
Pernikahan
Semua media heboh ketika mendengar bahwa Marsha dan Boy akan melangsungkan pernikahan. Dan pernikahan mereka akan di laksanakan dalam waktu 1 minggu lagi. Dalam waktu itu baik Boy dan Marsha di kurung dalam kamar karena orang tua mereka takut anak mereka akan kabur seperti yang ada di film2.
Hari ini semua sudah dipersiapkan dengan baik. Ny.Lee mengijinkan beberapa wartawan untuk datang dan meliput acara pernikahan mereka.
Pernikahan ini diadakan di hotel pribadi keluarga Lee. Mereka hanya perlu menyewa EO untuk menyiapkan susunan acara dan menyiapkan gaun pengantin.
Ken masuk ke dalam ruang ganti Marsha. Dia sudah mengenakan gaun pengantin yang begitu cantik dengan model Sabrina. Marsha menyadari jika Ken terus saja menatapnya tanpa berkedip.
"Apakah aku masih terlihat seperti orang hamil?" tanya Marsha sambil memutar badannya ke kanan kiri.
"Tidak nona, anda sangat cantik." Ken menepuk pundak Marsha.
"Kalau begitu, kita batalkan saja. Apakah bisa?" Pinta Marsha setengah memohon pada Ken.
"Tidak bisa. Nyonya Lee bisa langsung masuk rumah sakit jika anda melakukan itu."
Marsha kembali cemberut. Seharusnya dia bersanding dengan Juna. Sekarang Marsha malah terjebak pernikahan bersama dengan Boy. Pria yang selalu membuatnya darah tinggi, norak dan juga urakan.
"Nona, tersenyumlah.. Anda harus terlihat sempurna bukan di kamera?"
Ken benar. Marsha mencoba menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dia melakukan itu beberapa kali supaya lebih tenang. Sejujurnya Marsha begitu tegang sejak tadi. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan pernikahannya setelah ini bersama Boy.
"Kamu harus lindungi aku dari dia." ucap Marsha lagi sebelum Ken menggandengnya keluar.
"Marsha Lee.." seseorang memanggil mereka dari belakang.
Marsha hampir saja pingsan karena melihat sosok Juna yang datang bersama dengan Tiffany dengan perut yang sudah membesar. Dia tidak tahu jika Tiffany sedang hamil.
"Hai, Jun.. Tiff.." sapa Marsha kaku.
"Selamat atas pernikahan mu." ucap Juna sambil tersenyum.
"Selamat Marsha, aku ikut senang." sambung Tiffany yang memegang suami nya begitu erat supaya Juna tidak memeluk Marsha.
"Thanks.. Tapi kami belum menikah kan.. aku masih punya waktu untuk kabur." kata Marsha lirih.
"Semoga kamu cepat menyusul untuk punya anak yaa.." ucap Tiffany sambil mengusap perutnya.
Marsha tersenyum. Dia yang sudah mulai jengah melihat kemesraan Tiffany dan Juna memilih untuk berlalu dari mereka.
Sementara itu, di ruang ganti pria, Boy bercermin untuk memastikan penampilannya.
Dia menggunakan setelah jas putih dengan dasi kupu-kupu.
"Anak mom memang tampan sekali." Boy memuji dirinya sendiri.
"Tapi kamu tidak pernah mendengarkan mom untuk mengecat rambut mu jadi hitam." protes Sania. Dia cukup prihatin karena kedua anaknya selalu saja mengikuti gaya k-pop dengan mengecat rambut mereka berwarna warni seperti pitik yang dijual di pasar.
"Bagaimana perasaan mu kak?" tanya Jessica penasaran. Dia juga tampil cantik dengan dress hitam yang press body.
"Cepat cari pacar, dan bikin gosip seperti ku. Maka kamu akan tau rasanya." sindir Boy.
"Kamu tau kan Boy, pernikahan ini bukan sebuah permainan. Kamu harus betul-betul mencintai Marsha." pesan Sania.
'Pernikahan adalah sebuah paksaan.' batin Boy.
Dia begitu sedih karena dia harus menikah dengan Marsha Lee. Masalahnya, dia tidak punya perasaan apapun pada wanita itu. Tidak ada sengatan listrik atau semacamnya, yang ada hanya kepalanya cenut-cenut ketika melihat sikap arogant Marsha. Dia heran kenapa Juna bisa bertahan begitu lama dengan wanita seperti Marsha.
"Boy, ingat jangan membuat malu nama keluarga Setiawan lagi. Kamu harus bersikap baik pada Marsha di depan para wartawan. Kalau tidak.. "
"Mom akan coret Boy dari nama anak dan daftar keluarga." Boy melanjutkan ucapan Sania.
"Pintar."
"Ya, aku memang akan segera di coret karena aku akan membuat kartu keluarga sendiri." jawab Boy dengan malas.
*
*
*
Boy menatap Marsha tanpa berkedip. Marsha tampil cantik dengan gaun pengantin dan Boy harus mengakui itu. Dia datang dengan di gandeng oleh Ken.
Di samping Ken, ada Ny.Lee yang berjalan dengan tongkatnya.
"Besan, anda cantik sekali." puji Sania.
"Lepas, Ken." Boy melepaskan tangan Marsha yang melingkar di pergelangan tangan Ken.
Ken menatap Boy dengan wajah datar, lalu dia berjalan untuk menemani Ny.Lee. Ya, karena Nyonya Lee janda, dia harus menemani majikan itu untuk berjalan ke panggung. Di belakang Ny. Lee dan Ken, Bayu Sania juga sudah bersiap.
Setelah itu, Jessica berdiri di belakang Marsha untuk membantu jika gaun Marsha terselip.
Boy mengambil tangan Marsha, lalu melingkarkan tangan wanita itu pada pergelangan tangannya. Tidak mungkin mereka akan berjalan jauh-jauhan di saat semua menatap ke arah mereka.
"Mari kita bersandiwara, anggap saja kamu sedang akting" bisik Boy pada Marsha.
Lagu Will you marry me dari Lee Seung Gi melantun dengan ceria memenuhi ruangan. MC mempersilahkan para keluarga dan pengantin untuk masuk. Tepuk tangan para tamu terdengar begitu keras menyambut mereka.
Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Boy. Dia sangat grogi saat ini. Sesekali Marsha menatap Boy yang memang terlihat gugup.
Perjalanan mereka berakhir di panggung. Di sana, pemimpin agama sudah menunggu Boy Marsha untuk mengucapkan janji dan menandatangi surat dari catatan sipil.
*
*
*
Setelah melakukan kesalahan 3x, akhirnya Boy menyelesaikan janjinya. Mereka juga sudah menandatangi surat sipil.
"Selamat untuk Boy dan Marsha Setiawan, karena kalian sekarang telah resmi menjadi suami istri."
Sania menangis terharu, begitu juga dengan Ny.Lee.
Bayu juga bersyukur, akhirnya anaknya laku dan menikah juga.
"Cium.. cium.." suara di bawah panggung menggema begitu keras meminta Marsha dan Boy untuk berciuman.
Marsha melotot ketika Boy memegang pundaknya, lalu menghadapkan Marsha pada dirinya.
Dia memberikan kode dengan matanya supaya Boy tidak melakukan itu.
Tapi tentu saja Boy tidak mendengarkan. Dia mengecup dahi Marsha lembut. Dia lalu beralih pada bibir Marsha yang terlihat sangat seksi. Boy memegang pipi Marsha, lalu dia memiringkan kepalanya. Itu hanya trik Boy sehingga dari depan mereka tampak sedang berciuman, padahal Boy tidak benar-benar memempelkan bibirnya.
Sorak para tamu membahana. Semua terlihat senang, hanya Ken saja yang berdiri dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Marsha mendorong badan Boy karena dia tidak dapat mengatur ritme jantung nya saat melihat Boy begitu dekat.
"Sepertinya aku bisa ikut casting film juga." ucap Boy bangga. Dia tersenyum pada Marsha dengan begitu manis.
Marsha mendengus kesal. Dia yakin setelah ini, mereka akan seperti Tom and Jerry daripada seperti sepasang suami istri.
"Boy, selamat ya.. Mom titip supaya kamu jaga Marsha." Ny.Lee memeluk Boy dengan erat sambil menepuk punggungnya. "Marsha memang sedikit sombong, tapi tolong perlakukan dia dengan baik." pesan Ny.Lee pada menantunya.
Sedangkan Sania juga memeluk Marsha. "Sayang, mom Tahu kalau kamu dan Boy belum saling mencintai.. tapi pasti itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Mom.." Marsha menangis karena Sania ternyata cukup pintar untuk memahami perasaannya.