30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
58. TUJUH KEINGINAN 3



Setelah mendengar cerita panjang lebar dari Liam, Keila yang berusaha menahan dirinya sejak tadi kemudian berpamitan kepada Liam. Sebelum Keila benar-benar pergi meninggalkan apartemen milik Andra, Liam berkata pada Keila. “Tidak lama lagi, Direktur akan kembali. Untuk sementara waktu, mohon bersabarlah, Nona.” 



“Aku tahu itu, Liam. Sekali lagi terima kasih banyak karena bersedia meluangkan waktumu untuk menceritakan hal penting ini kepadaku. Andra mungkin akan tetap merahasiakan hal ini dariku ketika aku tetap tidak mengenalinya.” 



Liam tersenyum mendengar ucapan Keila karena apa yang diucapkan oleh Keila memang gambaran yang tepat untuk Andra dan Liam tahu hal itu dengan baik. Liam kemudian mengatakan kalimat terakhirnya kepada Keila dan menceritakan alasannya memberanikan dirinya untuk menceritakan rahasia kecil Andra. “Karena secara langsung saya punya hutang kepada Nona, ini adalah cara saya membayar hutang itu. Berkat Nona, saya bisa bertemu dengan Direktur. Berkat Nona, saya punya teman terbaik, atasan yang baik, pekerjaan yang baik dan kehidupan yang baik. Untuk itu saya juga seharusnya mengucapkan terima kasih kepada Nona.” 



Tiga hari kemudian. . .



Tiga hari berlalu dan semenjak Keila mendengar “kebenaran” di balik perbuatan Andra selama ini, selama tiga hari itu pula Keila selalu mengirim pesan kepada Andra. 



\[Keila: Aku akan menunggumu. Menunggumu di tempat pertama kali kita bertemu.\]



Tiga hari semenjak Keila mendengar cerita panjang lebar dari Liam, setiap pulang kerja Keila akan menghabiskan waktu sore hari yang dimilikinya dengan berdiri di jembatan sembari menunggu matahari terbenam. Keila akan pergi dari jembatan dan kembali ke apartemennya ketika langit sudah gelap. 



Selama tiga hari penantiannya, bayangan Andra muncul dalam pandangan Keila memutar kembali beberapa kenangan dirinya ketika bersama dengan Andra. Setiap kali hal itu terjadi, Keila akan tersenyum kecil ketika melihat kembali kenangannya dan akan kehilangan senyumannya ketika bayangan itu memudar. 



“Manusia itu benar-benar makhluk yang tidak pernah belajar menghargai. Mereka baru menyadari sesuatu di sisinya selama ini bernilai penting ketika kehilangannya.” 



Keila menghela napas panjang mengingat kalimat itu ketika siang tadi membacanya dalam novel yang sedang dalam proses editing. Benar, manusia memang makhluk yang seperti itu. Mereka tidak akan pernah menyadari nilai sesuatu atau seseorang ketika berada di sisinya. Mereka baru sadar nilai itu ketika mereka kehilangannya. 



Bukk. Keila memukul pegangan pembatas jembatan yang basah oleh hujan di hadapannya karena merasa kesal pada dirinya sendiri. Aku benar-benar bodoh. Keila mengutuk dirinya sendiri yang baru merasakan jika saat ini Andra yang selalu ada di sisinya selama beberapa waktu ternyata begitu berharga baginya. 



Angin dingin setelah hujan berembus ke arah Keila yang saat ini sedang berdiri di jembatan favoritnya. Setelah seharian penuh hujan turun, Keila tetap nekat untuk datang ke jembatan ini setelah hujan berhenti dan langit masih gelap oleh mendung. 



“Huft.” Keila menghela napasnya lagi menatap pemandangan langit gelap di hadapannya saat ini. “Rasanya langit ini mengerti aku sedang merindukan seseorang, hingga hujan turun seharian.” 



“Siapa yang kau rindukan?” 



Suara itu muncul tidak jauh dari tempat Keila berdiri dan membuat Keila yang mendengarnya spontan menolehkan kepalanya, untuk melihat ke arah pemilik suara itu. Keila kemudian membeku melihat sosok itu tersenyum ke arah Keila. Selama sepuluh detik, Keila membeku dan lupa untuk menjawab pertanyaan yang diajukan sosok itu kepada dirinya. 



“Siapa yang kau rindukan? Aku penasaran sekali ingin mendengarnya, Key.” Sosok itu mengulangi pertanyaannya kepada Keila sembari berjalan mendekat ke arah Keila dan memasangkan jaket miliknya di tubuh Keila. “Bukankah aku sudah bilang untuk selalu menjaga kesehatanmu? Bagaimana kamu bisa mengenakan pakaian tipis seperti ini ketika seharian ini hujan turun??” 



Keila menatap jaket milik sosok itu di tubuhnya sendiri sembari memberi keyakinan di dalam benaknya sendiri. Ini bukan mimpi, bukan? Ini bukan bayangan yang sering muncul di dalam benakku, bukan? Tanpa Keila sadari, tangan Keila kemudian menyentuh wajah dari sosok itu dan menemukan bahwa sosok itu memudar seperti bayangan-bayangan yang muncul selama beberapa hari di pandangan Keila. “Ini benar-benar bukan mimpi.”



Sosok itu tersenyum menerima sentuhan Keila di wajahnya dan merasakan dinginnya tangan Keila di kulitnya yang hangat. “Benar, ini aku, Key. Aku akhirnya pulang.” 



Keila menatap Andra yang saat ini berdiri tepat di hadapannya: lengkap dengan kacamata yang selalu digunakan Andra ketika bertemu dengannya, namun gaya rambut dan gaya pakaian yang saat ini dikenakannya adalah gaya dari penampilan Direktur Rafandra. 




“Kau!!!” Keila menjawab sembari mencubit pipi Andra di mana tangannya menyentuh wajah Andra. “Menurutmu siapa lagi yang akan aku rindukan, huh?? Aku hanya punya satu orang kekasih dan orang itu adalah kamu.” 



Senyuman muncul di bibir Andra ketika mendengar omelan yang keluar dari mulut Keila. Omelan itu adalah sesuatu dari sekian banyak hal yang sangat dirindukan Andra dari Keila. Omelan itu adalah satu dari banyak alasan Andra begitu menyukai Keila. “S-senang sekali mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu, Keila. Aku juga, aku juga sangat merindukanmu, Keila. Tapi sebelum itu bisakah kamu melepaskan tanganmu yang sedang mencubit pipiku ini? Cubitanmu ini benar-benar sedikit menyakitkan.” 



Keila menatap sengit ke arah Andra. “Jika aku melepaskan cubitanku, apakah kau akan memberikan penjelasan untuk semua perbuatan yang kamu sembunyikan dariku selama ini?” 



Andra menganggukkan kepalanya dengan meringis. “Ya, aku sadar aku punya hutang penjelasan kepadamu.” 



Keila kemudian melepaskan cubitannya di pipi Andra. “Sebelum kamu menjelaskan segalanya, aku ingin bertanya satu hal lebih dulu. Bagaimana keadaan ayahmu? Apakah beliau sudah baik-baik saja?” 



Andra kemudian menatap langit sore yang awalnya tertutup mendung mulai menunjukkan sinar matahari. Andra kemudian melihat hujan gerimis kecil yang halus perlahan turun. Andra kemudian membuka payung yang dibawanya dan menarik pinggang Keila mendekat untuk berteduh di bawah payung yang sama. “Mendekatlah, hujan butiran kecil ini bisa membuatmu sakit.” 



“Kau ini! Aku bukan anak kecil yang akan jatuh sakit hanya karena hujan gerimis kecil seperti ini!” tegas Keila. 



“Hahahahah. Kenapa kau selalu membalas ucapan dan tindakanku yang berusaha untuk melindungimu sebagai wanitaku??” Andra tertawa kecil menatap Keila yang berada di bawah payung yang sama dengan dirinya. 



“Berhenti membahas itu dan cepat jawab pertanyaanku, bagaimana keadaan Ayahmu?” Keila yang kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Andra kemudian berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka. 



“Ayahku sudah baik-baik saja. Kau tahu, ayahku itu benar-benar orang yang lucu, Key.” 



“Lucu??” Kening Keila mengerut merasa heran. “Apa yang kamu maksud dengan itu?” 



“Dia membenciku karena aku memiliki wajah dan mat yang mirip dengan ibuku. Sejak kepergian Ibuku, Ayahku bahkan menolak untuk bertemu denganku jika bukan karena sesuatu yang mendesak. Dan sekarang ketika dia sakit, dia akan selalu mencariku dengan membuat keributan pada seluruh pelayan di rumah kami. Dan setiap kali itu terjadi, aku harus mengurus ayahku selama kurang lebih seminggu sebelum akhirnya dia menolak lagi untuk bertemu denganku.” Andra tersenyum menatap langit yang masih menurunkan hujan gerimis kecil bersama dengan sinar matahari yang mulai menembus awan mendung. “Bukankah itu lucu namanya?” 



Mendengar cerita Andra yang mungkin tidak sembarang orang mengetahuinya, Keila kemudian mencubit lengan Andra. 



“Awwwww. . .” teriak Andra sembari meringis kesakitan. “Kenapa kau mencubit lenganku, Key?” 



“Apa kau tidak sadar jika sebenarnya Ayahmu itu menyayangimu??” ujar Keila yang kemudian melepaskan cubitan di lengan Andra. 



Sembari meringis, Andra kemudian membalas ucapan Keila. “Hanya dengan mendengar cerita singkat dariku, kau mengatakan kalimat yang sama dengan Liam. Apakah kalian benar-benar berpikir Ayahku itu memiliki rasa sayang untukku setelah kepergian ibuku?” 



“Bukankah memang begitu?” Keila berbalik bertanya pada Andra. “Di saat seseorang sedang sakit dan merasa akan pergi dari dunia ini, orang pertama yang mereka pikirkan adalah orang yang mereka sangat cintai. Kamu mungkin tidak menyadarinya, Andra, tapi itu adalah cara ayahmu menunjukkan betapa cinta dirinya padamu.”