
o\=\=[]::::::::::::::::>Deg deg deg deg Jantung Aria naik turun dia tidak menyangka akan pergi ke tempat yang bisa membuat ingatan mengerikan tentang Abangnya. Tempat yang selalu dia hindari,membuatnya menjadi trauma dengan tempat yang bernamakan Rumah Sakit.
Dimana sebagian orang yang ada di dalamnya sedang mempertaruhkan hidup dan mati.
Dari saat Aria sudah mulai turun dari mobil taksi yang dinaikinya. Kakinya bergetar melihat bangunan di depannya ini...
"Ayo... Kamu pasti bisa....."Berusaha melangkahkan kakinya untuk maju kedepan.
Gemah suara para dokter yang menusuk telinga Aria sampai dalam kepalanya. Teriakan untuk membantu pasien membuat Aria menderita.
" Akhhhhhhh " duduk lemas ke bawah Aria memegang kepalanya. "Tidak.....tidak.....berhentilahhhhhhhhh" Teriak Aria.....
Suna yang menyusul untuk mengikuti Aria keluar dari mobil taxi karena Aria duduk di depan gerbang rumah sakit,membuatnya diperhatikan oleh orang lain.
"Aria" Teriak Suna berlari menghampirinya.
Orang orang yang hanya melihat Aria tidak berani mendekat karena mengira Aria gila apalagi Aria berteriak sambil memegang kepalanya.
"Ada apa Aria....Kenapa denganmu.... Aria tenanglah"
"Jika kalian tidak ingin membantu,pergilah dari sini jangan melihatnya"Menutupi wajah Aria dengan jaketnya.
Akhhh akkhhhh akhhhh.....
"Tenanglah Aria aku akan membawamu masuk ke rumah sakit" menggendong Aria dengan gaya byle style
"Tidakkkkkk" Teriaak Aria mengangetkan Suna "Suna.. Bawa aku ke **************** jangan bawah aku masuk ke rumah sakit. Tolong Suna" Kesadaran Aria muncul dan langsung pingsan.
"Sunakawa Kouki" Ucap Aru tiba tiba karena melihat beberapa orang yang sedang berkerumun membuat Aru penasaran. Melihat di dalam gendongan Suna ternyata Aria.
"Dia kenapa?!!! " Ingin meraih Aria tapi Suna menghindari yang ingin menyentuh Aria.
"Jangan menyentuhnya......Jika terjadi sesuatu dengannya aku akan perhitungan denganmu" Aru yang tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Sial aku harus membawanya pergi" Ucap Suna yang pergi melewati tubuh Aruko Yoshida.
"Tunggu.....Berikan Aria kepadaku"Menghentikan langkah Suna.
"Hei.... Apa kamu tidak melihat Aria sedang kesakitan jangan menghalangi jalan"
"Berikan dia padaku"
"Tidak... Menyingkirlah brengsek"
"Hei kalian berdua, membuat keributan di depan rumah sakit dan membuat kehebohan kalian terlalu mencari perhatian orang orang" Ucap Seseorang yang memakai baju kedokterannya dan beberapa satpam yang datang bersamanya.
Suna dan Aru melihat siapa yang sedang menghentikan mereka.
"Acca"Gumannya melihat wajah Aria.
"Kalian tangkap kedua cowok ini dan introgasi mereka"
"Hai" Lalu mendekap Suna dan Aru.
"Tidak aku...Lepaskan aku harus membawa Aria pergi dari sini"
"Hei bocah, berikan dia padaku kalau kau tidak ingin dia mati" Melihat wajah Aria yang sangat berkeringat.
"Apa.... Jangan katakan hal seperti itu"
"Berikan dia padanya" Ucap Aru ya dia mengetahui dokter di depannya ini saat memasuki rumah sakit.
"Tidak, Aria berkata dia tidak ingin masuk ke rumah sakit"mengingat pesan Aria.
"Jalan Gy,Apartemen GG,Lantai 11 nomor ***" Ucapnya mengagetkan Suna. "Sekarang berikan padaku" mengambil Aria dalam gendongan Suna.
.
.
.
"Apakah Aria baik baik saja?" Tanyak Suna melihat cowok itu keluar dari ruangan. Menghampirinya menanyakan keadaan Aria.
"Bagaimana keadaannya.....?" Suna merasa sangat khawatir dengan Aria.
"Hei Tenanglah. Apakah kamu tidak bisa menjadi seperti dia tenang dan menunggu penjelasanku" Suna langsung mundur dan kembali duduk. Kembali duduk di sofa dengan Aruko yang sebenarnya sangat khawatir dengan Aria tapi menyembunyikan kekhawatirannya.
"Gomen,saya tidak sopan kepada anda"Ucap Suna berusaha menenangkan dirinya.
Cowok itu lalu duduk di depan Suna dan Aru. "Apa kamu pacarAria Asanajaya?......Aruko Yoshida dan Kamu Sunakawa Kouki!!!....." Tanyaknya melihat anak muda di depannya.
"Ternyata benar kalian berdua yah. Hajimemaste watashi Bramsatya Saith tunangan Aria Asanajaya......." Ucapnya mengangetkan kedua anak muda tersebut.
Pakkk..... Pukulan kertas mengenai kepala Bram.
"Jangan bercanda Bram" Ucap seseorang yang baru keluar dari ruangan dimana Aria berada. "Kamu mengangetkan mereka!.. "
"Duck......Sakit tau" memegang Kepalanya yang dipukul oleh temannya.
Pakk..... Pukulan lagi mengenai kepala Bram.
"Darimana orang ini datang...!!!!Kenapa tiba tiba saja sudah ada dibelakang orang ini"batin Suna tidak melihatnya keluar dari ruangan Aria beristirahat.
"Sepertinya dia berbohong tentang jadi tunangan Aria"batin Aruko melihatnya
"Anu.... "
"Bram sebaiknya kamu kembali ke rumah sakit. Ini masih shiftmu kan"
"Tapi..... "Menatap tatapan tajam dari temannya "Baiklah, kamu memang menyebalkan......" Berdiri dari duduknya "Dasar Duck brengsek" Mengejeknya lalu lari pergi.
"Dasar dia ****** tidak bisa diajak bercanda"batinnya Bram yang melarikan diri
"Benar benar deh....."Pusing memikirkan temannya yang baru pergi dan duduk di depan Suna dan Aru.
"Jadi siapa dari kalian yang membuat Aria datang ke rumah sakit........ ?!!!"Ucapnya mulai serius.
"Watashi desu"Jawab Aru...
"Apa kamu tahu,bahaya yang kamu sebabkan ke Aria? "
"Gomennasai aku bersalah!!!"Ucap Aru membungkuk ke bawah. Walaupun dia tidak tau apa yang terjadi dengan Aria sebelumnya tapi dia merasa bahwa dia merasa bertanggung jawab. Karena Aria mencarinya.
"Kenapa kamu meminta maaf!! Apakah kamu mengakui bahwa kamulah yang bersalah? "
Melihat Aru yang duduk di lantai sambil menundukkan kepalanya. "Berdirilah dan kembali duduk di sofa!"Perintahnya. "Kamu sepenuhnya tidak bersalah tapi Aria yang terlalu gegabah dan membuat dirinya dalam bahaya"
Aru yang melihat raut wajah sedih dari orang di depannya kembali duduk di sofa.
"Itu..... Sebenarnya apa yang terjadi pada Aria?" Tanyak Suna. Suna ingin mengetahui apa yang terjadi oleh Aria.
Begitupun dengan Aru menunggu penjelasan dari orang di depannya ini.
Ada apa dengan Aria?
Kenapa dia takut dengan rumah sakit?
Apakah berhubungan dengan masa lalu Aria?
Pria itu melihat kedua tatapan Suna dan Aru. Tatapan yang penuh harap untuk menggali informasi padanya tentang Aria. Dan juga terdapat kepedulian yang terlihat jelas. Jika ini yang terbaik untuk Aria dia akan menceritkan semua masa lalu Aria agar penyesalan dan penderitaan yang dialami oleh Aria terhapuskan juga tidak ingin hal itu terulang kembali.
"Baiklah aku akan menceritakan ini. Dan kuharap kalian berdua bisa menjaganya juga masih ingin berteman dengannya tentang masa lalu Aria dan juga.....******"
.
.
.