
“Seperti apa kekasih yang kamu idamkan, Key?”
Di masa lalu, Keila pernah mendapat pertanyaan itu dari Bonita-sahabatnya. Jika Keila tidak salah ingat, pertanyaan itu diterima Keila ketika berusia 18 tahun-tepat sebelum Keila pergi berkuliah.
“Seperti Ayahku. Di mataku pria paling sempurna adalah ayahku dan karena itu, aku harap aku bisa menemukan kekasih, pasangan hidup yang tidak berbeda jauh dengan ayahku.”
“Kau benar-benar mencari kekasih yang seperti ayahmu, Key?” tanya Bonita tidak percaya. “Akhirnya aku paham kenapa hingga usia 18 tahun ini, kamu tidak tertarik memiliki kekasih. Apa yang kamu cari sepertinya terlalu tinggi, Key. Anak seusia kita, tidak akan pernah bisa sehebat ayahmu itu. Ayahmu punya semua kebaikan seorang pria: ayahmu tampan untuk pria seusianya, baik hati, memiliki hati yang hangat, pengertian dan terakhir yang paling penting adalah ayahmu adalah orang paling menyayangimu dan keluarganya.”
“Bukankah mimpi dan harapan harus dibuat setinggi mungkin?” jawab Keila dengan senyuman di wajahnya.
Masa-masa itu adalah masa di mana Keila merasa hidupnya paling bahagia. Sejak kecil, Keila lah yang paling banyak menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya. Bagi Keila, ayahnya adalah sosok gambaran sempurna untuk seorang pria yang bisa dijadikan pasangan hidup, gambaran sempurna seorang ayah untuk anak – anaknya. Karena alasan itulah hingga usia 18 tahun, Keila belum pernah memiliki kekasih meski banyak teman-teman sekolahnya yang berusaha untuk mengambil hatinya.
Alasannya mudah. Di mata Keila, teman-teman sekolah yang berusaha untuk mengambil hatinya tidak setara dengan sosok ayahnya.
Hal yang sama terjadi ketika Keila memasuki dunia mahasiswa. Wajah yang cantik yang diturunkan ayahnya membuat Keila menjadi pusat perhatian dari mahasiswa berbagai tingkat. Tapi sekali lagi, Keila sama sekali tidak tertarik untuk dekat dengan pria-pria yang mendekatinya karena tidak satupun dari mereka yang bisa dikatakan mirip dengan sosok ayahnya.
Keila selalu menolak pria-pria yang mendekatinya hingga sebuah kecelakaan tragis datang menghampiri Ayah Keila dan merenggut nyawanya setahun setelah Keila kuliah. Kematian ayahnya ketika Keila berada jauh dari ayahnya, membuat Keila benar-benar terpukul. Keila yang kehilangan ayahnya secara mendadak, kemudian tidak bisa menahan kesedihannya hingga membuat Bonita dan Hardan-sahabatnya, harus bergantian menjaga Keila dan menghibur Keila.
Selama setahun, Keila jatuh dalam kesedihan hingga sesuatu terjadi dan membuat Keila akhirnya bangkit dari kesedihan dan kehilangannya yang mendalam atas ayahnya.
# # #
“Kau sudah bangun?”
Keila yang baru saja membuka kedua matanya, tiba-tiba langsung bangkit dari tidurnya ketika mendengar suara seseorang.
“Andra!” teriak Keila karena terkejut melihat sosok Andra begitu membuka matanya. “Sejak kapan kamu datang?”
“Belum lama. Lihatlah!” Andra menunjukkan jam tangannya kepada Keila yang menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. “Kenapa kau tidur di sini dan bukannya di kamarmu?” Andra bertanya dengan nada suara lembut.
Keila menatap dirinya sendiri dan kemudian menatap ruangan sekelilingnya di mana dirinya tertidur di ruang tengah vila dengan pintu yang mengarah ke pantai dalam keadaan sedikit terbuka. Keila kemudian berusaha mengingat alasannya tertidur di tempatnya sekarang dan bukannya di kamar tidurnya.
“Ah, tadinya aku tidak berniat untuk tidur. Karena kakiku lelah setelah berjalan-jalan di pantai sejak tadi, aku hanya ingin mengistirahatkan kakiku saja. Siapa yang akan menyangka jika aku akhirnya jatuh tertidur?” Keila membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan merasa terkejut menyadari selimut itu tadinya tidak ada ketika Keila mengistirahatkan tubuhnya. Selimut ini, pasti dia lagi yang melakukannya.
“Lain kali tidurlah di kamarmu. Tertidur di ruangan seperti ini dengan angin kencang pasti akan membuatmu jatuh sakit nantinya.”
Dia khawatir padaku secara berlebihan lagi dan perasaan ini membuatku merasa resah. Keila menganggukkan kepalanya. “Ya. . . ya. . . Aku mengerti. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Akan kuingat itu dengan baik. Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah sudah selesai?”
“Sudah.”
Keila berjalan ke beranda vila dan duduk sembari melihat pemandangan matahari terbenam. “Lalu, setelah ini apa yang akan kita lakukan?”
Melihat Keila duduk di beranda dan menatap pemandangan matahari terbenam, Andra kemudian menyusul duduk di samping Keila. “Setelah ini, aku akan mandi. Lalu kita akan makan malam bersama di tepi pantai. Aku sudah memesan makan malam untuk kita berdua.”
“Makan malam ya??” Keila menganggukkan kepalanya masih dengan menatap pemandangan matahari terbenam.
“Kenapa? Apa kau tidak suka dengan makan malam di tepi pantai?”
“Apa yang membuatmu heran, Key?”
Keila sengaja tidak langsung menjawab pertanyaan Andra karena sibuk memandang keindahan matahari terbenam yang berada tepat di depan matanya. Seiring dengan waktu yang terus berjalan, maka bagian matahari yang tenggelam semakin besar dan hilang seutuhnya. Langit yang kehilangan matahari kemudian berubah gelap dan Keila yang sengaja menahan jawaban untuk pertanyaan Andra kemudian menolehkan kepalanya ke arah Andra.
Mata Keila tiba-tiba membulat besar ketika kepalanya menoleh dan melihat Andra tengah menatap ke arah dirinya. Keila mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha memberi keyakinan pada dirinya sendiri bahwa apa yang saat ini dilihatnya adalah kenyataan bukan halusinasi.
“Se-sejak kapan kau menatapku?” Keila bertanya dengan gugup.
“Sejak tadi.”
“Ke-kenapa menatapku dan bukannya menatap matahari terbenam?” tanya Keila masih dengan rasa gugupnya.
“Pemandangan matahari terbenam itu sudah sering kulihat dan menurutku pemandangan itu tidak seindah ketika menatap wajahmu.”
“. . .” Mendengar ucapan Andra, Keila yang merasa panik kemudian dengan cepat mengalihkan kepalanya ke arah lain untuk menghindari tatapan Andra dan menyembunyikan rasa gugupnya.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Keila?”
“Per-pertanyaan yang mana?” tanya Keila masih dengan rasa gugup dan paniknya.
“Aku tadi bertanya padamu, apa yang membuatmu merasa heran?”
“Ah, benar. Aku lupa.” Keila menghela napas panjang sebelum akhirnya menolehkan kepalanya lagi ke arah Andra dan memandang Andra. “Sebenarnya aku ingin bertanya padamu. Kenapa kamu membawaku kemari? Awalnya kukira, kau membutuhkan bantuanku dalam pekerjaanmu. Tapi nyatanya, kamu meninggalkanku sendiri di sini dan menyelesaikan pekerjaanmu tanpa adanya aku. Lalu aku berpikir, mungkin kamu akan membutuhkan bantuanku di malam hari untuk pekerjaanmu yang lain. Akan tetapi ketika aku bertanya, kamu justru menjawab bahwa kita hanya akan makan malam di tepi pantai. Ini benar-benar membuatku merasa heran, sebenarnya apa tujuanmu membawaku kemari?”
Keila menatap wajah Andra dan mendapati senyuman terbentuk lagi di sudut bibir Andra.
“Aku memang butuh bantuanmu nanti malam. Kita akan melakukannya ketika makan malam nanti.”
“Apa itu?” Keila bertanya dengan raut wajah penasaran.
“Aku membutuhkanmu untuk menemaniku makan malam nanti.”
Kening Keila mengerut mendengar jawaban yang diberikan Andra untuk pertanyaan dari rasa herannya. Sesuatu dalam benak Keila tiba-tiba muncul. Apa mungkin yang Andra maksud adalah kencan? Ti-tidak mungkin! Ini pasti hanya pemikiranku saja. Aku sudah menegaskan pada Andra berulang kali bahwa dia bukan kekasihku. Jadi tidak mungkin dia mengajakku kemari untuk kencan.
Keila menyangkal ide yang muncul dalam benaknya tiba-tiba itu. Namun karena rasa penasaran Keila sangat besar, Keila akhirnya mengeluarkan ide yang muncul di benaknya itu dan bertanya kepada Andra. “Maafkan aku karena pikiranku yang sedang tidak berfungsi dengan baik ini, tapi sesuatu dalam pikiranku terlintas dan itu sangat menggangguku. Jadi aku akan bertanya padamu untuk memastikannya, Andra.”
“Apa itu?”
“Mungkinkah kamu mengajakku kemari hanya untuk menghabiskan waktu bersamaku seperti sepasang kekasih?” Keila terkekeh karena merasa ucapannya barusan seharusnya tidak keluar dari mulutnya dan hanya tersimpan di dalam benaknya saja. “Tidak mungkin kamu mengajakku kemari untuk berkencan, bukan?”
Keila menangkap senyuman di bibir Andra semakin lebar dan kali ini bukan hanya terlihat di sudut bibir Andra saja. Seluruh bibir Andra membentuk senyuman yang lebar dan manis. Tangan Andra tiba-tiba bergerak dan mendarat di atas kepada Keila.
“Pintar sekali. Itulah tujuanku mengajakmu kemari. Untuk berkencan. Kencan hanya bisa dilakukan oleh dua orang, maka dari itu aku membutuhkanmu agar bisa berkencan.”
Sial, lagi-lagi. Keila yang membeku mendengar jawaban Andra hanya bisa mengumpat di dalam hatinya sembari menerima belaian lembut di kepalanya.