30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
37. SOSOK DI BALIK STATUS PENGAGUM RAHASIA 1



Tiga minggu kemudian. . .


Seperti biasa, Keila berangkat ke kantornya dengan diantar oleh Andra dan berhenti beberapa blok dari gedung perusahaannya untuk menghindari gosip miring tentang dirinya. Selama tiga minggu melakukan hal itu, Keila merasa semakin benar tindakannya itu. Semin lama mengenal Andra sebagai kekasihnya, Keila mulai sadar jika kekasihnya itu sangat tampan bahkan sangat-sangat tampan dan Keila tidak ingin jika dirinya bertemu dengan orang seperti Bonita-sahabatnya yang bahkan berkata rela menukar suaminya hanya untuk bisa bersama dengan Andra. 



“Aku jemput nanti.” 



Keila menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Andra padanya. “Kalau begitu aku berangkat kerja dulu.” Keila membuka pintu mobil di sisinya dan hendak turun dari mobil Pajero hitam milik Andra. 



“Tunggu!” Andra berkata dengan sedikit berteriak, berusaha untuk menghentikan Keila. “Kamu melupakan sesuatu, Key?” 



“Apa?” Keila yang sudah hendak turun dari mobil milik Andra kemudian terpaksa menolehkan kepalanya ke arah Andra. 



“Ini. . .” Andra kemudian mencium ibu jarinya dan kemudian menempelkan ibu jari yang membawa ciumannya itu ke pipi Keila. “Kau melupakan ciuman kecil tanda milikku di pipimu.” 



Keila mengembuskan napasnya dan kemudian tersenyum menerima ciuman kecil dari Andra. “Baiklah, aku berangkat dulu. Kau hati-hati.” 



“Aku mengerti.” 



Setelah mendapatkan jawaban dari Andra, Keila turun dari mobil Andra dan mulai berjalan menuju ke gedung di mana dirinya bekerja. Setelah berjalan hingga depan gedung perusahaannya, Keila kemudian bertemu dengan Irene. 



“Pagi, Kak Key.” Irene yang lebih muda menyapa Keila lebih dulu. 



“Pagi, Irene.” Keila memberikan senyuman cantiknya untuk membalas sapaan pagi dari Irene. 



“Kakak tadi diantar oleh kekasih Kakak?” tanya Irene yang mendekatkan tubuhnya kepada Keila dan berbisik. 



“Ehm.” Keila menganggukkan kepalanya sembari tersipu malu. “Itu mobil kekasihku.” 



“Sudah kuduga.” 



“Apanya yang sudah kuduga?” tanya Keila terkejut. 



“Mobil itu sering kali terlihat di sekitar gedung itu bersamaan dengan waktu Kakak menceritakan kekasih kakak.” Irene menjawab dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. 



“Kekasih??” Suara Nuri dan Suci yang terkejut berhasil memuat Keila dan Irene merasa ingin sekali pergi menjauh dari mereka karena rasa malu. 



“. . .Apa kekasih Kak Keila datang mengantar Kakak?” tambah Suci lagi dengan wajah penasaran. 



“Ehm.” Keila menganggukkan kepalanya masih dengan tersipu malu. “Begitulah.” 



“Lalu?” tanya Nuri yang kemudian memandang ke arah Irene. “Apakah kau melihat wajah kekasih Kak Key?” Mata Nuri menatap Irene dengan penuh harap. 



“Tidak, aku tidak melihat wajahnya. Aku hanya melihat mobil milik kekasih Kak Key saja karena plat nomornya yang unik ,” jawab Irene dengan datar sembari terus berjalan menuju ke lift. 



Suci dan Nuri yang terus berjalan mengikuti Irene kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Keila yang berjalan di samping Irene. 



“Kak Key,” panggil Suci. 



“Apa lagi?” tanya Keila. 



“Kapan Kakak akan mengenalkan kami kepada kekasih Kakak?” tanya Suci. 



“Benar,” tambah Nuri setuju dengan Suci. “Kapan Kakak akan mengenalkan kami kepada kekasih Kakak?” 



Pintu lift terbuka, Keila bersama dengan tiga rekan kerjanya itu kemudian masuk ke dalam lift. Untuk sejenak percakapan Keila bersama dengan tiga rekannya terhenti karena keadaan sesak di dalam lift. Ketiga rekan Keila yang sudah berjanji untuk merahasiakan perihal kekasih Keila langsung menutup mulut mereka rapat-rapat tentang percakapan kecil mereka karena ketiga rekan Keila tahu dengan baik, ada banyak telinga yang akan menangkap percakapan mereka tentang kekasih Keila. 



Ting. 



Pintu lift terbuka di lantai tiga di mana Keila dan ketiga rekannya bekerja. Keila bersama dengan ketiga rekannya kemudian keluar dari lift bersama-sama dan begitu pintu lift tertutup, Nuri langsung membuka mulutnya dan mengajukan pertanyaan kepada Keila yang tadi belum mendapatkan jawaban. 



“Jadi kapan Kakak akan mengenalkan kekasih Kakak kepada kami?” 




Mendengar jawaban dari Keila, Suci yang sudah sangat penasaran dengan sosok kekasih Keila ini kemudian membuka mulutnya. “Apakah kekasih Kakak ini orang yang introvert hingga keberatan untuk bertemu dengan kami?” 



“Kurasa tidak sepenuhnya,” jawab Keila dengan sedikit ragu. 



“Kenapa rasanya Kakak menjawabnya dengan sedikit ragu?” tanya Irene yang heran melihat reaksi Keila. 



“Bagaimana menjelaskannya?” Untuk sesaat Keila merasa bingung menjelaskan sifat dari Andra yang baru dua bulanan dikenalnya. 



“Bagaimana maksudnya? Bukankah Kakak sudah menjadi kekasihnya? Kenapa Kakak tidak tahu?” tanya Nuri yang tidak sabar. 



Tepat di depan pintu ruangan editor, Keila menghentikan langkahnya. “Baginya, aku adalah kekasih pertamanya. Aku adalah pacar pertamanya bahkan ketika di mataku dia terlihat sangat tampan. Sesekali dia akan memasak makanan untukku tapi tidak mengijinkan orang lain untuk memakan masakannya. Lalu semua hal yang berhubungan denganku seolah membuatnya merasa senang bahkan ketika itu hanya bertemu denganku. Lalu. . . pernah sahabatku mengajukan pertanyaan padanya untuk menilai mana yang lebih baik antara aku dan masakan yang aku buat. Jawabannya benar-benar membuatku dan sahabatku benar-benar terkejut.” 



“Dia pasti memilih Kakak yang lebih baik bukan?” jawab Suci dengan penuh keyakinan. 



“Tidak.” Keila tersenyum menjawab pertanyaan Suci. 



“Mungkinkah dia justru memilih masakan Kakak?” tanya Nuri dengan ragu. 



“Tidak juga.” Keila tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. 



“Lalu apa jawaban dia, Kakak?” Kali ini giliran Irene yang mengajukan pertanyaan kepada Keila karena penasaran dengan jawaban yang diberikan kekasih Keila. 



“Dia mengatakan bahwa keduanya sama baik-baik. Masakanku baik untuk perutnya dan aku baik untuk hatinya.” 



“Kyaaaaaaa. . . .” 



Mendengar jawaban dari Keila, Suci dan Nuri spontan berteriak histeris dan menatap satu sama lain dengan mata berbinar hingga membuat pegawai dari departemen lain yang melewati departemen editor terkejut dan merasa heran di saat yang sama. 



“Ssstttt. . .” Keila berusaha menghentikan aksi memalukan dari kedua rekannya itu. “Kecilkan suara kalian. Kalau Pak Agung tahu, kalian pasti akan mendapatkan omelan darinya.” 



“Fix, Kakak. Kekasih Kakak adalah pria idaman,” ujar Suci dengan tersenyum senang. 



“Benar, Kak. Rasanya benar-benar seperti karakter utama dalam novel-novel yang kita baca selama ini, Kak,” tambah Nuri dengan raut wajah yang tidak beda jauh dengan Suci. “Aku benar-benar iri pada Kakak, bisa menemukan pria seperti kekasih Kakak.” 



“Semua akan lengkap jika kekasih Kakak punya wajah yang tampan dan kekayaan juga,” tambah Irene. 



“Uwwahh. . .” ucap Keila terkejut. “Bagaimana kamu bisa menebaknya dengan benar?” 



“Selain tampan, kekasih Kakak juga orang kaya?” tanya Suci tidak percaya. 



“Kurasa,” jawab Keila dengan sedikit ragu. “Aku tidak yakin apakah dia orang yang kaya atau tidak, tapi seingatku dia adalah orang yang tidak pelit soal uang padaku.” 



“Sial, Kakak menemukan malaikat yang jatuh dari langit,” ucap Nuri. “Apakah Kakak pernah menyelamatkan dunia di kehidupan Kakak sebelumnya?” 



Keila hendak membuka mulutnya menjawab pertanyaan Nuri itu, namun Suci lebih dulu membuka mulutnya mewakili Keila menjawab pertanyaan itu. 



“Tidak perlu kau tanyakan lagi, Kak Keila pasti pernah menyelamatkan dunia di kehidupan sebelumnya hingga begitu beruntung bertemu dengan sosok malaikat jatuh di bumi ini.” 



Keila kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan departemen editor meninggalkan Suci dan Nuri yang masih berdebat tentang Keila dan kekasihnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Irene yang lama-lama merasa malu dengan kelakuan dua rekannya itu. 



“Kak Key,” panggil Irene. 



“Ya?” Keila yang baru saja meletakkan tasnya kemudian menolehkan kepalanya ke arah Irene. “Ada apa?” 



“Ini. . .” Irene kemudian menunjukkan buket bunga putih yang berada di meja di tengah-tengah ruang departemen editing. “Bunga ini datang lagi, Kakak.” 



Melihat buket bunga putih yang sempat berhenti datang kembali datang lagi, dalam waktu singkat Keila mulai merasakan firasat buruk di dalam hatinya. Tidak, jangan lagi.