30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
36. STATUS KEKASIH 7



Bonita dan Hardan masuk ke dalam apartemen Keila. Keduanya berjalan di belakang Keila. Begitu masuk, Bonita langsung duduk di sofa besar milik Keila sementara Hardan berjalan ke meja dapur milik Keila dan menyerahkan kantung plastik besar. 



“Apa ini?” tanya Keila heran melihat tas kantung besar yang diberikan oleh Hardan. 



“Bahan makanan. Dari kita bertiga, kamulah yang paling pandai memasak. Jadi kami berdua datang dengan membawa bahan makanan dan kau akan memasaknya untuk kam.” Hardan mengerlingkan satu matanya kepada Keila dengan tersenyum nakal karena berhasil mengerjai Keila. 



“Kalian ini. . .” Keila memandang Hardan dan Bonita secara bergantian. “benar-benar tidak berubah sedikit pun.” 



“Masakanmu. . . kami berdua tidak akan bisa menandinginya. Lihat saja kekasihmu itu, Keila!” Bonita kemudian mengganti arah tatapannya ke arah Andra yang berdiri di samping Keila dan sudah mengenakan celemek di tubuhnya. “Dia bahkan sudah mengenakan celemek dan bersiap untuk membantumu.” 



Keila yang tidak menyadari Andra telah mengenakan celemek kemudian menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Andra dan menatap Andra dengan tatapan terkejut. “Aku tidak menyangka kau benar-benar perhatian, Andra.” 



“Terima kasih untuk pujiannya, Keila” Andra tersenyum dan mulai membongkar kantung plastik pemberian Hardan. 



“Aku atau kau yang masak?” tanya Keila kepada Andra ketika mengingat masakan steak Andra yang enak. 



“Kau saja. Aku hanya akan membantumu saja.” 



Karena bahan makanan yang dibawa oleh Hardan adalah daging, Keila dan Andra kemudian sepakat untuk membuat daging itu menjadi steak untuk makan malamnya bersama dengan Hardan dan Bonita. Setelah satu jam lamanya berkutat di dapur, Keila dan Andra telah selesai memasak makanan untuk empat orang. Andra yang membantu Keila dengan menata meja makan pun juga telah selesai menata steak yang matang dan menuang anggur yang juga dibawa oleh Hardan sebagai perayaan untuk Keila dan Andra. 



“Selamat makan,” ucap Hardan dan Bonita di saat bersamaan ketika melihat daging yang merek bawa telah berubah menjadi steak yang terlihat menggiurkan. 



Ketika semua orang termasuk Andra mencicipi steak buatannya, hanya Keila saja yang belum memakan masakannya sendiri untuk menunggu reaksi dari tiga orang lainnya. Keila menunggu dengan sabar ketiga orang tersebut dari memotong daging, mengunyah potongan daging hingga daging itu tertelan. 



“Bagaimana?” tanya Keila penasaran menatap Bonita yang duduk tepat di depannya. 



“Ehm. . .” Bonita mengangguk-anggukkan kepalanya sembari memikirkan rasa daging yang tersisa di mulutnya. 



“Kenapa hanya ehm?” Keila semakin penasaran. Keila kemudian mengalihkan pandangannya kepada Hardan yang duduk di samping Bonita. “Bagaimana denganmu, Hardan? Apakah masakanku enak?” 



“Ehm. . .” Hardan memberikan reaksi yang sama dengan Bonita lengkap dengan anggukan kepalanya. 



“Ah kalian berdua ini. Aku tahu kalian ini suami istri yang harmonis tapi bisakah kalian segera memberikan penilaian kalian dan bukannya berkata ehm saja.” Keila memotong daging miliknya dan mulai memakan potongan itu. 



“Kenapa kau tidak tanya kepada Andra?” tanya Bonita dengan senyuman nakalnya. 



“Percuma saja aku bertanya padanya. Andra pasti akan menjawab enak untuk semua masakan yang aku buat,” jawab Keila sembari mengunyah potongan daging steaknya. 



“Benarkah?” Bonita menyipitkan matanya dan kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Andra yang melahap makanan buatan Keila dengan tenang. Ide kecil kemudian muncul di dalam benak Bonita ketika menatap Andra. “Jadi bagaimana masakan Keila, Andra?” 



“Seperti biasa, enak.” Andra menjawab dengan tenang sembari terus memakan potongan daging steaknya.



“Ah benarkah??” Bonita tersenyum melihat Andra yang memakan makanan buatan Keila dengan tenang. “Kalau begitu mana yang lebih baik: makanan buatan Keila atau Keila?” 



Andra meletakkan garpu dan pisaunya ketika mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Bonita. Andra terdiam sejenak dan membuat Bonita yang melihatnya menduga Andra pasti akan memilih Keila sebagai jawabannya. 



“Keduanya sama-sama baik. Makanan buatan Keila baik untuk perutku dan Keila baik untuk hatiku.” 



Mendengar jawaban yang diberikan oleh Andra, membuat Bonita, Hardan dan Keila terkejut di saat yang bersamaan. Bonita dan Hardan membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya Bonita menatap ke arah Keila yang masih membeku karena tidak percaya dengan jawaban yang baru didengarnya dari Andra. 



“Key!” teriak Bonita dengan suaranya yang melengking. “Mau kau tukar Hardanku dengan Andramu itu??” 



“Uhuk!” Hardan yang terkejut dengan pertanyaan Bonita nyaris saja tersedak karena ucapan istrinya-Bonita. “Bagaimana bisa kau berniat untuk menukar suamimu hanya karena jawaban seperti itu?” 



“Kau tidak ingat?” tanya balik Bonita kepada Hardan. “Setahun yang lalu, aku juga pernah menanyakan pertanyaan yang sama denganmu dan jawaban yang kamu pilih adalah aku. Itu adalah jawaban yang sering aku dengar dari kebanyakan pria dan untuk pertama kalinya, aku dengar pria yang memberikan jawaban seperti Andra.” 



“Lalu? Hanya karena jawaban itu, kau tidak bisa menukar suamimu dengan seenaknya begitu, Bonita.” 



“Aku tahu itu, sayang.” Bonita tersenyum kecil karena berhasil menggoda Hardan-suaminya. “Aku hanya bercanda. Aku tahu Andra hanya akan memberikan jawaban itu jika berhubungan dengan Keila dan bukan wanita lain.” 




“Dia benar-benar tidak berubah setelah kami menikah. Ini bukan pertama kalinya dia berniat untuk menukar suaminya sendiri seperti menukar barang. . .” jawab Hardan dengan menggelengkan kepalanya. 



“Lalu ijinkan aku bertanya satu pertanyaan lagi padamu, Andra.” Bonita menatap Andra masih dengan rasa penasarannya. 



“Silakan.” Andra tetap dengan sikap tenangnya bahkan ketika Keila, Bonita dan Hardan tertawa kecil karena ucapan Bonita mengenai menukar suaminya sendiri dengan pria lain.



“Karena keduanya sama-sama memiliki kebaikan, jika kamu diharuskan untuk memilih antara makanan buatan Keila dan Keila, mana yang akan kamu pilih?” Bonita memandang Andra dengan mata berbinarnya. 



“Haruskah aku memilih salah satunya?” tanya Andra. 



“Ya. Harus salah satu,” tegas Bonita dengan mengangkat jari telunjuknya. 



“Kalau begitu ini jawabanku. Ketika aku lapar, aku akan memilih makanan buatan Keila dan ketika aku tidak lapar, aku akan memilih Keila. Apakah itu sudah menjawab pertanyaanmu, Bonita?” 



Bonita meletakkan pisau dan garpunya. Bonita kemudian menarik tangan Keila dengan paksa dan menggenggamnya dengan erat. “Bagus sekali.” 



“Apa yang kau lakukan, Bonita?” tanya Keila terkejut. 



“Sebagai sahabatmu, aku merestui hubunganmu dengan Andra. Jangan kau sia-siakan pria seperti Andra ini. Dia adalah pria yang sangat sulit kau temukan di dunia seperti saat ini.” Bonita kemudian melepaskan genggaman tangannya di tangan Keila dan mengalihkan pandangannya dari Keila kepada Andra. “Dan untukmu, Andra. Jika kelak kamu kesulitan tentang Keila, kamu bisa menghubungiku dan Hardan untuk meminta bantuan kami. Ingat ini, kami berdua akan mendukungmu selama kamu kekasih Keila.” 



“Aku mengerti.” Andra menjawab dengan senyuman kecil di wajahnya karena merasa senang. 



“Apa-apaan kau ini, Bonita?” tanya Keila tidak percaya. Keila kemudian menatap Hardan untuk meminta bantuannya. “Hardan, tolong kendalikan istrimu ini!” 



“Kau tidak lihat?” Hardan tersenyum ke arah Keila. “ Dia tidak akan bisa dikendalikan jika sudah bersemangat seperti ini. Aku yakin Boniku ini tidak akan salah menilai seseorang, Keila.” 



Keila hanya bisa menahan raut wajahnya yang memerah karena malu. Saat ini perasaannya sedang bercampur aduk antara malu, senang dan kesal. Keila kesal karena kedua sahabatnya kini seolah lebih memihak kepada Andra daripada dirinya. Ini adalah pertama kalinya, dua sahabat Keila menunjukkan kedekatan dengan kekasih Keila. Di sisi lain, Keila merasa senang, dua sahabatnya memberikan dukungan untuk hubungannya dengan Andra. Lalu, di saat yang sama Keila merasa malu karena jawaban yang diberikan oleh Andra untuk pertanyaan Bonita.



Setelah dua jam lamanya saling bercanda satu sama lain Bonita dan Handra kemudian berpamitan kepada Keila dan Andra. Sebelum pulang, Bonita menarik lengan Keila dan berbisik kepada Keila dengan senyuman nakal di bibirnya. 



“Jalur karma memang lebih manis dan lebih romantis,” bisik Bonita. 



Keila mengerutkan alisnya mendengar bisikan Bonita-sahabatnya, “Apa maksudnya dengan jalur karma?” 



Bonita tersenyum nakal memandang Keila sebelum akhirnya berbisik lagi. “Awalnya, aku bersikeras menolak bahwa Andra bukan kekasihmu. Tapi sekarang lihatlah!! Kau benar-benar jadi kekasih Andra seperti ucapan Andra. Apa namanya ini jika bukan jalur karma??” 



“. . .” Keila tidak bisa membalas ucapan Bonita dan hanya bisa mendorong Bonita ke arah Hardan dan meminta Hardan untuk segera membawa pulang Bonita sebelum lebih banyak bicara lagi untuk menyindir dirinya. 


 Setelah Hardan dan Bonita pulang, Andra membantu Keila untuk mencuci piring kotor dan peralatan masak yang kotor sebelum kembali ke apartemennya sendiri. Sembari mencuci piring bersama, Keila mengajukan pertanyaan kepada Andra yang sejak tadi sempat berputar-putar di dalam benaknya. “Kenapa kau tadi menolak untuk memasak steak? Bukankah pernah kukatakan jika steak masakanmu lebih enak dari masakanku?” 


“Aku ingin memamerkan keahlian memasak dari kekasihku.” 



“Hanya itu saja?” tanya Keila tidak percaya. “Aku rasa bukan itu saja, pasti ada alasan lain bukan? Bukankah tadi Hardan dan Bonita sudah mengatakan jika mereka tahu bahwa masakanku adalah yang paling baik di antara kita bertiga? Jadi katakan padaku, kenapa kamu menolak, Andra?” 



Andra yang telah selesai mencuci piring kemudian membersihkan kedua tangannya sebelum menatap ke arah Keila. “Kamu ini kadang-kadang benar-benar bodoh ya?” 



“Aku bodoh??” tanya Keila tidak percaya. “Bagaimana bisa aku ini bodoh?” 



“Aku menolak karena aku tidak ingin orang lain memakan masakanku. Yang kuijinkan untuk memakan masakanku hanya kamu saja, Keila. Hanya kamu seorang.” Andra membelai lembut kepala Keila. “Sudah paham?” 



“Lalu ijinkan aku bertanya satu hal lagi.” 



“Apa?” tanya Andra yang masih membelai lembut kepala Keila. 



“Kenapa pada pertanyaan pertama Bonita kamu tidak memilih? Kebanyakan para pria akan memilih gadisnya jika dibandingkan dengan masakannya?” Keila mengajukan pertanyaan kepada Andra. 



“Karena semua hal tentangmu adalah sumber kebahagiaan bagiku, bahkan ketika itu hanya masakan sederhana darimu. Jadi aku tidak bisa memilih mana yang lebih baik karena di mataku semua tentangmu adalah hal yang baik.” 



Keila yang merasa malu, kemudian menganggukkan kepalanya dengan senyuman kecil di wajahnya. Dalam benaknya saat ini, Keila berbicara sendiri. Kau benar, Bonita. Pria ini adalah berlian berharga yang mungkin tidak akan kutemukan lagi jika aku kehilangannya.