senang sekali membuat situasi canggung di antara kita berdua?”
“Aku tidak merasa canggung sama sekali. Hanya kau yang merasakannya, Key.” Andra menjawab dengan tenang. Sementara Keila yang merasa canggung hendak memukul lengan Andra, namun niat Keila gagal ketika Andra lebih dulu berjalan meninggalkannya dengan membawa dua koper yang mana salah satunya adalah milik Keila.
Andra yang memimpin jalan kemudian membawa Keila pada sebuah bangunan vila yang berada tidak jauh dari pantai. Keila mengikuti Andra begitu saja tanpa banyak berkomentar karena hatinya sedang senang melihat vila indah yang menghadap ke arah pantai yang memiliki pemandangan yang indah.
“Kamu ingin memilih kamar mana?” tanya Andra menghentikan langkahnya di pusat ruangan vila.
“Kamu membolehkanku memilih kamar yang aku suka?” tanya Keila balik tidak percaya.
“Cepatlah memilih sebelum aku berubah pikiran.”
Mendengar ucapan Andra, Keila langsung berlari memeriksa dua kamar yang ada di dalam vila itu dan setelah menimbang – nimbang, Keila memilih kamar yang ada di sebelah kiri sebagai kamar tidurnya.
“Yang ini.” Keila menunjuk kamar yang berada di sisi kiri.
Andra tersenyum melihat Keila. “Sudah kuduga kamu akan memilih kamar itu.” Andra kemudian meletakkan koper milik Keila di kamarnya dan setelah itu, Andra segera ke kamarnya sendiri untuk meletakkan koper miliknya sendiri.
Andra kemudian melepas pakaian yang dikenakannya untuk mengganti pakaiannya. Masih dengan bertelanjang dada, Andra membongkar koper miliknya untuk menemukan setelan jas miliknya.
“Setelah ini kita mau ke-“ Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Keila langsung menyerobot masuk ke dalam kamar Andra di saat Andra masih bertelanjang dada. Keila yang merasa melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat, spontan langsung membalikkan badannya. “Maaf, aku tidak sengaja.”
“Apa kau sudah tidak sabar menghabiskan waktu bersama dengan kekasihmu ini?” Andra menggoda Keila sembari mengganti pakaiannya.
“Bu-bukan begitu. Sudah kukatakan, aku tidak sengaja. Jangan berpikir macam-macam, Andra!” Keila membalas ucapan Andra dengan sedikit gugup karena tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Sial, di saat seperti ini jantungku ini benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Berhentilah berdetak lebih kencang kepada orang yang suka mengerjaimu!
“Kamu bisa berbalik, Keila.”
Keila berbalik sesuai dengan ucapan Andra dan terkejut ketika melihat Andra yang biasanya berpakaian santai kini mengenakan setelan jas. Keila mengumpat di dalam hatinya. Sial. Bagaimana bisa orang yang begitu menyebalkan seperti dirinya ini benar-benar terlihat berbeda dengan setelan jas itu? Apakah mataku sudah kehilangan kemampuannya untuk menilai pria tampan? Atau mungkin aku terlalu terbawa suasana karena hubungan dekatku dengannya? Keadaan ini, benar-benar menyebalkan.
“Aku tampan bukan?”
Andra melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Hingga nanti jam lima sore, kamu bebas melakukan apapun. Aku ada meeting hingga jam lima sore, setelah itu aku punya banyak waktu bebas hingga besok sebelum kita pulang.”
“Benarkah?” Keila bertanya dengan wajah bahagia. “Aku bebas melakukan apapun?”
“Ya.” Andra mengambil sepatu miliknya yang sesuai dengan setelan jas miliknya dan membawanya keluar dari kamarnya untuk dipasangkannya di kedua kakinya. Tanpa sadar, Keila mengikuti Andra berjalan keluar dari kamarnya. Keila memandang Andra dengan mata menyipit dan hal itu membuat Andra merasa sedikit terganggu. “Kenapa kamu memandangku seperti itu? Apa aku tidak pantas mengenakan pakaian seperti ini?”
“Tidak.” Keila menggelengkan kepalanya dan kemudian mendekat ke arah Andra. Tangan Keila kemudian menyentuh kepala Andra dan menyilakan rambut Andra yang sedikit berantakan ke arah belakang. Tindakan Keila itu membuat rambut Andra yang sedikit menutupi keningnya kemudian memperlihatkan keningnya. “Jika kamu sedikit menata rambutmu seperti ini dan melepas kacamatamu, mungkin kamu akan terlihat jauh lebih tampan. Pasti banyak wanita akan tergila-gila melihatmu dengan tatanan rambut seperti itu.”
Wajah Keila yang mendekat ke wajah Andra, membuat Andra dapat dengan jelas menatap mata Keila yang sedang memperhatikan wajahnya. “Jika aku melakukan itu, apakah kau akan mengenaliku? Dan jika aku melakukan hal itu, apakah kamu tidak akan marah ketika tahu banyak wanita yang mungkin akan mengejarku?”
Merasa tatapan Andra padanya memberikan sensasi yang aneh, Keila menarik wajahnya dan tangannya menjauh dari wajah Andra. Untuk kesekian kalinya, Andra berhasil membuat Keila panik dan gugup hanya dengan ucapannya.
“A-apakah ada banyak wanita yang mengejarmu?” Keila berbalik melemparkan pertanyaan kepada Andra.
“Kurasa memang begitu. Bonita sahabatmu saja tahu betapa tampannya aku ini. Terkadang aku benar-benar merasa heran, kenapa hanya kau yang tidak tergila-gila kepadaku seperti kebanyakan wanita lainnya?” Andra menjawab dengan tatapan mata menggoda Keila bersamaan dengan senyuman nakal di bibirnya.
Untuk kesekian kalinya, Keila dibuat terkejut dan panik di saat yang bersamaan karena ucapan yang keluar dari mulut Andra. “Li-lihat! Kau benar-benar menyebalkan, Andra. Bagaimana bisa kau dengan mudahnya membanggakan dirimu yang tampan itu?”
Senyuman di bibir Andra semakin lebar dan semakin terlihat jelas oleh Keila ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Keila. “Kenapa senyumanmu semakin lebar? Apa ada yang salah dengan ucapanku?”
“Tidakkah kau sadar jika kau baru saja mengatakan bahwa aku ini tampan?”
Pertanyaan Andra itu benar-bena memukul telak Keila tepat di jantungnya. Sial, aku salah bicara. Tadi jantungku yang tidak bisa diajak kerja sama dan sekarang mulutku justru mengatakan sesuatu yang tidak harusnya kukatakan. Keila mengumpat untuk kesekian kalinya dalam beberapa waktu karena Andra.
Andra bangkit dari duduknya setelah selesai memasang sepatu miliknya. Andra kemudian berjalan mendekat ke arah Keila. Di sisi lain Keila yang merasa tindakan Andra itu sebagai tindakan berbahaya yang harus dihindarinya, mengambil langkah mundur ketika Andra mendekat kepadanya. Keila terus melangkah mundur hingga tubuhnya nyaris menabrak dinding.
Andra yang melihat Keila nyaris saja melukai kepalanya karena terus melangkah mundur, kemudian menjulurkan tangannya dengan cepat ke bagian belakang kepala Keila untuk melindungi Keila.
“Apa yang kau lakukan?” Keila bertanya karena melihat posisi mereka yang dirasanya sebagai posisi berbahaya yang membuatnya orang lain salah paham ketika melihatnya. Keila menatap tangan Andra yang terjulur hingga ke bagian belakang kepalanya.
Andra menarik tangannya. “Ada yang ingin aku katakan.”
“Apa?”
“Meski banyak wanita datang mengejarku dan berusaha mengambil hatiku, aku tidak akan tertarik pada mereka. Bagiku hanya ada satu wanita menarik di dunia ini dan wanita itu adalah kamu.”
Lagi-lagi, dia membuatku tidak bisa berkata-kata. Keila membeku mendengar ucapan Andra yang baru saja dikatakan padanya.
“Aku pergi dulu. Hati-hati jika kau ingin bermain di pantai.” Andra membelai kepala Keila dengan lembut sebelum akhirnya pergi menuju ke tempat meetingnya.
Begitu melihat Andra yang sudah menghilang dari jangkauan pandangannya, Keila langsung terduduk lemas di tempatnya tadi berdiri. Dag. . . dig. . . dug. . .jantung Keila berdetak semakin kencang dan kali ini Keila benar-benar tidak bisa mengendalikannya lagi.
Sial. Keila kembali mengumpat kesal menyadari detak jantungnya yang cepat. Sepertinya, aku bertemu dengan pria berbahaya lagi dan kali ini sepertinya lebih berbahaya dibandingkan dengan Noah.