30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
30. STATUS KEKASIH 1



Keila membuka matanya dan melihat matahari telah bersinar terang melalui jendela apartemennya. Keila terkesiap menyadari bahwa hari sudah berganti, spontan dirinya bangkit dari tidurnya dan membuat gerakan tiba-tiba yang membuat kepalanya serasa ingin pecah. Sial, aku terlambat datang ke kantor. Ponselku? Mana ponselku? Keila berusaha mencari-cari ponselnya di tempat tidurnya. Keila melemparkan bantal-bantalnya ke segala arah hanya untuk menemukan ponsel miliknya hingga salah satu bantal yang dilemparkannya mengenai “sesuatu” yang tidak seharusnya ada di dalam kamar Keila.



“Auw. . . kenapa kau melempar bantalmu ke arahku?” 



Mendengar suara itu, spontan Keila menatap ke arah suara itu dan melihat sosok itu berdiri di depan pintu kamarnya dengan nampan di tangannya. 



“Andra? Kenapa kau ada di sini?” Keila memandang Andra terkejut untuk beberapa saat hingga kemudian mencari kembali ponselnya untuk menghubungi salah satu rekannya atau Pak Agung untuk meminta ijin terlambat ke kantor. “Apa kau tahu di mana ponselku? Aku harus menghubungi rekanku atau Pak Agung dan mengatakan pada mereka bahwa hari ini aku akan terlambat datang ke kantor.” 



Andra berjalan mendekat ke arah Keila yang masih sibuk mencari ponselnya di tempat tidurnya. Andra meletakkan nampan yang berisi bubur hangat dan air hangat di meja samping tempat tidur Keila dan setelah itu, Andra menarik tangan Keila untuk membuat Keila berhenti mencari-cari ponsel miliknya. “Berhenti mencari, Keila. Ponselmu ada di luar kamar sedang dalam posisi mengisi baterai.” 



“Ah benarkah?” tanya Keila yang kemudian menarik tangannya dari genggaman Andra dan berusaha untuk turun dari kasurnya. 



Namun sekali lagi, Andra menangkap tangan Keila dan membuat Keila tidak jadi turun dari tempat tidurnya. “Sudah kubilang berhenti! Kenapa kau tidak dengar?” 



Keila menatap heran ke arah Andra. “Aku mendengarnya, Andra. Tapi. . . aku harus menghubungi kantor jika datang terlambat.” Keila berusaha melepaskan genggaman tangan Andra di tangannya. 



“Kamu tidak perlu datang ke kantor hari ini. Aku sudah mengirimkan surat ijin liburmu hari ini bersama dengan surat dokter. Jadi. . . kamu tidak perlu khawatir dengan kantor dan rekan kerjamu. Mereka sekarang pasti sudah menerima surat ijin kerjamu.” 



“Aku ijin kerja? Kenapa?” Keila bertanya dengan bingung ke arah Andra. “Dan lagi, kenapa kau ada di sini di kamarku?” 



“Kau lupa apa yang terjadi kemarin?” Andra berbalik bertanya kepada Keila dengan menatap tajam ke arah Keila. “Jangan katakan kau lupa dengan kejadian kemarin. Aku akan marah jika kamu melupakannya, Keila.” 



Keila menundukkan kepalanya berusaha mengingat kejadian kemarin. Gambaran kejadian kemarin yang sempat Keila lupakan kemudian muncul satu persatu dalam benak Keila dari hujan yang turun hingga dirinya yang menerobos hujan dengan tangisan di wajahnya. Keila juga kemudian mengingat payung yang melindunginya dari hujan yang digenggam oleh Andra untuknya. Perlahan. . . Keila kemudian mengingat percakapannya dengan Andra di bawah payung dengan hujan yang turun kemarin. 


“Menyebalkan. Ini sungguh menyebalkan! Aku merindukanmu setelah memintamu pergi. Bayanganmu muncul di mana-mana dan mengulang semua ucapan yang pernah kamu katakan padaku. Hatiku sakit setelah kamu pergi dan begitu melihatmu muncul, sakit di hatiku tiba-tiba hilang. Bagaimana ini, Andra? Bukankah ini benar-benar menyebalkan?”


“Ini memang menyebalkan. Tapi aku sangat senang mendengarnya, Keila. Aku senang mendengar kamu mengatakan kamu merindukanku. Aku senang mengetahui bahwa kamu juga menyukaiku seperti dugaanku selama ini. Kenapa butuh waktu lama buatmu untuk menyadarinya, Key?” 


Keila menatap Andra dengan terkejut dan spontan menarik selimut miliknya untuk menyembunyikan wajahnya karena malu mengingat apa yang terjadi kemarin. Dari balik selimutnya, Keila mendengar suara tawa kecil Andra yang sedang menertawakan dirinya. 


“Sepertinya kau sudah ingat, Keila. Tadinya aku ingin marah jikalau kau melupakan kejadian kemarin, tapi melihatmu bersembunyi di balik selimut berhasil membuatku gagal marah dan justru membuatku tertawa. Reaksimu benar-benar menggemaskan, Keila.” 


“A-aku akan berhenti tertawa jika kau keluar dari selimut itu dan menatapku,” balas Andra masih dengan tawanya. 


Keila masih mendengar tawa Andra dari balik selimutnya dan menahan rasa malunya sendiri untuk kejadian yang terjadi kemarin. Keila benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan menangis dan mengatakan apa yang ada di dalam hatinya ketika melihat Andra muncul di hadapannya setelah berhari-hari dihantui oleh bayangan Andra. Keila masih tidak ingin membuka selimut yang menutupi wajah dan tubuhnya karena rasa malunya yang teramat sangat. Aku masih tidak mampu menatap matanya. Aku benar-benar malu melihatnya setelah apa yang aku katakan padanya untuk pergi dan ternyata aku sendiri yang memintanya untuk kembali. 


Sesuatu tiba-tiba dirasakan oleh Keila yang masih berada di dalam selimutnya. Keila merasakan tubuhnya yang berada dalam selimut dipeluk erat oleh Andra. 


“Aku tahu kamu bersembunyi di balik selimut karena malu mengingat apa yang terjadi kemarin, tapi bisakah kamu keluar dan menatapku, Keila? Tak bisakah kamu melihatku, melihat kebahagiaan di mataku saat ini karena begitu senang mengetahui bahwa kamu merindukanku? Tak bisakah kamu melihatku yang begitu bahagia karena tahu akhirnya kamu benar-benar menyukaiku seperti harapanku?” 


Mendengar ucapan Andra, Keila menyerah. Setelah mengatur napas dan jantungnya, Keila kemudian berkata pada Andra, “Lepaskan dulu pelukanmu dan aku akan membuka selimut ini!” 


Andra melepaskan pelukannya dan duduk di tempat tidur Keila. Sementara itu Keila yang merasakan pelukan di tubuhnya lepas kemudian langsung membuka selimut yang menutupi wajah dan tubuhnya. Begitu selimut terbuka, Keila langsung menemukan Andra yang menatap ke arahnya. “Aku sudah membuka selimut ini seperti keinginanmu.” 


Andra tersenyum lebar mendengar ucapan Keila dan itu merupakan senyuman paling indah yang pernah dilihat oleh Keila. 


“Terima kasih sudah berani menatapku. Apa kau melihatnya?” 


“Apa yang harus aku lihat?” Keila menatap Andra dari atas kepala hingga ke bawah.


“Mataku, wajahku dan senyumanku yang bahagia menatapmu, apa kamu tidak melihatnya, Keila?” 


Keila membeku mendengar ucapan Andra padanya. Aku melihatnya dengan jelas. Tidak bisakah kamu berhenti membahas itu? Aku benar-benar malu sekarang! Rasanya aku ingin kembali lagi ke dalam selimut untuk menyembunyikan raut wajahku saat ini yang pasti berubah merah. Keila hanya diam menatap Andra sembari bergulat di dalam benaknya sendiri melawan rasa malunya saat ini. 


“Apa kau tidak melihatnya? Apa wajah, mata dan senyumanku saat ini kurang jelas di matamu?” Andra mengulangi pertanyaannya lagi sembari mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Keila. 


Karena jarak wajahnya yang terlalu dekat dengan Andra, Keila spontan menarik wajahnya sedikit menjauh dari Andra dan memalingkan wajahnya ke arah lain. “Aku melihatnya, Andra. Sudah jangan-jangan dekat!” 


“Benar, kau melihatnya?” tanya Andra lagi dengan suara bahagianya. 


“Ya, aku melihatnya. Sudah jangan tanya lagi!” jawab Keila kesal. 


Andra tersenyum melihat Keila yang berusaha keras untuk menahan rasa malunya di hadapannya. Andra yang merasa reaksi Keila menggemaskan kemudian memberikan ciuman di kedua jari telunjuknya dan jari tengahnya dan kemudian menempelkannya di pipi Keila. 



Cup. 



Keila yang merasakan sentuhan di pipinya kemudian memalingkan wajahnya ke arah Andra dengan wajah terkejut. “Apa yang baru saja kamu lakukan?” 



“Aku terlalu gemas dengan reaksimu jadi aku memberikan ciuman kecil di pipimu dengan ini.” Andra mengangkat kedua jarinya dan menunjukkannya kepada Keila. “Hanya ciuman kecil dari kedua jariku.”



Keila membeku melihat dan mendengar apa yang diucapkan oleh Andra. Keila menatap Andra yang menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Dalam keheningan di antara dirinya dan Andra, Keila berbicara dengan dirinya sendiri. Kuharap menyukai pria ini, bukanlah kesalahan lain yang aku buat. Kuharap begitu.