30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
57. TUJUH KEINGINAN 2



Seminggu kemudian. . .



Seperti yang sudah direncanakan, aku berpindah bekerja di kantor cabang. Para karyawan jajaran ketua tim dan direktur menyambut kedatanganku di perusahaan baru. 



“Selamat datang, Direktur Rafandra.” 



“Terima kasih banyak,” balasku dengan senyuman kecil di wajahku. 



Mata mereka benar-benar tertuju padaku dan Liam ketika kami berdua datang. Bukan tanpa alasan hal itu terjadi. Belajar dari pengalaman ketika kuliah, aku tahu dengan baik kenapa mereka semua tertarik padaku. Mereka mungkin sudah mendengar kabar bahwa aku adalah anak dari presdir dan merupakan satu-satunya keturunan yang akan mewarisi beberapa perusahaan yang dimiliki ayahku. 



Karena hal itu, sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak muncul di depan banyak orang dan para karyawan. Aku bahkan meminta Baron dan Yuda yang sudah bekerja denganku selama setengah tahun di pusat untuk ikut denganku ke kantor cabang. Semua itu kulakukan agar pihak cabang tidak memberikanku karyawan mereka untuk membantuku bekerja. Lalu satu hal lagi alasanku enggan menggunakan karyawan cabang untuk bekerja langsung di bawahku: aku tidak ingin mereka bergosip tentangku dan tahu bagaimana rupaku. Belajar dari pengalaman masa lalu ketika bekerja di pusat dan kuliah: aku tahu dengan baik perubahan penampilanku benar-benar membuat banyak gadis terobsesi untuk mendekatiku dengan berbagai macam tujuan tertentu. 



Satu hari berlalu. 



Dua hari berlalu. 



Dan tanpa sadar seminggu telah berlalu ketika aku bekerja di perusahaan cabang milik ayahku. Waktu-waktu yang aku rasakan terasa begitu membosankan karena semua pekerjaan terlihat begitu mudah bagiku: Liam sudah sangat ahli mengatur jadwal dan pekerjaan untukku. Bahkan Liam sudah tidak gelagapan ketika beberapa jadwal yang telah dibuatnya tidak sesuai dengan. Sementara itu Baron dan Yuda, beradaptasi dengan cepat dan tahu bagaimana caranya bekerja di bawah kepemimpinanku. 



Satu minggu berlalu dan tanpa aku sadari sebulan sudah berlalu. Aku sudah mulai terbiasa dengan perusahaan cabang di mana aku bekerja. Aku juga sudah terbiasa sengaja menggunakan tangga darurat untuk berangkat dan pulang kerja ke ruanganku yang berada di lantai delapan. Aku bersama dengan Liam, Yuda dan Baron juga sengaja makan siang lima belas menit terakhir jam istirahat hanya untuk menghindari para karyawan terutama karyawati yang mungkin akan berakhir untuk berusaha mendekatiku dengan tujuan tertentu. Rutinitas yang membosankan itu kemudian berubah ketika mataku menemukan sosok yang selama beberapa tahun ini berusaha aku temukan.



Saat itu, aku dan Liam berada di depan pintu darurat lantai empat dan sedang berjalan menuruni tangga darurat menuju ke area parkir bawah tanah ketika seseorang melewati kami berdua dengan sedikit tergesa-gesa. Wanita itu mengikat rambut dengan model ekor kuda. Di kedua telinganya, earphone terpasang dan mungkin sedang memutar lagu yang hanya didengarnya seorang diri. Wanita itu menundukkan kepalanya ketika melewatiku, namun dia yang sedang berjalan naik membuatku dapat dengan jelas melihat wajahnya ketika aku menolehkan kepalaku untuk melihatnya. 



Langkahku tiba-tiba terhenti ketika mengenali sosok wanita itu. Liam bahkan hampir saja menabrakku ketika aku menghentikan langkahku dengan tiba-tiba. 



“Direktur. . . Direktur. . . Direktur??” 



Liam berusaha untuk memanggilku berulang kali, namun panggilannya tidak berhasil membuat perhatianku yang teralih dari wanita itu. Serasa waktuku terhenti dan telingaku tidak mendengar panggilan Liam, aku benar-benar tidak bisa melepaskan perhatianku pada wanita itu. Aku bahkan memutar badanku untuk bisa terus melihat sosoknya. Begitu sosok wanita itu menghilang dari pandanganku, barulah aku mendengar suara panggilan Liam yang memanggilku. 



“Direktur, kenapa melihat karyawati itu seperti itu??”



Aku menatap Liam yang menatapku dengan tatapan bingung dan heran. Aku kemudian memukul bahu Liam dengan sedikit kencang dan berkata dengan wajah penuh bahagia. “Aku menemukannya, Liam. Akhirnya aku menemukannya!” 



“Apa yang Direktur temukan?”



Aku melihat Liam menatapku masih dengan tatapan bingung. Aku memutar tubuh Liam dan menunjuk ke arah di mana wanita itu tadi berjalan. “Wanita itu tadi. . . wanita itu adalah orang yang aku cari selama ini. Dia adalah penyelamatku yang selalu ingin kutemui.” 



“Be-benarkah itu, Direktur?” 




“. . . Direktur yakin wanita itu adalah penyelamat yang selama ini Direktur ceritakan??” tambah Liam. 



Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan dan tanpa satu pun keraguan. “Itu benar.” Aku kemudian berputar berusaha untuk menemukan kamera CCTV di area itu dan menemukan ada beberapa kamera di sudut atas. Aku kemudian mengangkat tangan kiriku di mana jam tanganku melingkar dan melihat waktu menunjukkan pukul 11 siang. 



“Liam,” panggilku. 



“Ya, Direktur. Tugaskan Baron untuk menemukan rekaman kamera CCTV sekitar pukul sebelas siang hari ini. Melihat wanita itu berada di sini dan menggunakan tangga darurat ini, kurasa dia bekerja di perusahaan ini juga. Aku harus tahu siapa nama wanita itu.” 



\# \# \#



“Dan begitulah bagaimana cara Direktur menemukan Nona Keila.” Liam menutup mulutnya setelah ceritanya yang panjang. 



Keila menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Liam. Sebuah pertanyaan kemudian muncul di dalam benak Keila setelah mendengar bagaimana perjuangan Andra untuk menemukan penyelamatnya yang tidak lain adalah dirinya sendiri. 



“Kenapa setelah menemukanku, Andra tidak muncul di hadapanku dan langsung mengenalkan dirinya padaku? Kenapa Andra harus bermain-main menjadi penggemar rahasiaku untuk bisa menarik perhatianku? Kenapa Andra ha-“ Keila tiba-tiba menghentikan pertanyaannya ketika mengingat percakapannya bersama dengan Pak Agung beberapa waktu yang lalu. 



“Lalu,” Pak Agung kemudian memukul bahu Keila dan membuat Keila berhenti menatap langit di atasnya. “Apa kamu juga menyadari jika selama ini penggemar rahasiamu itu telah beberapa kali muncul di hadapanmu?? Hanya saja. . . kamu tidak menyadarinya.” 



Keila menurunkan pandangannya dan kemudian melihat ke arah Pak Agung dengan tatapan heran. “Apa itu benar, Pak? Andra muncul beberapa kali di hadapanku dan aku tidak mengenalinya?? Maaf, Pak. Sepertinya. . . aku tidak mendengar bagian itu.” 



Pak Agung kemudian mengulangi kembali ucapan Andra. “Setelah berulang kali mencoba, Keila tidak pernah menyadari keberadaan saya. Bukankah kamu tadi bilang mendengarkan dengan baik??” Pak Agung kemudian memukul kepala Keila dengan sedikit kencang. 



Liam tersenyum sembari menjawab, “Sepertinya Nona sudah tahu alasan kenapa Direktur akhirnya memilih untuk menjadi penggemar rahasia Nona. Semua itu dilakukan Direktur karena Nona sama sekali tidak mengenali Direktur.” 



Keila menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah Liam. “Apa aku benar-benar melakukannya, Liam? Aku benar-benar tidak menyadari jika selama ini Andra muncul beberapa kali di sekitarku.”



Liam menganggukkan kepalanya. “Itu benar, Nona. Direktur melakukan hal itu. Sering kali, Direktur dengan sengaja pulang terlambat hanya untuk pulang bersama dengan Nona. Sering kali Direktur dengan sengaja pulang cepat hanya untuk melihat Nona yang pulang cepat. Sering kali Direktur pulang dengan menaiki bus hanya agar bisa melihat Nona. Bahkan Direktur dengan sengaja membeli apartemen ini, hanya untuk dekat dengan Nona. Tapi semua usahanya tidak berarti apa-apa ketika Direktur tidak memiliki keberanian untuk mendekati Nona karena Nona tidak mengenalinya.” 



Hari itu. . . Keila benar-benar tahu bahwa Andra yang selalu menempel padanya, rupanya benar-benar menyukainya. Keila tahu tindakan Andra selama ini yang mengubah penampilannya ketika bertemu dengannya, semata-mata hanya ingin membuat Keila mengingat dirinya lagi. 



“. . . Direktur sempat ingin mundur ketika Nona menjalin hubungan dengan pria bernama Noah. Namun ketika Noah membuat keributan dengan Yuna, Direktur menghentikan niatnya hingga tragedi yang menimpa Pak Agung terjadi. Melihat Nona dalam bahaya, Direktur benar-benar khawatir pada Nona dan kemudian saya akhirnya memberanikan diri mengatakan sesuatu kepada Direktur yang menjadi alasan Direktur akhirnya membuat kebohongan kepada Nona.” 



Keila memahami kalimat yang ingin diucapkan Liam kepada dirinya. Keila kemudian menggantikan Liam mengatakan kalimat itu. “Tidak ada gunanya terus menerus menunggu kesempatan datang. Jika kesempatan itu bisa kau buat, kenapa kau tidak membuatnya sendiri. Kalimat itu bukan??” 



Liam menganggukkan kepalanya. “Itu benar, Nona.”