30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
19. BANTUAN UNTUK BERKENCAN 6



“. . .” Keila membeku untuk sesaat ketika mendengar alasan Andra yang ingin melihat tempat di mana dirinya tumbuh. Keila ingin sekali menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, sayangnya satu tangannya masih berada dalam genggaman Andra dan membuatnya tidak bisa menyembunyikan wajahnya. 


“Kau terdiam lagi?” Andra bertanya sembari menatap Keila. 


“Karena siapa aku begini??” Keila mengalihkan pandangannya berusaha untuk menghindari tatapan Andra yang seolah senang menangkap basah reaksi membeku dan terkejutnya.


“Sebenarnya aku sudah lama ingin melakukan ini, bisakah aku melakukannya sekarang?” 


“Apa yang ingin kamu lakukan?” Keila menatap kembali ke arah Andra dan mendapati Andra sedang tersenyum menatapnya. Tatapan itu membuat Keila salah tingkah, Keila kembali memalingkan wajahnya lagi. 


Tidak lama kemudian sesuatu terasa menarik di pipi Keila dan membuat Keila yang tadinya memalingkan wajahnya dari Andra kembali menatap Andra. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mencubit pipiku?” 


“Tidakkah kau sadar setiap kali kau membeku mendengar ucapanku atau terkejut, kedua pipimu itu membulat seperti ikan buntal? Terlebih lagi rona merah di pipimu yang bulat itu membuatku merasa semakin gemas.” Andra yang tadinya hanya mencubit satu pipi Keila kemudian melepaskan genggaman tangannya di lengan Keila dan mencubit satu pipi Keila yang masih bebas. “Kamu benar-benar menggemaskan, karena itu sejak lama aku ingin melakukan ini. Mencubit pipimu.”


Karena tindakan Andra, mau tidak mau Keila harus menatap wajah Andra dan tatapan yang dilemparkan Andra pada dirinya. Untuk sejenak, Keila merasakan tatapan Andra padanya adalah tatapan penuh cinta yang tulus seperti ketika ayah Keila menatap ibunya dulu. Keila bertanya pada dirinya sendiri di dalam benaknya. Apakah pria ini adalah seseorang yang selama ini aku cari? Caranya menatapku sama dengan cara ayah menatap ibu dulu? Tatapan yang membuat orang lain yang melihatnya merasakan perasaan cinta yang tulus, itu adalah tatapan khas milik Ayah yang membuatku selalu kagum pada ayah dan berharap menemukan kekasih dan pasangan hidup seperti ayah. Jika Ayah masih hidup dan berada di sini, apakah Ayah akan menyukai Andra seperti Ibu yang menyukai Andra? 


“Le. . .pas. . . kan!” Keila berbicara dengan sedikit kesulitan karena kedua pipinya yang sedang dicubit oleh Andra yang merasa gemas.


“Tidak mau. Aku benar-benar sudah lama ingin melakukan hal ini, jadi biarkan aku melihat wajah menggemaskanmu ini sedikit lebih lama lagi.” Andra tidak menuruti perintah Keila dan kedua tangannya masih mencubit pipi Keila. 


Keila yang tidak menyerah kemudian menaikkan satu tangannya yang bebas dan kemudian menyentuh salah satu tangan Andra yang sedang mencubit pipinya. Keila kemudian menarik tangan Andra itu dan menggenggam dengan erat dengan tangannya. Dengan cepat Keila menaikkan tangan Andra mendekat ke wajahnya seolah ingin memberikan ciuman pada tangan itu hingga gigi Keila menancap pada kulit tangan itu dan membuat Andra berteriak kesakitan sekaligus melepaskan cubitan lain di pipi Keila. 


“Auw, Keila!” teriak Andra sembari menarik tangannya yang digigit Keila menjauh dari gigi Keila. “Kenapa kau menggigit tanganku? Gigimu benar-benar. . .” Andra melemparkan tatapan tajam dan tidak percaya kepada Keila. Andra menatap Keila dan bekas gigitan Keila di tangannya. 


Keila tersenyum senang melihat bekas gigitannya di tangan Andra. “Salahmu sendiri! Sudah kubilang berhenti mencubit pipiku, kau masih saja mencubit pipiku. Jadi rasakan itu sebagai balasannya.” 


Merasa tidak ingin kalah dari Keila, Andra kemudian menatap Keila dengan tatapan licik karena sesuatu di dalam benaknya saat ini adalah membalas Keila. “Kemari, Key! Aku harus membalasmu. Biarkan aku menggigitmu juga dan meninggalkan bekas di sana seperti yang kamu lakukan!” 


Mendengar ucapan Andra yang ingin membalas dendam untuk gigitannya, Keila spontan mengambil langkah seribu dan bergegas untuk menjauh dari Andra. “Tidak mau!” Keila berteriak sembari terus menjauh dari Andra. 


Kejar-kejaran antara Keila dan Andra tidak terhindarkan. Tapi berkat itu, Keila benar-benar membuat Andra berkeliling ke lingkungan tempatnya tinggal: dari tempat Keila biasa menghabiskan waktu setelah pulang sekolah, lalu bangunan di mana Keila pernah bersekolah dan tempat di mana Keila membantu ayahnya bekerja. Setelah berlarian ke sana kemari dan berkeliling ke beberapa tempat di mana Keila dulu menghabiskan masa remajanya, Keila dan Andra kemudian berhenti di sebuah jembatan kecil yang tidak jauh dari tempat tinggal Keila. 


Andra meninggalkan Keila yang sedang berdiri dengan bersandarkan tembok jembatan sembari menatap sungai kecil yang mengalir di tengah teriknya matahari. 


“Ini.” Andra menyerahkan minuman kaleng kesukaan Keila sembari memasangkan topi di kepala Keila. “Gunakan ini untuk melindungi wajahmu dari terik matahari.” 


Keila melirik topi yang tiba-tiba sudah berada di atas kepalanya sembari tangannya menerima minuman kaleng yang dibeli Andra di toko kelontong di dekat jembatan. “Kau sering melakukan ini?” 


“Apa??” 


“Perhatian seperti yang baru saja kamu lakukan. Membeli topi dan memasangkannya di kepalaku tanpa aku minta.” 


Andra membuka minuman kalengnya dan meminumnya sebelum menjawab pertanyaan Keila. “Tidak. Aku tidak pernah melakukan hal itu kepada gadis-gadis lain selain dirimu.” 


“Lalu. . . bagaimana kamu bisa punya sifat perhatian seperti itu jika sebelumnya kamu bahkan tidak pernah memiliki kekasih?” Keila bertanya dengan raut wajah penasaran sembari berusaha membuka tutup dari minuman kalengnya. 


Keila meminum minuman kalengnya dan setelah kerongkongannya terasa segar, Keila kembali bertanya kepada Andra. “Kamu belum menjawab pertanyaanku?” 


“I-itu adalah sesuatu yang biasa Ayahku lakukan untuk Ibuku.” 


“Sepertinya ayahmu adalah orang yang sangat romantis mengingat tindakanmu selama ini bisa membuat banyak gadis jatuh hati dalam sekejap kepadamu jika mereka tahu. . .” 


Andra tersenyum dan kemudian memandang Keila. Andra mendekatkan wajahnya pada Keila dan menatap dalam ke mata Keila. “Apakah kamu tidak termasuk dengan gadis-gadis itu?” 


“. . .” Mata Keila membesar dan spontan, Keila segera menarik wajahnya menjauh dari wajah Andra. Untuk kesekian kalinya, Keila merasa canggung dan panik di saat bersamaan setiap kali Andra menatapnya dalam dengan mata penuh cinta. “A-apakah Ayahmu masih melakukan hal-hal romantis itu bahkan ketika usianya yang mungkin sudah tua sekarang?” Keila berusaha mengalihkan pembicaraan. 


Andra menggelengkan kepalanya dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. “Tidak. Sejak usiaku sepuluh tahun, Ibuku sudah meninggal dunia dan itu menjadi pukulan yang besar bagi ayahku.” 


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud-“ 


“Tidak apa-apa. Itu sudah lama terjadi,” jelas Andra. “Sejak kepergian Ibuku, rumah kami yang tadinya hangat berubah menjadi dingin. Ayahku yang begitu terpukul dengan kepergian Ibuku, kemudian memilih untuk menyibukkan dirinya dalam pekerjaan untuk membuatnya melupakan kenyataan jika Ibuku telah pergi dan tidak akan kembali.” 


“Bagaimana denganmu?” Keila tanpa sadar bertanya. “Bagaimana denganmu? Apakah Ayahmu yang kehilangan ibumu dan lebih memilih pekerjaan kemudian melupakan dirimu? Ah, i-itu yang biasa terjadi dalam novel-novel yang aku baca. Maaf jika ucapanku mungkin sedikit lancang.” 


Andra mengalihkan pandangannya dari Keila dan menatap ke arah sungai yang mengalir sembari meminum habis minuman kaleng miliknya. “Kau menebaknya dengan tepat, Keila. Apa yang kamu katakan benar, Keila. Karena kepergian Ibuku, aku juga kehilangan ayah yang selalu perhatian padaku dan sejak hari itu rumah kami yang hangat berubah menjadi dingin seolah tidak memiliki penghuni.” 


Keila yang merasa iba dan merasa bersalah karena pertanyaannya, tanpa sadar tangannya bergerak dan menepuk pelan bahu Andra. Tanpa di sadarinya, Keila merasa ingin menghibur sosok pria yang selama ini selalu mengganggunya dan di saat yang sama selalu menjaga dirinya. “Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan sosok penting dalam keluarga, hari ini aku berbaik hati padamu, Andra.” 


“Berbaik hati? Apa maksudnya?” Andra langsung menangkap tangan Keila yang sejak tadi menepuk pelan bahunya. 


“Aku akan berbaik hati membiarkan kasih sayang Ibuku kubagi denganmu. Kamu tahu sendiri, sepertinya Ibuku sangat menyukaimu. Jadi jika suatu hari kau merasa rindu dengan Ibumu, kau bisa kemari dan bertemu dengan Ibuku. Dua adikku tidak akan keberatan mengingat wajahmu tampan dan kau adalah orang yang tidak pelit.” 


“Kamu yakin kamu memperbolehkanku mengunjungi Ibumu lain kali?” Andra menggenggam erat tangan Keila. 


“Ya. Asal kau kemarin untuk menemui ibuku dan bukan untuk alasan lain.” Keila memberi peringatan sedikit kepada Andra.


“Aku akan melakukannya tanpa sungkan lagi. Ibumu orang yang menyenangkan.” 


Keila menghela napasnya merasa senang dapat membantu sosok pria yang selama ini selalu berusaha membantunya meski terkadang membuat Keila kesal. Seperti saat ini, Keila benar-benar kesal karena Andra tidak melepaskan tangannya yang berada di genggaman Andra. “Bisakah kau melepaskan tanganku?” Keila bicara dengan nada ketusnya sembari berusaha menarik tangannya. 


“Tidak mau. Aku akan menggenggam tanganmu hingga kembali ke rumahmu.” 


Keila mengembuskan napas panjangnya lagi karena berusaha menahan rasa kesalnya kepada Andra. Padahal aku sudah berbaik hati padanya, lihat apa yang dia lakukan untukku? Dia membuatku kesal lagi. 


Tanpa berpikir panjang, Keila mengangkat kakinya dan langsung menginjak kaki Andra untuk melampiaskan rasa kesal di hatinya. Di saat Andra terkejut dan merasa sakit untuk tindakannya, Keila kemudian menarik tangannya dari genggaman tangan Andra. “Apa kau tidak lihat ini daerah pinggiran kota??? Menggenggam tanganku akan membuat orang-orang menggunjingkanku. Mereka akan berkata jika aku pulang kemari membawa teman pria, aku akan menikah dalam waktu dekat.” 


Keila berjalan pergi, kembali ke rumahnya sementara Andra dengan berusaha menahan rasa sakiti di kakinya mengikuti Keila tepat di belakang Keila. 


“Jika kamu ingin menikah secepatnya, aku bersedia melakukannya, Keila.” Andra berteriak sembari berusaha mengejar Keila.