
Seharian itu, Andra benar-benar meluangkan waktunya untuk Keila. Dari menyiapkan makanan untuk Keila, membacakan buku untuk Keila dan menemani Keila hingga akhirnya tertidur karena obat yang diminumnya. Keila mengira Andra akan pulang ke apartemennya dan menghilang dari sisinya ketika terbangun. Namun sekali lagi Keila salah menduga. Andra tetap bersama dengannya ketika Keila terbangun dari tidurnya. Andra bahkan tertidur dalam posisi duduk di samping tempat tidur Keila sambil menggenggam tangan Keila dengan erat.
Dan itu adalah pemandangan yang membuat Keila merasa bahagia ketika melihatnya.
Sehari berlalu dengan cepat ketika Keila bersama dengan Andra. Pagi berganti siang, siang berganti malam dan kembali lagi ke pagi hari di hari berikutnya.
Setelah seminggu lebih sebelumnya Keila berangkat seorang diri ke kantornya dengan mengendarai bis kota, kali ini Keila datang ke kantornya bersama dengan Andra sama seperti di hari pertama Keila masuk kerja setelah skorsingnya selama sebulan.
“Terima kasih telah mengantarku,” ucap Keila ketika Pajero hitam milik Andra berhenti tiga blok dari perusahaan tempat Keila bekerja.
“Mau makan siang bersama?” tanya Andra.
“Bisakah hari ini aku tidak makan siang denganmu? Nuri, Suci dan Irene pasti merasa khawatir denganku dan ingin makan siang denganku nanti.”
“Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan berdebat masalah waktu makan siangmu lagi ketika waktu makan pagi dan makan malammu adalah milikku.”
“. . .” Keila membeku untuk sesaat mendengar ucapan Andra. Meski setelah sebulan lebih lamanya Keila mendengar cara bicara Andra itu, Keila masih belum terbiasa dan beberapa kali, Keila akan membeku seperti saat ini ketika mendengar ucapan Andra yang seperti itu.
“Kamu membeku lagi? Apakah ucapanku ini benar-benar membuatmu canggung? Apakah kau tidak menyukai caraku berbicara ini?”
“T-tidak. B-bukan begitu,” jawab Keila spontan. “Aku suka caramu berbicara ini. Kau jujur sekali dalam bicara dan aku suka itu. Hanya saja, aku masih belum terbiasa mendengarnya.”
“Benar begitu?” tanya Andra memastikan.
Keila menganggukkan kepalanya. “Ya.”
“Aku senang mendengarnya kalau begitu. Nanti kirim pesan padaku jika kau sudah selesai bekerja. Aku akan menjemputmu di sini lagi.”
“Ya.” Keila kemudian membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun. Keila yang hendak turun dari mobil kemudian menghentikan niatnya ketika tangan Keila yang lain ditarik oleh Andra. Keila memandang Andra dengan tatapan bingung. “Ada apa?”
Andra tidak menjawab pertanyaan Keila. Andra justru mengangkat ibu jarinya yang lain dan memberikan ciuman kecil pada ibu jarinya. Ibu jari Andra itu kemudian digerakkannya dan ditempelkannya di pipi Keila. Cup. “Ini tanda dariku bahwa wanita yang menerima ciuman kecil ini adalah kekasihku, Keila.”
Keila tersipu malu dan gugup ketika mendengar ucapan Andra yang romantis itu. Meski Keila sudah memiliki banyak hubungan sebelumnya, Keila belum pernah memiliki kekasih yang begitu romantis seperti Andra. Saat ini, Keila teringat dengan tokoh utama dalam banyak novel yang pernah dibacanya. Akhirnya, aku tahu kenapa tokoh utama wanita dalam banyak novel selalu menyukai tokoh utama pria yang dingin tapi romantis. Tipe pria seperti itu benar-benar membuat jantungku berdetak kencang seperti gambaran dalam novel.
“Aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Keila membuka pintu mobil lebih lebar dan hendak turun.
“Aku tidak mendapatkan tanda juga?”
Untuk kedua kalinya, Keila yang hendak turun dari mobil harus menghentikan niatnya lagi karena tiba-tiba mendengar rajukan Andra yang meminta balasan untuk ciuman kecil tanda darinya. Keila yang tidak ingin niatnya untuk pergi bekerja tertunda lagi, kemudian dengan cepat mengangkat ibu jari miliknya dan memberikan ciuman kecil di ibu jarinya seperti yang dilakukan oleh Andra. Dengan cepat, Keila kemudian memberikan ciuman kecil di ibu jarinya itu ke pipi Andra. “Apa kau sudah puas?”
Andra menganggukkan kepalanya dengan senyuman lebar di bibirnya. “Sudah.”
“Apa aku sekarang sudah boleh pergi bekerja?” tanya Keila memastikan agar niatnya tidak tertunda untuk ketiga kalinya.
Andra menganggukkan kepalanya lagi masih dengan senyuman di bibirnya. “Sudah.”
“Kalau begitu, aku berangkat kerja.” Keila turun dari mobil Andra dan sebelum menutup pintu mobil Andra, Keila mengucapkan salamnya kepada Andra. “Hati-hati di jalan, ke-kekasihku.”
Setelah mengatakan itu, Keila cepat-cepat menutup pintu mobilnya dan berjalan cepat menuju ke gedung perusahaannya. Keila yang menahan rasa malunya tidak ingin Andra mengejarnya dan menangkap basah wajahnya yang sangat malu saat ini. Setelah memastikan bahwa Andra tidak turun dari mobil dan mengejarnya, Keila kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah di mana mobil Andra tadinya menepi. Dia sudah pergi. Dia pergi begitu saja setelah aku menyebutnya sebagai kekasihku? Bagaimana bisa? Apakah dia tidak senang mendengarku memanggilnya sebagai kekasihku? Ah, malunya aku melakukan hal seperti itu.
Untuk sejenak. . . Keila merasa sedikit kesal ketika menyadari Andra pergi begitu saja. Namun notifikasi pesan masuk di dalam ponselnya berhasil membuat rasa kesal di dalam hati Keila menghilang dengan cepat. Senyuman muncul di wajah Keila ketika melihat pesan masuk yang berasal dari Andra.
[Selamat bekerja, kekasihku.]
Rona merah muncul di wajahnya, membuat Keila kemudian memasang earphone di kedua telinganya untuk menenangkan jantungnya yang berdetak dengan cepat saat ini karena begitu bahagia hanya karena sebuah pesan kecil dari Andra. Earphone yang terhubung dengan ponsel miliknya kemudian memutar lagu dalam playlist milik Keila. Lagu ini. . . Keila yang berjalan sembari mendengarkan lagu kemudian tersenyum lagi ketika mendengar lagu yang sama yang pernah didengarnya ketika bersama dengan Andra menikmati hujan di beranda apartemennya.
“Kuharap, aku bisa memiliki hubungan seperti dalam lagu ini. Memiliki kekasih yang cintanya akan bertahan selamanya seperti lirik lagu ini dan aku harap kekasih itu adalah kamu, Keila.”
\# \# \#
Begitu tiba di gedung perusahaannya dan di dalam ruangan departemen editor di mana Keila bekerja, Suci bersama dengan Nuri dan Irene yang sudah menunggu kedatangan Keila kemudian menatap Keila dengan tatapan tajam menyelidik. Keila yang menerima tatapan tiga junior sekaligus rekan kerjanya itu merasa heran dan bingung di saat bersamaan. “Kenapa kalian bertiga menatapku dengan tatapan seperti itu?”
Nuri, Suci dan Irene mengambil satu langkah bersamaan untuk mendekat ke arah Keila. Ketiganya kemudian membuka mulutnya bersama-sama dan hendak berbicara di saat yang sama kepada Keila.
“Key.” Pak Agung yang baru saja datang dan berjalan di belakang Keila kemudian memanggil nama Keila dan menghentikan niat Suci bersama dengan Irene dan Nuri untuk berbicara kepada Keila.
“Ya, Pak.” Keila membalikkan badannya menatap Pak Agung yang memanggil namanya. “Selamat pagi, Pak.”
“Kamu sudah merasa baikan?” tanya Pak Agung setelah menghentikan langkahnya beberapa langkah di depan Keila.
“Sudah, Pak.”
“Baguslah kalau begitu. Kuharap kamu tidak jatuh sakit lagi dan membuat kekacauan seperti kemarin.” Pak Agung melanjutkan langkahnya dan berjalan melewati Keila sembari menepuk bahu Keila.
Keila berbalik mengikuti Pak Agung dan mengabaikan tiga rekannya begitu saja karena bingung dengan ucapan Pak Agung yang baru saja didengarnya. “Kekacauan apa, Pak? Apakah aku membuat rekan-rekanku kesulitan karena pekerjaanku?”
Pak Agung yang baru saja meletakkan tas kerjanya kemudian mengacungkan jari telunjuknya ke arah Keila dan menggerakkan jari telunjuknya untuk memberi isyarat pada Keila bahwa apa yang Keila ucapkan adalah salah. “Bukan itu kekacauan yang aku maksud, Key.”
“Kalau bukan itu, kekacauan apa yang Bapak maksud?” tanya Keila bingung.
“Tanyakan saja pada ketiga juniormu itu, Key.”
Mendengar ucapan Pak Agung, Keila yang sempat mengabaikan ketiga junior sekaligus rekan kerjanya itu kemudian membalikkan badannya lagi untuk melihat ke arah Suci, Nuri dan Irene.
“Jadi kakak sudah menaruh perhatian pada kami dan tidak mengabaikan kami?” tanya Irene dengan tatapan tajamnya.
“Hehe.” Keila terkekeh merasa bersalah. “Jadi kekacauan apa yang dimaksud oleh Pak Agung? Apa keadaanku yang tidak sehat kemarin menyusahkan kalian?”
“Tidak. Kami sama sekali tidak merasa susah jika kakak jatuh sakit,” jawab Suci.
“Lalu apa yang terjadi kemarin hingga kalian menatapku tajam seperti ini?” tanya Keila penasaran.
Nuri maju mendekat ke arah Keila dan memandang tajam ke arah Keila. “Jujur katakan pada kami, Kak.”
Glek. Keila menelan ludahnya karena perasaan tegang yang dirasakannya saat ini. “Apa?”
Suci mengambil langkah maju untuk menyejajarkan dirinya dengan Nuri sebelum bertanya kepada Keila. “Kakak punya hubungan apa dengan Liam-asisten direktur muda kita?”
“Liam? Asisten direktur muda kita yang kalian idolakan?” tanya balik Keila yang merasa heran.
“Ya, Kak. Siapa lagi di perusahaan ini yang punya nama Liam selain asisten direktur muda kita itu?” ucap Nuri.
“Seperti yang sudah kuceritakan pada kalian, aku hanya pernah berbicara sekali dengan Liam ketika satu lift bersama dengannya dan Yuna. Selebihnya, aku tidak pernah berhubungan lagi dengan Liam, mungkin hanya beberapa kali melihatnya karena berpapasan dengannya di kantor.”
Setelah Suci dan Nuri yang maju lebih dekat dengan Keila, kini giliran Irene yang mengambil langkah maju untuk bertanya kepada Keila. “Kalau Kakak tidak punya hubungan dengan Liam, kenapa kemarin surat ijin Kakak diantarkan oleh Liam kemari?”
“HAH?? Apa yang baru saja kamu bilang? Ulangi lagi?” Keila terkejut mendengar pertanyaan Irene.
“Ya, Kak. Kemarin Kakak benar-benar membuat kehebohan besar karena Liam-asisten dari direktur muda datang kemari hanya untuk mengantarkan surat ijin Kakak karena tidak masuk bekerja.” Irene menjelaskan apa terjadi kemarin kepada Keila dan alasan dari tiga junior Keila menatapnya tajam ketika baru saja tiba di kantor.
“Liam mengantarkan surat ijinku kemarin?” Keila mengulangi pertanyaannya karena masih belum bisa percaya dengan apa yang didengarnya dari tiga rekan kerjanya.
“Ya, Kak,” jawab Suci dengan wajah meyakinkan. “Kenapa Kakak terkejut? Harusnya kami yang terkejut karena diam-diam Kakak punya hubungan dengan asisten direktur muda kita yang tampan?”