30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
39. SOSOK DI BALIK STATUS PENGAGUM RAHASIA 3



Setelah berada di lantai satu, pintu lift kemudian terbuka. Suci, Irene, Nuri dan Keila bersama dengan pegawai kantor lainnya keluar berhamburan dari lift nyaris di waktu yang sama. Suci, Nuri dan Irene sengaja menahan Keila untuk berjalan lebih lambat demi mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan sebelum masuk ke dalam lift. 



“Jadi apa jawabannya, Kak?” tanya Nuri yang sudah sangat penasaran. 



“Ya, Kak. Jadi apakah dugaan yang dibuat oleh Irene itu benar, Kak?” Kali ini giliran Suci yang bertanya karena sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. 



“Ya, itu benar.” Keila yang tidak punya pilihan lain selain memberikan jawaban, akhirnya membuka mulutnya dan memberikan jawaban yang begitu diinginkan oleh Suci dan Nuri. “Kalian tentu tahu bahwa Irene tidak pernah salah menduga selama ini bukan?” 



Nuri dan Suci menganggukkan kepalanya bersamaan. 



“Lalu apa yang dikatakan Pak Agung kepada Kakak tadi?” Kali ini giliran Irene yang mengajukan pertanyaan kepada Keila. “Setelah bercakap-cakap dengan Pak Agung, Kak Keila kembali fokus bekerja dan tidak lagi membuat kesalahan.” 



“Pak Agung. . .” Keila dengan sengaja menahan ucapannya untuk melihat reaksi Suci, Nuri dan Irene. Dan benar saja, reaksi ketiga rekannya itu benar-benar membuat Keila ingin tertawa karena ketiga rekannya itu benar-benar penasaran dengan apa yang akan keluar dari dalam mulut Keila. “Pak Agung memberikan satu saran untukku, untuk mengatasi penggemar rahasia itu dan aku rasa, aku mungkin butuh bantuan dari kalian bertiga.” 



“Apa itu?” tanya Irene, Nuri dan Suci bersamaan. 



“Menemukan sosok di balik status pengagum rahasia itu dan memberikan penjelasan padanya bahwa saat ini, aku sudah memiliki kekasih dan tidak ingin hubungan yang aku miliki hancur karena perbuatannya,” jelas Keila. 



Irene, Nuri dan Suci yang mendengarkan penjelasan Keila kemudian mengacungkan ibu jari mereka bersamaan ketika Keila telah selesai memberikan penjelasan mereka. 



“Itu saran yang tepat menurutku, Kak,” ujar Irene yang kemudian menurunkan ibu jarinya. 



“Aku juga setuju,” tambah Suci dan Nuri bersamaan. 



“Sama seperti kalian, aku pun juga merasa setuju dengan saran itu. Tapi. . . untuk menemukan sosok di balik pengagum rahasia itu, aku butuh bantuan kalian bertiga. Kalian tahu dengan baik aku ini tidak mudah bergaul dengan orang-orang terutama dengan orang asing.” 



“Tenang saja, Kakak,” Nuri kemudian merangkul bahu Keila dengan wajah bangga. “Kami bertiga pasti akan membantu Kakak. Benar bukan?” Nuri kemudian melihat ke arah Suci dan Irene secara bergantian. 



“Tentu saja,” jawab Suci dan Irene bersamaan. 



“Kami pasti membantu Kakak menemukan sosok di balik status pengagum rahasia itu,” tambah Suci dengan wajah penuh semangat. 



\# \# \#



Sejak hari itu, Irene bersama dengan Suci dan Nuri gencar mengumpulkan informasi dari berbagai departemen untuk menemukan sosok di balik status pengagum rahasia itu. Semua informasi baik itu gosip atau fakta dan informasi sekecil apapun dikumpulkan oleh Irene bersama dengan Suci dan Nuri. Dengan mengorbankan jam makan siangnya, Nuri, Irene dan Suci bahkan rela melepas urat malu mereka dan duduk makan bersama dengan rekan kerja mereka dari departemen yang berbeda hanya untuk mengumpulkan informasi. 



Seminggu berlalu. Irene bersama dengan Suci dan Nuri kemudian mengumpulkan semua informasi yang mereka kumpulkan untuk menarik kesimpulan yang mungkin bisa mereka temukan dan hasilnya adalah. . . 



“Sial!” umpat Suci dan Nuri dengan wajah terkejut ketika melakukan rapat bersama dengan Irene dan Keila sepulang kerja di kantor mereka. 



“Aku benar-benar tidak menyangka jika semua informasi yang kita kumpulkan, ternyata akan menuju ke departemen milik direktur muda kita yang misterius itu,” tambah Nuri dengan wajah tidak percaya. 



“Kalian yakin, kalian tidak salah mengumpulkan informasi?” tanya Keila yang juga tidak percaya mendengar informasi yang dikumpulkan oleh Irene, Suci dan Nuri. 



“Tidak, Kak,” bela Irene. “Kami sudah mengumpulkan semua informasi yang ada dari berbagai departemen. Mereka yang melihat buket bunga itu mengatakan bahwa buket bunga dikirim dari departemen direktur muda kita yang misterius itu: Direktur Rafandra. Apa Kakak tidak mengingatnya? Kita pernah membahas hal ini sebelumnya dan kesimpulan yang sama juga terjadi dalam percakapan kita saat itu.” 



Keila menganggukkan kepalanya mengingat kembali percakapannya bersama dengan Irene mengenai pengirim buket bunga itu. “Aku ingat itu, Irene. Tapi saat itu, percakapan kita tidak memiliki bukti satu pun dan hanya berdasarkan gosip yang ada. Siapa yang akan menyangka jika gosip yang kita dengar itu rupanya memang benar meski belum memiliki bukti yang kuat.” 



“Tapi, Kak,” sela Nuri dengan tiba-tiba. “Buket bunga semahal itu dan dikirim setiap bulan memang seharusnya adalah buket bunga dari seseorang yang memiliki jabatan yang tinggi di perusahaan ini dan satu-satunya direktur yang belum menikah di perusahaan ini adalah direktur muda kita yang misterius itu: Rafandra, yang jarang menampakkan wajahnya di hadapan semua karyawannya.”



“Lalu bagaimana dengan Direktur Juan dan Direktur Rado?” tanya Suci. “Mereka berdua mungkin sudah menikah, tapi keduanya sekarang adalah duda keren yang juga jadi incaran banyak karyawan di perusahaan ini. Mungkin saja salah satu dari mereka yang jadi penggemar rahasia Kak Keila.” 



“Kau lupa?” balas Irene dengan menatap tajam Suci karena merasa tidak terima. “Buket bunga itu datang sudah lebih dari setahun yang lalu dan saat itu, Direktur Juan dan Direktur Rado masih belum bercerai. Tidak mungkin dua orang itu yang masih berstatus suami orang, mengirim bunga kepada Kak Keila dan membahayakan posisi mereka di perusahaan ini. Menurutku, satu-satunya sosok yang pas untuk penggemar rahasia itu adalah direktur muda kita yang tidak lain adalah Direktur Rafandra.” 




“Apanya yang aneh?” tanya Irene yang kemudian mengalihkan pandangannya dari Suci ke arah Nuri. 



“Jika memang benar direktur muda kita itu adalah penggemar rahasia Kak Keila, kenapa dia tidak pernah muncul di hadapan Kak Keila ketika Kak Keila putus dengan kekasihnya? Kenapa direktur muda itu justru muncul berkeliling perusahaan dan membuat kehebohan di saat Kak Keila diskorsing?” jelas Nuri. “Bukankah ini aneh? Jika memang direktur muda itu ingin menarik perhatian Kak Keila, bukankah akan lebih mudah jika dia muncul di hadapan Kak Keila dan bukannya bersembunyi di balik status penggemar rahasia dan hanya mengirim buket bunga saja?” 



“Itu benar juga,” jawab Irene dan Suci yang mendengarkan penjelasan Nuri. 



“. . . Aku terkejut kau menggunakan otakmu itu, Nuri,” tambah Irene sembari menepuk bahu Nuri. 



“Hanya kebetulan saja,” balas Nuri dengan senyum bangganya. “Aku hanya penasaran dengan pengirim bunga itu yang sudah mengirim bunga itu selama lebih dari setahun lamanya dan hanya diam tanpa sekalipun melakukan sesuatu untuk menarik perhatian Kak Keila.” 



“Aku juga penasaran dengan hal itu,” tambah Suci. 



“Kira-kira apa tujuan dari pengagum rahasia Kak Keila itu hingga bersabar lebih dari setahun lamanya tanpa melakukan apapun?” tanya Irene. “Dan jika memang benar pengirim bunga itu memang direktur muda kita yang misterius itu, maka. . .” 



Irene menghentikan ucapannya dengan tiba-tiba dan membuat Suci bersama dengan Nuri dan Keila yang mendengarnya merasa penasaran di waktu yang sama. 



“Maka apa?” tanya Nuri dan Suci bersamaan. 



“Bukankah dia bodoh sekali melakukan hal itu?” balas Irene. “Tapi sepertinya kita perlu memastikan satu hal lagi untuk membuktikan jika direktur muda kita itu yang mengirim buket bunga itu kepada Kak Keila?” 



“Apa??” tanya Keila, Irene dan Suci bersamaan. 



“Menangkap basah orang itu,” jawab Irene. “Dan jumlah pria di bagian milik direktur muda itu tidaklah banyak. Selain Direktur Rafandra dan Liam, ada dua orang pria muda lagi yang mungkin bisa menjadi pengirim bunga untuk Kak Keila.” 



“Siapa?” tanya Suci penasaran. 



“Apakah mereka sama tampannya dengan Liam dan Direktur Rafandra?” tanya Nuri yang juga penasaran, tetapi ke arah yang lain. 



“Kau ini!!” Irene melirik tajam ke arah Nuri yang justru lebih mementingkan wajah dua orang lainnya ketimbang identitasnya. “Kenapa kau lebih mementingkan wajah mereka ketimbang identitas mereka??” 



“Apa salahnya??” balas Nuri. “Jika mereka sama tampannya dengan Liam dan Direktur Rafandra, aku mungkin akan penasaran dengan identitas mereka. Tapi jika tidak tidak tampan, lebih baik aku tidak tahu siapa mereka.” 



“Huft.” Irene menghela napasnya panjang mendengar jawaban dari Nuri. “Tenang saja, meski tidak setampan dengan Direktur Rafandra tapi setidaknya ketampanan mereka tidak jauh dari Liam.” 



“Benarkah??” mata Nuri langsung membulat mendengar ucapan Irene. “Jadi siapa mereka??” 



“Yuda dan Baron,” jawab Irene. “Apa kau tidak tahu mereka??” 



“Ehhh. . .” suara Suci melengking mendengar jawaban Irene. “Mereka dari bagian direktur Rafandra??”



“Kamu tahu?” tanya Nuri yang terkejut melihat reaksi Suci. 



Suci menganggukkan kepalanya. “Aku pernah melihat mereka meski hanya beberapa kali. Mereka juga jadi sasaran dari banyak karyawati di perusahaan ini karena wajah tampan mereka. Sayangnya. . . untuk bertemu dengan mereka sepertinya adalah hal yang cukup sulit. Bagaimana kamu bisa mengetahui hal ini, Irene?” 



“Bibi di kantin.” Irene menjawab dengan singkat. “Bibi di kantin mengatakan bahwa bagian milik Direktur muda kita-Rafandra itu suka sekali makan terlambat. Jadi ketika semua karyawan telah selesai makan dan kantin dalam keadaan kosong, bagian Direktur Rafandra baru makan siang. Sayangnya. . . beberapa waktu ini, bagian itu lebih sering memakan makanan pesan antar dan memakannya di kantor mereka.” Irene melirik ke arah Keila yang sejak tadi tidak banyak bicara dan lebih banyak mendengarkan. “Kakak tidak tahu mereka bukan?” 



Keila menganggukkan kepalanya. “Ya, aku tidak tahu. Sepertinya. . . aku benar-benar ketinggalan informasi di perusahaan ini. Bahkan hingga saat ini, aku hanya tahu wajah Liam tanp tahu wajah dari direktur muda misterius kesayangan kalian itu – Rafandra. Apa jadinya aku jika kalian tidak membantuku?”



Irene, Suci dan Nuri kemudian tersenyum bersama memandang Keila.



“Tenang saja, Kak. Ada kami yang akan membantu, Kakak,” ucap Nuri.