
“Ada apa denganmu hari ini, Key?” Pak Agung bertanya kepada Keila ketika melihat Keila yang berwajah sedikit pucat ketika sedang mengerjakan pekerjaannya.
Keila menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja, Pak. Mungkin hanya kurang tidur saja. Setelah sebulan tidak bekerja, tubuhku sepertinya masih belum bisa beradaptasi kembali dengan caraku bekerja seperti sebelum aku liburan.”
“Kamu yakin hanya itu saja, Key?” Pak Agung merasa khawatir.
Keila menganggukkan kepalanya. “Ya, Pak. Hanya itu saja. Apakah wajah saya terlihat pucat hingga Bapak mengkhawatirkan saya?”
Pak Agung mengedipkan satu matanya. “Sedikit. Itu sebabnya aku khawatir. Seminggu kemarin kamu yang baru masuk kerja setelah sebulan skorsing, sepertinya terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja. Kamu pulang terlalu malam untuk menyelesaikan banyak tugasmu yang sempat tertunda. Karena itu, aku merasa khawatir.”
“Maafkan saya jika membuat Bapak khawatir, tapi saya hanya kurang tidur saja, Pak. Terima kasih untuk perhatian Bapak.” Keila tersenyum ke arah Pak Agung dan berusaha untuk tidak membuat Pak Agung merasa khawatir lagi.
Senyuman Keila itu berhasil membuat kekhawatiran Pak Agung hilang namun tiga rekan junior Keila yang tidak sengaja mendengar pertanyaan Pak Agung itu justru merasa khawatir dengan Keila. Di jam makan siang, dua rekan Keila itu kemudian bergantian mengajukan pertanyaan Keila.
“Kakak baik-baik saja?” Suci bertanya pertama kali.
“Benar, Kak. Apa Kakak baik-baik saja? Wajah Kakak pucat hari ini.” Nuri yang tidak kalah khawatir juga mengajukan pertanyaan kepada Keila.
Keila melahap makan siangnya dengan tenang dan setelah menelan makanannya, Keila menjawab pertanyaan dari Suci dan Nuri. “Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir. Aku hanya kurang tidur saja selama akhir pekan kemarin.”
“Kakak yakin?” tanya Suci yang masih khawatir.
Keila menganggukkan kepalanya. “Ya, Suci. Aku hanya kurang tidur saja. Sudah jangan khawatirkan aku dan makan makanan kalian.”
Seperti biasa Keila bisa mengelabui Suci dan Nuri dengan mudah, namun Irene yang lebih cerdas berbeda. Setelah selesai makan siang, Irene dengan sengaja meminta Keila untuk mengantarnya ke toilet dan berbicara empat mata saja dengan Keila.
“Kakak sedang berbohong. Wajah pucat Kakak ini bukan karena Kakak tidak bisa tidur selama beberapa hari,” jelas Irene. “Kakak sedang ada masalah bukan?”
Keila tersenyum mendengar ucapan Irene yang cerdas dan menemukan kebohongan yang dibuatnya seharian ini. “Sepertinya aku tidak bisa membohongimu, Irene. Kenapa otakmu itu cerdas sekali? Jika bisa, aku ingin memintamu untuk membagi sedikit kecerdasanmu itu padaku.”
“Di kehidupan selanjutnya jika Kakak lahir sebagai kakak kandungku, aku akan dengan senang hati meminta kepada Tuhan untuk membagi sedikit kecerdasanku ini kepada Kakak.” Irene menjawab dengan wajah tenangnya.
“Kenapa harus jadi kakak kandungmu dulu?” Keila bingung.
“Karena jika kakak tidak terlahir sebagai kakak kandungku dan mendapatkan sedikit kecerdasanku, kakak akan menggunakannya untuk mengerjaiku.” Kali ini Irene menjawab dengan senyuman di wajahnya. “Aku hanya bercanda, Kak. Jadi masalah apa yang sedang Kakak hadapi hingga pucat begini? Apa mungkin Kakak berhutang dalam jumlah yang besar?”
“Heh.” Keila terkekeh mendengar pertanyaan Irene. “Kamu tahu dengan baik, aku paling anti punya hutang. Bahkan mungkin, aku adalah satu-satunya orang dalam departemen kita yang tidak memiliki kartu kredit.”
“Lalu kalau bukan hutang, masalah apa yang menimpa Kakak?” Irene penasaran. “Mu-mungkinkah Kakak bertemu dengan pria yang tidak baik seperti Noah lagi?”
“Heh, mendengar ucapanmu itu sepertinya mantan-mantan kekasihku sebelum-sebelum ini adalah orang-orang yang tidak baik?” Keila terkekeh lagi sembari benaknya berpikir mengenai ucapan Irene. Pada kenyataannya ucapanku memang benar. Semua mantan kekasihku selama ini adalah sumber masalah dalam hidupku. Noah dengan sikap cemburunya yang tinggi, Rey dengan sikapnya yang suka berhutang ke sana kesini, Angga yang merupakan perokok dan peminum yang berat, dan masih banyak lainnya. Kenapa aku baru sadar jika di antara banyak pria yang kukenal, Andra adalah satu-satunya pria yang memperlakukanku dengan baik?
“Kak?? Kenapa Kakak menangis?”
Pertanyaan Irene itu kemudian membuyarkan lamunan Keila. “Aku menangis?”
“Apa Kakak tidak sadar jika air matamu mengalir?” tanya Irene khawatir.
Keila mengusapkan tangannya ke wajahnya dan memastikan jika wajahnya basah oleh air mata. “Ah benar, aku menangis lagi tanpa aku sadari.”
“Apa yang terjadi pada Kakak?” Irene benar-benar khawatir dan cemas melihat air mata Keila yang jatuh tapi Keila sendiri tidak menyadarinya. “Kakak pasti ada masalah. Bagaimana Kakak menangis tanpa disadari seperti ini?”
Keila hendak membuka mulutnya setelah menghapus air mata di wajahnya, namun kedatangan Yuna menghentikan niat Keila untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.
“Ah kenapa aku datang kemari dan bertemu dengan sumber masalah,” ledek Yuna yang melirik Keila di samping Irene.
“Apa maksudnya dengan sumber masalah?” Irene yang tidak terima membalas ucapan Yuna sebelum Keila membuka mulutnya.
Irene yang biasanya diam dan tidak banyak bicara, kali ini benar-benar kehilangan ketenangannya dan berniat membalas ucapan Yuna menggantikan Keila. Namun dengan cepat Keila menghentikan niat Irene itu dan menarik Irene keluar dari toilet wanita.
“Jangan balas ucapannya. Kamu hanya buang-buang tenaga saja, Irene.” Keila memaksa Irene untuk berjalan pergi dari toilet dengan menarik tangannya.
“Tapi, Kak. Wanita itu benar-benar tidak tahu diri! Noah menyerang Pak Agung itu bukan murni kesalahan Kakak. Wanita itu juga bersalah.” Irene masih tidak terima.
Tapi Keila tidak membalas ucapan Irene dan terus menarik tangan Irene hingga tiba di mana Suci dan Nuri menunggu. Kehebohan langsung terjadi ketika Suci dan Nuri melihat Irene yang kehilangan ketenangannya demi membela Keila. Irene yang sedang kesal kemudian menceritakan apa yang diucapkan Yuna kepada Keila dan membuat Suci dan Nuri ikut merasa kesal.
“Dasar wanita ular!” teriak Suci dan Nuri bersamaan, yang ikut merasa kesal.
Butuh waktu lama bagi Keila untuk menenangkan tiga rekan kerjanya itu dari rasa kesal mereka terhadap Yuna. Mulut ketiga rekan Keila itu tidak henti-hentinya mengeluarkan umpatan untuk Yuna bahkan ketika jam istirahat sudah berakhir. Pak Agung bahkan harus menegur Suci, Nuri dan Irene beberapa kali karena umpatan mereka yang belum berhenti.
Melihat ketiga rekannya mendapat teguran, Keila merasa tidak enak karena telah menyusahkan ketiga rekannya itu. Tapi jauh di dalam hatinya Keila merasa berterima kasih kepada tiga rekannya itu yang selalu membela dirinya bahkan ketika rekan-rekan lainnya menyalahkan Keila dan percaya dengan ucapan Yuna. Kalian ini. . . harusnya aku yang marah, tapi aku sedang tidak punya tenaga untuk marah pada Yuna. Terima kasih karena telah menggantikanku untuk marah pada Yuna.
\# \# \#
Jam kerja berakhir. Seperti biasa, Suci, Nuri dan Irene pulang lebih dulu karena pekerjaan mereka yang telah selesai dan meninggalkan Keila yang masih mengerjakan tugas-tugasnya. Keila sengaja mengulur waktunya untuk pulang lebih lambat dari rekan-rekan kerjanya karena Keila tidak ingin pulang dalam keadaan ramai.
Satu jam setelah jam kerja berakhir, Keila mulai membereskan meja kerjanya dan bersiap pulang. Dengan memasang earphone di kedua telinganya-seperti kebiasaannya, Keila mulai berjalan menuju lift dan turun ke lantai dasar.
Pintu lift terbuka dan memperlihatkan pada Keila pemandangan di luar gedung perusahaan ketika hujan sedang turun. Keila berjalan keluar lift dan keluar gedung perusahaan sembari mengumpat dalam hatinya. Sial, hujan turun. Hari ini, aku benar-benar sial. Hariku kacau karena wajahku yang pucat. Hariku kacau karena ucapan Yuna yang membuat ketiga rekanku mengumpat terus menerus hingga mendapatkan teguran. Dan sekarang hariku kacau lagi karena aku tidak membawa payung di saat hujan turun.
Keila menimbang-nimbang langkahnya untuk terus maju atau menunggu hujan reda. Keila yang awalnya ingin menunggu hujan turun, tiba-tiba melihat bayangan Andra lagi berdiri di sampingnya dan bertanya kepada Keila.
“Lagu apa yang sedang kamu dengarkan kali ini?”
Kesal dengan bayangan Andra yang berulang kali muncul dan mengganggu perasaannya, Keila akhirnya memilih untuk menerobos hujan yang turun. Bukannya berlari dengan cepat menuju ke tempat pemberhentian bis, Keila justru berjalan santai dan membiarkan bajunya basah oleh hujan. Sial, kenapa yang berputar adalah lagu ini?
Keila baru saja mengumpat dalam benaknya karena lagu yang saat ini berputar di telinganya adalah lagu yang didengarkannya bersama dengan Andra terakhir kali. Keila kemudian teringat dengan ucapan Andra ketika sedang mendengarkan lagu itu bersama dengan dirinya.
“Kuharap, aku bisa memiliki hubungan seperti lagu itu. Memiliki kekasih dan cintanya akan bertahan selamanya seperti lirik lagu itu dan aku harap kekasih itu adalah kamu, Keila.”
Langkah kaki Keila kemudian terhenti. Bersamaan dengan turunnya hujan yang membasahi wajahnya, air mata Keila mengalir lagi. Namun tiba-tiba air hujan tidak lagi jatuh ke arahnya dan membuat Keila menengadahkan kepalanya melihat ke langit. Sesuatu berwarna hitam berada di atas kepalanya. Payung? Siapa yang sedang memayungiku?
Keila kemudian berbalik dan melihat sosok yang sama lagi seperti sebelum-sebelumnya: Andra.
“Kau wanita usia 27 tahun, kenapa masih hujan-hujanan seperti anak usia tujuh tahun? Apa kau tidak khawatir jika karena hujan ini kau bisa sakit?”
Keila mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan berusaha memastikan jika penglihatannya tidak salah. “Andra??”
“Ya, ini aku.” Andra menjawab dengan nada kesalnya. “Apa kau tidak dengar ucapanku barusan? Kenapa kau hujan-hujanan begini, Key?”
Mendengar ucapan Andra yang berbeda dari bayangan Andra yang sebelum ini selalu muncul, air mata Keila kembali turun dan jatuh. Keila menangis dengan senyuman di bibirnya menatap Andra dan membuat Andra yang melihatnya semakin merasa cemas.
“Key? Kenapa kau menangis? Ada apa denganmu? Apa sesuatu terjadi?” Andra mendekatkan dirinya melihat Keila yang menangis. Satu tangan Andra yang bebas kemudian mengusap air mata Keila yang terus jatuh. “Key, kenapa kau menangis?”
“Menyebalkan. Ini sungguh menyebalkan! Aku merindukanmu setelah memintamu pergi. Bayanganmu muncul di mana-mana dan mengulang semua ucapan yang pernah kamu katakan padaku. Hatiku sakit setelah kamu pergi dan begitu melihatmu muncul, sakit di hatiku tiba-tiba hilang. Bagaimana ini, Andra? Bukankah ini benar-benar menyebalkan?” Keila berkata sembari menangis.
Mendengar ucapan Keila, Andra langsung membuang payung yang genggamnya untuk melindungi tubuhnya dan tubuh Keila dari hujan. Andra langsung memeluk tubuh Keila dengan erat. “Ini memang menyebalkan. Tapi aku sangat senang mendengarnya, Keila. Aku senang mendengar kamu mengatakan kamu merindukanku. Aku senang mengetahui bahwa kamu juga menyukaiku seperti dugaanku selama ini. Kenapa butuh waktu lama buatmu untuk menyadarinya, Key?”
“Huhuhu. . . Kau benar-benar menyebalkan, Andra!” Keila masih terus menangis dalam pelukan Andra dengan hujan yang masih terus turun.
“Ya, aku memang menyebalkan. Aku menyebalkan karena membuatmu jatuh cinta padaku. Apa kamu puas, Keila?” Andra menepuk-nepuk punggung Keila yang basah. “Sekarang berhentilah menangis. Kita harus segera pulang, kalau tidak kita berdua akan jatuh sakit bersama karena hujan ini.”
Butuh waktu lama bagi Keila untuk menghentikan tangisannya. Berada di dalam pelukan Andra, Keila dapat dengan jelas menghirup aroma tubuh Andra bahkan ketika hujan yang turun membuat basah baju Andra. Keila kemudian membalas pelukan Andra dengan melingkarkan tangannya di pinggang Andra sembari berkata di dalam benaknya. Sial, aku benar-benar jatuh cinta padanya sesuai dengan harapannya. Aku benar-benar merindukannya seperti keinginannya.