30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
51. RAHASIA KEKASIH 3



Mendengar penjelasan panjang dari Pak Agung, Keila kembali teringat dengan pertanyaan yang muncul di dalam benaknya pagi ini. Sial. Kau benar-benar orang yang membuatku diskorsing. Keila benar-benar ingin memukul Andra saat ini dan melampiaskan kemarahannya kepada Andra. Sayangnya Andra saat ini tidak ada dan Keila terpaksa harus menahan amarahnya lagi. 



“. . . Tapi. . “ Pak Agung melanjutkan ucapannya. 



Kening Keila mengerut lagi. “Tapi apa, Pak?” 



“Tapi ada alasan dibalik hukuman skorsing yang kamu terima itu, Key.” 



“Alasan?” tanya Keila tidak percaya. “Alasan apa yang dimiliki oleh Andra untuk membuatku di skorsing selama tiga puluh hari lamanya ketika aku juga seorang korban?” 



Keila menatap Pak Agung yang sepertinya sudah menduga reaksi yang diberikan Keila ketika mendengar kenyataan itu, pasti akan kesal dan marah karena siapapun yang berada di posisi yang sama dengan Keila pasti merasa hukuman itu sangatlah tidak adil. Keila tidak sedikit pun melihat Pak Agung merasa kesal seperti yang dirasakannya. Keila menduga Pak Agung juga memahami alasan di balik tindakan Rafandra atau Andra saat itu sebagai Direktur. Keila kemudian mengatur napasnya dan menahan amarahnya saat ini karena Keila tahu, tidak seharusnya dirinya marah pada Pak Agung. Kemarahan itu harusnya ditujukan kepada Andra-kekasihnya yang selama ini menyembunyikan banyak hal darinya. 



“. . . Apa alasannya, Pak?” tanya Keila yang telah mengatur amarah dan rasa kesalnya. 



Pak Agung kemudian membuka mulutnya dan menceritakan percakapannya dengan Rafandra kemarin, setelah rapat berakhir. 



“Direktur Rafandra, bisakah saya bicara dengan Direktur berdua saja?” Pak Agung yang melihat Direktur Rafandra berjalan keluar dari ruang rapat mempercepat langkahnya dan memberanikan dirinya untuk meminta waktu berharga dari Direktur muda atasannya itu. 



“Tentu saja, Pak Agung.” Direktur Rafandra kemudian meminta Pak Agung untuk mengikutinya pergi ke ruangannya. Begitu tiba di ruangan miliknya, Direktur Rafandra kemudian mengajukan pertanyaan kepada Yuda-asistennya yang masih bekerja. “Liam belum kembali?” 



“Belum, Direktur.”



“Kalau begitu bilang pada Liam untuk segera menemuiku begitu dia kembali, Yuda. Lalu tolong buatkan dua kopi.”



“Baik, Direktur,” ujar Yuda. 



Direktur Rafandra kemudian mempersilakan Pak Agung untuk masuk ke ruang kerja miliknya dan duduk di sofa besar yang ada di ruangannya. “Silakan duduk, Pak.”



Percakapan penting antara Pak Agung dan Direktur Rafandra kemudian dimulai ketika kopi yang diminta oleh Rafandra datang dibawa oleh Yuda. 



“Apa yang Bapak ingin bicarakan dengan saya?” tanya Rafandra setelah meminum kopi miliknya. 




Senyuman kecil terbentuk di sudut bibir Rafandra ketika mendengar nama Keila disebut dan Pak Agung menangkap senyuman kecil itu. 



“Apa yang ingin Bapak tanyakan pada saya?” 



“Ini mengenai kejadian di mana Keila menerima skorsing selama tiga puluh hari lamanya. Seperti yang Bapak tahu saya adalah korban dari penyerangan mantan kekasih Keila-Noah. Ketika saya akhirnya pulih, saya benar-benar terkejut ketika mendengar Keila menerima hukuman tiga puluh hari lamanya. Saya kemudian berusaha untuk meminta keringanan namun dari yang saya dengar, keputusan itu diberikan oleh Direktur,” jelas Pak Agung dengan wajah serius. 


“Jika saya tidak salah menduga, Bapak pasti ingin tahu alasan saya melakukan itu bukan?” 


Di hadapan Pak Agung saat ini, sedang duduk kekasih Keila yang juga merupakan atasan Pak Agung. Dari banyak kekasih Keila yang dikenalkan padanya karena Keila sudah menganggap Pak Agung sebagai Ayahnya, Pak Agung kali ini merasa bahwa kekasih Keila saat ini benar-benar berbeda. Pria di hadapan Pak Agung saat ini mungkin memancarkan wibawa dan aura dingin tapi ketika senyuman kecil terlihat di wajahnya, Pak Agung dapat dengan jelas menangkap bahwa Andra adalah pria yang hangat. 



Pak Agung menganggukkan kepalanya sembari menjawab, “Itu benar, Direktur.” 



“Hari itu ketika penyerangan yang menimpa Bapak terjadi, saya juga kebetulan berada di dekat lokasi Bapak. Hari itu dengan mata kepala saya sendiri saya melihat pria bernama Noah itu sudah kehilangan kewarasannya. Dan di hari itu pula ketika saya gagal menyelamatkan Bapak, saya berjanji untuk melindungi Keila. Karena itu saya membuat Keila di skorsing selama tiga puluh hari lamanya dengan tujuan membuat Keila berada di rumahnya. Saya yang telah membeli apartemen di samping Keila kemudian segera pindah dan menjadi tetangga Keila. Tujuan saya melakukan itu adalah untuk mengawasi Keila jika sewaktu-waktu Noah datang dan berniat buruk padanya. Tapi yang tidak saya duga adalah Noah muncul di hari pertama ketika Keila menerima hukumannya. Apa itu menjawab pertanyaan Bapak?” 



Pak Agung menganggukkan kepalanya lagi, memahami maksud baik dari Direktur Rafandra. “Saya akhirnya mengerti alasan Direktur melakukan itu. Terima kasih telah menjawab pertanyaan saya, Direktur. Mohon maafkan kelancangan saya karena telah bertanya kepada Direktur dan membuang waktu yang berharga dari Direktur. Tapi saya harus melakukan ini. Selain karena Keila adalah anggota di tim saya, Keila juga sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Saya mohon pengertian Direktur.” 



Direktur Rafandra kemudian membuat simpul senyuman di bibirnya mendengar jawaban dari Pak Agung. “Saya mengerti, Pak. Saya paham hubungan Bapak dengan Keila. Saya merasa senang Keila dapat bekerja di tim yang sama dengan Bapak.” 



“Lalu jika Direktur tidak keberatan, bisakah saya bertanya satu pertanyaan lagi??” Pak Agung memberanikan dirinya untuk mengajukan pertanyaan kepada Direktur Rafandra. 



“Silakan, Pak.” 



“Saya dengar dari Keila, Direktur adalah orang yang mengirim buket bunga mawar putih selama ini kepada Keila. Kenapa setelah sekian lama bersembunyi di balik bayang-bayang status penggemar rahasia, Direktur muncul di dalam kehidupan Keila?” 



Direktur Rafandra kemudian membuat simpul senyuman lagi mendengar pertanyaan dari Pak Agung. “Karena Bapak adalah orang yang dianggap ayah oleh Keila, tentu saja saya harus menjawab pertanyaan ini. Sebenarnya beberapa kali saya sudah merasa Keila tidak akan mungkin memiliki perasaan untuk saya. Setelah berulang kali mencoba, Keila tidak pernah menyadari keberadaan saya. Bahkan ketika saya tahu Keila berada dalam bahaya, saya juga masih merasa ragu untuk muncul di dalam hidup Keila. Perkataan seseorang kemudian membuat saya akhirnya berani muncul di dalam hidup Keila.” 



Pak Agung mengerutkan kedua alisnya karena merasa penasaran dengan alasan di balik kemunculan Direktur Rafandra di dalam kehidupan Keila. “Jika saya boleh tahu, perkataan apa yang Direktur maksud?” 



“Tak ada gunanya terus menerus menunggu kesempatan datang. Jika kesempatan itu bisa kau buat kenapa kau tidak membuatnya sendiri?” 



Mulut Keila menganga mendengar cerita singkat dari Pak Agung tentang alasan di balik skorsing yang diberikan Andra kepadanya. Akhirnya semua yang dilakukannya adalah untukku: memberikan skorsing untuk melindungiku, tinggal di samping apartemenku untuk menjagaku, bahkan sengaja membuatku memasak makanan untuknya sebagai ganti dari hukuman skorsing yang diberikannya kepadaku. Selalu berada di sisiku, untuk menemaniku dari rasa bosan. Bagaimana pun aku membuat kesimpulan-semuanya dilakukan hanya untukku. Keila kemudian menengadah ke langit sembari menghembuskan napasnya yang panjang karena perasaan kesalnya yang entah hilang begitu saja setelah mendengar cerita dari Pak Agung. Sebuah pertanyaan kemudian muncul di dalam benak Keila. Sebenarnya seberapa besar cintamu untukku, Andra?