
Boy memikirkan mobil nya sembarangan. Dia berjalan dengan gontai menuju ke kamar Ken.
BRAK
Boy mendobrak pintu Ken dan membuat kedua orang di dalamnya terkejut. Marsha meletakan piringnya di samping Ken dengan ketakutan. Masalahnya, Boy menghampiri Ken dan menarik kerah kaosnya.
"Aku sudah peringatkan sejak awal, jaga jarak dengan Marsha. Apa kamu tuli?" labrak Boy. Dia sudah mengawasi Ken sejak awal masuk ke rumah ini. Waktu Ken masuk ke kamar Boy untuk mengambil oleh-oleh untuk Jeni, Ken terang-terangan bicara jika dia menyukai Marsha. Ken juga bicara akan merebut Marsha dari Boy, jika sampai Boy menyakitinya. Karena perkataan Ken itulah, Boy menambahkan poin di surat perjanjian mereka, kalau Ken macam-macam, Boy akan mengusirnya. Dan sekarang Ken sudah keterlaluan. Waktu Boy sakit saja, Marsha tidak menyuapi nya.Tapi kini Marsha malah begitu perhatian pada Ken.
"Boy, Ken itu sedang sakit. Kamu kenapa si." teriak Marsha. Dia melepaskan tangan Boy dari kaos Ken dengan paksa. Berkat cengkraman kuat Boy, Kaos Ken langsung mulur.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan Ken." kata Boy kesal.
"Apa bedanya dengan Leana?" ucap Marsha lirih.
"Ikut aku." Boy menarik tangan Marsha keluar dari kamar Ken. Ya, Boy membawa Marsha ke kamar mereka di atas. Boy menghempaskan badan Marsha di sofa dengan perasaan yang masih emosi.
Marsha memegangi pergelangan tangannya yang sakit karena Boy memegangnya dengan kuat.
"Kamu kenapa si?" protes Marsha.
"Kamu yang kenapa memperhatikan Ken?" "Apa kamu suka dia?"
Marsha yang tadi nya takut, kini malah ikut terpancing emosi karena tuduhan Boy. "Kamu juga berselingkuh di belakang ku."
"Selingkuh?"
"Kamu bertemu dengan wanita lain tanpa sepengetahuan ku. Kalau tidak berselingkuh, itu apa namanya, hah?"
"Maksud mu Leana?" Boy tertawa. "Dia teman sekolah ku."
"Dia itu Man-tan." "Man-tan Boy."
"Kenapa kamu bahas Leana? Apa kamu cemburu?"
"Aku, cemburu?" Marsha tertawa sinis. "Kamu yang cemburu dengan Ken."
"Ya, aku cemburu." aku Boy.
Marsha terperangah tidak percaya.
"Kenapa kamu cemburu kalau kamu tidak cinta pada ku?" nada Marsha sedikit menurun. Dia menatap Boy dengan pandangan sendu. Boy tampak tidak berbeda dengan Juna. Hubungan mereka hanya status saja tanpa ada perasaan. Marsha sudah mencoba berbagai cara untuk merayu Boy, tapi Boy tidak pernah menganggapnya ada.
"Apa kamu bodoh Marsha Lee?" tanya Boy dengan tidak sabar. Dia begitu gemas pada Marsha. "Kenapa kamu diam waktu aku tanya, apakah kamu mencintai ku?"
Marsha kembali diam.
"Lihat kan? Kamu tidak bisa menjawabnya." Boy sudah berbalik untuk keluar kamar. Tapi, langkah nya terhenti saat Marsha berlari memeluknya dari belakang.
"Aku mencintai mu, Boy." katanya lirih.
"Aku tidak dengar."
Boy berbalik badan lagi. Dia menatap intens istrinya yang sudah hampir menangis.
"Aku cemburu saat kamu menatap Leana dan tidak menatapku. Aku cemburu karena kamu bisa, tertawa dengan dia. Aku sudah lelah untuk menggoda mu, tapi kamu sama sekali tidak melirik.. kamu itu.." Marsha tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Boy sudah menciumnya dengan rakus.
"Boy.." Marsha memukul dada Boy supaya Boy pelan-pelan.
Boy melepaskan Marsha setelah dia melancarkan aksi pertamanya. Dia sudah beberapa kali berciuman dengan Marsha, jadi tidak merasa canggung lagi.
"Apa kamu mencintai ku, Boy?" tanya Marsha dengan nafas tersengal.
"Tentu saja, aku sangat mencintai mu, Marsha Lee." "Dan sekarang aku menginginkan mu." Boy kembali mencium Marsha. Dia mengangkat badan Marsha dan menaruh nya di ranjang tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
"Boleh kah?" tanya Boy sekali lagi sebelum membuka pakaian Marsha.
Marsha mengangguk cepat. Tentu saja karena sudah mendapatkan ijin dan keduanya sudah saling mengakui perasaan mereka, Boy segera melakukan apa yang sudah sejak lama dia tahan. Boy resmi menjadikan Marsha miliknya.
*
*
*
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Marsha sudah tertidur pulas dalam pelukan Boy. Boy membelai rambut Marsha sambil memandangi istrinya yang tampak kelelahan.
Ya, sejak tadi siang mereka tidak keluar dari kamar dan juga melewatkan makan malam mereka. Boy tentu sangat bahagia karena mereka baru bisa resmi di bilang suami istri.
"Boy.." Marsha menggeliat karena tangan Boy saat ini sedang memegang bibirnya.
"Ya, sayang.."
"Aku lapar." ucap Marsha tanpa membuka matanya.
"Aku akan cari makanan di bawah." Boy beranjak bangun. Dia menggunakan bathrobenya dan meninggalkan Marsha yang masih terlelap.
Setelah Boy pergi, Marsha baru membuka matanya. Seluruh badannya sakit. Dia tidak menyangka jika kegiatan mereka akan berlangsung begitu lama. Tapi, Marsha tampak lega karena Boy ternyata normal dan juga dia sudah mencintainya.
15 menit menunggu, Boy kembali dengan membawa satu piring nasi dan telur mata sapi yang lebih tampak seperti scramble egg.
"Bibi ternyata cuti." ucap Boy sambil duduk di pinggir ranjang. "Ini pertama kali aku memegang wajan dan memecahkan telur, jadi mohon di maklumi." lanjut Boy dengan pasrah.
Marsha tertawa geli. Yang penting bukan bentuk makanannya, tapi yang penting adalah upaya Boy yang memasak untuk Marsha.
"Makasi, sayang.. sekarang suapi aku." pinta Marsha dengan manja.
"Pakai apa? Sendok atau mulut?" goda Boy.
"Apa saja boleh."
"Kamu memang selalu bisa menggodaku, Nyonya Setiawan." Boy mengacak-acak rambut Marsha. Dia segera menyuapi Marsha karena bunyi perut Marsha sudah terdengar begitu nyaring. Marsha pasti sangat lapar karena mereka bekerja keras sejak tadi.