
Hari berikutnya.
Di akhir pekan, Keila yang kehabisan bahan makanan kemudian pergi ke pasar seorang diri dengan mengendarai bis kota. Begitu sampai di pasar dan melihat keramaian tanpa sadar mulut Keila berucap kalimat yang selalu dikatakannya ketika pergi ke pasar bersama dengan Andra. “Jangan jauh-jauh dariku, Andra.”
Setelah mengatakan itu Keila kemudian baru sadar jika seseorang yang selalu memegang tangannya dengan erat ketika di berbelanja bersama kini sudah tidak ada lagi. Keila kemudian teringat kenangannya bersama dengan Andra ketika pertama kali datang ke pasar ini.
Keila menatap tangannya yang digenggam oleh tangan Andra dengan tatapan heran, “Kenapa kamu menggenggam tanganku??”
“Bukankah kau bilang jangan jauh-jauh darimu?” Andra mengangkat tangan Keila yang digenggamnya. “Ini caraku supaya tidak jauh darimu.”
Setelah ingatan itu muncul, Keila kemudian berbicara dengan dirinya sendiri. Caramu itu benar-benar klasik, tapi. . . aku benar-benar menyukainya. Harusnya. . . sejak dulu aku jujur mengatakannya kepadamu, Andra. Ah tidak Tee Rak.
Setelah itu Keila memasuki pasar dan mulai berbelanja. Lalu sepanjang waktu berbelanja di pasar, Keila akan menerima ekspresi yang sama dan pertanyaan yang sama dari pedagang yang biasa menjadi langganan Keila.
“Kenapa kau datang sendiri, Nona? Ke mana kekasihmu yang tampan dan manis itu?”
Mendengar pertanyaan yang sama dan melihat ekspresi yang sama berulang kali, tanpa sadar Keila akan menjawab, “Kekasihku sedang keluar kota karena pekerjaannya.”
Mendengar jawaban dari Keila, para pedagang itu kemudian membalas ucapan Keila dengan kalimat yang sama. “Sudah kuduga kalian benar-benar pasangan. Kalian benar-benar pasangan yang serasi.”
Setelah mendengar jawaban yang sama berulang kali, Keila kemudian menyadari sesuatu. Bagaimana mereka bisa tahu jika aku dan Andra benar-benar menjadi sepasang kekasih ketika selama ini aku selalu menyangkal semua ucapan Andra yang mengenalkan dirinya sebagai kekasihku ketika berbelanja bersama? Senyuman bahagia kemudian terbentuk di bibir Keila. Para pedagang itu bahkan lebih peka, mata mereka lebih jeli dan perasaan mereka lebih tajam dari yang aku duga. Jika Andra mendengar hal ini kira-kira apa reaksi yang akan dibuatnya??
Hari berikutnya.
Begitu tiba di apartemennya, Keila menemukan pintu apartemen Andra yang selama beberapa hari ini tertutup rapat tiba-tiba saja terbuka dengan sedikit celah. Melihat keadaan itu, Keila yang sudah sangat merasa rindu dengan Andra kemudian berlari dengan cepat masuk ke dalam apartemen Andra yang selama ini tidak pernah boleh dimasukinya oleh Andra dengan alasan berantakan.
“Andra!!” teriak Keila dengan wajah penuh harap ketika membuka pintu apartemen Andra. Namun harapan Keila langsung sirna ketika melihat sosok di dalam apartemen Andra bukanlah Andra.
“Nona Keila. .”
“Maaf jika saya menghancurkan harapan Nona.” Liam dengan cepat menangkap perubahan raut wajah Keila ketika melihat dirinya.
“Ini bukan salahmu, Liam. Aku yang salah karena terlalu berharap,” jawab Keila dengan senyuman pahit mengasihani dirinya sendiri. “Kenapa kau ada di sini dan bukannya Andra? Apakah Andra masih belum kembali?”
“Direktur masih di luar kota. Saya lebih dulu kembali untuk mengerjakan pekerjaan milik Direktur yang tertunda. Saya kemari untuk mengambil berkas-berkas milik Direktur yang tertinggal di sini.” Liam memberikan jawaban sembari memeriksa satu per satu berkas-berkas dalam tumpukan di meja kerja milik Andra yang menghadap ke arah balkon apartemen.
“Ah rupanya dia masih sibuk,” ujar Keila kecewa. “Dia bahkan tidak menghubungiku beberapa hari ini.”
Mendengar omelan Keila, spontan Liam membuat senyuman kecil di bibirnya dan tangannya berhenti mencari berkas-berkas yang sedang dicarinya. Liam kemudian memandang ke arah Keila dan berkata, “Mohon pengertian Nona. Setiap kali hal ini terjadi, Direktur akan benar-benar sibuk hingga hanya punya sedikit waktu untuk beristirahat. Terlebih lagi, ini pertama kalinya Direktur memiliki kekasih. Mungkin saat ini Direktur lupa jika dirinya yang sekarang punya seseorang yang akan menunggu kedatangannya, tidak seperti sebelumnya.”
Ucapan Liam membuat Keila sedikit merasa terhibur karena menemukan fakta bahwa dirinya adalah kekasih pertama Andra seperti ucapan Andra selama ini. Kurasa untuk satu hal ini, Andra tidak berbohong padaku. Aku benar-benar kekasih pertamanya. Keila kemudian membalas senyuman Liam. “Terima kasih, Liam. Sebelum itu bisakah aku melihat-lihat, Liam?”
“Apa Nona belum pernah masuk kemari?” Liam berbalik bertanya kepada Keila.
“Belum.” Keila menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Untuk sejenak Liam merasa sedikit ragu untuk membiarkan Keila masuk ke dalam apartemen atasannya. Tapi setelah melihat ke sana kemari dan tidak menemukan sesuatu yang penting di dalam apartemen milik atasannya, Liam kemudian menganggukkan kepalanya setuju dengan permintaan Keila. “Saya rasa Direktur tidak akan marah. Nona bisa masuk dan melihat-lihat.”
Keila kemudian melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam apartemen Andra untuk pertama kalinya. Begitu masuk ke dalam apartemen Andra, Keila melihat banyak tumpukan laporan yang bertebaran di berbagai sudut. Keila juga melihat ukuran apartemen Andra ini terlihat lebih luas dibandingkan apartemen Keila karena hanya ada sofa, meja kecil, meja makan, kulkas, tv dan meja kerja dengan tumpukan berkas-berkas yang menggunung. Tidak heran selama ini Andra selalu melarangku masuk ke dalam apartemen miliknya. Apartemen ini benar-benar berantakan meski tidak separah apartemenku yang seperti kapal pecah. Tapi melihat tidak banyak perabotan yang ada di sini, aku dapat dengan jelas melihat bahwa apartemen ini benar-benar tempat yang sepi dan dingin seperti saat aku pertama kali bertemu dengan Andra. Pemandangan ini berbanding terbalik dengan apartemen Keila yang penuh dengan banyak barang terutama buku-buku koleksi milik Keila dan peralatan masak milik Keila.
Setelah puas melihat-lihat, Keila kemudian duduk di sofa milik Andra dengan pandangan yang tertuju ke satu-satunya foto yang terpasang di apartemen milik Andra. Sepertinya aku pernah melihat pemandangan itu. Merasa mengenali foto itu, Keila kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat untuk melihat foto yang terpajang itu. Tunggu, jembatan ini adalah. . .
“Liam,” panggil Keila masih dengan menatap foto di hadapannya. “Apa foto ini milik Andra?”
Liam yang masih sibuk mencari berkas-berkas milik Andra kemudian mendongak melihat ke arah Keila. “Ah Nona mengenali foto itu rupanya.”
“Kamu tahu jembatan ini?” Keila menoleh ke arah Liam dengan raut terkejut.
“Tentu saja saya tahu, Nona. Jembatan dalam foto itu adalah jembatan yang sama di mana Nona bertemu dengan Direktur saat penyerangan pria bernama Noah itu.”
Keila menatap kembali foto di depannya. “Itu memang benar. Ini memang jembatan itu, tapi sudut pengambilan gambar ini diambil dari bawah-lebih tepatnya dari arah tepi sungai. Apa yang Andra lakukan hingga berada di sana? Kapan Andra mengambil fo-“ Pertanyaan yang muncul dari mulut Keila tiba-tiba terhenti ketika mata Keila melihat ke sudut bawah foto itu yang menunjukkan waktu pengambilan foto itu. Tunggu ini?? Keila menatap sekali lagi waktu pengambilan foto dan kali ini dengan jelas Keila dapat kapan waktu pengambilan foto itu. Ini tujuh tahun yang lalu?