
“Ada apa dengan senyumanmu itu?”
Pertanyaan itu seketika keluar dari mulut Andra ketika melihat Keila masuk ke dalam mobilnya. Keila duduk di kursinya sembari memasang safety beltnya sebelum menjawab pertanyaan Andra itu. “Sesuatu yang lucu terjadi sepanjang hari ini.”
“Sesuatu yang lucu?” tanya Andra sembari menyalakan mesin mobilnya dan mulai mengemudikan mobilnya untuk mengantar Keila pulang. “Apa itu?”
“Dugaanku benar hari ini. Aku beruntung tidak membuat janji makan siang denganmu, Andra.” Keila tersenyum mengingat kejadian hari ini. “Ketiga rekanku menawanku dan tidak melepaskan pandangan mereka dariku sedikitpun bahkan makan pun serasa tidak bisa tenang karena pandangan mereka padaku. Hari ini rasanya seperti aku adalah seorang tersangka yang sedang diinterogasi oleh ketiga rekanku seperti yang terjadi dalam novel-novel yang aku baca.”
“Rekanmu?” Andra bertanya masih dengan terus mengemudikan mobilnya sembari sesekali melirik ke arah Keila dan mencuri lihat senyuman di bibir Keila yang sedang senang menceritakan kejadian yang dialaminya.
“Ah benar, aku belum mengenalkan mereka padamu. Ketiga rekanku ini adalah junior yang aku bimbing ketika mereka masih jadi anak baru dan tanpa sadar aku dekat dengan mereka. Ada Suci, Nuri dan Irene. Suci dan Nuri, mereka berdua memiliki karakter yang sama: banyak bicara dan mudah sekali tersulut emosinya. Mereka berdua sama-sama memiliki tubuh yang mungil dan wajah yang imut layaknya lolita dalam anime. Hanya saja yang membedakan adalah warna kuli mereka. Kulit Suci putih seputih salju dan warna kuli Nuri adalah sawo matang. Lalu Irene yang paling cerdas di antara mereka adalah gadis yang tidak banyak bicara dan juga yang paling tidak banyak berdandan seperti Suci dan Nuri. Irene memiliki tinggi badan yang sama denganku.”
“Sepertinya hubungan kalian dekat sekali,” komentar Andra sembari menjulurkan tangannya ke depan Keila ketika mobil yang dikendarainya berbelok sedikit tajam.
“Ya, hubungan kami dekat sekali.” Keila tertawa kecil mengingat ucapan ketiga rekannya itu tadi sesaat sebelum pulang. “Kau tahu apa yang mereka katakan padaku sebelum aku pulang bertemu denganmu?”
“Apa?”
“Suci, Nuri dan Irene mengatakan bahwa mereka adalah pendukung nomor satu, nomor dua dan nomor tigaku yang tidak akan pernah mengkhianatiku.”
“Pendukung apa?” Andra bertanya dengan heran sembari melirik ke arah Keila yang tersenyum kecil. “Kenapa bukan aku yang jadi pendukung nomor satumu, Keila?”
Mendengar pertanyaan Andra, Keila yang merasa lucu kemudian langsung tertawa kecil. “Mereka adalah pendukung nomor satu, nomor dua dan nomor tigaku untuk hubunganku dengan kekasihku. Sedangkan kau, Andra, kau bukan tidak perlu jadi pendukungku.”
“Hubungan? Apa kamu sudah menceritakan hubunganmu denganku?”
Keila menganggukkan kepalanya. “Aku tertangkap basah hari ini karenamu, padahal kita baru resmi menjadi kekasih selama satu hari. Jadi aku terpaksa menceritakan pada mereka bahwa aku sekarang sudah punya kekasih. Hanya saja, aku tidak ingin mengenalkanmu pada mereka sekarang.”
“Kenapa? Kau takut mereka jatuh hati padaku?” goda Andra dengan senyuman bangganya.
“Tidak.” Keila menggelengkan kepalanya. “Aku akan mengenalkanmu pada mereka nanti ketika setidaknya aku sudah yakin denganmu memiliki hubungan yang lama. Kita baru jadi kekasih selama sehari, aku tidak ingin mengenalkanmu pada mereka sekarang jika mungkin kita akan berpisah dalam waktu dekat nantinya.”
“Itu tidak akan terjadi, Keila.” Andra memberikan jawabannya dengan nada serius dan tanpa keraguan sedikit pun. “Apa yang kamu takutkan tidak akan terjadi, Keila. Kita akan menjadi kekasih dalam waktu yang lama.”
“Kamu yakin sekali?”
“Ya, aku sangat yakin karena ketika kamu sudah menerimaku menjadi kekasihmu di hari itu juga aku sudah membuat janji bahwa aku tidak melepaskanmu apapun yang terjadi.”
“. . .” Mendengar ucapan Andra Keila membeku. Untuk kesekian kalinya, Andra adalah pria pertama yang berulang kali membuat Keila membeku dan tidak bisa berkata-kata hanya dengan ucapan sederhananya.
“Kamu membeku lagi?” Andra mencubit pipi Keila dan membuat Keila sadar dari sikap membekunya.
“Salah siapa ini? Ucapanmu benar-benar membuatku kehilangan kemampuanku untuk bicara selama beberapa saat.” Keila melepaskan pipinya yang dicubit oleh Andra.
“Kau tidak suka?”
“Aku senang mendengarnya.” Andra tersenyum melihat ke arah Keila untuk sesaat sebelum kembali melihat ke arah jalanan di depannya. “Aku senang mendengar kau mengatakan bahwa kau adalah kekasihku. Rasanya. . . aku menjadi pria yang paling beruntung di dunia ini.”
Keila menepuk bahu Andra dengan keras. “Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau begitu bahagia hanya karena aku menjadi kekasihmu??”
Andra menganggukkan kepalanya. “Ya, aku sangat bahagia.”
Keila menatap Andra dengan tatapan menyelidik. “Sebenarnya, sejak kapan kau jatuh cinta padaku? Apa yang kau lihat dariku hingga kau begitu senang menjadi kekasihku dan berkata sebagai pria paling beruntung di dunia? Di kehidupan sebelumnya, aku tidak mungkin pernah menyelamatkan dunia hingga di kehidupan ini aku bertemu dengan pria sepertimu.”
“Hehe.” Andra terkekeh mendengar ucapan Keila. “Kau salah, Keila.”
“Apa yang salah?” Keila menyipitkan matanya menatap Andra lagi.
“Jika ada kehidupan sebelumnya dan kita pernah bertemu, maka bukan kau yang pernah menyelamatkan dunia. Tapi aku yang pernah menyelamatkan dunia, karena itu di kehidupan ini aku menerima keberuntungan yang besar sehingga bisa menjadi kekasihmu.”
“Eh.” Napas Keila tercekat mendengar jawaban dari Andra untuk pengandaiannya yang asal keluar dari dalam mulutnya begitu saja. “Sepertinya itu juga salah, Andra. Yang benar di kehidupan sebelumnya, aku pasti punya hutang yang besar padamu hingga di kehidupan ini aku harus terikat padamu untuk membayarnya.”
“Hahaha, itu mungkin benar,” jawab Andra setuju dengan ucapan Keila. Namun di dalam benaknya Andra mengatakan sesuatu yang berbeda dengan Keila. Jika ada kehidupan sebelumnya, jika ada hutang di antara kita yang membuat kita bertemu di kehidupan ini, maka hutang itu bukanlah milikmu. Itu pasti hutang milikku yang harus aku bayarkan di kehidupanku saat ini dengan mencintaimu. Besar hutang itu sama besarnya dengan cintaku saat ini kepadamu yang jumlahnya bahkan tidak bisa kuperkirakan karena aku terlalu mencintaimu hingga rasanya aku akan gila jika tidak bisa melihatmu sehari saja. Andai kau tahu itu, Keila.
Tiga hari kemudian. . .
Keila yang yang baru saja pulang bersama dengan Andra kemudian mendapati dua sahabatnya: Bonita dan Hardan sudah berada di depan gerbang apartemennya, menunggu kedatangannya.
“Hei, Boni, Hardan??” tanya Keila terkejut melihat dua sahabatnya sedang menunggunya di depn pintu gedung apartemennya. “Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa kalian tidak memberitahuku jika kalian ingin datang kemari?”
“Hehehe. . .” Bonita terkekeh dengan senyuman tanpa rasa bersalahnya. “Aku datang karena ingin merayakan sesuatu. . .”
“Sesuatu?” Keila menatap Bonita dengan tatapan heran. “Sesuatu apa yang kalian maksud?”
Bonita dan Hardan kemudian saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya keduanya menatap dengan cepat ke arah Keila dan Andra yang berada di belakang Keila, secara bergantian.
Keila yang menyadari tatapan Bonita dan Handa kemudian spontan menolehkan kepalanya ke arah Andra yang berdiri di belakangnya dan bertanya. “Mungkinkah kau memberitahu sesuatu kepada Bonita?”
“A-aku hanya memberitahu pada sahabatmu, Bonita bahwa usahaku berhasil,” jawab Andra dengan wajah datarnya. “Hanya itu saja.”
“Sial. . .” Keila mengumpat sembari memukul bahu Andra dengan keras. “Kau mengatakan itu sama saja dengan memberitahu mereka bahwa kita sudah. . .”
Buk. Bonita memukul bahu Keila dengan lembut dan menghentikan tindakan Keila yang sedang marah kepada Andra. “Stop, Keila! Berhenti menyalahkan kekasihmu itu! Dia tidak salah. Aku yang selalu bertanya padanya tentang dirimu dan usahanya untuk membuatmu menjadi kekasihnya.”
“Tapi tetap saja. . .” Keila tetap merasa kesal karena seharusnya dia sendiri yang memberitahu sahabatnya tentang hubungan yang dimilikinya. “Harusnya aku yang memberitahu kalian dan bukannya Andra.”
“Siapa yang memberitahu tidaklah penting, Keila.” Giliran Hardan yang maju dan berujar. “Yang penting adalah ini berita yang membahagiakan bagi kami berdua. Karena itu kami sengaja datang kemari memberikan surprise untuk merayakan kebahagiaan baru bagi sahabat kami.”
Mendengar ucapan Hardan yang benar, Keila akhinya menyerah untuk marah kepada Andra. Keila kemudian mempersilakan masuk dua sahabatnya bersama dengan Andra ke dalam apartemen miliknya dan memulai perayaan kecil tentang hubungannya dengan Andra yang masih berumur tiga hari.