30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
48. PERMINTAAN 4



Liam yang berjalan di depan Keila kemudian membawa Keila ke arah parkiran bawah tanah perusahaan yang jarang dikunjungi oleh Keila karena Keila tidak memiliki kendaraan pribadi. Liam kemudian berjalan menuju ke sebuah mobil yang dikenali oleh Keila: pajero hitam. 



“Ini??” tanya Keila dengan terkejut sembari memastikan plat nomor dari Pajero hitam yang dilihatnya saat ini: R 4 FA. Kenapa aku tidak menyadari sejak awal ketika melihat plat nomor ini? Keila yang sekarang tahu tentang identitas dari Andra yang tidak lain adalah Rafandra akhirnya paham alasan plat nomor mobil Andra bukannya huruf yang membentuk Andra melainkan huruf yang membentuk Rafa. Sepertinya aku benar-benar kurang perhatian, padahal aku bekerja sebagai editor. 



Liam tersenyum melihat ekspresi terkejut di wajah Keila. “Benar, ini mobil milik Direktur. Lalu yang di sana itu. . .” 



Keila melihat dengan heran ke arah yang ditunjuk Liam, tepat di samping Pajero hitam. Mobil sport Lamborgini parkir tepat di samping Pajero Hitam. “Kenapa dengan mobil itu? Jangan-jangan. . .” 



“Ya.” Liam tersenyum kecil. “Itu juga milik Direktur.” 



Mulut Keila menganga melihat mobil kelas mewah yang parkir di samping pajero hitam rupanya adalah milik Andra juga. Sebenarnya berapa banyak rahasia yang disembunyikan Andra dariku? Kenapa pula aku tidak tahu jika saat ini aku sedang berpacaran dengan chaebol?



“. . . Silakan masuk ke dalam, Nona Keila.” 



Keila melihat Liam secara tiba-tiba sudah berada di sampingnya dan membukakan pintu untuknya sama seperti yang selalu dilakukan Andra untuknya selama ini. Masih dengan terkejut, Keila kemudian masuk ke dalam mobil sembari mengucapkan terima kasih kepada Liam. 



Setelah menutup pintu di sisi Keila, Liam kemudian duduk di sisi pengemudi dan mulai mengemudikan pajero hitam milik Andra menuju ke apartemen di mana Keila dan Andra tinggal. Keila yang melihat Liam sama sekali tidak bertanya tentang tempat tinggalnya dan mengemudi dengan lancar kemudian membuka mulutnya untuk memastikan dugaan di dalam benaknya saat ini. 



“M-mungkinkah kau tahu di mana aku tinggal, Liam??” 



Masih dengan melihat ke arah jalanan di depan, Liam menjawab dengan senyuman hangat di bibirnya. “Ya, saya tahu, Nona. Segala hal tentang Direktur, saya mengetahuinya. Saya sendiri yang mengurus apartemen itu, Nona Keila.” 



Mungkinkah? Tidak ingin hanya membuat dugaan di dalam benaknya saja, Keila membuka mulutnya dan bertanya lagi kepada Liam. “M-mungkinkah kau juga tahu jika aku menjalin hubungan dengan Andra sebelum kejadian hari ini?” 



Liam menganggukkan kepalanya. “Saya juga tahu, Nona.” 



Jadi inilah maksud dari ucapannya saat itu, “Bertemu dengan status yang berbeda.” Sejak awal dia sudah tahu bahwa aku adalah kekasih atasannya. Sial. Ini sungguh-sungguh menyebalkan. Andra benar-benar membuatku terlihat seperti lelucon. Keila mengumpat kesal karena merasa benar-benar seperti sedang menjadi lelucon oleh Andra – kekasihnya. Keila merasa benar-benar seperti sedang dipermainkan karena hanya dirinya yang tidak tahu apapun saat ini. Rasa kesal yang sempat hilang kemudian kembali kepada Keila, namun Keila tidak ingin melampiaskan rasa kesalnya kepada orang yang salah. Dengan sekuat tenaga Keila menahan kembali rasa kesalnya. “Berapa banyak yang kamu tahu, Liam?” 



Liam harusnya menyadari nada suara Keila yang terdengar kesal. Namun anehnya Liam tetap memasang senyuman hangatnya sembari memberikan jawaban kepada Keila. “Saya tahu banyak tentang Direktur karena saya telah mengikuti Direktur semenjak kuliah. Hanya saja. . .” 



“Hanya saja apa?” tanya Keila dengan cepat. 



“Hanya saja saya tidak bisa memberitahukan banyak hal kepada Nona Keila saat ini seperti alasan kenapa Direktur tidak mengatakan identitasnya yang sebenarnya kepada Nona, seperti alasan Direktur selama ini berdiam diri di balik status penggemar rahasia dan selalu mengirimkan buket bunga mawar putih kepada Nona. Untuk jawaban pertanyaan itu, silakan Nona bertanya sendiri kepada Direktur.” Liam masih tetap mempertahankan senyuman hangat di wajahnya. “Saya tidak punya hak untuk menjawabnya meski saya tahu alasan Direktur melakukannya.”



“Kamu benar-benar setia kepada Andra,” komentar Keila yang memuji sekaligus mengeluh karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Keila tahu memang tidak ada gunanya bertanya hal itu kepada Liam yang hanya seorang asisten dari Andra. Namun Keila berpikir dirinya mungkin akan mendapatkan sedikit informasi dari Liam yang mungkin saja keceplosan entah bagaimana. Keila kemudian menyadari sesuatu yang penting. “Tunggu!! Lalu alasan kau memanggilku dengan panggilan Nona itu karena kau tahu hubunganku dengan Andra?” 



Liam tertawa kecil ketika mendengar pertanyaan Keila. “Nona baru menyadarinya??” 



Keila melirik tajam ke arah Liam. “Kukira awalnya kamu melakukannya kepada semua karyawati di perusahaan. Aku baru saja ingat ketika kamu berkenalan dengan ketiga rekanku, kamu memanggil nama mereka secara langsung tapi tidak kepadaku.” 



Liam tertawa kecil lagi. “Saya melakukan itu karena saya tahu Nona adalah kekasih Direktur.” 



“Sial!” umpat Keila dengan mengecilkan suaranya. “Harusnya aku menyadari hal ini sejak lama. Aku benar-benar orang yang kurang perhatian.” 




“Apa ada yang aneh denganku?” tanya Keila yang kemudian memandang tajam ke arah Liam dengan cepat. 



“Hahahahah. . .” tawa Liam akhirnya pecah setelah berusaha ditahannya sejak tadi. Liam kemudian melirik sedikit ke arah Keila sebelum akhirnya kembali fokus melihat jalanan di depannya. 



“Kenapa malah tertawa, Liam?” Keila bertanya lagi kepada Liam dengan tatapan menyipit pertanda rasa ingin tahunya yang bercampur dengan menyelidik. 



“Kepribadian Nona benar-benar kepribadian yang cocok dengan Direktur. Bagaimana yah menjelaskannya. . .” Liam terdiam sejenak berusaha menggambarkan Andra yang selama ini dikenalnya. “Direktur itu orang yang tidak banyak bicara terutama dengan orang yang tidak dikenalnya. Bahkan saya butuh waktu dua tahun lamanya hanya untuk mendengar Direktur berbicara panjang lebar kepada saya. Itu pun karena situasi kami yang mendesak. Direktur juga bukan orang yang murah senyum seperti saya, sehingga kebanyakan gadis-gadis yang terpesona pada Direktur akan langsung mundur begitu mengenal Direktur. Intinya. . . Direktur adalah orang yang sulit dekat dengan orang lain.” 



“Ah benarkah?” tanya Keila tidak percaya. “Kukira Andra awalnya adalah orang yang sedikit tidak malu. Dia selalu mengekoriku ke mana pun aku pergi, menyebutku kekasihnya bahkan di saat aku berusaha keras menolaknya dan seenaknya saja mendatangiku hanya untuk meminta makan.”



Liam tertawa kecil lagi. “Direktur benar-benar menjadi orang lain ketika bersama dengan Nona dan saya suka perubahan yang terjadi pada Direktur.” 



Mobil yang dikendarai Liam berhenti dan Keila menatap gedung apartemennya yang sudah berada di depan matanya. Ah sudah sampai rupanya. Keila benar-benar tidak menyadari jika mobil yang dikendarainya telah sampai di tempat tujuannya. Perbincangan tentang Andra benar-benar membuat perhatian Keila teralihkan hingga tidak menyadari waktu telah berjalan dengan cepat.



“. . . Kita sudah sampai, Nona.” 



“Ya, aku melihatnya, Liam.” Keila melepaskan seatbeltnya dan hendak membuka pintu mobil di sampingnya. “Terima kasih telah mengantarku pulang, Liam.” 



“Bisakah saya meminta sesuatu kepada Nona sebagai gantinya?” 



Ucapan Liam itu menghentikan niat Keila yang hendak turun dari mobil. Ucapan Liam itu mengingatkannya kepada Andra yang selalu meminta sesuatu di balik perbuatan baiknya kepada dirinya. Apa ini? Dia melakukan kebiasaan yang sama dengan Andra: meminta sesuatu untuk balasan dari perbuatan baik mereka. Apa karena mereka sudah bersama untuk waktu yang cukup lama? Keila menghela napasnya sesaat sebelum membalas pertanyaan Liam. “Baiklah, aku akan mengabulkannya karena kamu telah mengantar aku pulang, Liam. Yang penting itu bukan permintaan yang aneh dan tidak masuk akal.” 



Liam tersenyum mendengar peringatan dari Keila yang ditujukan kepadanya. “Tentu saja ini bukan permintaan yang aneh dan tidak masuk akal, Nona.” 



“Kalau begitu apa? Apa yang ingin kamu minta padaku, Liam?” 



“Saya tahu Nona marah dengan perbuatan Direktur. Saya juga tahu Nona juga merasa seperti dipermainkan oleh Direktur. Jika saya yang berada di posisi Nona, saya juga akan merasakan hal yang sama. Tapi. . . bisakah sekali saja Nona mendengarkan penjelasan Direktur nanti? Semua perbuatan Direktur itu memiliki alasan dan satu hal lagi, semua yang Direktur lakukan karena ucapan saya. Jadi. . . saya juga punya andil dalam perbuatan Direktur kepada Nona.” 



Keila menghela napasnya lagi setelah mendengarkan ucapan panjang dari Liam yang kali ini berbicara dengan serius dan tanpa senyuman di bibirnya seperti sebelumnya. Keila tahu kali ini Liam benar-benar serius dengan ucapannya. 



“Hanya itu?” tanya Keila. 



“Ya, hanya itu.” 



“Kalau begitu baiklah. Aku akan mendengarkan setidaknya sekali penjelasan dari Andra. Tapi. . . jika kali ini Andra masih saja menyembunyikan segalanya dariku, aku akan benar-benar marah padanya.” Keila memberi peringatan kepada Liam. 



“Saya mengerti. Terima kasih untuk pengertian Nona.” 



Setelah itu Keila turun dari mobil dan Liam pun berpamitan kepada Keila untuk pulang ke rumahnya.